
Tiba-tiba saja dari arah berlawanan Haruka melihat sinar yang begitu sangat cerah sampai dapat menyilaukan Matanya, Haruka dengan cepat mengangkat lengan kanannya untuk dapat menutupi padangan dari sinar yang sangat terang itu. Sinar putih kebiruan semakin membesar dan bergerak untuk dapat mendekati tubuh Haruka. Rasanya saat didekati oleh sinar itu tak terasa hawa panas ataupun dingin. Namun, yang saat itu ia rasakan hanyalah sebuah rasa sejuk yang menyelimuti tubuhnya.
Rambut hitam panjang yang saat itu terurai, secara perlahan menari diterpa angin yang tiba-tiba saja muncul, tak kuat namun hanya seperti angin sepoi-sepoi saja. Tak lama kemudian sinar itu menghilang dalam sekejap Mata pada pandangannya, Haruka yang saat itu tengah menyipitkan sepasang Mata besarnya, tampak tertegun ketika melihat hal semacam itu. Lengan kanan yang semula menutupi Matanya kembali ia turunkan, timbul rasa curiga yang semakin mencuat dalam dirinya.
"Ada apa ini? Mungkinkah aku akan dipertemukan dengan musuh baru? Siapa dalang dibalik semua ini? Hmh... Sungguh merepotkan sekali, aku pikir semua akan berakhir dengan begitu sangat mudahnya, sepertinya tidak ya? Jika dipikirkan kembali situasi seperti ini sangat tak asing bagi diriku." Dalam benak Haruka yang terus menatap ke arah ruang kosong tanpa batas itu.
Cring....
Cring....
Cring....
Aroma dari bunga persik yang sangat segar berhembus sampai dapat Haruka nikmati wanginya, terdengar suara langkah kaki yang berasal dari arah belakang seakan tengah mendekati tubuh Haruka. Haruka dengan perlahan melirik ke arah samping kanan, sepasang bola Mata biru itu tengah memperhatikan secara akurat langkah kaki dari seseorang yang tengah berada dibelakang tubuhnya itu.
"Hmh...." Tak lama kemudian karena rasa penasaran yang muncul begitu kuat dalam dirinya, dengan cepat Haruka memalingkan tubuhnya untuk dapat melihat siapakah sosok yang tengah menjadikan dirinya tamu itu.
Terbelalak Haruka menyaksikan hal yang tak ia duga-duga sebelumnya, dua Wanita cantik tengah berada dihadapannya. Salah satu dari Wanita itu Haruka tampak begitu sangat mengenalinya.
"Ini mimpi?" ucap, Haruka dengan sedikit mengangkat alis kanannya dihadapan kedua Wanita itu.
Cring....
Cring....
Cring....
Suara gelang kaki yang berdenting ketika sepasang kaki jenjang itu melangkah dengan sangat anggun.
"Aku kembali, apa kau senang?" ucap, Putri Hanna dengan sedikit tersenyum kecil pada Haruka.
"Begitukah? Oh... Selamat, tetapi untuk apa? Bukankah semua sudah berakhir, aku yang mengakhirinya, bukan?" tanya Haruka dengan sepasang Mata yang mencerminkan rasa curiga akan hadirnya Putri Hanna.
"Benar, aku sungguh berhutang budi padamu. Apa kau tau Wanita yang tengah berdiri disampingku? Kembalilah padanya, dan aku yang akan menggantikan posisimu saat ini, Haruka." Ucap, Putri Hanna yang tengah menatap tajam Wajah Haruka.
"Aku masih tidak mengerti? Hmh... Bisakah kau menjelaskannya kepada diriku?" tanya Haruka dengan rasa curiga yang semakin menjadi.
"Semua yang kau miliki, sadarkah kau itu adalah milikku, iya aku tau betul kau lah yang membalaskan dendam ku, tetapi selamanya hidup yang kau miliki itu adalah milikku, kembalilah, Haruka ke tempat asalmu, menghilanglah sejauh mungkin." Ucap, Putri Hanna dengan tegas.
Haruka terdiam tak menyangka dengan apa yang telah terjadi, kemudian dia menatap Wajah Dewi Chang'e. Perlahan Haruka memejamkan sepasang Matanya ia kembali berpikir bahwa ini memanglah kehidupan yang tak seharusnya ia dapatkan, ini milik Putri Hanna, bukan dirinya. Sungguh tak menyangka akan tiba saat dimana ia harus berpisah dengan kehidupan yang secara tak langsung sudah membuat dirinya merasa nyaman. Haruka menarik napas panjang lalu menghela dengan perlahan.
"Kichiro... Kau pernah berkata kepada diriku untuk tidak meninggal dirimu, bukan? Hah... Maaf aku tidak dapat menepati janjiku itu, tetapi pada akhirnya aku tau ternyata kau bukanlah cinta sejatiku, jadi untuk apa aku membunuh dirimu? Putri Kirana, hei aku takkan pernah lupa akan janjiku padamu, aku harap kita akan berjumpa dilain kesempatan.
"Huft... Baiklah, Bunda aku akan kembali padamu." Ucap, Haruka yang segera berjalan untuk dapat mendekati Dewi Chang'e.
"Dan untuk dirimu Hanna, tolong jaga baik-baik Kichiro, oh iya... Jangan lupakan Kirana, Norr dan Leo, jika mereka bertanya dimana diriku, hmh... Ja...." Belum sempat Haruka melanjutkan perkataannya Putri Hanna segera menyambung dengan cepat.
"Tenang saja, hmh... Kini mereka tidak akan pernah bisa mengingat dirimu, Dewi Chang'e lah yang telah melakukan hal itu." Ucap, Putri Hanna dengan sedikit tersenyum tipis pada Haruka.
Haruka terdiam, ia tampak sangat terkejut sudah ia perkirakan sejak awal hal ini ternyata sudah direncakan secara matang-matang. "Sungguh Dewi yang licik, pantas saja Putri mu itu memilih aku untuk dijadikan Reinkarnasinya." Dalam benak Haruka dengan tersenyum canggung.
"Begitukah, syukurlah, sampai jumpa." Ucap, Haruka yang segera berdiri disamping Dewi Chang'e.
Haruka terdiam lesu, sambil tertunduk memandangi lantai putih yang saat itu ia tengah pijak. "Hmh... Pada akhirnya seorang pengganti akan tetap menjadi seorang pengganti, ia tak dapat menggantikan posisi untuk menjadi tokoh utama, selamat tinggal... Terima kasih." Dalam benak Haruka.
Sinar putih segera menyelimuti tubuhnya dan Dewi Chang'e, Putri Hanna terdiam ketika melihat semua itu, sampai pada akhirnya Haruka mengangkat kepalanya dilihatnya Putri Hanna tengah terdiam dengan sepasang bola Mata sendu. Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Aku sebenarnya tidak menginginkan hidup yang seperti ini!" Dalam benak Putri Hanna dan juga Haruka, sepasang Mata itu mengisyaratkan banyak hal, sampai pada akhirnya menghilanglah Haruka dari dalam pandangan Putri Hanna.
^°^°
"Uh...." Putri Hanna terbangun dalam tubuh yang tengah bersandar dibalik dahan pohon besar.
"Hei... Ada apa? Apakah tidurmu tidak nyenyak?" tanya, Pangeran Kichiro yang saat itu tengah berada disamping Putri Hanna.
Putri Hanna terkejut ketika melihat kehadiran dari Pangeran Kichiro, rasa bersalah seakan muncul dengan begitu dalam. "Sebenarnya siapa yang menjadi seorang pengganti itu?" dalam benak Putri Hanna.