
Tak lama kemudian, Haruka teringat akan janjinya, lalu dia dengan segera mendorong tubuh Pangeran Kichiro, Pangeran yang melihat hal itu merasa amat terkejut.
"Aku harus pergi, jagalah dirimu baik-baik." Ucap, Haruka yang tersenyum tipis pada diri Pangeran.
Pangeran Kichiro yang melihatnya, merasa sangat terkejut, dengan sikap yang ditunjukkan oleh Haruka terhadap dirinya, lalu dengan segera Pangeran menanyakannya secara langsung terhadap diri Haruka.
"Ada apa dengan dirimu?" ucap, Pangeran Kichiro dengan perasaan bingung didalam hatinya.
Haruka yang melihat hal itu hanya terdiam tanpa mampu berkata sejujurnya, dia yang merasa kejujuran itu diatas segala-galanya. Namun, kali ini ia merasa tidak ingin mengungkapkan kejujuran itu, seakan ia ingin menolak kenyataan yang belum pasti. Namun, tak ayal hal itu mungkin akan terjadi.
"Aku baik-baik saja, tetapi aku harus pergi sekarang, setelah senja diwaktu sore tiba aku pasti akan kembali untuk menemui dirimu, aku berjanji." Ucap, Haruka yang menatap Wajah Pangeran Kichiro dengan tatapan penuh keyakinan.
Pangeran Kichiro yang semula sempat merasa cemas, namun setelah ia mendengar ucapan dari diri Haruka, membuatnya sedikit merasa tenang. Iya, hanya sedikit saja Pangeran menyisakan celah ketenangannya.
"Baiklah, aku akan mengizinkan dirimu, tapi ingat untuk kembali." Ucap, Pangeran Kichiro yang tengah memandang Wajah Haruka.
Haruka yang melihat diri Pangeran telah mempercayai dirinya, merasa sedikit tenang, lalu dengan segera ia segera berbicara pada diri Pangeran Kichiro.
"Baik." Ucap, Haruka sambil menatap Wajah Pangeran Kichiro dengan sedikit tersenyum tipis.
Saat melihat senyuman pada diri Haruka, seakan Pangeran Kichiro tidak ingin diri Haruka meninggalkan dirinya.
"Aku akan mengantarkan dirimu sampai depan Pintu." Ucap, Pangeran Kichiro yang masih menatap diri Haruka dengan perasaan tidak rela.
Haruka hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia dan Pangeran Kichiro segera pergi meninggalkan kamar mereka. Tak ayal, Haruka melangkahkan kakinya, disampingnya saat itu tengah berdiri seorang Pria yang mampu membuatnya dimabukkan cinta.
Setibanya diluar Pintu Rumah, Haruka segera menatap Wajah Pangeran Kichiro.
"Aku akan pergi." Ucap, Haruka yang saat itu tengah berada disamping diri Pangeran.
Pangeran Kichiro yang mendengar ucapan yang dilontarkan oleh diri Haruka, ia hanya mampu terdiam tanpa sedikitpun menunjukkan raut Wajah senang, setelah itu Haruka pun segera pergi untuk dapat meninggalkan Pangeran Kichiro.
Pangeran yang melihat diri Haruka yang telah berjalan untuk menjauh dari dirinya, sampai membuat bayangan dari Haruka menghilang membuat diri Pangeran Kichiro segera masuk ke dalam Rumah, dengan langkah cepat Pangeran Kichiro menuju Kamarnya, tatapannya kemudian tertuju pada sebuah laci kecil yang terbuat dari kayu, Pangeran Kichiro kemudian segera memasuki Kamarnya dan meraih laci kayu itu dengan lengan kanannya, ditariknya perlahan lalu terlihatlah sebuah topeng putih dengan bercak biru yang menemaninya disetiap sisi topeng itu.
Pangeran Kichiro tersenyum tipis, sambil mengambil topeng Wajah itu dengan lengan kanannya.
°^°^°^°^
Sedangkan didalam Hutan, terlihat Haruka tengah berjalan untuk dapat kembali menemui Norr dan kawan lainnya. Tak ayal, Haruka melangkahkan kaki jenjangnya diatas rumput-rumput halus dengan warna hijau pekat.
Terlihat dari raut Wajahnya Haruka seperti tengah memikirkan suatu hal yang membuat hatinya merasa sangat resah.
"Jika dia memanglah cinta sejatiku, apakah aku harus melepaskannya, lagi??" dalam benak Haruka yang terus berjalan dengan langkah pastinya.
Menyusuri hutan besar, sambil terus terlamun dalam ingatannya, sampai tak lama kemudian Haruka melihat diri Xiao Chen yang tiba-tiba saja tengah berdiri dihadapannya, hal itu membuat diri Haruka terkejut bukan main, karena hampir saja tubuhnya mendarat pada pelukan Pria licik itu. Haruka dengan segera menghentikan langkahnya lalu dia segera menjauh dari diri Xiao Chen. Dengan tatapan waspada Haruka terus menatap diri Xiao Chen dengan tampang dingin, dan garangnya.
Xiao Chen yang melihat hal semacam itu, membuat dirinya merasa sangat kecewa. Namun, hal itu segera ia sirnakan dalam pikirannya, karena baginya tak lama lagi Haruka akan menjadi miliknya untuk selamanya.
