
Alvaro meminta Frey untuk mengambilkan tas milik Aluna di kelas karena ia akan membawa Aluna pulang. Frey pun mengiyakan namun ia juga meminta agar diizinkan karena ia ingin menemani Aluna. Pak Suwondo pun memberikan izin dan Pak Nadir sama sekali tidak berani berkomentar lagi. Alvaro Genta Prayoga terlalu menakutkan untuknya.
Frey melangkah sendiri menuju ke kelas, namun terlebih dahulu ia mengambil tasnya di dalam kelas kemudian ia mengetuk pintu kelas Aluna yang saat ini tidak ada guru akan tetapi para siswa-siswi sedang sibuk dengan tugas dari Bu Laras karena beliau masih mendampingi Aluna di UKS.
Semua mata kini tertuju pada Frey yang sedang mengambil tas milik Aluna. Cici menatap Frey yang wajahnya tetap terlihat tampan walaupun ekspresinya begitu datar, namun itulah yang membuat Frey semakin enak dipandang.
"Aluna sakit apa, Frey?" tanya Cici.
Freya hanya menatap sekilas ke arah Cici kemudian ia menatap Riani. Tanpa bersuara sedikitpun, Freu langsung keluar dari kelas tersebut karena ia tidak ingin membuang-buang waktu untuk segera membawa Aluna ke dokter kandungan.
Merasa tidak ditanggapi oleh Frey membuat Cici malu sendiri. Apalagi di kelas saat ini mereka tahu bahwa yang paling dekat dengan Aluna dan juga Frey. Melihat tanggapan Frey yang seolah begitu dingin kepada Cici membuat teman-teman sekelas menertawakannya.
"Kasihan ya, ternyata nggak ditanggapin padahal lu ada disini dan suara lu bahkan didengar sama anak-anak lainnya.Oh iya, lu nampak malah, tapi mungkin Frey anggap lu itu makhluk tak kasat mata," ledek Riani.
Wajah Cici merah padam, tangannya terkepal kuat kemudian ia berdiri dari kursinya dan menatap Riani dengan sengit.
"Sebenarnya lu ada masalah apa sama gue? Kenapa akhir-akhir ini gue perhatiin lu selalu aja menyinggung gue? Lu nggak suka sama gue? Lu iri sama gue?" hardik Cici dengan begitu geram.
Riani ikut berdiri kemudian ia menggebrak meja. Teman-teman sekelasnya menjadi terkejut. "Gue nggak ada masalah sama lu, cuma gue emang mau cari masalah sama orang yang menjijikan kayak lu. Sebenarnya gue nggak mau sih berurusan dengan manusia enggak berguna seperti lu, cuma orang macam lu itu terlalu sayang untuk dilewatkan!"
Kesal mendengar ucapan Riani tersebut, dengan cepat Cici menarik rambut Riani lalu ia menjambaknya dengan kuat hingga kepala Riani mendongak ke atas. Tak mau kalah, Riani pun mencari rambut Cici kemudian keduanya saling menjambak.
Entah bagaimana ceritanya, keduanya kini sudah berada di depan kelas saling tarik-tarikan rambut dan tidak ada satupun dari teman-teman mereka yang mencoba untuk melerai. Yang ada justru mereka semakin bersemangat menyerukan nama jagoan mereka masing-masing.
"Ayo Cici ... jangan mau kalah!"
"Ayo Riani ... kalahkan Cici!!"
Begitulah teriakan-teriakan dari teman sekelas mereka, ada pula yang hanya menjadi penonton dengan tenang dan ada juga mengabadikan dengan kamera ponsel mereka.
"Brengsek lu Riani! Sebenarnya lu mau apa dari gue? Lu bakalan habis di tangan gue!" teriak Cici kesal.
Pakaian mereka kini sudah acak-acakan, bahkan rambut mereka sudah seperti rambut nenek sihir. Kulit tangan sudah terdapat luka bekas cakaran dan bahkan lengan baju Cici sudah sobek dibuat Riani.
Kekacauan tersebut sampai di telinga guru yang sedang mengajar di kelas Frey. Ia merasa bahwa hal yang terjadi di kelas sebelah bukan lagi sebuah diskusi tetapi terdengar seperti sorakan orang-orang yang sedang berkelahi. Dengan cepat ia keluar dan berjalan ke kelas sebelah.
"Hentikan anak-anak ...! Apakah kalian ingin menjadi jagoan di sekolah? Ini tempat belajar, bukan untuk berkelahi. Jika ingin berkelahi pergilah ke ring tinju!" teriak guru tersebut sambil memukul papan tulis dengan mistar panjang yang ia bawa agar Riani dan Cici berhenti.
"Kalian berdua ikut ibu ke ruang BK, sekarang!"
.
.
Mobil Alvaro terparkir di rumah sakit, empat orang dari dalam mobil tersebut keluar dengan tidak sabarnya menuju ke ruang pemeriksaan kandungan. Tadi mereka sempat pulang ke rumah dan meminta Aluna dan Frey untuk mengganti pakaian karena tidak mungkin Aluna diperiksa masih mengenakan seragam sekolahnya.
Dan disinilah mereka, di ruangan dokter kandungan yang akan memeriksa kandungan Aluna. Pengantin remaja itu sudah berbaring didampingi Frey yang selalu setia berada di sampingnya setelah tadi dokter menanyakan keluhan Aluna sampai akhirnya mereka mengatakan bahwa alunan sedang hamil.
