GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
177


Naufal dan Aluna yang tadinya memutuskan untuk pergi ke salah satu kafe milik Ikram pun mengurungkan niatnya. Naufal justru membawa sang kakak untuk makan di warung tenda di pinggir jalan karena mereka memang sering melakukannya. Walaupun mereka adalah anak dari pengusaha kaya di negara ini, sifat rendah hati serta menjadi pribadi yang tidak picky apalagi terhadap makanan menurun dari bunda mereka. Nurul selalu mengajarkan nilai-nilai yang baik untuk anak-anaknya sehingga tak heran mereka bisa bergaul dan berbaur dari kalangan mana saja.


Kecuali Naufal, dia memang suka menyendiri tetapi walau begitu ia tetap tidak memandang segala sesuatunya dari satu titik saja. Berteman dengan siapapun ia bisa akan tetapi ia memang malas bergaul.


"Kita mau kemana lagi nih kak?" tanya Naufal saat mereka sudah menghabiskan makanan.


Aluna nampak berpikir, ia juga bingung karena tidak punya arah dan tujuan. Ia pun menggeleng dan mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


"Tapi aku juga belum mau pulang," ucapnya.


Kini giliran Naufal yang berpikir. Mendadak ia ingin mengajak kakaknya ke suatu tempat yang selama ini hanya ia sendiri yang tahu.


Biar deh, siapa tahu kak Luna bisa terhibur.


Dan disinilah mereka, Aluna dibuat tercengang karena sang adik membawanya ke area balap liar. Aluna memandang penuh tanya ke arah Naufal sedangkan adiknya itu hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jelasin ke kakak kenapa kamu yang masih kelas dua SMP ini sudah kenal sama tempat ini?" ucap Aluna dengan penuh penekanan.


Oh ayolah Naufal, Aluna saja dilarang ini dan itu bahkan pacaran atau keluar pun dilarang jika tidak bersama Frey atau Naufal dan kini adiknya justru membawanya ke tempat balapan liar.


"Se-sebenarnya aku sering ikut balapan liar Kak. Tapi jangan bilang sama Bunda ya, kalau papi mah dia udah tahu dan dia bahkan sponsorin aku. Tapi dengan syarat bunda nggak boleh tahu," jawab Naufal kemudian ia menampilkan cengirannya, bocah SMP itu terlihat sangat tampan.


Oh Tuhan ... mengapa diantara kami nggak ada yang waras kayak Bunda ya? Kenapa semua ngikut papi? Tapi kayaknya disini Bunda deh yang lebih nggak waras karena jatuh cinta sama pria gila kayak papi. Nah iya benar, bunda yang nggak waras.


Aluna menggelengkan kepalanya, jujur saja ia masih syok akan tetapi siapa juga yang bisa heran, mereka adalah keturunan Alvaro Genta Prayoga.


"Dek, tapi kamu nggak narkoba 'kan? Nggak se-ks bebas 'kan? Nggak ngerusak masa depan kamu 'kan? Nggak tawuran?" cecar Aluna, ia tentu saja khawatir dengan kehidupan sang adik.


"Ya ampun kak, kalau aku melakukan semua itu mungkin aku sudah nggak ada di dunia ini. Aku tuh sayang banget sama bunda, aku nggak bakalan ngelakuin kenakalan seperti itu. Aku hanya suka balapan, kayaknya aku mau jadi pembalap dibandingkan nerusin papi ngurus perusahaan. Dan mengenai se-ks bebas, ya enggak lah. Aku nih masih SMP dan aku juga nggak tertarik sama cewek manapun!" ujar Naufal menegaskan, kecuali dia. Aku cuma suka sama dia. Berharap nanti bisa jadi jodoh, hehe. Lanjut Naufal dalam hati.


Aluna menghela napas lega, ia mengira adiknya akan terlibat hal-hal yang merugikan. Keduanya pun bergandengan tangan berjalan ke arah kerumunan.


Malam ini adalah jadwal Naufal balapan, kebetulan seseorang menghubunginya untuk taruhan di jalanan dan Naufal beserta sahabatnya langsung mengiyakan.


"Wah gila, dia bawa cewek cantik bro!" teriak salah satu dari orang-orang yang berkerumun.


Semua atensi kini beralih pada pasangan kakak beradik yang saling bergandengan tangan itu dan terlihat sangat serasi. Postur tubuh Naufal yang lebih tinggi dari Aluna membuatnya terlihat seperti lebih tua atau seumuran dengan kakaknya yang memang sangat cantik dan imut.


Naufal langsung memasang tampang datar dan dingin. Tatapannya seakan membunuh pada setiap orang yang menatap penuh minat pada kakaknya. Ada rasa menyesal di hatinya karena mengajak sang kakak ke tempat ini. Akan tetapi semua sudah terlanjur.


"Kak Luna! Naufal, lu gila bawa kakak lu kesini!" pekik Zyan, sahabat Naufal yang tidak lain adalah anak dari Ikram dan Tara.


