
Alvaro menyeka air matanya kemudian ia tersenyum. Lepas sudah beban hatinya setelah menceritakan semua, entah ia menceritakannya pada Axelle atau pada Nurul. Atau mungkin ia sedang berbicara sendiri dan menganggap dua manusia di ruangan ini tak kasat mata. Rasanya begitu lega.
Axelle sendiri tertegun dengan pengakuan Alvaro barusan. Ia mengira selama ini hanya Nurul-lah yang hidup dalam pesakitan tapi hari ini ia tahu jika pria yang sudah menghancurkan Nurul juga turut hancur bersama cinta mereka yang terhalang garis takdir.
Jujur, Axelle kagum dengan kisah cinta mereka terlepas dari betapa meradangnya hatinya saat ini. Sebagai rival, Axelle mengakui bahwa cinta Alvaro untuk Nurul memang tidak main-main. Mungkin dulu, ia masih belum berpikir dewasa hingga menjadikan cinta itu sebagai mainan semata. Tapi Axelle tahu, dari kejadian itu Alvaro belajar lebih dewasa dan akhirnya mengakui kesalahannya.
Tuhan memang maha adil. Ia tidak hanya memberikan pesakitan itu pada Nurul melainkan pada sang pembuat rasa sakit, Alvaro. Nurul hancur karena cintanya dan Alvaro juga sama. Nurul hamil tapi tidak merasakan kesulitan mengidam sedangkan yang mengalaminya adalah Alvaro, ayah dari janin yang dikandung Nurul. Semua hal memiliki sebab-akibat. Ada perbuatan ada pertanggungjawaban. Ada yang menanam ada pula yang menuai.
"Hehehe, sorry, gue cengeng ya," kekeh Alvaro. Ia melirik Axelle yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lu benar-benar cinta dia ya?" tanya Alvaro.
Axelle tersenyum lalu mengangguk, "Lebih dari yang lu tahu. Tapi kali ini gue sangsi apakah cinta ini lebih besar dari cinta yang lu punya," jawab Axelle.
Alvaro mengangguk, "Gue ini bukan pria baik dan gue akui gue brengsek. Mungkin nggak pantas buat Aina. Sedangkan lu, lu nyaris sempurna dan lu paling pantas mendampingi dia. Tapi sorry to say, gue tetap berjuang buat dapatin cinta gue kembali. Gue nggak peduli apakah gue dan dia nggak berjodoh. Cinta gue ini egois, jika takdir tidak menyatukan kami maka gue akan buat takdir itu sendiri. Dan lu, siapin hati lu mulai sekarang karena kita akan bersaing untuk mendapatkan hati Aina. Gue nggak peduli kalau lu itu calon suaminya atau tunangannya karena gue udah bilang kalau gue bakal bikin takdir cinta gue sendiri."
Alvaro tersenyum miring, "Oh ya satu lagi, adik lu itu si Clarinta sebenarnya nggak cinta sama gue. Gue awalnya datang ke kota ini untuk bantuin dia menggapai cinta lamanya. Gue nggak bisa ke rumah calon mertua gue karena belum saatnya gue datang. Tolong lu bantuin adik lu, bilang ke Danish kalau Clarinta menunggunya untuk memberikan penjelasan atas perselingkuhan yang ia lakukan empat tahun lalu," ucap Alvaro, ia kemudian bangun dari duduknya dan menghampiri Nurul.
Alvaro mendekatkan wajahnya ke wajah Nurul, bibirnya ia dekatkan ke arah telinga Nurul.
"Lu memang paling hebat dalam segala hal termasuk pura-pura pingsan. Tapi tenang aja, gue tetap cinta sama lu. Gue keluar dulu, kita bicanya nanti," bisik Alvaro kemudian ia tersenyum puas dan mengecup dahi Nurul.
Ingin membuka mata tapi Nurul tidak ingin malu di depan Axelle. Alvaro memang selalu tahu tentangnya dan entah mengapa Nurul ingin sekali tertawa sambil menangis. Ia gemas dengan cowok tengil pujaan hatinya itu.
Ro, lu emang paling tahu soal gue. Dan sialnya lagi, lu udah nguasain hati dan pikiran gue. Andai lu tahu, gue juga ingin egois Ro. Gue mau rebut lu dari Miranda tapi gue ingat Aluna. Ada anak seusia Aluna yang akan sakit jika gue ambil lu dari mereka.
