Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
Tekad.


Malam semakin larut, Putri Yuri yang tengah berada didalam Kamarnya bersama dengan Pamannya Lu Meng, terlihat tengah saling berbincang-bincang.


"Ini Gadha yang kau inginkan, tetapi selalu ingat untuk tetap berhati-hati, aku mengizinkan dirimu pergi bukan karena ingin melihat dirimu bertarung, aku harap kau mampu berpikir dengan tenang, bukan kemenangan yang aku inginkan, tetapi keselamatanmu lah yang jauh lebih berarti bagi diriku." Ucap, Paman Lu Meng yang tengah membawa sebuah Gadha emas dalam genggamannya.


Putri Yuri yang melihat Gadha emas milik Pamannya merasa begitu sangat senang, karena pada akhirnya ia dapat membawa Gadha emas itu bersamanya tanpa ada paksaan sedikitpun.


"Terima kasih Paman, tenanglah Paman aku akan baik-baik saja percayalah padaku." Ucap, Putri Yuri yang segera menggenggam lengan Pamannya.


Lu Meng yang masih menatap Wajah Keponakannya itu terlihat sangat tidak merelakan Putri Yuri pergi meninggalkan dirinya, hanya untuk menuntut balas atas kematian dari Raja Age ayahnya.


"Berhati-hatilah, semoga Dewa selalu bersama dengan dirimu." Ucap, Paman Lu Meng yang segera membelai rambut panjang Putri Yuri.


Putri Yuri hanya tersenyum ketika melihat sikap dari Pamannya yang begitu sangat memperhatikan dirinya.


"Jika ayahku seperti dirimu mungkin aku akan merasa beruntung memiliki ayah seperti dirinya, namun sayangnya aku terlahir untuk memiliki sifat iri, serakah, kebencian, keegoisan, itu lah yang diajarkan oleh ayahku semasa kecil terhadap diriku, Paman... Terima kasih atas semuanya." Dalam benak Putri Yuri segera meraih Gadha emas, yang tengah berada dalam genggaman Lu Meng.


Lu Meng yang melihat Gadha emas miliknya tengah berada dalam genggaman Putri Yuri, ia hanya terdiam sambil terus menatap Wajah Putri Yuri. Putri Yuri hanya tersenyum kecil kepada Pamannya, kemudian dengan segera Putri Yuri meninggalkan Pamannya sendirian didalam Kamar besar miliknya. Lu Meng kemudian membalikkan tubuhnya untuk dapat melihat Keponakannya itu pergi meninggalkan Istana.


"Aku tidak bisa membiarkan dirinya pergi menjumpai kesulitan sendirian, aku akan membantunya, meskipun tanpa sepengetahuan darinya." Ucap, Paman Lu Meng yang tengah menatap ke arah pintu Kamar dari Putri Yuri yang sudah terbuka.


Sementara itu didalam Goa tempat dimana Kaisar Yu berada, terlihat sinar berwarna-warni tengah terpancar dari dalam Goa, Kaisar Yu begitu sangat berusaha keras untuk dapat mengalahkan Telur yang tengah memancarkan sinar kemerahan dari dalam tubuhnya itu.


"Emh! Aku harus mendapatkan Telur itu, aku pasti dapat mengalahkannya dengan sangat mudah! Hehe cukup tangguh juga pertahananmu ini, bagus dengan begini aku dapat mengukur seberapa hebat kekuatan yang berada dalam tubuhmu, hahaha!" Ucap, Kaisar Yu yang terus memberikan serangan terhadap Telur dengan warna keemasan itu.


Sampai pada akhirnya Kaisar Yu sudah tidak dapat lagi mempertahankan kesabarannya, tidak main-main Kaisar Yu berani mengeluarkan kekuatan terbesar miliknya untuk dapat mengalahkan Telur itu.


"Baiklah, tidak ada cara lain, jika kau menginginkan diriku berbuat kasar terhadapmu maka aku tidak akan segan lagi untuk mengabulkannya." Ucap, Kaisar Yu yang segera mengangkat satu lengannya ke atas langit-langit Goa, terlihat percikan api dari dalam jari telunjuknya. Sinar merah segera mengarah pada Telur itu, Kaisar Yu bermaksud untuk mengikatnya, kemudian dia akan menghancurkan telur itu dengan membuka mulut bumi agar dapat menelannya.


"Menurut lah pada diriku! Jika kau masih saja tidak mengikuti keinginanku, maka aku tidak akan segan untuk menghancurkan dirimu! Bersama dengan Ayah dan juga Ibumu!" Ucap, Kaisar Yu dengan tatapan tajam.


Terdengar suara guncangan dari dalam Goa, Batu-batu besar berjatuhan dari atas gunung, pertarungan itu terlihat sangat menakutkan, terlebih lagi diri Kaisar begitu sangat tidak bermain-main dengan apa yang dia ucapkan. Telur yang tengah berada didalam sangkar besar itu terlihat sangat tersiksa dengan lilitan merah yang melingkari tubuhnya, Kaisar Yu yang terlihat sudah sangat tidak sabar dengan segera ia menarik tali merah yang tengah melilit cangkang telur itu, Kaisar Yu menariknya dengan sangat kuat sehingga sangkar besar itu rusak, dan kini telur yang ia dambakan itu tengah berada dihadapannya, Kaisar Yu terlihat sangat puas dengan apa yang ia dapatkan malam itu, sebelum Ratu Elang dan juga Suaminya terbangun Kaisar Yu tanpa mengulur waktu lagi, karena melihat situasi dan kondisi yang sudah tidak memungkinkan membuatnya menyantap Telur yang memiliki ukuran cukup besar itu, dengan sangat lahap, cara ia memakan sudah seperti binatang buas yang tengah kelaparan saat melahap buruannya.


Darah merah memenuhi tempat itu, tubuh Kaisar Yu dipenuhi dengan darah segar, tak lama kemudian Kaisar Yu tertawa dengan sangat keras sambil menatap ke arah langit-langit Goa yang sebentar lagi akan runtuh.


"Hahaha! Hahaha! Hahaha! Wahaha!" Suara tawa yang menggelegar, menandakan bahwa Kaisar Yu merasa sangat senang dengan apa yang telah ia dapatkan.