
Pangeran Kichiro memperhatikan wajah Haruka yang tengah berdiri dihadapannya. Sorot mata pria itu nampak tajam memandang wajah Haruka, Haruka yang tengah berdiri dihadapan Kichiro kemudian segera merapikan pakaiannya, saat ini dia tengah mengenakan pakaian seperti seorang pria, baju dengan lengan panjang berwarna biru, dibalut jubah berwarna merah, dengan rambut terikat satu yang Kirana lakukan, celana hitam panjang, tak lupa alas kaki berupa sepatu, ia dia mendapatkan disaat hari dimana kekuatan Batu perak mengeluarkan kekuatannya.
"Apakah anda terluka?" ucap Kichiro yang nampak merisaukan Haruka.
"Iya. Iya aku baik-baik saja." Jawab Haruka dengan tegas.
Pangeran Kichiro kemudian terdiam, sambil memperhatikan wajah Haruka, entah mengapa ia merasa amat dekat dengan wanita itu. Juga jantungnya berdegup cepat seperti tengah bertemu dengan orang yang paling di rindukannya.
"Aneh, ada apa dengan diriku?" dalam batin Kichiro dengan perasaan yang sangat aneh.
Tak lama kemudian mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Putri Yuri yang datang dari arah belakang Pangeran Kichiro, sambil membawa sebuah boneka.
"Pangeran." Ucap Putri Yuri denga manja kepada Pangeran Kichiro.
Pangeran Yang terkejut segera menoleh kearah samping, dilihatnya Putri Yuri tengah berada disamping kiri tubuhnya.
"Kau meninggalkan diriku!" ucap Putri Yuri dengan perasaan kesal namun nampak terlihat manja kepada Pangeran.
Haruka nampak dingin, dan cuek saat melihat kelakukan Putri Yuri, yang tengah berada disamping Pangeran Kichiro.
"Aku tidaklah menyangka, sekarang ini seleramu menjadi turun, hmm!" dalam batin Haruka sambil sedikit melirik kearah Putri Yuri.
Raut wajah Haruka terlihat amat dingin, kedua bola mata biru itu menatap tajam kearah Putri Yuri.
Pangeran Kichiro kemudian menoleh kearah belakang, sambil memperhatikan tubuh Haruka, gestur tubuhnya terlihat sama dengan Istrinya Hanna. Juga dari cara ia berbicara dan sikapnya yang agak angguh juga dingin.
"Nona, tunggu." Ucap Kichiro yang segera membalikkan tubuhnya, ucapannya telah meminta Haruka untuk menghentikan langkah.
Putri Yuri nampak terkejut, lalu dia segera menoleh kearah belakang, tatapannya sungguh tajam memperhatikan Haruka. Haruka yang mendengarnya dengan segera ia menghentikan langkah kakinya. Dan menoleh kearah belakang.
"Ada apa Tuan?" tanya Haruka dengan raut wajah dingin, lalu dengan segera ia memalingkan tubuhnya dan menatap wajah Kichiro.
"Bolehkah saya tau siapa nama anda, Nona?" ucap Pangeran Kichiro dengan perasaan curiga.
"Hm, untuk apa anda menanyakan hal itu, bukankah kita tidak saling mengenal? Terlibat urusan apapun juga tidak, bukan?" ucap Haruka dengan raut wajah dingin tanpa sedikit senyum yang mewarnai wajahnya, sorot matanya pun memperlihatkan sosok seorang wanita yang cuek, juga angkuh.
Putri Yuri yang melihat hal itu nampak kesal kepada Haruka, karena sikapnya yang amat angkuh.
"Hei kau wanita! Lancang sekali dirimu, beraninya kau berkata seperti itu. Apa kau ini buta pria yang tengah berbicara denganmu adalah seorang Pangeran dari Istana Yu, apa pangkatmu?! Hingga mampu berkata seangkuh itu." Ucap Putri Yuri dengan raut wajah kesal.
Kemudian Haruka segera melirik Putri Yuri yang tengah berada disamping Pangeran Kichiro. Dengan dingin Haruka segera menjawab ucapan dari Putri Yuri.
"Oh, tetapi bukankah saya hanya menjawab seadanya, sepertinya saya tidak melakukan kesalahan apapun disini. Bukankah benar Pangeran? Kita tidaklah saling mengenal, bukan? Lalu sekarang saya yang balik bertanya kepada anda, dilihat dari pakaian yang kau kenakan, nampaknya kau ini adalah seorang Putri dari suatu kerajaan, lalu apakah pantas seorang Putri berbicara dengan keras didepan umum? Dan lagi anda telah menghina diri seseorang?!" ucap Haruka dengan tatapan dingin, yang seakan memiliki racun dalam setiap pandangannya.