
Haruka yang melihat raut wajah Putri Kirana terlihat begitu gugup, membuatnya semakin berpikir bahwa Putri Kirana memang menyukai Norr, sebenarnya Haruka tengah berbicara serius kepada Putri Kirana, namun nampaknya dia sangat tidak ingin membicarakan hal yang sejujurnya ia rasakan kepada Haruka. Yah... Itu kehendak Putri Kirana sendiri, Haruka tidak pantas untuk mengurusi masalah orang lain, jika mereka saling menyukai satu sama lain pun tak apa.
"Haha... Tidak perlu dianggap serius begitu, aku hanya bercanda, lagipula aku tau tidaklah mungkin kau dapat jatuh hati kedapa pria siluman seperti Norr, itu tidaklah mungkin, sudahlah malam sudah semakin larut, terima kasih karena sudah mengantar diriku sampai ke dalam kamar, aku ingin beristirahat aku sudah sukup lelah dengan hari ini." Ucap, Haruka yang sedikit melirik ke arah Putri Kirana.
Putri Kirana yang masih terdiam, kemudian dia terlihat agak tersentak dengan ucapan Haruka, entah mengapa hatinya merasa sangat tenang saat Haruka berkata ia hanya bercanda, Putri Kirana kemudian segera terbangun dari duduknya, sambil menatap wajah Haruka.
"Haha, aku sudah menduganya, kau memang benar malam sudah semakin larut, baiknya kau segera beristirahat, aku tau kau sudah sangat lelah menjalani hari-hari ini, selamat malam Haruka." Ucap, Putri Kirana yang segera berjalan untuk keluar dari dalam kamar Haruka.
Haruka hanya terdiam sambil memperhatikan Putri Kirana yang tengah berjalan keluar dari dalam kamarnya itu, Haruka yang memperhatikan Putri Kirana segera ia tersenyum saat Putri Kirana berbalik untuk melihat wajah Haruka, dengan perlahan Putri Kirana segera menutup pintu kamar Haruka dengan rapat.
Haruka yang tengah berada didalam kamarnya, hanya terdiam saat ia tengah sendiri, tak lama kemudian dalam diamnya Haruka teringat akan sesuatu, perlahan Haruka mengangkat lengan kanannya, kemudia dia segera meraih pin biru dengan gantungan kupu-kupu berwarna biru itu, Haruka segera menariknya dan menggenggam pin itu, tak lama kemudian Haruka segera menjatuhkan tubuhnya diatas kasur besar dengan warna putih, Haruka meletakkan pin yang tengah berada didalam genggamannya itu didadanya, perlahan Haruka memejamkan kedua matanya.
Di luar ruang tengah terlihat Norr, dan Leo yang melihat Putri Kirana baru saja keluar dari dalam kamar Haruka, Putri Kirana yang sedikit melirik ke arah Norr, dan Leo membuatnya segera menghampiri kedua pria itu, Putri Kirana kemudian segera duduk disalah satu Kursi yang berhadapan dengan Norr dan Leo.
"Apakah dia sudah tidur?" tanya Norr yang memperhatikan wajah Putri Kirana.
Putri Kirana yang tengah duduk disalah satu kursi kayu itu, kemudian menganggukkan kepalanya, saat Nort bertanya kedapa dirinya, Norr dan Leo yang memperhatikan diri Putri Kirana kemudian mereka hanya terdiam, suasana ditempat itu tak lama kemudian terasa sangat canggung, Leo yang merasa sangat jenuh kemudian dia segera bangun dari duduknya, sambil berjalan ke arah pintu. Putri Kirana dan Norr yang melihat diri Leo dengan segera Putri Kirana bertanya kepada Leo, sambil menatap ke arahnya.
"Malam begini kau ingin pergi kemana?" tanya Putri Kirana yang merasa sangat heran.
Leo yang mendengar ucapan dari Putri Kirana itu segera ia menjawab sambil melirik ke arah Putri Kirana yang berada disamping kanannya, sambil menghentikan langkahnya.
"Hanya cari angin saja." Balas Leo yang kemudian melangkahkan kakinya lagi untuk melanjutkan perjalanan.
Putri Kirana yang mendengar jawaban dari Leo kemudian dia segera menolehkan wajahnya ke belakang untuk dapat menatap diri Leo yang sudah melewati dirinya itu.
"Ingat untuk kembali." Ucap, Putri Kirana yang memperhatikan diri Leo.
