
Di sekolah menengah pertama yang merupakan sekolah elit, di dalam kelas yang dihuni oleh Naufal, Ziya, Zyan dan Gavin kini kedatangan murid baru. Siswa tampan dengan wajah kebarat-baratan, itu memperkenalkan dirinya yang bernama Harris. Nampak siswa bule itu tidak begitu lancar menggunakan bahasa Indonesia akan tetapi ia bisa mengerti apa yang diucapkan oleh teman-teman sekelas maupun gurunya.
Naufal, Zyan dan Gavin menatap tajam ke arah Harris. Mereka yang sudah diberitahu jika nanti akan ada tamu dari musuh bebuyutan keluarga dan sudah diperingatkan untuk tetap selalu waspada, kini ketiganya merasa bahaya yang akan datang itu adalah siswa baru ini.
Diam-diam ketiganya mengirim pesan pada orang tua mereka masing-masing dan Gavin yang merupakan anak dari Nandi dan Flora dimana keluarga Ragnala memiliki sebuah kelompok detektif profesional dengan segera mengirim gambar wajah Harris yang berhasil ia ambil saat cowok itu sudah duduk di samping Naufal yang memang duduk sendirian.
"Halo, saya Harris. Kalau kamu?" tanya Harris kepada Naufal.
Wajah datar Naufal menatap Harris sambil ia tersenyum sinis. "Apakah serius kau tidak tahu siapa aku?" tanya Naufal mengunci tatapannya pada Harris.
Harris tersenyum. "Mana mungkin aku tahu … oh ternyata kedatanganku sudah ditunggu ya. Kau hebat sekali karena mampu mengenaliku. Setelah jam pelajaran selesai, aku ingin bicara denganmu," ucap Harris dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
Keduanya kembali fokus menatap ke arah papan tulis dimana dan guru mereka yang sedang memberikan penjelasan. Diam-diam Harris terus mencuri pandang pada Naufal. Sementara di dekatnya ada Zyan dan juga Gavin yang terus mengawasinya.
Semoga mereka bisa membantuku. Aku harap aku bisa keluar dari semua belenggu ini.
Beberapa jam kemudian bel panjang berbunyi tanda pelajaran hari ini telah usai seluruhnya. Sesuai dengan yang diinginkan oleh Harris, ia ingin berbicara empat mata dengan Naufal dan berharap Naufal mau memenuhi keinginannya.
Zyan dan Gavin mendekati Naufal yang belum beranjak dari duduknya begitupun dengan Harris. Jelas sekali mereka tidak akan meninggalkan Naufal karena merasa bahwa akan ada bahaya yang menimpa Naufal jika ia terus bersama dengan Harris. Namun Naufal mengatakan kepada kedua sahabatnya itu untuk meninggalkannya saja di kelas bersama Harris karena ia merasa tidak akan terjadi apapun padanya hari ini maupun hari-hari mendatang.
Dengan berat hati kedua sahabatnya itu meninggalkan Naufal bersama dengan Harris. Setelah di kelas hanya ada mereka berdua, Harris pun mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya dan ia memberikannya pada Naufal tanpa berbicara sepatah kata pun.
Naufal mengernyit, ia lalu nerima buku yang disodorkan oleh Harris dan menyimpannya ke dalam tas. Harris kemudian berdiri dan diikuti oleh Naufal.
Bugghh …
Satu pukulan Harris berikan di perut Naufal sebelum ia pergi meninggalkan Naufal yang sedang mengerang kesakitan.
"Sialan!"
Naufal berjalan dengan menegakkan tubuhnya memasuki rumahnya agar tidak ada yang curiga walaupun saat ini ia yakin di rumah tidak ada siapapun kecuali asisten rumah tangga. Namun ia melupakan satu hal Frey dan Aluna tidak masuk sekolah hari ini karena ini adalah hari Sabtu dimana Sekolah Menengah Atas dan sederajat tidak menerima pelajaran di hari Sabtu, dan jika ada yang ingin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler maka mereka boleh datang ke sekolah.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Frey yang saat itu sedang berjalan turun dari tangga menuju ke dapur.
Naufal yang tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari kakak iparnya ini pun akhirnya mengajak Frey untuk masuk ke kamarnya dan ia akan menceritakan tentang kejadian tadi, juga ia penasaran dengan buku yang diberikan Harris padanya.
Sesampainya di dalam kamar, Frey dan Naufal langsung duduk di sofa. Naufal membuka tasnya kemudian ia mengeluarkan buku yang diberikan oleh Harris padanya.
