GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Masih Semanis Dulu


Ucapan Axelle yang mengatakan bahwa Alvaro masih single itu terus terngiang di telinga Nurul bahkan hingga kini ia diam di dalam kamar sambil memikirkannya. 


Tadi di panti hingga acara amal selesai Nurul tidak berani keluar untuk menampakkan dirinya. Ia tidak ingin bertemu Alvaro padahal Alvaro menunggunya untuk bicara. Nurul masih belum siap dan masih belum memiliki kata-kata saat bertemu dengan Alvaro.


"Alvaro, apa benar kamu masih single?" gumam Nurul.


Nurul termenung, ia menatap putrinya yang sudah tertidur pulas karena kelelahan seharian bermain di panti. Ia tersenyum dan kembali teringat saat Alvaro meminta Aluna merahasiakan pertemuan mereka dengan menjanjikan sebuah kejutan. Anak ini begitu patuh pada Alvaro dan hati Nurul begitu terharu melihat kedekatan mereka.


Ia kembali terdiam dengan pikiran yang tidak bisa diam. Hanya berpikir saja sudah membuat Nurul kembali lapar padahal baru dia jam yang lalu ia makan malam bersama keluarganya. Nurul tidak melihat Ikram padahal ia sangat ingin bertanya pada teman lamanya itu tentang ucapan Axelle tadi. 


Nurul pun keluar dari kamar untuk mengambil makanan kecil di kulkas sebagai pengganjal perutnya. Seampainya di dapur, ia membuka kulkas namun sayang yang ia cari tidak ada. Nurul memutuskan untuk mengambil air minum saja. Mungkin setelah ia tertidur ia tidak akan merasa lapar lagi.


"Tidak bisa tidur?"


"Allahu Akbar!" pekik Nurul, ia terkejut. Apalagi ia sangat mengenal siapa pemilik suara berat itu.


Dengan gugup Nurul berbalik badan, "Lu disini? Kok gue nggak tahu ya?" tanya Nurul.


Cowok tengil itu menampilkan cengirannya yang membuat ia semakin tampan, "Gue baru datang bareng Ikram. Nggak sopan dong gue bertamu disini tapi tidurnya di tempat lain," jawab Alvaro. Ia kemudian menghampiri Nurul yang tidak jadi mengambil air minum. "Lu lapar?" 


Nurul menggeleng lalu mengangguk membuat Alvaro gemas hingga tangannya dengan refleks mengacak-acak rambut Nurul. "Keluar yuk bareng gue. Kita cari makan, gue juga lapar," ajak Alvaro.


Sumpah demi Tuhan, sikap manis Alvaro ini sudah membuat Nurul meleleh menjadi karamel. Ingatan Nurul melayang pada saat pertama kali ia dan Alvaro berkenalan. Rasanya masih semanis dulu.


Nurul tidak tahu harus berkata apa, ia masih tenggelam dalam kebahagiaannya. Alvaro sendiri, rasanya ia ingin membawa Nurul ke dalam dekapannya. Ia tadinya berniat mengambil air minum justru bertemu dengan air kehidupan yang selama ini membuatnya kehausan akan cinta.


"Nggak usah kelamaan mikir, yuk!"


Nurul menatap tangannya yang digenggam oleh Alvaro, rasanya Nurul ingin pingsan lagi dengan keadaan ini. Ia tidak sanggup menahan rasa bahagianya. Sudah lama–bahkan sangat lama ia menanti momen manis bersama Alvaro. Momen yang selama ini hanya bisa ia lihat dalam khayalan dan ilusinya saja. Ternyata ketika ilusi menjadi nyata, rasanya jauh lebih menyenangkan. 


Oh jantung, kenapa lu berdebar sekencang ini? Gue takut Alvaro mendengar detakan jantung gue. 


"Aluna gimana?" tanya Nurul yang teringat akan anaknya.


Alvaro menghentikan langkahnya, "Emang dia belum tidur?"


"Sudah," jawab Nurul.


Alvaro tersenyum kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Nurul.


Dari dalam kamar tamu, Ikram keluar dan mendapati pasangan ini sedang berjalan keluar sambil bergandengan tangan.


"Uhuk … gue kira ini di dalam rumah eh ternyata ini di jalan raya. Mau nyebrang ya sampai gandengan gitu."


Nurul menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah malunya karena kedapatan Ikram. Nurul sudah mencoba melepaskan tangannya tapi sayangnya Alvaro malah menautkan jari-jari mereka.


"Syirik aja lu," cibir Alvaro.


"Hahaha. Emang udah malam gini kalian mau kemana?" tanya Ikram.


"Ya mau pacaran lah, emang lu jomblo mulu. Makanya cari pacar sana biar lu tahu rasanya jatuh cinta itu kayak apa. Iya 'kan sayang," ledek Alvaro namun sayangnya ucapannya itu justru semakin membuat pipi Nurul merona.