"Kak Luna, kenapa bisa datang ke tempat ini. Aduh, kita bisa kena marah nanti dari para mama cantik kita," timpal Givan, anak dari Flora dan Nandi.


Aluna berdecak, rupanya komplotan anak dari para sahabat orang tuanya itu sudah berkumpul disini. Dan ya, Aluna sangat kaget karena Zyan pun satu komplotan. Yang ia tahu, Zyan itu orangnya pendiam dan terlihat lebih Soleh dari yang lainnya. Namun ternyata ... Aluna hanya bisa menghela napas saja.


Bisik-bisik pun terdengar, mereka yang tadinya mengira jika Aluna adalah kekasih Naufal kini semakin riuh karena tahu gadis cantik itu ternyata kakak Naufal dan itu artinya mereka bisa mendekatinya dan mungkin bisa dijadikan kekasih.


Rata-rata dari yang saat ini berada di area balap liar itu adalah siswa SMA dan hanya Naufal dan gengnya saja yang masih SMP.


"Motor gue udah siap?" tanya Naufal pada Zyan dan Givan.


"Udah," jawab keduanya kompak.


"Jagain kak Luna," ucap Naufal kemudian ia segera menuju ke garis start dimana motornya sudah terparkir dan siap untuk diajak balapan.


Rival Naufal kali ini terlihat tenang, ia tak banyak bicara. Namun tadi karena mendengar teriakan dan juga kehebohan tentang adanya seorang gadis cantik, ia sempat menoleh dan membuka helmnya.



Mata cowok tampan itu bertemu dengan tatapan Aluna yang sedang digandeng oleh dua pria tampan di sisi kiri dan kanannya.


Gila, dia ganteng banget! Tapi ... Frey masih lebih tampan. Haiih ... gue harus lupain Frey.


Cowok tersebut menatap Aluna tak berkedip, beberapa saat ia merasa seperti pernah melihat gadis tersebut tetapi entah dimana. Ia mencoba mengingat-ingat dan beberapa saat kemudian ia tersenyum menyeringai.


Oh jadi dia yang namanya Aluna. Ck! Cantik sih, tapi sayang mematikan. Pantas saja Keenan sampai patah hati berat karena dia. Ck! Dan akhirnya harus gue yang eksekusi. Cantik banget anjir. Tapi sayangnya, gue udah tahu sepak terjangnya. Sebentar lagi lu bakalan ngerasain karma.


Aluna merasa aneh dengan tatapan cowok yang menjadi rival adiknya malam ini. Walaupun tampan tetapi insting Aluna mengatakan jika pria ini sedang memikirkan hal yang tidak baik tentangnya, mungkin karena ia adalah keturunan Deen Emrick yang memang pandai membaca ekspresi.


Balapan pun segera dimulai dan berlangsung sengit. Di awal Naufal melaju dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan lawannya dengan jarak beberapa meter namun di menit berikutnya ia tertinggal lagi namun itu memang hanya trik Naufal agar membuat lawannya lengah dengan ia yang memelankan laju motornya. Sekitar beberapa meter menuju garis finish, Naufal langsung menarik gas motornya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi hingga ia berhasil menyalip posisi lawan dan berakhir dengan ia yang menenangkan balapan malam ini.


Sorak-sorai terdengar dari para pendukung Naufal dan tak kalah pula suara Aluna yang sedari tadi tegang kini merasa senang. Ia pun menghampiri Naufal bersama Zyan dan Givan. Aluna langsung memeluk adiknya dan naik di jok belakang dengan cepat dan untung saja Naufal bisa menahan bobot sang kakak.


Cowok tampan yang kalah di balapan malam ini lansung menghampiri Naufal dan gengnya.


"Selamat, ternyata emang benar kalau lu adalah rajanya di jalanan. Senang bisa berkesempatan bertanding denganmu. Lain kali gue nggak akan kalah," ucapnya.


Cowok itu lalu menghampiri Aluna. Gadis yang merasa aneh karena cowok asing itu datang mendekatinya pun langsung menaikkan sebelah alisnya.


"Lu Aluna, 'kan? Besok kita bakalan ketemu dan semoga lu mau jadi teman gue besok," ucapnya kemudian ia bergegas naik ke motornya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Dia siapa? Kok bisa kenal gue? Eh tapi nggak heran sih, gue cewek cantik dan terkenal dimana-mana. Ck! Wajar lah kalau gue terkenal, orang cantik mah dimana-mana orang pada tahu.


"Pulang yuk Dek, tapi boncengin kakak pakai motor kamu ini," ajak Aluna.


Naufal menggeleng, "Bisa aja sih kak, tapi motor ini nggak bisa dibawa pulang ke rumah. Nanti sampai di markas aja ya, kita pulang pakai motor aku yang tadi," ucap Naufal dan Aluna pun menurut saja.


Dia siapa ya? Gue jadi penasaran. Apa calon jodoh? Tapi Frey ... hmmm, mungkin Tuhan sedang mengirimkan armada buat bantuin gue keluar dari ruang cinta yang nggak berbalas.