
Rumah sudah mulai sepi karena para tamu undangan pun sudah beranjak pergi dan menyisakan keluarga inti saja. Aleesha sendiri sudah pulang karena anaknya cukup rewel dan juga suaminya yang harus berangkat ke luar negeri karena urusan bisnis.
Di ruang keluarga kini mereka berkumpul, Aluna sudah tidur lebih dulu di kamar. Tadinya mereka ingin agar Aluna tidur bersama Genta dan Yani karena tidak ingin mengusik pengantin baru tetapi Alvaro menolak, ia ingin tidur bersama anak dan istrinya malam ini.
Mereka mengobrol membahas acara lamaran Danish yang akan diadakan esok hari. Sedangkan Genta akan menawarkan agar keluarga Emrick berkumpul di rumahnya saja nanti sebelum pergi melamar ke kediaman Wistara.
"Benar juga, nggak perlu buang duit lagi," ujar Deen menyetujui usul Genta.
Mereka pun tergelak bersama, hanya tuan muda Alvaro yang baru saja melepas masa lajangnya yang terlihat tidak bersemangat. Beberapa kali ia menguap dan menyandarkan kepalanya di bahu Nurul. Sedari tadi ia menunjukkan sikap posesifnya pada Nurul, seperti sekarang ini ia duduk sambil memeluk pinggang Nurul dari samping dan merebahkan kepalanya di bahu Nurul. Ia tidak peduli dengan tatapan mengejek keluarganya.
"Alaah … paling juga pura-pura mengantuk biar cepat-cepat naik ke kamar," cibir Genta yang diangguki oleh Yani dan Danish.
"Lah papi sewot aja. Mau aku ngantuk beneran atau ngantuk modus ya nggak masalah dong. Aina 'kan istrinya Alvaro sekarang. Mau ngapain aja mah bebas. Iya 'kan Ayang, ngamar yuk!"
Nurul langsung menundukkan kepalanya mendengar ucapan Alvaro tersebut. Ia berusaha menyembunyikan wajah memerahnya karena terlalu malu di hadapan keluarganya.
"Hati-hati dek, kayaknya macan di samping kamu itu sudah siap untuk menerkam," ujar Danish yang membuat Nurul semakin malu. Nyatanya walau ia sudah pernah melakukannya dengan Alvaro, tapi ia tidak biasa mendengar pembahasan intim seperti ini.
Melihat Nurul yang terus digoda oleh keluarganya, Alvaro pun langsung menarik kepalanya dari bahu Nurul dan membawa kepala sang istri ke dadanya untuk membantu menutupi wajah malunya.
"Jangan digoda dong Aina-nya, dia malu tahu. Yuk Yang, kita ke kamar. Kasihan Aluna ditinggal sendirian," ajak Alvaro yang langsung mendapat sorakan dari keluarganya.
Nurul menggeleng dalam dekapan Alvaro, ia tidak sanggup menghadapi keluarganya yang terus saja menggodanya, Nurul sangat malu padahal dirinya sudah memiliki anak satu, harusnya hal seperti ini sudah tidak lagi membuatnya malu.
Alvaro memanfaatkan Nurul yang terus membenamkan kepalanya di dada bidangnya itu untuk ia kecup puncak kepalanya di hadapan keluarganya.
"Setelah aku mengucap akad, aku janji nggak akan nyakitin Nurul Aina – istri aku. Seumur hidup aku akan mencintai dan menyayangi dia hingga maut memisahkan kami. Aku janji dengan jiwa ragaku. Ya udah yuk ngamar Yang, acara udah mau dimulai nih sebaiknya kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan."
Hupp …
Alvaro langsung menggendong Nurul dengan tiba-tiba hingga membuat Nurul memekik. Alvaro langsung membawa Nurul menaiki tangga sambil sesekali membalas tatapan Nurul yang juga curi-curi pandang padanya.
"Nurul Nak, kamu harus hati-hati, dia udah puasa selama empat tahun dan kamu harus kuat ya. Atau pura-pura pingsan aja sekalian. Jangan lupa pastiin ranjangnya kuat atau enggak biar nggak bikin heboh kalau tiba-tiba ranjang roboh saat Alvaro sedang memacu kudanya dengan kecepatan tinggi!" teriak Genta yang semakin membuat pipi Nurul memerah dan di detik berikutnya Alvaro langsung mencuri ciuman di bibir Nurul.
"I love you istriku, nyonya Prayoga," ucap Alvaro. "Buka pintunya Yang," pinta Alvaro saat mereka sudah sampai di depan kamar Nurul.
Alvaro menendang pelan pintu tersebut untuk menutupnya. Langkahnya terhenti, ia kemudian menatap Nurul yang juga tengah menatapnya dengan tangan Nurul yang melingkar di leher Alvaro. Sebuah seringai nakal terbit di bibir Alvaro membuat Nurul memalingkan wajahnya.