Ikram berdecak, "Sialan lu. Gue kira kalian keluar lagi proses perencanaan pembuatan adiknya Aluna lagi. Ya udah selamat pacaran deh, jangan sampai kebablasan lagi. Kita bisa dibunuh Tuan Ben Elard jika sampai anak sahabatnya ini kenapa-napa," ucap Ikram memperingatkan.


Alvaro bergidik ngeri begitu nama Ben Elard disebutkan. Ia tahu seperti apa bengisnya ayah Ikram itu dan jika saja suatu saat nanti pria itu tahu jika Nurul pernah jadi mainan mereka, ia yakin dan percaya Ben Elard pasti akan menggantung mereka di Monas.


Sebuah seringai terbit di bibir Alvaro yang membuat Ikram bergidik, "In syaa Allah kalau gue nggak khilaf dan kalau nggak banyak setan yang ganggu gue malam ini. Lu lupa kalau udah empat tahun gue puasa?"


Alvaro merintih kesakitan saat Nurul mencubit pinggannya sedangkan Ikram tergelak. Ia mengejek Alvaro kemudian ia masuk ke dalam kamar.


Untung saja tadi Alvaro berinisiatif meminjam mobil kak Alee untuk pulang ke rumah keluarga Emrick. Ternyata memang dia sudah punya firasat jika malam ini ia akan menghabiskan waktu bersama Nurul.


.


.


Alvaro menghentikan mobilnya saat Nurul memintanya menepi di dekat warung tenda yang masih buka. Keduanya turun bersama lalu masuk ke dalam warung tenda tersebut. Nurul memesan dua porsi ayam bakar lalapan sebab Alvaro mengatakan ingin makan makanan yang sama dengannya.


Sambil menunggu pesanan mereka, Alvaro terus saja mengunci pandangannya pada Nurul. Nurul yang terus menerus ditahap oleh Alvaro menjadi salah tingkah.


"Lu cantik!"


Pipi Nurul yang kemerahan itu semakin memerah mendengar pujian Alvaro yang tiba-tiba.


"Lu cantik itu sebabnya gue nggak bisa alihin pandangan gue dari lu," imbuh Alvaro. Nurul langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


Makanan yang mereka pesan pun sudah dihidangkan dan Nurul dengan lahap menyantapnya sedangkan Alvaro hanya terus memandang wajah yang ia rindukan bertahun-tahun lamanya ini. Nurul ingin protes tapi ia tahu itu akan percuma saja karena yang ia hadapi saat ini adalah Alvaro Genta Prayoga, pria yang tidak akan mau kalah debat dengannya.


Nurul sendiri mengira jika Alvaro sudah ingin pulang cepat sehingga ia tidak diberi waktu untuk duduk sesaat setelah makan. Namun anehnya, ia justru menyuruh Nurul untuk duduk di jok belakang. Meskipun heran Nurul pun menurutinya.


Mobil melaju namun bukan ke arah rumah Nurul. Wanita beranak satu itu sempat bertanya namun Alvaro mengatakan jika ia akan membawa Nurul ke tempat yang aman.


Mata Nurul terbelalak begitu tahu kemana Alvaro membawanya. Mobil ini berhenti di parkiran kantor polisi dan Alvaro sempat keluar entah berbicara apa dengan salah satu polisi di depan kantor tersebut. Ia kemudian masuk ke jok belakang dimana Nurul duduk dan yang paling membuat Nurul terkejut lagi, Alvaro langsung berbaring di atas pangkuan Nurul.


"Gue kangen sama lu. Boleh ya gue baring dipangkuan lu. Sekalian tolong lu usapin rambut gue, biar romantis," ucap Alvaro yang membuat Nurul kicep. "Lu pasti nanya kenapa gue bawa lu kesini, jawabannya itu simpel, kita nggak mungkin berduaan di rumah lu karena lu pasti takut ketahuan sama orang tua lu dan yang kedua kalau gue markir mobil dipinggir jalan sepi, entar yang ada kita nanti dikira pasangan mesum dan parahnya bakalan dinikahkan secara paksa. Gue sih mau-mau aja eh bahkan mau banget malah, tapi gue tahu lu pasti nggak mau. Nah, sekarang biar aman, kita disini saja. Gue udah lapor kok sama pak Polisi."


Ucapan panjang lebar Alvaro itu membuat Nurul menganga. Ia baru sadar pria bersamanya ini adalah seorang Alvaro yang kelakuannya tidak bisa ditebak. Sedangkan Alvaro justru tengah menikmati wajah terkejut Nurul.


"Aina, gue cinta sama lu. Lu mau nggak jadi pacar gue?" ucap Alvaro tiba-tiba.


Nurul hanya menanggapinya dengan sebelah alisnya terangkat.


"Nurul please. Untuk yang nggak kehitung kesekian kalinya gue nyatain perasaan gue ke elu, masa lu masih nolak gue sih?"


