
Suasana yang semula ramai, kemudian nampak canggung. Penduduk yang tengah memperhatikan pementasan kini pandangan mereka tertuju pada Pangeran Kichiro, Putri Yuri dan juga Haruka. Suara Haruka terdengar jelas didalam telinga seluruh penduduk terlebih lagi Putri Yuri, yang amat merasa malu juga kesal pada Haruka.
"Kau, aku hanya memberitahukanmu saja, kau seharusnya sadar tengah berpijak didalam kawasan milik siapa?!" ucap Putri Yuri kesal.
Pangeran Kichiro yang nampak kesal, dengan apa yang Putri Yuri ucapkan, dengan segera Pangeran Kichiro menyambung pembicaraannya.
"Cukup!" bentak Pangeran Kichiro.
Putri Yuri nampak terkejut, saat mendengar ucapan dari Pangeran Kichiro yang terdengar sangat marah. Haruka yang tengah berdiri dihadapan kedua orang itu, segera melirik kearah Pangeran Kichiro dengan pandangan dinginnya itu.
"Pangeran?!" ucap Putri Yuri yang terkejut.
"Maaf, jika perkataan saya telah keliru terhadap anda Nona, benar kita memang tidaklah saling mengenal, tetapi saya sebagai Pangeran dari Istana Yu, wajib mengetahui identitas siapapun yang masuk kedalam kawasan ini." Ucap Kichiro dengan tegas.
Putri Yuri kemudian segera menyambung pembicaraan Pangeran Kichiro.
"Huh, itu benar. Atau jangan-jangan kau ini seorang mata-mata ya?!" tegas Putri Yuri dengan raut wajah liciknya.
Tatapan Pangeran nampak tajam memandang wajah Haruka, tersimpan kecurigaan mendalam dari dirinya. Haruka yang mendengar ucapan yang tidak mengenakkan dari Putri Yuri kemudian segera membalas perkataannya, dengan raut wajah dingin dan tegas.
"Pangeran, tolong ajarkan kepada Istri anda ini untuk bertingkah laku dengan baik dan sopan, terhadap orang lain!" ucap Haruka dengan raut wajah dingin dan tatapan dari kedua matanya yang tajam.
Putri Yuri nampak terkejut dengan ucapan Haruka kepadanya, dia merasa telah dihina dengan seorang wanita angkuh yang nampaklah rendahan, kastanya pun tidak pantas disandingkan dengan dirinya.
"Kau! Sungguh tidak tau malu, lihat saja aku tidak akan pernah melupakan kejadian malam hari ini, aku akan selalu mengingat wajahmu!" bentak Putri Yuri sambil menunjuk wajah Haruka dengan lengan kanannya.
Pangeran yang melihat suasana malah semakin ricuh, kemudian dia segera mengangkat tangan kanannya untuk menghalangi Putri Yuri agar tidak melakukan suatu kebodohan yang akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Jangan bodoh. Kau ini seorang Putri, dimana sopan santunmu?!" ucap Pangeran dengan suara lirih.
"Jangan gegabah, Pangeran Kichiro nampak kesal lagi kepadaku, sial dasar wanita itu pembawa sial!" dalam benak Putri Yuri, ia tengah menahan sebuah amarah yang sudah memuncak.
"Dia bukanlah Istriku." Ucap Pangeran Kichiro dengan dingin.
Putri Yuri nampak terkejut kemudian dia segera menoleh kearah Pangeran, penduduk desa yang mendengar pengakuan dari Pangeran segera mereka berbisik lirih. Haruka segera melirik kearah penduduk desa yang nampak tengah membicarakan Putri Yuri.
"Oh, pantas." Ucap Haruka dengan raut wajah seriusnya.
Putri Yuri kemudian menatap wajah Haruka yang dengan beraninya telah merendahkan dirinya.
"Tapi Pangeran bukankah Kaisar...." Belum sempat Putri Yuri melanjutkan ucapannya dengan segera Pangeran Kichiro menyambung perkataannya.
"Cukup, ingat Yuri Kaisar yang memintaku, dan itu bukanlah kehendakku sendiri, aku berhak atas hidupku." Ucap Pangeran Kichiro dengan suara yang sedikit lirih.
Putri Yuri nampak terkejut kemudian dia segera membalas ucapan Pangeran Kichiro dengan suara lantangnya.
"Tetapi, Kaisar sangat menyukai diriku!" ucap Putri Yuri dengan tegas.
Haruka menatap wajah Putri Yuri dengan tatapan sinisnya.
"Dasar tidak tau malu, untuk apa berkata sekeras itu, bukankah ini masalah pribadinya." Dalam benak Haruka.
"Itu Kaisar yang menyukaimu, bukan diriku, karena ayah sangat menyukaimu mungkin dia yang akan menikah dengan dirimu." Ucap Pangeran Kichiro dengan pandangan dingin, nada suaranya pun nampak tegas.
Haruka yang melihat sosok Kichiro saat ini sangatlah berbanding terbalik disaat dia masih berada disisi Kichiro, tidak pernah dia mendengar ucapan yang begitu amat menyakitkan dapat keluar begitu saja dari dalam mulutnya. Dahulu Kichiro seorang pria yang lembut, terhadap seorang wanita. Ataukah mungkin Haruka memang belum mengenal sosok dari Kichiro lebih dalam.