Sekitar beberapa menit setelah Alvaro pergi, Axelle hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya. Hal besar tentang masa lalu Nurul yang selama ini ia pertanyakan dalam benaknya sendiri hari ini telah terjawab dan Axelle senang karena ia tahu siapa rival sesungguhnya.
Namun, ia kembali teringat akan hubungan mereka yang begitu renggang. Bahkan hari ini semakin renggang karena keluarganya yang tidak merestui.
Haruskah Axelle mempertahankan cintanya yang ia tahu ikatan diantara mereka ini tidaklah kuat. Bahkan lebih lapuk dari benang kusut karena dalam kisah ini, ia hanya mencinta tanpa dicinta.
Nurul membuka matanya karena merasa tidak ada suara tapi ia tahu di ruangan ini masih ada Axelle yang setia menungguinya. Perlahan-lahan ia menatap Axelle yang sedang termenung. Nurul memanggilnya dengan suara tercekat.
Axelle langsung menoleh, "Sayang kau sudah bangun?" Axelle langsung mendekati Nurul dan membantu pemilik hatinya itu duduk bersandar.
Nurul hanya mengangguk, "Dimana Aluna?"
Hati Axelle sedikit terobati karena yang pertama Nurul cari adalah Aluna, bukan Alvaro. Setidaknya hati Axelle tidak semakin mengenaskan setelah apa yang mereka lewati hari ini.
"Dia diluar bersama emm … papinya," jawab Axelle sedikit ragu.
"Oh."
Nurul kembali terdiam, ia tidak bisa lagi menutupi semuanya dari Axelle apalagi tadi ia dengar sendiri bagaimana sesi curhat Alvaro pada Axelle. Pria tengil itu bak pria galau dan over melankolis saat menceritakan bagaimana keadaannya setelah Nurul pergi. Nurul pun merasa bersalah, memang benar ia tidak seharusnya pergi waktu itu. Ia harusnya menunggu Alvaro datang dan jika tidak datang maka Nurul barulah mengambil keputusan.
Ketakutan akan kisah yang dialami Dinda dulu membuat Nurul gegabah. Padahal dulu intuisinya mengatakan bahwa Alvaro itu sebenarnya mencintainya, tapi karena peristiwa kelam itu terlanjur terjadi, Nurul tidak bisa berpikir jernih bahkan wisuda pun ia tinggalkan demi bisa lari sejauh mungkin dan bersembunyi dari Alvaro.
"Jadi dia pria masa lalumu?" tanya Axelle sambil menatap Nurul yang terlihat murung. "Tidak salah kau menambatkan hati padanya, dia memang seorang pecinta yang hebat. Dia membalas cintamu dan selamat karena cinta kalian itu saling terbalas. Rasa sakitmu juga turut ia rasakan. Sekali lagi selamat untuk cinta kalian yang begitu besar. Tapi, bagaimana dengan aku Nurul? Aku juga mencintaimu."
Nurul terdiam, ia tidak tahu harus bicara apa pada Axelle saat ini. Kejadian belakangan ini terlalu membuatnya menguras pikiran. Bahkan untuk berpikir jernih dengan kepala dingin pun Nurul tidak bisa. Ia hanya menggeleng dan berkata, "Aku tidak tahu Axelle. Aku belum punya jawaban untuk semua tanya saat ini. Ini terlalu mengejutkan untukku. Tapi satu hal juga yang bisa aku pastikan, aku tidak mungkin bisa bersama Alvaro lagi," jawab Nurul.
Axelle menautkan alisnya, "Why? Kenapa nggak bisa bersama? Bukankah kalian saling mencintai?" tanya Axelle heran.
Nurul menghela napas, ia mengusap matanya yang dengan tidak sopan kembali menjatuhkan air dari bendungannya. "Dia punya seorang anak yang seumuran dengan Aluna. Aku tidak tega pada anak itu, aku melihat dari sudut pandang Aluna, bagaimana jika putriku yang berada diposisi anak itu. Aku nggak bisa," jawab Nurul.
"Oh ya? Aku baru tahu kalau Alvaro sudah menikah dan punya anak. Setahuku dia itu masih single."