"Kenapa harus malu? Bukankah gue ini suami lu sekarang? Jangan malu-malu, sebentar lagi kita akan melakukan hal yang lebih memalukan daripada sekarang. Mending sekarang kita siap-siap yuk, karena acaranya udah mau dimulai ini." goda Alvaro sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Alvaro bisa nggak lu nggak usah bicara vulgar gitu, gue nggak suka dengarnya!" protes Nurul kemudian ia meminta Alvaro untuk menurunkannya.
"Nggak bisa sayang, kalau sama lu mah bawaannya emang gue pinginnya ngebahas hal vulgar mulu. Tapi karena gue baik hati, jadi sekarang gue kasih waktu lu buat ganti baju. Udah gerah 'kan pakai baju itu dari tadi? By the way gue open jasa kok buat bantuin lu buka baju kalau lu kerepotan atau lu nggak mau ribet, gue siap kok, gratis malah!" ucap Alvaro sambil menatap Nurul dengan seringai devil di bibirnya. Nurul yang menatapnya menjadi bergidik ngeri.
"Itu sih untung buat lu, gue nggak mau ya, ogah!"
"Ya ampun Ayang, udah pernah lihat juga kali! Nggak usah malu-malu dan gue yakin lu pasti bakalan ribet ngelepasin pakaian lu itu. Biar gue bantu ya, gratis kok Yang, serius gue. Gratis nggak dipungut biaya apapun, bebas pulsa tapi standar dan ketentuan berlaku ya."
Ingin marah tapi ini Alvaro Genta Prayoga. Ingin bingung dengan ucapan anehnya tapi memang dia sudah seperti itu. Ingin protes pun percuma karena Alvaro tidak akan pernah kehabisan kata-kata aneh bin ajaibnya dan Nurul akhirnya memilih untuk diam saja.
Jika ia meladeni Alvaro maka bukan tidak mungkin mereka akan berdebat hingga tembus pagi. Nurul memilih untuk berlari ke kamar mandi agar ia bisa mengganti pakaiannya. Hanya saja ia melupakan satu benda penting yang membuat Alvaro menyeringai.
"Yakin gue nggak lama lagi dia pasti bakalan manggil gue. Ah dasar istri, kok gemes ya? Mendadak kok gue jadi demam panggung gini sih? Ini si boy juga udah tegangan tinggi nih. Aduh gimana nih, apa karena gue udah lama berhenti jadi player? Gue masih inget nggak ya cara naklukin cewek di ranjang atau jangan-jangan kemampuan gue udah berkurang? Jangan sampai gue malu-maluin!"
Alvaro kemudian melepas jas yang ia kenakan dan hanya menyisakan singlet putih yang membungkus tubuhnya. Ia kemudian berjalan ke sisi ranjang melihat putri cantiknya itu sudah terlelap.
Lengkungan indah terlihat dari wajah Alvaro dimana bibir manis itu tersenyum manis. Tangannya mengusap rambut bocah kecil yang benar-benar titisannya itu. Dalam hati ia bersyukur padahal tadi Ia hanya ingin meminta izin untuk diizinkan tidur bersama anak dan kekasihnya, tetapi siapa sangka justru malam ini mereka menikah dan mengharuskan mereka untuk tidur bersama tanpa Alvaro bersusah payah untuk meminta izin lagi.
Alvaro mengecup dahi putrinya, kemudian ia memindahkan Aluna ke sisi ranjang yang berdekatan dengan dinding menyisakan tempat luas di sebelah kiri Aluna. Alvaro tersenyum nakal, ia sudah membayangkan malam ini akan bebas memeluk Nurul sepanjang malam hingga pagi menjelang. Ia tidak perlu takut akan melakukan hal yang berdosa karena kali ini yang akan ia lakukan adalah sebuah ibadah.
Alvaro mengambil ponselnya yang sudah berada di atas makas karena tadi ia menitipkannya kepada Nurul. Ia kemudian menghubungi seseorang dan menanyakan apakah tempat yang ia minta sejak lama itu sudah tersedia atau tidak. Orang yang dihubungi pun mengatakan jika semua yang ia minta sudah diselesaikan dengan baik. Kemudian Alvaro mematikan sambungan telepon tersebut setelah ia mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa bonus akan segera ia transfer.
Di dalam kamar mandi, saat ini Nurul yang sudah melepaskan rok dan kebayanya itu justru tengah terlihat frustrasi. Nurul merutuki dirinya sendiri di depan cermin karena lupa membawa handuk atau pakaian ganti agar ketika ia keluar nanti ia sudah mengenakan pakaian lengkap.
Alvaro yang merasa Nurul sudah begitu lama di dalam kamar mandi, ia hanya menyunggingkan senyumannya saja karena ia tahu alasan apa yang membuat Nurul begitu betah di dalam kamar mandi saat ini. Dan akhirnya ia mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya.
