Perjalanan Sang Phoenix

Perjalanan Sang Phoenix
92


Hanna terkejut mendengar ucapan norr, sambil menatap Ke arah depan dia menyentuh ke dua tangan nya sendiri.


Dalam benak nya "Apakah , apakah benar aku sudah menjatuhkan hati ku pada nya?."


"Bawa aku ke sebuah hutan." Ucap hanna menatap norr.


Burung besar itu membentangkan ke dua sayap nya yang besar.


"Baiklah ,kita akan segera pergi ke sana , pegangan ini adalah sebuah perjalanan yang menegangkan." Ucap norr sambil tersenyum.


Hanna hanya memandang burung nya itu tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan nya nanti.


Burung besar itu memutarkan tubuh nya dan meluncurkan tubuh nya hampir menyentuh tanah, lalu dengan cepat dia terbang ke atas kembali sambil mengelilingi beberapa bukit tinggi.


Hanna memegang erat tubuh norr dia nampak terhibur dengan apa yang norr berikan padanya.


"Apa kau senang?." Ucap norr.


"Itu tidak keren." Ucap hanna sambil sedikit tersenyum.


"Haha tidak keren pun tidak masalah namun kau cukup senang kan?." Ucap norr dengan puas.


"Ya sedikit." Ucap hanna sambil memandang norr.


"Yuhuu." Ucap norr sambil berteriak keras.


Angin berhembus semakin kencang , tak lama norr menurunkan hanna di hutan.


Hanna menghampiri air terjun yang berada di depan nya ,dia melihat pelangi yang terbentang di antara ke dua tebing yang berada di depan air terjun.


"Sangat cantik." Ucap hanna menatap pelangi.


Tak lama norr merasakan sesuatu buruk menghampiri mereka , norr memutarkan ke dua mata nya dan memandangi tempat itu.


Sampai burung besar itu menatap Ke arah atas tebing dia melihat sesuatu yang sangat besar akan menerkam hanna yang berada di bawah nya.


"Awas hanna." ucap norr keras.


Hanna terkejut dengan segera dia menoleh ke arah norr.


"Apa apa?." Tanya gadis itu sambil bergerak mundur ke belakang menjauhi air.


Di Atas mu." Ucap norr.


Hanna menatap Ke atas ternyata ada seekor kelabang raksasa berwarna merah yang sudah siap menerkam hanna.


Hanna segera mundur dan mengangkat satu tangan nya, tak lama sebuah pedang berada di genggaman nya.


Monster besar itu mendaratkan tubuh nya ke tanah , dengan mulut yang besar , bola mata berwarna merah, ukuran tubuh yang sangat besar bahkan dapat meruntuhkan beberapa pohon yang tinggi dan rindang.


Monster itu mengeluarkan suara aneh, dan tak lama seekor kelabang kecil menghampiri mereka.


Hanna cukup terkejut bukan perasaan takut yang menghampiri nya melainkan perasaan jijik , dan tidak nyaman yang di rasa nya.


Hanna mengayunkan pedang nya kilatan putih membentuk setengah melingkar memusnahkan hewan melata kecil itu.


"Berhasil." ucap hanna.


Namun tak lama hewan kecil itu muncul kembali dan bertambah semakin banyak.


"Apa?." Dengan terkejut hanna menatap ribuan kelabang kecil itu.


Hanna berjalan mundur sampai tubuh nya berada di samping burung besar nya.


Norr yang sangat marah menyemburkan api dari Dalam mulut nya ,Namun itu tidak cukup untuk menghentikan hewan melata itu.


"Kau hadapi yang kecil biar aku hadapi yang besar." Ucap hanna sambil mencoba menebas puluhan kelabang yang menghalangi nya.


"Tidak , kau tindak bisa melakukan itu kita harus memusnahkan yang kecil terlebih dahulu baru bersama sama kita lenyapkan yang besar." Ucap norr sambil menghalau langkah hanna.


Hanna menoleh ke arah norr "Apa kau yakin?." Ucap hanna.


"Iya , sebenarnya aku bisa berubah menjadi manusia." Ucap norr.


"Hah." Ucap hanna sambil menatap norr.


Cahaya berwarna merah kuning ke emas an mengelilingi tubuh norr , tak lama hanna melihat seorang pria muda, gagah dan tampan berdiri di samping nya dengan mengenakan pakaian berwarna merah.


Dalam batin hanna " Hmm dia bilang padaku usia nya sudah ratusan tahun , tetapi mengapa sekarang aku melihat seorang pria yang seumuran dengan diri ku."


Hanna sedikit terkejut melihat tubuh norr yang asli.


"Sekarang kau sudah menjadi manusia, kau harus membantu ku pak norr." Ucap hanna sambil menatap norr.


Norr terkejut mendengar ucapan hanna yang memanggil nya dengan sebutan pak " Hey apa kau tidak lihat wajah ku ini sangat lah muda , jangan panggil aku pak , panggil aku tuan." Ucap norr sambil tersenyum.


"Terserah kau saja , hmm tidak perlu banyak bicara lagi , cepat memusnahkan mereka ." Ucap hanna sambil menggenggam erat pedang nya.


"Baik lah nona ,ck merepotkan sekali." Ucap norr.


Norr dengan segera menyentuh pundak hanna sebuah cahaya berwarna biru mengelilingi pendang pusaka.