Leo yang tengah berada didepan pintu, segera menggunakan kekuatannya untuk dapat membuka pintu itu, saat pintu berhasil terbuka, Leo yang tengah membelakangi diri Putri Kirana, dengan perlahan ia segera menoleh ke arah belakang, sambil membalas ucapannya itu.
"Iya aku mengerti, tidak perlu memerintah diriku, usiaku ini lebih tua dibandingkan dirimu, jadi jangan memerintah diriku lagi, apa kau mengerti? Hmm... Aku pergi, tidak perlu repot-repot untuk menunggu diriku kembali." Ucap, Leo yang segera memalingkan wajahnya, kemudian dia segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam rumah itu. Perlahan pintu rumah itu kembali tertutup dengan perlahan.
"Dia itu orang tua yang susah untuk diatur." Ucap, Norr yang tengah menatap wajah Putri Kirana.
Putri Kirana yang mendengar ucapan dari Norr, segera ia tersenyum tipis dihadapan Norr sambil membalas ucapannya itu.
"Hmm, tak apalah mungkin dia memang merasa jenuh, hari sudah semakin larut, kau tidak masuk kedalam kamarmu?" tanya Putri Kirana yang menatap wajah Norr.
Norr yang masih memperhatikan wajah Putri Kirana, kemudian dia segera menjawab tanya dari wanita itu, dengan nada bicaranya yang terdengar lembut.
"Aku hanya belum mengantuk, lalu mengapa kau sendirinya tidak segera tidur? Apakah ada seuatu hal yang tengah mengganjal dihatimu?" ucap, Norr yang menatap wajah Putri Kirana dengan sepasang mata tajamnya itu.
Putri Kirana yang mendengar ucapan dari Norr segera ia menundukkan kepalanya, sambil sedikit melirik ke arah samping, ia merasa sangat gugup saat Norr menatap wajahnya dengan begitu serius.
"Tidak ada, aku juga hanya karena belum mengantuk saja." Ucap, Putri Kirana dengan nada suaranya yang lembut.
Norr yang mendengar jawaban dari Putri Kirana, kemudian hanya terdiam tanpa berkata apapun lagi terhadap wanita itu, ia dapat mengerti perasaan Putri Kirana seperti apa kepada dirinya, namun dia masih sangat ragu dengan perasaannya kepada Putri Kirana, maka dari itu Norr tidak ingin terlalu dekat dengan Putri Kirana, ia hanya tidak ingin nantinya dirinyalah yang akan melukai perasaan dari wanita itu, dia tidak ingin terjadi sebuah kesalah pahaman diantara mereka, dia tidak ingin ucapan atau perbuatannya yang terlalu baik dihadapan Putri Kirana malah akan membuatnya semakin salah sangka, ia sebenarnya berlaku begitu hanya karena ingin membayar rasa bersalahnya itu terhadap Putri Kirana, namun saat hal itu ia mulai, entah mengapa hatinya merasa aneh saat Putri Kirana bersikap lembut dan baik terhadap pria lain.
"Apa yang sebenarnya aku pikirkan ini, hm tidak... Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti ini." Dalam benak Norr yang merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Putri Kirana yang tengah terdiam kemudian dikejutkan dengan diri Norr yang sudah tersadar, Norr menatap wajah Putri Kirana yang tengah berada dihadapannya sambil berbicara kepada dirinya.
"Kirana, eh... Hmm, Putri Kirana...." Ucap, Norr yang terlihat agak gugup dihadapan Putri Kirana.
Putri Kirana yang tengah termenung itu kemudian dia segera tersadar saat Norr memanggil namanya, sudah beberap hari ini Norr sangat berlaku sopan kepada dirinya, dengan memanggilnya dengan sebutan Putri, dan juga dari caranya memperlakukan dirinya itu.
"Ada apa Norr? Hm... Panggil saja aku ini Kirana, seperti biasanya, aku merasa beberapa hari ini, kau nampak formal, dan canggung terhadap diriku? Sebenarnya ada apa Norr? Jika kau memiliki masalah dengan diriku, lebih baik kau katakan saja." Ucap, Putri Kirana dengan nada biacaranya yang terdengar sangat tegas itu.
Norr yang mendengar ucapan dari Putri Kirana, terlihat sedikit terkejut dia sangatlah tidak menyangka, ternyata sikapnya itu malah membuat diri Putri Kirana merasa sangat tidak nyaman.