
"Lu apa kabar? Senang ya udah bikin gue patah hati bertahun-tahun."
Nurul yang berjalan lebih dulu di depan Alvaro langsung menghentikan langkahnya. Situasi ini yang selalu ia mimpikan tapi kenapa justru kini ia tidak sanggup hanya untuk sekadar bertatapan dengan Alvaro. Ia tidak mampu menatap mata itu, ia takut jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya sedangkan cintanya tidak terbalaskan.
Melihat Nurul diam saja, Alvaro langsung menyeret tangan Nurul dan dengan cepat membawanya menuju ke parkiran walaupun tempatnya masih lumayan jauh. Alvaro tidak ingin Nurul hilang lagi. Tidak akan ia biarkan perempuan yang sudah meresahkan hidupnya ini pergi begitu saja.
Nurul berusaha melepaskan diri namun sayang tangannya digenggam erat oleh Alvaro. Jantung Nurul berdebar-debar, kali kedua ia menyentuh tangan Alvaro setelah sekian lama.
Tuhan, bisakah waktu berhenti saat ini?
Beberapa saat kemudian keduanya sudah sampai di parkiran dan Alvaro membawa Nurul masuk ke dalam mobil kemudian ia juga masuk dan mengunci pintu mobil agar Nurul tidak kabur.
Cukup lama keduanya terdiam, ada banyak kata yang hendak mereka utarakan tapi satupun tidak ada yang berhasil lolos dari mulut keduanya. Sepertinya mereka sedang melepaskan diri dari belenggu rindu yang selama ini membuat keduanya tersiksa.
"Lu apa kabar?" tanya Alvaro mengakhiri kebisuan.
"Baik. Lu sendiri gimana?" tanya Nurul balik.
Alvaro terkekeh, sungguh ia tidak menyangka pertemuan pertama begitu jauh dari yang ia harapkan. Keduanya begitu kaku bahkan Alvaro yang sejak lama ingin membawa Nurul ke dalam pelukannya justru tidak mampu melakukannya saat ini. Seolah ada yang menahan dirinya untuk melakukan itu.
"Seperti yang lu lihat, gue baik-baik aja walaupun lu hancurin gue saat lu pergi tanpa kabar!" jawab Alvaro yang langsung menohok Nurul.
Nurul menundukkan kepalanya, ia tahu dirinya salah yang lari dari masalah bahkan tidak membiarkan siapapun mengetahui keberadaannya termasuk Flora. Mendengar dulu Alvaro pernah mencarinya membuat Nurul semakin sadar akan kesalahannya yang memilih pergi tanpa menunggu tindakan apa yang akan Alvaro ambil selanjutnya.
Dulu ia begitu naif, mengira bahwa dirinya yang hanya sebagai bahan taruhan tidak mungkin akan dicari oleh Alvaro apalagi cinta Alvaro--Miranda, sudah ada di sisinya. Nurul bisa apa.
"Harusnya lu nunggu gue datang. Lu pikir gue se-brengsek itu sampai nggak mau tanggung jawab sama perbuatan gue ke elu. Gue itu cinta lu, Aina. Masa lu nggak bisa ngerasain kalau sikap yang gue tunjukkin selama ini itu lebih dari sekadar permainan doang. Lu egois tahu nggak!"
Ungkapan Alvaro barusan sukses membuat Nurul mengangkat wajahnya dan menatap wajah Alvaro yang sialnya langsung membuat jantungnya kembali degdegan.
Tanpa diminta, air mata Nurul mengalir begitu saja. Kilas balik dimana ia mendengar dan melihat sendiri Alvaro mengatakan bahwa dirinya hanyalah gadis taruhan membuat hatinya kembali hancur. Luka lama yang belum kering itu kembali basah dan ternyata ia tidak bisa bohong kalau sepenggal kisah itu benar-benar melukai hatinya meskipun ia secinta itu pada Alvaro.
