Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
225


Putri Kirana yang menatap wajah Norr yang tengah berada dihadapannya itu, membuat dirinya semakin merasa canggung, Putri Kirana yang dapat mengerti bagaimana perasaan Norr, membuat dirinya merasa sadar diri, bahwa apa yang Norr lakukan terhadap dirinya bukanlah atas dasar cinta, namun hanya sebatas ingin membalas semua kesalahannya saja, sungguh sangat tidak tau diri sekali dirinya, yang telah terlalu banyak berharap dengan pria itu, lagipula saat ini ia masih berstatus Istri orang lain.


"Hmm, aduh tiba-tiba saja aku sangat mengantuk Norr, tak apa kan jika kau aku tinggal sendirian?" ucap, Putri Kirana yang memperhatikan wajah Norr.


Norr yang saat itu sebenarnya ingin menjawab ucapan dari Putri Kirana, tetapi karena Putri Kirana sudah berkata bahwa dirinya telah mengantuk, maka dari itu Norr tidak jadi berkata sejujurnya terhadap diri Putri Kirana.


"Oh, jadi begitu, kalau seperti itu silahkan saja ." Ucap, Norr dengan tegas.


Putri Kirana yang mendengar jawaban dari Norr, hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera terbangun dari duduknya, dengan perlahan Putri Kirana berjalan untuk menuju ke arah kamar tidurnya, Norr yang masih memperhatikan Putri Kirana yang tengah berjalan untuk menjauh darinya itu, terdiam sejenak kemudian dia segera berbicara kembali kepada Putri Kirana yang tengah membelakangi dirinya itu.


"Selamat malam." Ucap, Norr yang berkata kepada Putri Kirana.


Putri Kirana yang mendengar ucapan dari Norr, segera menghentikan langkahnya kemudian dia menoleh ke arah belakang untuk menatap wajah Norr.


"Malam kembali, kau juga harus segera Istirahat." Ucap, Putri Kirana yang segera memalingkan pandangannya sambil melanjutkan langkahnya yang terhenti.


Norr hanya terdiam saat mendengar ucapan dari Putri Kirana, dia juga hanya terdiam saat Putri Kirana memasuki kamarnya, Norr kemudian memperhatikan sekitar sambil memikirkan suatu hal.


"Hm, jika benar Haruka adalah orang yang terlahir dari dunia atas, berarti hm... Ah sudahlah." Ucap, Norr yang masih memikirkan suatu hal didalam benaknya.


Pandangan Norr tertuju pada kaca jendela yang tengah berada disamping pintu, Norr merasa terkejut saat dia melihat sekelibat bayangan yang melesat untuk menjauh dari Rumah kayu itu, Norr kemudian dengan segera terbangun dari duduknya, sambil menatap curiga ke arah kaca jendelanya.


"Sial, jangan-jangan itu mata-mata!" Ucap, Norr yang segera berjalan untuk menghampiri pintu Rumah dengan cepat ia meraih daun pintu dan membukanya, Norr berjalan keluar dari dalam Rumah kayu, dengan segera Norr menoleh ke arah samping kiri dia sudah kehilangan bayangan keemasan yang tadi sempat melesat dari arah Rumah kayu itu.


"Kabur?! Hm, aku akan mengingat itu." Ucap, Norr yang dengan segera mengangkat lengan kanannya tak lama kemudian sebuah sinar berwarna merah mengelilingi Rumah kayu mereka.


"Dengan begini siapapun itu tidak akan ada yang berani untuk mendekati tempat ini." Ucap, Norr yang segera membalikkan tubuh untuk dapat masuk kedalam Rumah kayunya, pintu pun segera tertutup dengan perlahan.


Norr yang sudah merasa mengantuk dengan segera ia berjalan untuk memasuki kamarnya, namun langkahnya terhenti sejenak pandangannya tertuju pada dua kamar wanita yang berada disamping kanannya itu.


"Hmm...." Ucap, Norr yang segera melangkahkan kakinya lagi untuk dapat masuk kedalam kamarnya.


Sedangkan didalam Kamar Putri Kirana, ia terlihat tengah berdiam diri sambil terduduk diatas kasurnya, Putri Kirana terlihat tengah memikirkan suatu hal yang baginya sangatlah penting.


"Bagaimana ya kondisi dari Istana quwing an, sudah lama sekali aku tidak kembali kesana, apakah benar Paman changyu dapat memerintah kerajaan itu dengan baik, aku harus kembali hanya sekedar memastikan saja bahwa Istana itu baik-baik saja." Ucap, Putri Kirana dengan perasaan khawatir.


