GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Suara Lucknut!


Bugghh ....


Satu pukulan mendarat ke wajah tampan Leon dan pelakunya tentu saja adalah Frey Abirsham Griffin. Tak tanggung-tanggung ia kembali melayangkan satu tendangan yang mengena telak di perut Leon hingga cowok tersebut tersungkur beberapa langkah ke belakang dan menabrak tembok.


Leon memegangi perutnya, rasanya begitu sakit akan tetapi ia berusaha untuk berdiri. Leon sangat syok karena ia tidak menyangka Frey bisa berada di tempat ini padahal yang ia ketahui sejak tadi tidak ada tanda-tanda kedatangan Frey dan orang-orang yang ia tempatkan di lobi untuk memastikan apakah Frey datang atau tidak pun tidak melapor sama sekali kedatangan Frey.


Tadinya Leon mengira rencananya sukses besar, sedikit lagi ia akan mendapatkan Aluna namun mendadak pria yang tidak ia harapkan justru datang mengacaukan.


"Dasar brengsek! Beraninya lu! Habis lu ditangan gue!" teriak Frey emosi. Ia kembali maju dan menghajar Leon namun Leon masih bisa mengelak beberapa kali akan tetapi beberapa pukulan Frey mengena telak di titik-titik yang jadi sasaran Frey.


Aluna yang melihatnya mendadak jatuh pingsan. Frey langsung menggendong Aluna menuju ke lift dan tak lupa ia menatap tajam ke arah Leon sebelum pria itu pingsan. Lebih tepatnya Leon pura-pura pingsan karena ia sudah tidak mampu melawan Frey yang ternyata memang sangat kuat.


Leon memiliki ilmu bela diri dan selama ini ia sering terlibat tawuran dan selalu berhasil mengalahkan dan memukul mundur lawannya. Tetapi serangan Frey, sangat tidak bisa dibaca dan selalu tepat di area yang membuat Leon merasa lumpuh seketika.


Pintu lift terbuka, di sana ada Naufal yang sedang menunggu dengan harap-harap cemas. Frey menatap tajam ke arah Naufal hingga adik iparnya itu menunduk takut.


"Kita akan bicara nanti. Sekarang kau urus cecunguk itu. Aluna akan bersamaku, dan setelah urusanmu selesai segeralah pulang. Jangan sampai kejadian ini sampai ke telinga papi dan bunda. Usahakan pihak hotel tidak melapor kejadian ini."


Setelah memberi instruksi kepada Naufal, Frey segera pergi dari hotel yang merupakan kepunyaan keluarga Prayoga itu. Entah Keenan dan Leon tahu atau tidak tetapi hotel ini memang milik keluarga Prayoga hanya saja mereka tidak menampakkan diri sebagai pemilik karena yang mengurus adalah keluarga Mahesa, orang tua Evelyn.


Frey melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, ia berniat membawa Aluna ke rumah sakit tetapi di tengah perjalanan Aluna tersadar dan ia mulai mengeluh kepanasan. Frey sudah menyalakan AC dengan suhu maksimal tetapi Aluna tetap saja mengeluh panas. Ia bahkan berusaha membuka bajunya namun Frey melarangnya.


Tak habis disitu, Aluna lalu memeluk Frey yang sedang fokus menyetir. Ia mengecup leher Frey bahkan menyesapnya hingga meninggalkan jejak merah disana dan itu dengan jumlah yang banyak.


Frey menjadi tidak fokus menyetir, gerakan dan perlakuan Aluna juga turut membangkitkan hasratnya. Ia menepikan mobilnya dan mencoba menenangkan Aluna.


"Sayang, jangan kayak gini. Gue nggak bisa nahan diri kalau lu bersikap gini ke gue. Ayolah sayang, tahan ya. Kita ke rumah sakit sekarang," bujuk Frey. Ia merasa masih bisa menahan walaupun yang dibawah sana sudah menegang.


"Panas Frey. Peluk gue Frey, rasanya sangat tidak nyaman dan dibawah sana terasa gatal Frey. Aduh, gue kenapa Frey?"


