GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Tertusuk


Nurul Aina POV


"Nggak ada yang ketinggalan, 'kan?" pertanyaan mama membuat gue terkekeh, apa mungkin ada yang ketinggalan selain hatiku yang tertinggal di Alvaro.


Ingin rasanya aku menjawab demikian tapi mana mungkin. Lagi pula ini hanya perjalanan sehari semalam, besok siang juga pulang. Jadi tidak perlu membawa ini itu segala. Mama mungkin berlebihan tapi gue selalu suka.


"Nggak ada kok Ma," jawabku sambil menggandeng Aluna keluar dari kamar karena saat ini Axelle sudah menunggu di bawah. "Aku titip Aluna ya, Ma," imbuhku karena jujur hati ini berat meninggalkannya.


Mama mengangguk, "Pasti sayang. Oh ya, jaga diri baik-baik lho disana. Jangan lupa hubungi mama kalau sudah sampai," ucapnya.


Gue mengangguk kemudian memeluk Aluna, seolah gue nggak bisa kemana-mana kalau nggak ada dia. Maklum, hidup gue sekarang hanya untuk putri cantik gue yang berwajah Alvaro ini. Setidaknya gue bersyukur karena ada sebagian dari dirinya yang tertinggal padaku.


"Udah siap?" suara papa mengalihkan atensi kami dan bergegas keluar.


Di sana sudah ada papa dan Axelle yang sedang menunggu. Nampak Axelle mengenakan pakaian formal yang menambah kesan tampannya tapi sayang hati ini tidak bergetar untuknya. Gue mungkin lebih suka melihat cowok dengan gaya tengilnya seperti contoh dan satu-satunya contoh itu adalah Alvaro Genta Prayoga.


Kadang gue heran sendiri, kenapa sesulit ini ngelupain si brengsek itu. Udah gue coba tapi semakin mencoba semakin gue cinta! Ini takdir atau emang gue aja yang mau-maunya cinta dia?


"Ayo Nurul." Ajakan Axelle membuatku melepas bayang-bayang Alvaro tapi gue jamin ini hanya untuk sesaat dan ketika gue diam, siapa lagi penghuni alam imajinasi gue selain wajah tengilnya itu. Aahh ... sial! Kenapa gue harus secinta ini sama dia? Kenapa? Seperti tidak ada pria lain saja!


"Ma, Pa, Nurul pamit ya. Titip Aluna." Gue mencium punggung tangan kedua orang tua gue kemudian gue memeluk Aluna dan mengecup seluruh wajahnya, "Baik-baik ya sayang. Bunda pergi dulu." Rasanya hati ini berat meninggalkannya tapi demi bertemu dengan ayahnya, gue rela berpisah sementara dan semoga perjalanan lancar tanpa hambatan.


Gue dan Axelle masuk ke dalam mobil dimana dirinya sendiri yang menyetir. Selama gue ikut dia, nggak pernah gue lihat dia pakai jasa sopir. Sebenarnya gue nggak nyaman berdua doang dengan cowok tampan dan tajir melintir ini. Andai kata hati gue nggak berpenghuni, mungkin gue udah klepek-klepek sama dia. Nggak ada yang kurang dari pria ini, kecuali sifatnya yang dominan, arogan dan pemarah. Tapi dari keseluruhan menurut gue dia pria perfect.


"Makasih ya, udah mau menemani aku. Oh ya, nanti begitu sampai aku ada rapat penting. Kamu mau ikut atau kamu langsung ke penginapan?" tanya Axelle saat kami hanya diam saja padahal perjalanan ke bandara cukup jauh dan kami saat ini sudah sampai.


Gue mikir mungkin ini waktunya gue mencari Alvaro. Kalau Axelle sibuk rapat maka gue harus manfaatin waktu untuk mencarinya. Gue bisa menemui Flora dan meminta bantuannya.


"Boleh tidak kalau aku langsung ke rumah Flora?" tanyaku ragu-ragu dan berharap Axelle setuju.