Degg …


Nurul mendadak merasa deja vu dengan ucapan Alvaro barusan.


"Dan untuk yang nggak kehitung kesekian kalinya juga gue nggak bisa nerima lu. Gue masih mau fokus ngurus skripsi," jawab Nurul yang membuat keduanya tergelak bersama.


Alvaro langsung bangkit dari pangkuan Nurul dan dengan cepat membawa tubuh mungil Nurul ke dalam dekapannya. "Gue kangen," bisik Alvaro.


Mengesampingkan perasaan gengisnynya, Nurul langsung membalas pelukan Alvaro, ia juga sangat merindukan pria tengil ini. Begitu tahu Nurul membalas pelukannya, Alvaro semakin mengeratkan dan merapatkan tubuhnya seolah ia takut Nurul akan hilang dari dekapannya.


"Alvaro, gue juga kangen sama lu. Gue kangen banget sama lu, hiksss…"


Lega, lepas sudah semua rindu yang Nurul pendam selama ini. Akhirnya ia bisa mengatakannya dan mendekap erat lelaki yang ia cintai sejak dulu hingga nanti.


Tangis Alvaro pecah saat Nurul akhirnya mau mengakui jika ia pun sama merindunya seperti dirinya. Dengan bertubi-tubi Alvaro menciumi puncak kepala Nurul. Ia membiarkan air matanya tumpah begitu saja, ia sudah begitu senang dan ia tidak peduli apapun lagi.


"Maaf," lirih Alvaro.


Nurul mengangguk, ia menyandarkan wajahnya di dada bidang Alvaro. Menghirup aroma menenangkan dari tubuh itu yang masih sama seperti empat tahun yang lalu. Nyaman.


"Maaf, maafin gue atas semua kesalahan yang dulu pernah gue lakukan ke elu. Gue tahu gue jahat dan gue emang brengsek. Gue bajingan dan gue pengecut. Lu boleh hukum gue sepuasnya terserah lu asalkan lu tetap sama-sama gue Na. Gue cinta sama lu."


Alvaro melepaskan pelukannya kemudian ia menangkup kedua pipi Nurul. Perlahan ia mengecup kedua mata Nurul bergantian. "Maaf karena sudah membuat mata ini menangis begitu banyak. Gue janji setelah ini nggak akan ada lagi air mata kesedihan yang keluar dari mata indah lu ini."


Alvaro kembali membawa Nurul ke dalam pelukannya. Rasanya ia ingin terus memeluk Nurul bahkan sampai pagi menjelang. Nurul pun sama, ia tidak peduli apakah Alvaro akan menganggapnya rendahan dengan memeluk erat tubuhnya, Nurul hanya ingin berada dalam dekapan Alvaro.


"Ro, boleh gue nanya sesuatu?" tanya Nurul yang kini sudah melepaskan diri dari pelukan Alvaro. Ia masih sedikit sesenggukan begitupun dengan Alvaro.


"Boleh," jawab Alvaro sambil mengusap lembut rambut yang menutupi wajah Nurul, ia membetulkan tata letak rambut itu.


"Lu, udah nikah sama Miranda?" Nurul menggigit bibir bawahnya usai pertanyaan itu lolos dari mulutnya. Ia siap mendengar jawaban Alvaro walaupun itu menyakitinya.


Alvaro menautkan kedua alisnya, "Nikah sama Miranda? Kata siapa?" tanya Alvaro kaget, ia memang kaget dengan pertanyaan Nurul barusan.


"Kriss. Katanya kalian udah punya anak juga dan gue udah ketemu sama anak kalian, dia sangat tampan," jawab Nurul kemudian memalingkan wajahnya.


Mendengar nama Kriss disebut, Alvaro langsung geram. Ia tahu apa yang menyebabkan Nurul menjaga jarak darinya, ini semua karena kebohongan Kriss.


"Gue nggak nikah sama siapapun. Gue cuma mau nikah sama ibu dari anak gue dan itu elu," jawab Alvaro, ia menarik lembut dagu Nurul agar wanitanya ini kembali menatapnya.


"Tapi Kriss bilang –"


"Kriss itu suami Miranda. Mereka punya anak lelaki yang usianya tiga tahun dan namanya Frey. Dan sekadar info buat cewek gue yang ngilang tanpa kabar ini, Kriss itu bukan lagi sahabat gue. Dia musuh dalam selimut dan lu harus hati-hati sama dia," jawab Alvaro.


Mata Nurul membulat sempurna, ia nyaris tidak mempercayai apa yang ia dengar barusan.


"Oh ya, lu cewek gue 'kan ya? Dulu lu nerima gue 'kan? Kita udah jadian 'kan?" cecar Alvaro.


Nurul langsung tersipu, ia ingat jelas kalau dulu memang dirinya menerima Alvaro walau dalam keadaan terdesak.


"Aina," panggil Alvaro.


"Ya."


"Boleh nggak gue cium bibir lu?"


Deggg ….