"Ayang, lu masih lama nggak? Gue udah kebelet nih. Cepetan dong buka pintunya, kok lu lama banget sih cuma ganti baju doang?!" teriak Alvaro padahal saat ini ia sedang cekikikan.
"Aduh! Kok Alvaro udah manggil sih? Terus gue gimana nih?" gumam Nurul kebingungan. "Lu mending cari kamar mandi lain deh, gue belum selesai nih!" teriak Nurul dari dalam kamar mandi.
"Ya nggak bisa dong sayang, gueudah kebelet banget. Udah di ujung tanduk nih, lu tau 'kan gimana telur ujung tanduk? Mending buka dulu pintunya, gue juga nggak bakalan ngapa-ngapain lu di sana. Gue udah kebelet nih, please."
Nurul melihat dirinya yang hanya menggunakan tanktop dan juga celana pendek di atas lutut yang begitu tipis, kemudian Ia berpikir apakah hanya akan membukakan pintu untuk Alvaro atau meminta suaminya itu untuk mengambilkannya jubah mandi?
Belum sempat Nurul berbicara, Alvaro kembali menggedor pintu dan meminta Nurul untuk segera membuka pintunya.
"Ya udah deh, gue juga masih pakai pakaian kayak gini, nggak telanjang bulat. Begitu dia masuk, gue langsung keluar deh," ucap Nurul yang akhirnya memutuskan untuk membukakan pintu untuk Alvaro.
Ceklek …
Nurul membuka pintu tetapi ia bersembunyi di belakang pintu sementara Alvaro tidak melihat siapapun di dalam ruangan tersebut.
"Pintunya kebuka sendiri tapi nggak ada si Ayang. Kemana dia?" gumam Alvaro sambil memindai sekeliling.
"Buruan ih, minggir nggak lu dari pintu? Masuk di sana, gue mau keluar nih, cepetan!" celetuk Nurul dari balik pintu.
Alvaro kembali menyeringai, ia kemudian menarik daun pintu tersebut dan menutupnya sedangkan Nurul terjungkit ungkit kaget begitu tahu-tahu pintu sudah tertutup dan Alvaro pun menguncinya.
Alvaro menatap Nurul yang terlihat sangat seksi, ia kesulitan menelan salivanya apalagi kulit halus nan mulus Nurul terpampang di hadapannya. Ia yang kini hanya mengenakan celana boxer merasakan ada pergerakan dari dalam sana.
Sial! Istri gue menggoda iman banget!
Nurul mulai waspada, tatapan Alvaro yang menguncinya membuat Nurul takut, tanpa sadar Alvaro memajukan langkahnya dan Nurul refleks memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur dinding.
Alvaro melirik ke atas, Nurul tidak mengerti dengan apa yang tengah Alvaro perhatikan hingga ia terkejut begitu air dari shower mengalir di kepalanya. Keduanya kini mulai basah dengan aliran air dingin dari shower. Wajah Alvaro nampak sangat tampan dengan bulir-bulir air yang menetes di wajahnya.
"Alvaro lu–"
Belum sempat Nurul melanjutkan ucapannya, Alvaro sudah membungkam bibir Nurul dengan ciumannya. Ciuman yang lembut dan menghanyutkan. Alvaro bahkan menarik tengkuk Nurul untuk memperdalam ciumannya dan Nurul yang tidak pandai dalam berciuman hanya bisa pasrah saja.
"Balas ciuman gue Aina," bisik Alvaro di sela-sela ciuman mereka.
"Gue nggak bi–"
Kembali Alvaro membungkam Nurul dengan ciuman. Ia mengalungkan tangan Nurul di lehernya sedangkan ia menarik pinggang Nurul agar tubuh mereka saling menempel. Memang dasar Alvaro yang sangat lihai dalam membuat wanita terbuai dengan sentuhannya, kini Nurul sudah mulai bisa mengimbangi ciuman Alvaro dan mulai membalasnya.
Di bawah guyuran air dingin yang keluar dari shower, justru keduanya saat ini merasakan kehangatan. Tangan Alvaro mulai menjelajah tubuh ramping dan pendek Nurul. Mata Nurul terbelalak namun kemudian kembali tertutup ketika Alvaro mulai menyentuh titik-titik sensitif di tubuhnya.
Melihat Nurul yang mulai menikmati permainannya, Alvaro kemudian memeluk erat tubuh Nurul. Ia melepaskan pagutan bibir mereka dan mengecup lembut bibir Nurul yang sudah bengkak itu.
Alvaro menyatukan dahinya dan Nurul, ia berbisik lirih pada istrinya itu. "Aina, lu tahu nggak saat ini gue udah pingin banget ngelakuinnya bareng lu. Yang dibawah sana sudah tegang dan berdiri tegak walau dia bukan keadilan. Gue bisa aja melakukannya sama lu malam ini, tapi … gue nggak bisa."