Buku tersebut lebih mirip seperti buku diary dimana ada foto seorang wanita yang entah siapa. Frey dan Naufal sama sekali tidak mengenali sosok wanita tersebut. Mereka kemudian membaca satu persatu lembaran buku tersebut yang berisi curhatan hati seseorang yang mereka duga adalah milik wanita di foto tersebut.
Naufal manggeleng tidak tahu. Ia kemudian meminta Frey untuk membuka buku itu sampai halaman belakang, mungkin saja ada sesuatu yang tertinggal di sana. Dan benar saja, di lembaran akhir buku itu terdapat sebuah amplop yang menempel dengan kertasnya.
"Farah Anastasya Darwin …" Frey membaca tulisan yang ada di amplop yang nampak cukup usang, sama seperti buku tersebut.
Kembali Frey dan Naufal saling memandang nama tersebut, sama sekali tidak mereka ketahui siapa gerangan.
"Apa mungkin seseorang dari masa lalu, Kak? Jangan-jangan orang tua kita tahu lagi siapa Farah Anastasya Darwin ini. Coba kita tanyakan kepada mereka," usul Naufal.
Frey menggeleng. "Di rumah hanya ada kita. Bunda, Papi, Kakek dan Nenek lagi pergi ke acara kondangan dan katanya nanti pulangnya besok, soalnya sekaligus peresmian resort baru salah satu kolega bisnis Papi."
Ucapan Frey tersebut membuat Naufal merasa lemas. Ia yakin sekali dari tatapan dan senyuman Harris terdapat sebuah misteri karena cowok tersebut tidak terlihat garang ataupun menyimpan sebuah dendam saat menatapnya. Ia lebih terlihat tenang dan hal tersebut juga diceritakan oleh Naufal kepada Frey.
Saat keduanya sedang kebingungan memecahkan masalah tersebut, Aluna membuka pintu kamar Naufal. Ia sempat mengeluh karena sudah lama menanti Frey yang katanya akan membawakannya segelas jus alpukat namun sampai detik ini pun Frey tak kunjung datang. Untung saja salah satu asisten rumah tangga melihat Frey bersama Naufal hingga Aluna bisa menebak pasti saat ini suaminya sedang berada di kamar adiknya.
"Frey ... gue nungguin lho dari tadi, kenapa lu nggak datang-datang dan malah di kamar bareng Naufal? Kalian berdua pacaran?" tuding Aluna dengan tidak manusiawinya. Bahkan wajahnya terlihat begitu garang.
Mendengar ucapan Aluna tersebut Frey dan Naufal lantas saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan keduanya sama-sama kaget karena tuduhan Aluna tersebut.
"Kak!"
"Sayang!"
Wajah Aluna terlihat hampir menangis, ia kemudian duduk di tengah-tengah antara Frey dan Naufal. Kepalanya ia sandarkan di bahu Naufal sedangkan kakinya ia letakkan di atas pangkuan Frey lalu ia meminta suaminya itu untuk memijatnya.
"Akhir-akhir ini gue sering pegal dan itu karena lu, Frey. Jadi sekarang tugas lu untuk pijat kaki gue," ucap Aluna dan ia tidak menerima penolakan.
Naufal menghela napas, kakaknya memang bertingkah sedikit lain dan menyimpang beberapa waktu belakangan. Contohnya ketika papi dan bunda sedang berdebat masalah sepele, ia malah meminta keduanya untuk saling bertengkar dan bahkan mengompori keduanya agar saling jambak-jambakan hingga akhirnya keduanya berhenti berdebat.
Bahkan ketika ia datang ke butik dan ada pelanggan yang datang dengan begitu banyak keluhannya pada para karyawan, Aluna justru menyeret bunda Nurul ke tempat dimana wanita sombong itu sedang menghina karyawan Nurul dan meminta bundanya itu untuk menampar mulut pelanggan tersebut.
Dan masih banyak lagi yang dilakukan oleh Aluna yang jauh dari sifat dan sikapnya. Namun semuanya memaklumi karena mungkin semua ini efek dari kelelahan dan Aluna butuh banyak hiburan serta ia yang gagal melampiaskan rasa kesalnya pada Cici.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan di kamar ini?" tanya Aluna saat Frey mulai memijat kakinya.
Frey pun menceritakan kejadian yang dialami Naufal. Aluna menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Ia kemudian berkata lagi, "Cara mengetahuinya hanya ada dua, kita menemui paman Frey atau papi Kriss. Rasanya, hanya mereka yang akan bisa menjawab rasa penasaran kalian," usul Aluna.