"Lu bilang lu cinta gue? Bukannya gue ini hanya gadis taruhan? Lu nggak perlu bercanda lagi ke gue, Ro. Semua juga udah berlalu dan gue udah melupakan itu walaupun sulit karena selamanya lu bakalan membekas dalam hidup gue. Lu sejahat itu ke gue dan lu sekarang bilang itu semua karena cinta?" tandas Nurul, kemudian ia tertawa getir. "Lu tahu Ro, disini sangat sakit!" ucap Nurul memegangi dadanya. "Luka di hati gue selamanya nggak bakalan bisa sembuh walaupun ada orang yang bersedia membantu gue buat ngobatin. Gue udah nggak bisa balikin waktu dimana gue terjebak cinta palsu lu ke gue. Lu jahat dan lu emang brengsek!" bentak Nurul.
Nurul tidak peduli apakah Alvaro akan marah atau melakukan kekerasan padanya, toh hal itu sudah pernah ia rasakan dan Nurul lebih berani. Ia membentak Alvaro dan juga menumpahkan tangis sejadi-jadinya tanpa perlu malu akan mendapat ejekan dari Alvaro. Nurul hanya ingin mengeluarkan semua uneg-unegnya dan seluruh rasa sakitnya walau dalam bentuk air mata.
"Nurul gue juga sama sakitnya kayak lu. Lu harus tahu kalau gue juga menyesal dan gue mau--"
"Cukup Alvaro! Emang lu bisa balikin waktu? Nggak bisa 'kan? Lu nggak perlu bilang kalau lu menyesal karena bukannya dulu lu ngelakuin itu nggak mikirin gimana perasaan gue kedepannya. Lu cuma mau bersenang-senang dan lu dengan teganya jadiin gue si anak panti sebagai korban kesenangan kalian. Lu nggak punya hati Ro, lu bahkan bikin gue main hati sama lu sampai sesakit ini dan lu nggak tahu gimana sakitnya gue saat tahu cinta yang gue punya buat lu ternyata lu balas dengan sehina ini. Lu bajingan Ro. Gue benci sama lu!"
Alvaro menatap nanar pada Nurul yang secara langsung menyatakan ketidaksukaannya pada dirinya. Hati Alvaro seolah tercabik-cabik melihat air mata yang mengalir di pipi Nurul. Alvaro ingin memeluk Nurul tapi ia yakin dalam keadaan emosi seperti ini Nurul justru akan semakin membencinya. Ia juga baru tahu kalau ternyata Nurul sejak dulu sudah memberikan hatinya. Alvaro merasa menjadi orang paling brengsek di muka bumi ini karena berhasil dan terus berhasil menyakiti orang yang ia cintai.
"Gue emang brengsek, bajingan dan lu benar kalau gue emang orang jahat Aina. Tapi gue benar-benar menyesal dan gue emang cinta sama lu. Gue cinta lu Aina, gue cinta!" tandas Alvaro yang juga kini ikut menangis bersama Nurul. "Lu juga nggak tahu gimana hari-hari yang gue lalui tanpa lu disisi gue. Lu nggak tahu gue cari-cari lu bertahun-tahun dan setiap malam dalam keheningan gue selalu terjaga karena merindukan lu. Gue juga sama tersiksanya kayak lu Aina. Lu boleh nggak percaya tapi gue nggak bohong kalau gue Alvaro Genta Prayoga, lelaki bajingan dan brengsek ini benar-benar cinta sama lu. Gue cinta sama lu Nurul Aina. Bahkan gue nggak bisa lagi kasih kata yang lebih tinggi untuk mendeskripsikan rasa cinta ini ke elu. Gue nggak tahu kata apa yang bisa mewakili perasaan gue ke elu," ungkap Alvaro, sudah cukup selama ini ia memendam rasa dan kini orang yang membuatnya terbelenggu rindu itu harus tahu seperti apa tersiksanya ia.
Nurul semakin mengencangkan tangisnya kala teringat status Alvaro yang sudah bersama Miranda dan memiliki seorang anak.
Kenapa dunia begitu kejam padanya?
Mengapa mereka kembali dipertemukan di waktu yang salah?
Apakah memang semesta tidak merestui kisah cinta mereka untuk mencatat sejarah?