"Hm, datang tanpa diundang, dan tidak pernah mau pergi meskipun hadirmu selalu tidak pernah aku impikan, kau itu hantu?" ucap, Haruka dengan tampang dinginnya.
"Tenanglah dahulu, Haruka. Aku menemui dirimu bukan tanpa sebab." Ucap, Xiao Chen yang terus menatap Wajah Haruka.
Haruka yang masih berada dihadapan Xiao Chen dengan segera ia mengangkat satu alis kirinya, hingga nampak bahwa dirinya sangat tidak ingin diusik oleh Pria itu.
"Kau datang sebab ingin melukai Kichiro lagi?! Permainanmu itu sungguh sangat murahan Xiao Chen." Ucap, Haruka dengan tampang kesal.
Dari balik dahan pohon besar terlihat seorang Pria dengan mengenakan pakaian berwarna biru tua, dengan rambut terurai panjang tengah diam-diam mendengarkan perbincangan dari diri Haruka dan Xiao Chen.
"Pria itu lagi, sebenarnya ada hubungan semacam apa dia dengan diri Haruka, nampaknya Haruka sangat tidak menyukai kehadiran dari Pria itu, hmm." Ucap, Pangeran Kichiro yang tengah menyamar.
Xiao Chen yang mendengar ucapan dari Haruka, membuatnya merasa sangat senang.
"Hm, kau memanglah Wanita yang sangat cerdas, tidak salah aku menjatuhkan hatiku kepada dirimu." Dalam benak Xiao Chen.
"Aku ingin menyampaikan kabar yang sangat penting, benarkah kau tidak ingin mendengarnya?" ucap, Xiao Chen dengan tampang liciknya itu.
Haruka yang mendengar ucapan dari diri Xiao Chen, sungguh merasa sangat bingung sebenarnya berita semacam apa yang akan Xiao Chen sampaikan kepada dirinya.
"Cepat katakan sekarang juga!" Ucap, Haruka dengan perasaan muak.
Pangeran Kichiro yang tengah berada dibalik pohon besar, seakan tidak ingin melewatkan situasi semacam itu, dengan segera ia menunjukkan dirinya tengah benar-benar sangat ingin mendengarkan pembicaraan mereka.
Xiao Chen tersenyum licik pada diri Haruka, lalu dengan segera ia berbicara pada diri Haruka dengan perasaan senang.
"Aku akan membawamu kembali ke tempat asalmu, hal itu bukanlah hanya keinginanku semata. Namun, Dewi Cang'e lah yang memerintahkannya sendiri, terlebih lagi nampaknya dia sangat marah akan kedekatan dirimu dengan Manusia bumi, ingatlah Haruka jika kau mencintai dirinya maka dia yang akan terluka, lupakan dia dan mari ikutlah dengan diriku." Ucap, Xiao Chen dengan segera ia mengulurkan lengan kanannya dihadapan Haruka.
Haruka yang mendengar ucapan dari Xiao Chen sungguh ia merasa amat geram, Haruka sudah menyadari bahwa ini semua adalah rencana yang sudah Xiao Chen buat dengan sangat sempurna.
"Aku akan kembali tetapi tidak dengan dirimu, pergi dari hadapanku sekarang juga." Ucap, Haruka dengan perasaan kesal.
Xiao Chen yang mendengar perkataan dari Haruka, merasa begitu sangat kesal.
"Dasar keras kepala." Ucap, Xiao Chen yang segera memberikan serangannya pada diri Haruka.
Haruka serta Pangeran Kichiro yang melihat hal itu, membuat mereka terkejut saat Haruka ingin menghalau serangan dari Xiao Chen, dengan segera dari arah belakang sebuah sinar berwarna merah tengah menghancurkan kekuatan yang akan menyerang diri Haruka. Hal itu sontak saja membuat diri Haruka juga Xiao Chen merasa sangat tekejut.
"Siapa yang dengan beraninya mengganggu diriku!" Ucap, Xiao Chen dengan perasaan kesal.
Pangeran Kichiro kemudian segera keluar dari balik dahan pohon besar, dengan pakaian biru yang sangat elegan. Sorot dari sepasang Mata merahnya begitu sangat menakutkan, topeng yang tengah Pangeran Kichiro kenakan sudah sedari kecil selalu bersama dengan dirinya. Namun, ini adalah kali pertama Pangeran menggunakannya.
Haruka yang saat itu tengah memperhatikan diri Pangeran Kichiro dia merasakan aura dari Pria itu begitu sangat dingin dan mengerikan, terlebih lagi saat Pangeran Kichiro yang menatap diri Haruka membuat dirinya terdiam tanpa sedikitpun bersuara.
"Siapa Pria ini? Nampaknya dia bukanlah orang biasa?" dalam benak Haruka yang masih menatap diri Pangeran.
Pangeran Kichiro jua merasa tidaklah menyangka, kekuatannya seperti naik begitu pesat, dia tidaklah tau menau dari mana asal topeng yang tengah ia kenakan itu. Namun, sedari kecil topeng putih itu selalu bersama dengan dirinya, sampai pada akhirnya ia meninggalkan topeng itu didalam hutan, karena sempat berpikir bahwa topeng itu tidaklah berguna bagi dirinya.