GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
133


Nurul kembali ke kantor, tetapi ia kaget begitu ia memasuki ruangannya ternyata di sana sudah ada Axelle yang menunggu. Ingin rasanya Nurul menghindari pria ini, bagaimana bisa Axelle datang di saat mood-nya sangat tidak baik untuk bertemu dia. Nurul hanya ingin tidak berpapasan dulu dengan Axelle dalam beberapa waktu ke depan–sampai ia menyembuhkan hatinya–sampai keluarganya tidak ada yang tahu jika ia dan nyonya Farezta terlibat perselisihan tadi di kafe.


"Axelle sedang apa kau di ruanganku? Apakah ada pekerjaan penting?" tanya Nurul, ia masih berusaha untuk bersikap baik terhadap Axelle walaupun saat ini ia ingin sekali memarahi pria yang sudah membuatnya merasa malu luar biasa.


Nurul bisa melihat tatapan Axelle, tatapan yang begitu sendu dan sarat akan rasa sesal tetapi Nurul tidak ingin hanyut dalam tatapan tersebut karena ia harus bersikap profesional sebab ini di kantor dan ia tidak ingin membahas masalah pribadi saat jam kerja dan di tempat kerja pula.


"Nurul, tidak ada pekerjaan lain selain aku datang untuk meminta maaf padamu. Tolong maafkan sikap mommyku tadi terhadapmu. Aku tahu dia sudah sangat keterlaluan. Aku mohon maaf Nurul, semua terjadi karena aku. Jika sejak aku mendengarkanmu pada saat itu maka kejadian ini tidak akan terjadi. Semua adalah kesalahanku! Jika kau ingin menghukumku silahkan, tapi tolong jangan membenciku karena itu bukan hal yang bisa aku terima!"


Nurul menghela napas, satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah tidak bertemu dulu dengan Axelle untuk beberapa saat. Nurul khawatir Jika ia bertemu dengan Axelle maka ia tidak akan bisa melupakan kejadian tadi dan justru akan mengamuk pada Axel hingga membuat keluarganya tahu jika ia tidak sedang baik-baik saja hari ini.


"Gue sudah maafin lu* sekarang lu boleh pergi karena gue masih mau kerja lagi. Pekerjaan gue banyak, jadi tolong mending lu pergi. Yang lu cari udah lu dapat, gue udah maafin lu dan gue akan lupain kejadian tadi. Dan tolong jangan sampai kejadian ini sampai ke telinga keluarga gue. Gue nggak mau hal ini mempengaruhi hubungan Kak Danish dan Clarinta. Bisa 'kan?"


Axelle menatap Nurul dengan sendu, ia tahu Nurul menerima permintaan maafnya itu hanya untuk segera mengusirnya dari sini. Axelle tahu Nurul masih membutuhkan banyak waktu untuk menyembuhkan hatinya dari kejadian tadi. Tanpa banyak berkata, Axelle langsung meninggalkan tempat itu. Tak lupa tangannya ia gunakan untuk mengusap lembut kepala Nurul.


Maaf Nuru.l Maaf sudah membuatmu dalam masalah seperti ini. Aku yang salah karena aku mencintaimu dan aku membahayakanmu. Seharusnya cinta itu melindungi bukan menyakiti hati atau malah melukai. Mulai sekarang aku tidak akan lagi mengganggu Nurul, semoga kau bahagia dengan Alvaro dan aku akan bahagia menjalani kehidupanku walaupun saat ini aku masih terpaksa melakukannya. Semua juga demi kebaikan bersama. Aku takut karena dekat denganku kau malah memiliki banyak permasalahan dari keluargaku. Selamat berpisah, semoga kau menemukan kebahagiaanmu begitupun dengan aku. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun.


Nurul menatap punggung Axelle yang mulai menjauh, ia kemudian berusaha menenangkan dirinya. Nurul mencoba fokus dengan pekerjaannya, supaya beban pikirannya itu menghilang. Dia tidak ingin karena kejadian tadi justru membuatnya tidak fokus bekerja. Walaupun perusahaan ini adalah milik keluarganya tetapi Nurul tidak ingin merasa di spesialkan di sini, ia harus menerapkan kerja profesional karena itulah prinsip Nurul sejak pertama kali ia masuk bekerja di perusahaan ini.


Triingg …


Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Nurul.


^^^Alvaro gendeng!^^^


^^^Gue di depan kantor lu sekarang, keluar atau gue masuk dan culik lu. ^^^


Mata Nurul terbelalak, bagaimana bisa Alvaro berada di depan kantornya saat ini. Nurul melirik jam dinding di ruangannya dan sekarang sudah kurang dari tiga puluh menit dari waktu pulang kerja. Mau tidak mau Nurul harus keluar untuk menemui pria gila itu.


.


.


Plaaakk …


Wajah Miranda tertoleh ke samping setelah mendapatkan tamparan keras dari daddynya. Wajah itu memerah dan kedua mata Miranda berair. Tamparan keras di depan umum itu juga membuat Miranda malu luar biasa.