Tak lama kemudian Putri Kirana segera bangun dari duduknya, kemudian dia menatap ke arah meja yang diatasnya tengah tergeletak sebuah Pedang merah miliknya, Putri Kirana segera berjalan untuk menghampiri Pedang merahnya itu, kemudian dia segera meraihnya, saat itu juga Putri Kirana memutuskan untuk pergi meninggalkan hutan untuk melihat Istananya yang sudah lama ia tidak pernah kembali ketempat itu, dengan perlahan Putri Kirana membuka pintu kamarnya, kemudian dia segera berjalan untuk dapat keluar dari dalam Rumah kayu itu dengan langkah hati-hati Putri Kirana segera membuka pintu dengan perlahan. Putri Kirana menggenggam daun pintu, kemudian dia segera menariknya dengan perlahan, Xiao Chen yang masih berada dibalik Pepohonan sangat terkejut saat melihat seseorang keluar dari dalam rumah kayu itu, raut wajah Xiao Chen saat melihat orang yang tengah keluar itu adalah seorang wanita, dan lagi dia bukanlah Haruka, membuat Xiao Chen penasaran dengan Putri Kirana yang terlihat keluar dari dalam Rumah kayu dengan langkah hati-hati itu.


Putri Kirana yang melihat disekitar Rumah itu telah kelilingi oleh kekuatan milik Norr, membuat Putri Kirana merasa sangat tidak beruntung, Putri Kirana kemudian memperhatikan sekeliling tempat itu sudah dipagari oleh Norr dengan kekuatannya. Putri Kirana yang terlihat sedikit bingung kemudian dia teringat kembali bahwa Norr adalah Siluman, dan dia memiliki kekuatan mata teratai yang dapat mematahkan kekuatan Siluman, Ya... Putri Kirana sedikit tidak yakin dengan hal itu namun, dia harus berusaha terlebih dahulu.


Xiao Chen yang masih memperhatikan diri Putri Kirana dengan sangat fokus itu, tak lama kemudian Xiao Chen terkejut saat melihat Putri Kirana dapat memiliki kekuatan mata teratai.


"Mata terati terbukalah." Ucap, Putri Kirana yang segera mengangkat lengan kanannya, tak lama kemudian segel mata terati terbuka dihadapan Putri Kirana.


Xiao Chen hanya terdiam sambil terus memperhatikan diri Putri Kirana, dia sempat bingung dengan Putri Kirana, karena pada saat itu Xiao Chen melihat bahwa Putri Kirana tidak memiliki kemampuan sehebat itu saat bertarung melawan Sharon dan pengikutnya, namun sungguh sangat tidak disangka Xiao Chen dapat melihat kekuatan milik Putri Kirana.


"Aku tidaklah menyangka dia ternyata memiliki kekuatan itu, aku sangat tidak percaya, aku pikir dia hanyalah seorang Putri biasa, hmm... Menarik." Ucap, Xiao Chen yang terus memperhatikan diri Putri Kirana.


Saat kekuatan milik Norr berhasil ia patahkan, dengan segera ia pergi untuk meninggalkan tempat itu, Xiao Chen yang awalnya sangat ingin berjumpa dengan Haruka, tetapi saat melihat kekuatan yang dimiliki Putri Kirana membuatnya sangat ingin mengikuti wanita itu, dan dia juga sangat ingin mengetahui kemana Putri Kirana akan pergi.


Xiao Chen kemudian segera mengikuti Putri Kirana dengan perlahan dan hati-hati, dia terus memperhatikan langkah dari Putri Kirana yang terlihat sangat cepat, Xiao Chen yang menyadari bahwa dia tengah memata-matai Putri Kirana maka dari itu ia harus menjaga jarak agar keberadaannya itu tidak diketahui oleh Putri Kirana.


Putri Kirana yang tengah berjalan menyusuri Hutan, kemudian dia segera memperhatikan setiap dahan yang berada dihadapannya, Putri Kirana dengan segera meloncati dahan satu kedahan lainnya, dengan langkahnya yang gesit, juga cepat, Xiao Chen yang memperhatikan diri Putri Kirana yang mekangkah dengan begitu cepat membuat dirinya sedikit kewalahan untuk mengejar Putri Kirana, hingga pada akhirnya dia kehilangan jejak Putri Kirana.


Xiao Chen kemudian segera menghentikan langkahnya dengan perasaan kesal.


"Sial!" Ucap, Xiao Chen yang terlihat sangat kesal.


Tetapi, tiba-tiba saja sebuah Pedang yang sangat tajam tengah berada didepan lehernya itu, membuat Xiao Chen terkejut dan segera dia melirik ke arah samping.