Melihat Nurul yang semakin terisak-isak membuat Alvaro semakin tersayat-sayat. Ia yakin sangat besar luka yang ia torehkan dalam hidup Nurul dan ia bahkan tidak tahu harus dengan cara apa untuk menyembuhkan luka itu.
Apakah cukup hanya dengan cintanya?
Yang Alvaro tahu, cinta bisa menyembuhkan luka dan cinta pula bisa mendatangkan luka. Dan ia mau dengan cintanya yang begitu besar tanpa batas, ia bisa membantu menyembuhkan luka di hati Nurul karena dirinyalah penyebab luka itu.
"Aina, gue tahu lu nggak bisa maafin gue. Nggak apa-apa kalau emang lu nggak mau maafin. Gue tahu kesalahan gue emang begitu besar sama lu sebesar cinta gue buat lu. Lu nggak percaya, nggak masalah. Lu anggap gue bersandiwara juga gue nggak marah. Gue cuma mau lu tahu kalau gue jujur menyatakan ini semua. Gue tahu lu udah bareng sama Daniyal dan gue tahu lu bahagia sama dia apalagi dia sosok pria sempurna nggak kayak gue yang brengsek. Tapi jika suatu saat lu berubah pikiran, gue siap buat jadi tempat lu lari dan gue bakalan rentangin tangan gue buat nyambut lu ke pelukan gue," ucap Alvaro dengan lembut sambil menyeka air matanya.
Daniyal?
Oh andaikan Alvaro tahu jika Axelle hanyalah kekasih kontraknya. Meraka tidak benar-benar menjalin hubungan. Tapi bagaimana dengan Miranda dan Clarinta? Nurul mana mungkin mengorbankan perasaan mereka hanya demi keegoisannya semata.
Nurul memang cinta mati pada Alvaro tetapi ia juga masih memiliki empati pada sesama makhluk hidup. Ia sadar ia hanya masa lalu--sepenggal masa lalu yang hanya sekadar singgah tanpa bisa tinggal.
Nurul menghapus air matanya, ia ingin segera pergi dari sini. Ia takut tidak bisa menahan diri untuk memeluk Alvaro dan memintanya untuk memperjuangkan cinta mereka. Ia tidak mau egois karena ada anak yang seusia Aluna juga membutuhkan sosok ayahnya.
"Gue mau balik. Axelle pasti nyariin gue," ucap Nurul dengan suara datar.
Andaikan saja Nurul tahu ucapannya itu semakin membuat Alvaro terluka. Nurul mementingkan pria lain di hadapan Alvaro, sungguh Nurul seolah sedang mencabik-cabik hati Alvaro.
Dengan senyum getir Alvaro mengangguk, ia membuka pintu mobil secara otomatis. Begitu Nurul hendak keluar, dengan cepat Alvaro menarik tangan Nurul hingga ia berhasil memeluk tubuh wanita yang begitu ia rindukan itu.
Nurul sendiri membeku, sejak lama ia bermimpi berada dalam dekapan Alvaro dan kali ini mimpinya menjadi kenyataan walaupun keadaan tidak bisa menyatukan mereka.
"Aina, gue kangen lu. Maafin gue dan semoga lu bahagia. Jangan pernah lupa kalau ada seorang cowok brengsek yang pernah dan akan selalu cinta mati sama lu. Dan itu gue," bisik Alvaro kemudian ia mencium lembut kening Nurul. "Je T'aime."
Je T'aime Aussi Alvaro Genta Prayoga. Gue juga kangen dan gue juga cinta lu. Semoga lu juga bahagia walaupun kenyataannya bukan bersama gue.
"Makasih untuk waktunya dan makasih karena lu udah nolongin mami gue. Sekarang lu balik, pangeran lu udah nungguin dan semoga dia nggak bakalan nyakitin lu seperti yang udah gue lakuin. I love you Aina."
Nurul menggigit bibirnya sekuat mungkin agar tidak kembali menangis. Ingin rasanya ia membalas pernyataan cinta tersebut tetapi cerita dari Kriss terngiang-ngiang di telinganya.