Keluhan Aluna baru saja hendak ditanggapi oleh Frey tetapi dengan cepat Aluna menarik tengkuk Frey dan melu-mat bibir Frey dengan rakusnya.


Sial!


"Baiklah sayang, kita akan segera pulang dan jangan salahkan gue kalau malam ini kita bakalan melakukan penyatuan. Leon sialan! Dia rupanya berniat jahat sama istri gue. Tapi ini juga blessing in disguise buat gue. Sebuah berkah terselubung," gumam Frey. Ia kemudian menghidupkan kembali mesin mobil dan membiarkan Aluna terus mencumbuinya. Satu tanah Frey menyelinap masuk ke dalam gaun Aluna dan pertama kalinya ia merasakan sensasi menggenggam dua benda kenyal itu.


Tak cukup sepuluh menit Frey sudah sampai di rumah dan ia menggendong Aluna keluar dari mobil menuju ke kamar mereka, lebih tepatnya kamar milik Frey.


Frey membuka pintu kamar dengan tangannya dan menutup kembali dengan kakinya. Ia langsung memagut bibir Aluna dan istri kecilnya itu membalas dengan tak kalah liarnya. Perlahan-lahan Frey membaringkan tubuh Aluna di atas tempat tidur tanpa melepas pagutan mereka.


Sadar pintu tersebut tidak dikunci walaupun di rumah hanya ada mereka berdua dan Naufal serta ART yang tidak mungkin mengganggu, Frey tetap saja harus mengunci pintu kamar.


"Tunggu sebentar," ucap lirih Frey. Ia segera berlari untuk menutup pintu dan dalam sekejap ia sudah berada di atas tubuh Aluna.


Wajah Aluna nampak sayu, ia benar-benar membutuhkan sentuhan Frey saat ini. Frey sendiri sudah siap dengan apa yang akan mereka lakukan malam ini. Ia terbayang rasanya tadi menyentuh dua benda kenyal itu, Frey langsung mencarinya. Dengan sekejap ia bisa menyingkap baju Aluna dan nampaklah dua benda yang tertutup dengan bra.


Aluna kembali menarik tengkuk Frey dan keduanya berciuman panas lagi. Momen ini dimanfaatkan oleh Frey untuk membuka pengait bra Aluna. Tangan Frey ia gunakan untuk memainkan dua benda kenyal tersebut yang membuat hasratnya seolah naik ke ubun-ubun. Ia belum melihatnya karena saat ini ia fokus menatap wajah cantik Aluna dengan ciuman mereka yang masih belum terlepas.


"Frehh ... gu-gue," lirih Aluna.


Ciuman tersebut terlepas dan Frey langsung menunduk melihat betapa indahnya tubuh Aluna apalagi kedua benda kenyal yang sedari tadi ia mainkan.


"Aluna, malam ini kita akan berbuat baik. Apa kau siap?" tanya Frey, bagaimanapun ia harus menanyakan kesiapan istrinya itu lebih dulu.


Aluna mengangguk lemah, "Lakukan Frey, gue akan menunggu dan melihat gimana tubuh indah lu itu menguasai gue. Lakukan Frey, lakukan sekarang!" rengek Aluna, ia dalam kendali obat dan tentu saja ia tidak sadar dengan apa yang ia katakan.


Setelah keduanya tidak mengenakan sehelai benangpun, Frey mulai mengecup bibir Aluna dan seluruh inci di wajah Aluna dengan tangannya yang asyik bermain di dua benda kenyal itu.


Suara desa-han Aluna menggema di ruangan tersebut dan itu terdengar indah di telinga Frey. Ini adalah pertama kalinya untuk mereka berdua dan Frey hanya bisa melakukan pergerakan sesuai intuisinya saja.


"Oh Frey!" lirih Aluna.


Leher Aluna kini sudah penuh dengan tanda merah, tanda kepemilikan yang diberikan oleh Frey. Begitupun dengan bagian dadanya, ia membalas Aluna yang tadi di mobil juga membombardir lehernya dengan tanda merah.