Setelah pemeriksaan melalui USG, Aluna dan Frey pun diminta untuk kembali duduk karena dokter akan memberikan arahan. Dokter tersebut mulai menjelaskan bagaimana kondisi janin saat usianya empat minggu. Banyak hal yang ia paparkan, mulai jadi kondisi organ tubuh yang sudah mulai berfungsi dan ukurannya masih sebesar biji kacang hijau yaitu dua milimeter.
"Saya tahu kok, Dok."
Celetukan Aluna tersebut langsung menghentikan dokter yang sedang menjelaskan tentang embrio. Frey memalingkan wajahnya, ia tidak berani bertatapan dengan dokter tersebut yang pasti merasa dongkol karena mendadak Aluna menginterupsi ucapannya.
"Oh ya? Bukankah tadi katanya ini baru kehamilan pertama?" tanya dokter tersebut.
"Memang Dok, tapi ini semua saya tahu karena saya sudah mempelajarinya di pelajaran Biologi. Saya menguasai pelajaran itu dan selalu mendapatkan juara setiap kali mengikuti olimpiade. Jadi tidak perlu repot-repot menjelaskan," jawab Aluna dengan begitu santainya.
Frey hanya bisa menghela napas, ia sudah menduga Aluna pasti akan mengatakan hal ini. Sedangkan dokter tersebut cukup merasa tertekan setelah mendengar penjelasan dari Aluna.
"Mohon maaf Dok, istri saya memang akhir-akhir ini bersikap aneh seperti ini. Dia bahkan tidak memandang pada siapapun dia berbicara, tapi sebelum-sebelumnya dia tidak seperti ini, Dok," ucap Frey mencoba menjelaskan. Ia berharap dokter tersebut tidak marah ataupun tersinggung dengan ucapan Aluna tersebut.
Dokter yang masih terlihat cantik walaupun usianya bahkan lebih tua dari usia bunda Nurul itu pun tersenyum seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh jadi begitu ... hal ini wajar terjadi dan sudah lumrah terjadi pada ibu-ibu hamil apalagi hamil muda semua itu karena perubahan hormon pada ibu hamil ..."
Lebih lanjut dokter pun menjelaskan tentang perubahan fisik ibu hamil pada usia kehamilan empat minggu, dimana biasanya payudara ibu hamil akan terlihat bengkak dan terasa nyeri, kondisi fisik yang mudah lelah, sensitif terhadap bau, mual dan muntah hingga kehilangan nafsu makan.
Frey pun menanyakan bagaimana cara mengatasi setiap gejala tersebut dan apa-apa saja yang bisa dilakukan olehnya sebagai suami untuk selalu siaga.
Dokter pun kembali menjelaskan kepada Frey cara-cara mengatasi gejala-gejala yang dialami oleh ibu hamil tersebut dan ia kemudian menuliskan resep obat yang nantinya bisa Frey tebus di apotek rumah sakit.
Aluna dan Frey keluar dari ruangan tersebut setelah mengucapkan terima kasih. Di luar sudah ada kedua orang tua mereka yang sedang menunggu, Frey kemudian meminta izin untuk menebus obat tersebut di apotek sedangkan Aluna bersama dengan kedua orang tua mereka berjalan menuju mobil.
Kabar kehamilan Aluna tersebut sudah menyebar ke seluruh keluarga hingga di sore hari kakek dan nenek mereka pun berkumpul untuk memberikan ucapan selamat serta turut berbahagia atas kehadirannya calon pewaris terbaru dari keluarga Emrick, Prayoga, Griffin dan juga Smith.
"Uncle rasa Aluna sebaiknya melakukan homeschooling saja, kita bisa membayar gurunya untuk datang memberikan materi pelajaran kepada Aluna di rumah. Daripada dia harus ke sekolah, sangat berisiko," ucap Axelle memberi saran karena saat ini Aluna sedang bermanja-manja padanya.
Dengan cepat Frey mengangguk sedangkan Aluna menggelengkan kepalanya.
"Sayang apa yang dikatakan uncle Axelle itu ada benarnya, sebaiknya kamu homeschooling saja dan jika pun kamu tidak ingin sendirian maka aku bisa ikut bersamamu menjalankan homeschooling ini. Akan terlalu berbahaya jika kau masih pergi ke sekolah, belum lagi kau itu terlalu aktif dan jangan sampai teman-teman menjadi curiga jika nanti kau sampai mual dan muntah ..."
"Belum lagi bahaya yang sedang mengincar, apalagi jika sampai musuh tahu kalau kau tengah mengandung, bukan tidak mungkin mereka akan mengincarmu. Aku hanya ingin kau baik-baik saja di rumah."
Nasihat panjang lebar Frey tersebut hanya mendapat gelengan kepala dari Aluna. Matanya mulai berkaca-kaca dan kini iya mulai menumpahkan tangisnya.
"Nggak bisa! Kalau kita dua-duanya homeschooling, apa kata teman-teman sekolah nanti. Mereka pasti akan bertanya-tanya dan lagi pula aku tidak ingin homeschooling juga karena aku ingin mengawasi suamiku yang tampan ini di sekolah. Ada banyak bahaya di sana, ada banyak gadis-gadis yang menyukainya. Frey ini sangat laris di sekolah, jika Luna tidak sekolah sehari saja mungkin Frey sudah diculik sama teman-teman yang lainnya. Pokoknya nggak ada homeschooling, titik!"
Frey dan yang lainnya hanya bisa menuruti keinginan Aluna dan Alvaro kembali menekankan agar Frey selalu siaga menjaga Aluna.
"Hmmm ... Frey akan kembali ke kelas Aluna untuk menjaganya," ucap Frey karena ia memang sudah memikirkan hal ini sebelumnya.