Tadi Miranda sedang berjalan-jalan di mall, tak sengaja ia melihat daddynya bersama sang istri juga berada di tempat yang sama. Sudah begitu lama mereka tidak bertemu semenjak Brianto memutuskan hubungan keluarga dengannya. Kesal melihat wanita itu, Miranda menghampiri keduanya lalu ia mengumpat, memaki dan mempermalukan istri daddynya itu di depan umum.


Semua mata tertuju pada mereka, hingga membuat Mama tirinya itu bersembunyi di balik punggung sang suami karena tidak tahan menanggung malu dengan ucapan Miranda.


Tidak senang dengan perlakuan Miranda, Brianto langsung menampar pipinya dengan keras.


Dania–istri Brianto itu begitu malu dibuat Miranda, sungguh ia tidak menyangka anak tirinya itu akan kembali memaki dirinya seperti dulu. Ia pikir setelah sekian lama mereka tidak bertemu Miranda akan berubah, tetapi lebih dari yang dulu, Miranda bahkan sungguh kelewatan padanya kali ini. Ia bahkan tidak memandang tempat untuk membuatnya malu.


"Kamu pikir kamu itu siapa hah? Berani sekali mengumpati istriku. Asal kau tahu saja, aku lebih memilihnya dan meskipun kau tidak setuju itu bukan urusanku. Masih untung aku membesarkanmu dan menganggapmu anak. Selama ini aku memberikan segalanya padamu, kau hidup dalam kelebihan padahal aku ini bukan ayah kandungmu. Ya, kau bukan anakku Miranda. Aku hanya seorang adik yang kasihan pada kakaknya yang telah tiada dan meninggalkan istrinya yang sedang hami tua. Kau bukan anakku, kau anak kakakku Miranda Sairah Bramantyo Smith! Kau anak kakakku dan kau itu hanyalah keponakanku!"


Duaarrr …


Ungkapan tersebut membuat dua orang terkejut bahkan seolah mereka terkena sambaran petir di siang bolong seperti saat ini.


"Ma-maksud Daddy?" tanya Miranda antara percaya dengan tidak ucapan pria di hadapannya ini.


Brianto menghela napas, ia kemudian menceritakan pada Miranda rahasia yang seharusnya ia jaga sampai mati mengingat ia begitu mencintai kakaknya juga kakak ipar yang menjadi istrinya, begitupun dengan Miranda yang ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


Miranda merupakan anak dari Bramantyo Smith, kakak kandung Brianto Smith yang meninggal saat kecelakaan dimana sang istri tengah hamil dengan usia kandungan tujuh bulan. Brianto begitu kasihan pada kakak iparnya yang tengah hamil tetapi sudah ditinggal oleh suaminya. Akhirnya Brianto mulai bersimpati dan mendekati sang kakak ipar dengan tujuan untuk membantu dan menghiburnya.


Tetapi kebersamaan mereka menimbulkan benih-benih cinta di hati Brianto hingga ia memutuskan untuk menikahi sang kakak ipar setelah ia melahirkan. Karena anak itu juga merupakan keponakan kandung dari Brianto, maka ia dengan senang hati menerima keberadaannya dan menjadikan Miranda sebagai anak kesayangannya. Ia sendiri tidak memiliki anak sehingga Miranda menjadi putri kecil yang selalu ia manja, terlebih lagi wajah mereka begitu mirip sebab Brianto dan Bramantyo adalah saudara yang memiliki wajah sedikit mirip.


Tubuh Miranda luruh di lantai setelah ia mendengar fakta tersebut. Tidak tega dan karena masih menyayangi putri yang ia besarkan dengan tangannya sendiri itu terlihat lemah seperti ini, Brianto membungkuk lalu membantu Miranda berdiri. Ia memeluk Miranda, sejujurnya Brianto tidak ingin membongkar rahasia ini karena ia memang tulus menyayangi Miranda. Tetapi sikap Miranda yang sudah sangat keterlaluan membuat Brianto kelepasan bicara.


"Aku selamanya adalah Daddymu. Aku dan tanganku ini yang membesarkan dirimu dengan penuh cinta kasih. Kau adalah anakku Miranda. Selamanya adalah anakku. Berbaikanlah dengan Dania, dia tidak pernah merebut siapapun dari siapapun. Jika saja kau mau mengenalnya lebih dekat maka kau akan tahu dia adalah wanita yang baik seperti mami kamu."


Miranda terisak dalam dekapan Brianto, ia menyesal sudah berbuat sejahat itu. Tetapi Miranda belum bisa menerima kehadiran Dania karena rasa sakit dan rasa benci itu tidak mudah hilang dalam sekejap.


Dari sudut lain, Genta Prayoga yang tak sengaja mendengar ucapan Brianto tadi kini terdiam.


Ja-jadi Miranda ini adalah anaknya Rama? Bramantyo Smith sahabatku?