"Sayang bersiaplah, aku akan masuk. Ini pasti akan sakit dan kau boleh menggigit pundakku atau mencakar punggungku jika terasa sangat sakit. Bismillah!"


Frey menatap kebawah, entah dorongan dari mana, ia membenamkan wajahnya di area milik Aluna dan hal tersebut membuat Aluna menggeliat. Suara desa-han dan erangan Aluna terdengar bagai lagu yang indah di telinga Frey. Ia semakin mempercepat tempo memainkan lidahnya dibawah sana.


"Frehh ... gu-gue mau keluar," lirih Aluna.


Cairan itu keluar dan dengan santainya Frey melahap habis semuanya tak bersisa. Kini Frey sudah bersiap memasuki istrinya. Pertama-tama ia memasukkan dan Aluna langsung menjerit kesakitan hingga Frey menghentikan aksinya.


"Ya udah sayang nggak usah dilanjut, aku nggak mau kamu kesakitan," ucap Frey tak tega.


"Ya makanya pelan-pelan aja," keluh Aluna. Padahal tubuhnya terasa lemas setelah ia mendapati pelepasan tetapi mendadak rasa panas dan gairah itu kembali membakar tubuhnya.


"Ya tadi juga udah pelan," gumam Frey dan kembali ia mencoba melakukan penyatuan dan Aluna kembali menjerit dan Frey pun kembali menghentikan aksinya.


Beberapa kali hal tersebut terus terulang hingga akhirnya Frey mencoba untuk mengajak Aluna berciuman dan ia dengan perlahan memasukkan juniornya. Aluna mengernyit, rasanya sangat sakit tetapi ciuman dan sentuhan Frey di tubuhnya membuatnya merasa melayang.


Beberapa saat kemudian Frey berhasil memasuki Aluna dan ia membiarkan beberapa saat. Rasanya sungguh diluar ekspektasi Frey karena ini luar biasa nikmat dari yang pernah ia pikirkan. Aluna sendiri kini sudah mulai mengendalikan dirinya dari rasa sakit.


"Sayang, aku akan mulai bergerak," ucap Frey dan sepersekian detik pun ia mulai bergerak maju mundur hingga rasa sakit yang tadi Aluna rasakan berubah menjadi rasa nikmat yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


"Freehh!"


"Panggil namaku sayang, sebut namaku seperti itu," ucap Frey yang sudah dikuasai hasrat.


Kamar tersebut pun mulai dipenuhi dengan suara desa-han dan erangan yang menggema bagai nyanyian pengantar tidur. Tubuh keduanya dipenuhi keringat dan baik Aluna maupun Frey sama-sama belum ada yang ingin menghentikan kegiatan panas mereka itu. Tangan Frey sibuk meraba seluruh inci tubuh Aluna, begitupun dengan Aluna, ia berusaha menjangkau apa yang bisa ia jangkau di tubuh bagus Frey.


Naufal menaiki tangga dan berniat menemui Frey untuk memberitahukan bahwa ia sudah berhasil mengurus Leon. Ia juga ingin mengecek keadaan kakaknya. Namun baru saja ia akan mengetuk pintu kamar, wajahnya mendadak menjadi sangat datar.


"Uh Frey, lebih cepat!


"Uh Aluna sayang, kau membuatku gila. Uh!"


"Frehh, uh, sayang. Aku hampir sam-pai!"


"Aku akan mempercepatnya sayang, kita akan keluar bersama!"


Naufal langsung berbalik badan, ia mengepalkan kedua tangannya dan kakinya hampir saja menendang pintu kamar itu saking kesalnya.


"Sial! Telinga polos gue tercemar setelah mendengar suara lucknut itu! Kenapa juga kak Frey tidak mengaktifkan peredam suara dari kamarnya. Brengsek! Telinga polos gue ternodai!" umpat Naufal dengan wajahnya yang begitu kesal, ia kemudian kembali ke kamarnya membiarkan pasangan suami istri itu melakukan hal yang sangat wajar bila mereka lakukan.


...****************...


Semoga tidak melenceng dari ekspektasi 🙈🙈 aku nggak pandai buat adegan nina-ninu 😅😅