
Amuya berjalan meninggalkan kamar Permaisuri.
Zofan segera menghampiri Amuya. "Kaka sungguh sangat hebat, kaka mencoba menarik perhatian Permaisuri dengan cara seperti ini."
Amuya menatap Zofan dengan perasaan senan. "Heh ternyata kau mengikutiku."
"Sebenarnya tidak, tapi aku tidak sengaja melihat kaka menemui permaisuri bukankah itu sebuah trik yang sudah kaka rencanakan." Ucap Zofan.
"Jika tidak bisa mendekati pangeran, maka harus mendekati ibunya, aku yakin cepat atau lambat permaisuri akan berada dipihak kita." Ucap Amuya.
Dengan senyum licik. Tamatlah kau Hanna."
Amuya segera meninggalkan Zofan.
Zofan menatap Amuya yang berjalan menjauh.
"Setelah Hanna disingkirkan, kau adalah target ku selanjutnya." Ucap Zofan dengan tersenyum licik.
Kemudian dia berjalan menuju kamar.
Didalam kamar Permaisuri Jian.
"Sungguh tidak disangka putrimu menggunakan cara serendah ini untuk berada di samping pangeran." Ucap Permaisuri Jian yang segera meletakkan gelas berisi minuman diatas meja.
Didalam kamar Putri Hanna.
Dia tengah terduduk dikamar. "Malam yang sangat membosankan." Ucapnya sambil menatap keluar jendela.
"Putri apa yang bisa hamba lakukan untuk menghibur putri, agar tidak merasa bosan lagi." Ucap Yuan yang berada disamping Hanna.
"Tidak ada." Segera Hanna menatap Yuan.
"Putri apakah anda ingin berjalan keluar istana sebentar, cuaca malam ini cukup bagus." Ucap Yuan yang memberikan saran.
"Benar juga, Yuan ayo ikut denganku." Ucap Hanna yang berdiri dan mengambil jubah miliknya.
"Ah apakah anda yakin putri?? Ucap Yuan yang sedikit Khawatir.
"Tentu saja, ayo." Hanna segera membuka jendela dan keluar. "Ayo cepat." Ucapnya sambil menatap Yuan.
"Tapi saya takut putri." Ucapnya dengan panik.
"Hey apakah sekarang kau menjadi seseorang yang penakut?." Ucap Hanna menantang.
"Tentu saja tidak." Ucap Yuan.
"Kalau begitu cepatlah." Ucap Hanna yang menatap Yuan.
"Baik Putri." Akhirnya Yuan memberanikan diri dan segera keluar melewati jendela.
"Norr....! ucap Hanna yang segera memanggil hewan peliharaannya.
Tak lama hewan itu datang.
Yuan nampak terkejut. "Putri hati-hati" Ucapnya sambil menarik lengan Hanna.
"Heh, kau fikir aku sangat suka dengan dagingmu yang tidak enak itu."Ucap Norr kesal lalu dia menatap Yuan.
Hanna segera menaiki tubuh Norr.
"Cepat naik." Ucap Hanna kepada Yuan.
"Baik Putri" Ucapnya sambil menaiki tubuh Norr dengan hati-hati.
"Hanna kemana kita akan pergi? tanya Norr.
"Hutan." Ucap Hanna.
"Baiklah aku akan mengantarmu kesana." Terbang dengan tinggi.
Didalam Hutan.
Hanna menatap sekeliling.
"Sepertinya baru saja terjadi perkelahian yang cukup besar disini." Ucap Hanna.
"Benar putri, tapi siapa?." tanya Yuan.
"Pastinya dua kerajaan yang besar." Ucap Hanna yang kemudian melirik Yuan.
"Apakah mungkin itu Pangeran Kichiro dan pangeran Rendra, bukan kah hari ini mereka pergi untuk menyelesaikan tugas." Ucap Yuan yang menatap wajah Hanna.
"Benar juga." Ucap Hanna.
Tiba-tiba sebuah panah melayang kearah Hanna.
Yuan yang menatapnya segera mendorong tubuh Hanna. "Putri awas! Panah beracun itu mengenai tubuh Yuan.
"Yuan!! ucap Hanna yang terkejut menatap Yuan.
"Syukurlah putri tidak apa."sambil memegang jantungnya dan perlahan dia terjatuh.
Hanna segera berlari kearah Yuan dan memegangi tubuhnya.
"Yuan bertahannlah aku mohon." Ucap Hanna yang segera menangkap tubuh Yuan.
"Disini banyak mata-mata musuh, sepertinya apa yang di katakan pelayanmu benar Pangeran baru saja berkelahi." Ucap Norr.
"Norr aku ingin kau bawa Yuan pergi dari sini, bawa dia ke tempat paling aman, lalu sembuhkan lukanya." Ucap Hanna sambil meletakkan tubuh Yuan diatas punggung Norr.
"Baik tapi bagaimana denganmu? ucapnya khawatir.
"Kau tenang saja, aku bisa menjaga diriku dengan baik, cepat pergi dan sembuhkan Yuan, aku tidak ingin dia mati." Ucap Hanna yang menatap wajah Norr.
"Jaga dirimu baik-baik, aku pergi."Ucap Norr segera dia pergi meninggalkan Hanna.
"Siapapun disana tunjukan wujudmu! ucap Hanna kesal.
Seseorang segera keluar dari balik Pohon satu persatu dan mengepung Hanna.