
Haruka yang tengah mendengarkan ucapan dari Norr, kemudian dia segera membuang pandangannya, Haruka melirikkan kedua bola mata birunya itu ke arah samping kiri. Tak lama kemudian Haruka segera menjawab ucapan dari Norr kepada dirinya.
"Aku tidaklah tau, tetapi begitulah yang dia katakan kepada diriku, dan entah mengapa aku merasa dia bukanlah pria asing, hmm dan lagi Xiao Chen sempat memberikanku sebuah buku kuno awalnya aku tidak mempercayai ucapannya itu, namun, setelah aku membaca buku kuno yang dia berikan kepada diriku, membuat diriku semakin yakin bahwa aku adalah Reinkarnasi dari Zie, Pangeran Iblis pun sama sebelum ia aku lenyapkan, dia sempat berkata bahwa diriku adalah seseorang yang paling dibenci olehnya." Ucap, Haruka dengan tegas kepada diri Norr.
Putri Kirana yang tengah memperhatikan wajah Haruka, membuatnya nampak sangat tercengang saat mendengar semua yang dikatakan oleh Haruka, sampai-sampai membuat Putri Kirana menyambung pertanyaan untuk Haruka.
"Buku kuno? Buku macam apa itu? Tetapi pria itu tidak melukai dirimu kan?" tanya Putri Kirana dengan penasaran.
Haruka yang tengah memperhatikan sebuah jendela yang berada samping kanan Norr, kemudian dia menjawab tanya Putri Kirana dengan sedikit melirik ke arah dirinya.
"Hm, hanya lah buku biasa, namun buku itu terlihat usang, mungkin karena sudah terlalu lama, buku itu milik Zie, iya... Aku baik-baik saja, dia tidaklah melukai diriku, tapi sebaliknya." Jawab Haruka dengan tegas.
Leo yang masih duduk ditempatnya, masih memperhatikan wajah Haruka dengan serius, kemudiam dia segera bertanya kembali pada pertanyaan awalnya yang masih belum dijawab oleh Haruka.
"Lantas, mengapa kau sangat perduli dengan Pangeran Kichiro?! Jangan bilang karena kau...." Belum sempat Leo melanjutkan ucapannya, Haruka dengan cepat segera menjawab tanya dari Leo.
"Itu, hm Xiao Chen menginginkan nyawanya, aku tidak akan mungkin membiarkan dia mati dengan sia-sia." Ucap, Haruka dengan tegas sambil menatap wajah Leo.
Norr yang mendengar ucapan dari Haruka kemudian dia segera meletakkan kedua lengannya diatas meja kayu dihadapan mereka.
"Mungkinkah itu karena cinta?" tanya Norr dengan perasaan yang begitu pernasaran.
Haruka terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan dari Norr terhadap dirinya, Haruka menghela napasnya kemudian dia segera menjawab tanya dari Norr yang ditujukan kepadanya itu.
"Sungguh itu terlihat sangat naif jika aku berkata tidak, iya aku sudah jatuh hati kepada dirinya, tetapi kalian pasti sudah sangat mengerti mengapa diriku bersikap seperti ini, bukan?" ucap, Haruka dengan tegas.
Seketika itu juga Norr, Leo dan Kirana hanya terdiam saat mendengar ucapan dari Haruka, didalam benak Putri Kirana, merasa bahwa ternyata menjadi diri Haruka itu bukanlah suatu hal yang mudah untuk dapat menjadi seperti dirinya.
"Tetapi bukankah itu hal bagus bagi dirimu Haruka, ternyata kau berasal dari Dunia atas, mungkin saja disana kau masih memiliki kekuarga?" ucap, Putri Kirana dengan suara yang sedikit pelan.
Haruka yang mendengar ucapan dari Putri Kirana, sepertinya dia tidaklah berani membahas pasal Pangeran Kichiro lagi kepada dirinya, dan malah dia mengalihkan pembicaraan untuk menyambung perbincangan dan mempererat suasana agar tidak terasa canggung diantara mereka.