Axelle tersenyum dan ini yang bikin gue gagal fokus sama dia, selalu suka mengusap dan mengacak rambut gue seenaknya. Mau protes tapi ya sudah lah. Cuma rambut doang, nggak sampai lecehin gue. Dan satu hal lagi, gue takut baper sama dia. Masalahnya, perhatiannya ke gue seperti murni gitu karena ada perasaan lebih ke gue. Yang gue lihat, Axelle bahkan nggak seperti seseorang yang sedang berperan sebagai kekasih kontrak. Gue takut, gue takut jatuh cinta sama dia sebelum gue bertemu dengan Alvaro.


Mungkin, jika urusan gue dengan Alvaro selelsai dan berujung tak indah, maka bisa saja dengan Axelle gue akan mencobanya.


"Boleh, nanti biar aku antar kamu kesana," jawab Axelle yang membuat gue tersentak halus.


Sebisa mungkin gue bersikap biasa saja dengan sikap lembut dan manis Axelle ke gue. Nggak bisa, gue nggak bisa lama-lama dengan cowok ini. Bahaya buat kesehatan hati dan jantung gue. "Aku sendiri saja. Kamu bekerjalah, aku tidak akan tersesat di Jakarta karena aku lahir dan besar disana," jawabku asal.


Axelle tertawa dan tawanya semakin membuat wajahnya tampan saja. Tapi gue akui gue lebih suka wajah songong dan tengil Alvaro. Apapun itu tetaplah Alvaro yang unggul di hati gue. Harusnya gue nggak gini, terus mikirin suami orang yang pastinya Miranda sama anaknya nggak bakal suka. Tapi gue bisa apa kalau hati dan pikiran ini maunya ke dia terus.


"Ya sudah, hubungi aku jika sudah sampai di rumah temanmu nanti," ucapnya yang kian hari kian manis saja. Kemana perginya sikap arogannya tempo hari yang selalu bikin gue kesal setiap saat. Aneh!


Malas menjawab, gue langsung melenggang masuk ke bandara. Hati ini semakin gugup dan jantung ini berdebar-debar kala masuk ke dalam pesawat yang dalam beberapa waktu lagi bakalan ngantar gue ketemu pujaan hati gue. Alvaro, andai lu tahu, gue secinta ini sama lu. Gue kangen Ro. Gue kangen lu banget!


Nurul Aina POV end....


.


.


Sedangkan di depan ruangannya, wanita cantik yang kali ini mengenakan pakaian yang modis namun terlihat begitu sopan itu tengah tersenyum menyambut kedatangan atasannya. Ia bahkan memasang senyum sejuta Watt namun yang terjadi adalah Alvaro hanya meliriknya sekejap tanpa ekspresi apapun lalu masuk ke dalam ruangannya.


Senyuman Clarinta berubah menjadi bibirnya yang kini manyun beberapa centimeter setelah Alvaro menutup pintu ruangannya. "Dia bahkan tetap tampan walaupun sedingin itu. Ya ampun gue rela deh jadi beku asalkan terus berada di dekatnya," gumam Clarinta yang kembali duduk di kursinya sambil senyam-senyum.


Sedangkan Alvaro, ia langsung menghela napas kasar begitu duduk di kursinya. Ia memijat kepalanya yang terasa sakit begitu melihat wajah Clarinta. Hari-hari yang akan ia lewati pasti akan kacau balau selama wanita ini berada di sekitarnya. Padahal Alvaro sudah memilih untuk datang terlambat agar wanita ini tidak ia lihat. Ia sudah berkeliling meninjau proyek, terjun langsung melayani konsumen dan datang ke kantor setengah jam sebelum makan siang dan justru ia tetap bertemu dengan wanita ini, menyebalkan!


"Tuan, sebentar lagi jadwal anda bertemu dengan tuan Daniyal Axelle Farezta. Apakah saya atau nona Clarinta yang akan mendampingi anda?" tanya Billy.


Alvaro melirik Billy dengan tajam, "Tentu saja itu kau! Mengapa membawa-bawa wanita gila itu. Yang ada bukan urusan kerjaan beres dia justru malah mengacau disana," gerutu Alvaro.


