Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
163


Dihadapan Kichiro saat ini tengah berdiri tiga orang yang nampak tidak asing bagi Pangeran, Pangeran Kichiro kemudian memperhatikan wanita yang tengah mengenakan topeng wajah itu.


Entah mengapa terbesit dalam ingatannya saat ini adalah Kirana. Pangeran Kichiro nampak sangatlah curiga, namun ia berusaha untuk tetap tenang.


"Hmm, aku harus menyelidikinya sendiri." Dalam benak Pangeran Kichiro.


"Mengapa kakakmu ini harus mengenakan topeng?" ucap Pangeran Kichiro dengan curiga, sambil menatap kearah Haruka.


Kirana yang berada disamping Norr nampak terkejut, kemudian dia segera melirik kearah Haruka. Saat Haruka ingin menjawabnya, dengan segera Norr menjawab tanya dari Pangeran Kichiro dengan tegas.


"Apakah ada yang salah dengan Istri saya ini Pangeran?" jawab Norr dengan suara beratnya, sambil menatap wajah Pangeran Kichiro.


Pangeran Kichiro kemudian segera menatap wajah Norr, dia menatap kedua bola mata merahnya. Entah mengapa Pangeran merasa dia sangatlah mirip dengan burung besar milik Hanna, entah hanya dugaannya saja atau memang kebetulan mereka bertiga mirip dengan orang yang saat ini tengah hilang tanpa jejak itu.


"Oh tidak ada, saya hanya bertanya jika pertanyaan saya adalah sebuah aib atau suatu rahasia, anda tidak perlu menjawabnya." Ucap Pangeran Kichiro dengan tegas.


Norr yang berada dihadapan Pangeran Kichiro sedari tadi terus mengamati sikap yang ditunjukkan oleh Pangeran, meskipun saat ini dia melihat sikap Pangeran yang begitu tenang namun, tidak menutup kemungkinan Pangeran tengah memikirkan suatu hal.


"Terima kasih atas kebijakan anda Pangeran." Ucap Norr dengan tegas.


"Hmm, kalian kupersilahkan untuk pergi." Ucap Pangeran Kichiro dengan raut wajah tenangnya.


Pangeran Kichiro akhirnya melepaskan Haruka, Norr dan Kirana. Kini Haruka dapat bernapas dengan sedikit lega.


"Kami mohon undur diri." Ucap Norr.


Putri Yuri yang melihat bahwa Pangeran telah melepaskan mereka, nampak kesal. Dengan segera Putri Yuri berbicara dengan suara lantang kepada Haruka, membuat Pangeran Kichiro dibuat terkejut olehnya.


"Hei, wanita angkuh. Aku tidak terima dengan semua ucapanmu, kau telah merendahkan martabatku dihadapan banyak orang!" ucap Putri Yuri dengan perasaan kesalnya.


Haruka yang mendengar ucapan dari Putri Yuri segera menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Putri Yuri yang tengah memandangnya dengan perasaan marah.


"Lalu apa maumu?!" ucap Haruka dengan raut wajah dinginnya, sorotan matanya menatap kedua bola mata Putri Yuri dengan tajam.


Putri Yuri kemudian tersenyum licik kepada Haruka, dengan segera ia menjawab tanya Haruka.


"Aku menantang dirimu untuk bertarung denganku! Kau tadi berkata tengah memperdalam sebuah ilmu, aku jadi sangatlah penasaran seberapa tangguhkah kekuatanmu itu!" ucap Putri Yuri dengan tegas.


Haruka menatap Putri Yuri dengan pandangan dinginnya, Norr dan Kirana nampak terkejut mendengar hal itu dapat keluar dari dalam mulut Putri Yuri.


"Hm. Ternyata dia begitu sakit hati dengan ucapan Haruka." Dalam benak Norr.


Pangeran Kichiro hanya terdiam, kemudian dia sedikit melirik kearah Putri Yuri.


"Sudah kuduga, Putri Yuri akan melakukan hal ini, dia memang terkenal memiliki tingkat emosional yang sangat tinggi, ini menjadi semakin menarik, biarku tebak Haruka pasti akan menerima pertarungan ini." Dalam benak Pangeran dengan sedikit tersenyum menatap kearah Haruka.


"Mengapa diam saja! Sudah mulai merasa tertekan, hmm dimana tadi kesombonganmu itu! Baiklah aku akan sedikit berbaik hati kepadamu, kau boleh pergi dari tempat ini tanpa harus bertarung denganku, tetapi kau harus bersujud dan mencium telapak kakiku, sambil meminta maaf dengan suara yang keras agar semua orang dapat mendengarnya!" ucap Putri Yuri dengan raut wajah kesalnya.


"Tertekan? Hmm, aku tidak merasakannya sama sekali, untuk apa aku harus meminta maaf, jika aku sendiri tidak tau apa kesalahanku. Semua ucapanku itu benar adanya, dan aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun disini, jika dipikirkan lagi seharusnya dirimu lah yang meminta maaf kepadaku!" ucap Haruka dengan raut wajah tegas.