"Mungkin saja, hari sudah semakin larut, baiknya kita segera beristirahat." Ucap, Haruka yang segera menatap wajah Putri Kirana.
"Kau memanglah sangat benar, malam sudah semakin larut, baiknya kita semua segera beristirahat, akan aku tunjukkan dimana kamar yang sudah aku sediakan untuk kau gunakan, kemari." Ucap, Putri Kirana yang segera bangun dari duduknya sambil berdiri dihadapan Norr dan Leo Putri Kirana segera mengulurkan lengan kirinya untuk menggandeng lengan Haruka.
Haruka yang masih terduduk diatas kursi, dia yang tengah menatap wajah Putri Kirana dengan segera memperhatikan lengan kiri yang berada dihadapannya itu, tak lama kemudian Haruka segera terbangun dari duduknya, sambil meraih lengan Putri Kirana, Norr dan Leo saat melihat hal itu dihadapan mereka merasa sangatlah senang, ternyata Putri Kirana memanglah wanita yang baik, dan mereka pantas jika menjadi seorang teman.
"Baiklah, oh ya Norr, Leo, dan kau Kirana, terima kasih atas kerja kerasnya, rumah ini cukup bagus." Ucap, Haruka yang melirik ke arah Norr, Leo dan juga Kirana, sambil memasang raut wajah puas terhadap apa yang sudah mereka kerjakan.
Norr yang mendengar hal itu hanya menutup salah satu matanya, sedangkan Leo, seperti biasa dia selalu bangga saat Haruka memuji dirinya.
"Tentu saja kau harus berterima kasih kepada diriku, ini bukanlah pekerjaan yang terlalu sulit bagi diriku." Ucap, Leo dengan perasaan yang sangat bangga terhadap dirinya sendiri.
Norr, Putri Kirana juga Haruka saat mendengar ucapan dari Leo, membuat mereka semua memasang wajah kesal, terlebih lagi Norr yang sebenarnya dia dan Putri Kirana lah yang telah membuat rumah kayu itu.
"Enak saja, ini itu hasil kerja kerasku dan Kirana, kau hanya mondar-mandir saja, bergaya sana-sini mencoba menarik perhatian Harimau betina." Ucap, Norr yang memperhatikan wajah Norr dengan sedikit tersenyum tipis kepada dirinya.
Leo yang mendengar ucapan dari Norr yang terlihat tengah berkata yang tidak-tidak membuatnya merasa sedikit kesal, kemudian Leo menoleh ke arah Norr dengan kepasang mata yang ia sipitkan, dan tampang yang tidak sedap dipandang.
"Baiklah aku mengaku, yang membuat rumah kayu ini adalah sepasang kekasih Haruka, aku itu tengah mencari buah didalam hutan, mana mungkin aku menarik perhatian Harimau betina, seorang Leo tidak akan mungkin melakukan hal semacam itu." Ucap, Leo dengan raut wajah liciknya.
Haruka kemudian segera melirik ke arah Norr, dan Putri Kirana dengan raut wajah tidak menyangka, dia sungguh sangat terkejut ternyata hubungan antara Norr dan Putri Kirana sudah sejauh itu.
"Jadi selama aku tidak ada, banyak hal ya yang sudah aku lewatkan, rasanya aku harus bersyukur atau sebaliknya ya? Leo bersabar lah, Pak." Ucap, Haruka dengan sedikit tersenyum kepada teman-temannya itu.
Norr dan Putri Kirana merasa sangat malu saat Haruka berkata begitu terhadap diri mereka, kemudian Putri Kirana segera menampik semua ucapan dari Leo dan Haruka, dengan gugup.
"Ti... Tidak begitu, jangan dengarkan ucapan dari Leo, dia hanya berdusta saja." Ucap, Putri Kirana yang terlihat sangat gugup dihadapan Haruka.
Haruka hanya tersenyum kecil, kemudian dia segera berbicara lagi kepada diri Putri Kirana, sambil melirik ke arah Putri Kirana.
"Hmm, iya aku pun hanya bercanda saja, mengapa kau terlihat sangat gugup Kirana?" ucap, Haruka dengan tegas.