"Maaf tuan. Tapi dari hasil penyelidikan, nona Clarinta ini adalah seorang Farezta juga. Ibunya adalah adik kandung dari ayah tuan Daniyal, tuan muda," jelas Billy yang membuat Alvaro terkejut.


"What? Lalu kenapa dia bekerja di tempat ini?" pekik Alvaro. Berbagai pikiran buruk timbul di benaknya. Ia khawatir Clarinta datang untuk memata-matai perusahaannya walaupun sejauh ini ia dan tuan Farezta alias Axelle itu berhubungan baik.


Billy tersenyum, "Itu karena dia tergila-gila pada anda, tuan muda," jawab Billy yang langsung mendapat pelototan dari Alvaro. "Maaf tuan," ucap Billy.


"Kau bosan hidup ya Bill," celetuk Alvaro.


Alvaro menghela napas kasar, bagaimana mungkin informasi sepenting ini bisa ia lewatkan. Nanti saja ia menanyakan ini pada Axelle ketika bertemu karena saat ini Alvaro harus mempelajari dulu dokumen yang akan ia presentasikan di hadapan Axelle sebentar lagi.


Di luar, Clarinta yang pekerjaannya sudah selesai memilih keluar untuk mencari makan siang. Ia berniat makan siang di kafe yang letaknya tepat di depan perusahaan ini. Sambil bersenandung Clarinta keluar dari gedung dan matanya membulat begitu melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik hendak dicelakai oleh dua orang pria yang entah siapa.


Tanpa pikir panjang, Clarinta menarik wanita tersebut dan pisau yang hendak ditusukkan pada tubuh wanita itu justru menembus perutnya.


Dua pria itu langsung kabur sedangkan wanita yang tidak lain adalah mami Alvaro langsung berlari mendekati Clarinta. Ia berteriak meminta tolong hingga beberapa karyawan yang melihat kejadian itu langsung bergotong royong membawa Clarinta ke dalam mobil. Nyonya Yani menemani Clarinta di dalam mobil menuju ke rumah sakit sedangkan Clarinta sudah memejamkan mata karena ia begitu takut akan darah dan kini ia jatuh pingsan.


"Varo, tolong mami. Kamu sekarang ke rumah sakit karena salah satu karyawan kamu tadi nolongin mami dan jadinya dia yang celaka. Cepat Varo!"


Tanpa sempat Alvaro bertanya, maminya langsung memutus sambung telepon dan Alvaro serta Billy langsung bergegas menuju ke rumah sakit yang baru saja alamatnya di kirim oleh maminya.


Sedangkan di bandara, Nurul dan Axelle yang baru saja berjalan keluar menuju ke mobil yang sudah disediakan untuk mereka. Saat masuk ke dalam mobil, ponsel Axelle berdering dan panggilan itu berasal dari anak buahnya yang bertugas menjaga Clarinta.


"Katakan!"


"Maaf tuan, saya tidak sempat menolong nona muda dan sekarang nona berada dalam perjalanan ke rumah sakit karena tadi nona menolong seseorang yang hendak dicelakai dan justru dirinya yang terkena tusukan pisau."


"Apa? Kerjamu itu apa saja sampai adikku mengalami insiden ini?! Kirimkan aku alamat rumah sakitnya dan aku akan segera kesana!" Dengan kesal Axelle mematikan ponselnya dan hal itu membuat Nurul bertanya-tanya.


"Nurul, kamu bisa menemaniku menjenguk adikku yang baru saja dicelakai orang tak dikenal? Aku mau ke rumah sakit sekarang, tapi jika kamu ingin segera ke rumah Flora, biar kamu diantar lebih dulu," tanya Axelle dengan perasaan kacau, ia saat ini sedang kalut memikirkan keadaan Clarinta. Bagaimanapun Clarinta adalah tanggung jawabnya.


"Kita akan ke rumah sakit bersama," jawab Nurul yang juga terkejut dengan cerita Axelle barusan.


"Baik, terima kasih."