GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Bagaimana Bisa?


"Mau kemana?"


Suara yang tidak asing di telinga Keenan mengiterupsi langkahnya ketika ia hendak masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di luar pagar rumah Cici.


Langkah kaki orang yang menghentikannya itu semakin mendekat dan Keenan mulai merasa terintimidasi olehnya. Namun ia harus tetap bersikap santai agar tidak ketahuan sedang memiliki masalah besar.


"Kok lu jadi laki-laki nggak gentle banget sih? Pengecut lu, dasar loser!"


"Leon gue nggak ada masalah ya sama lu, jadi nggak usah ikut campur apa yang terjadi sama gue dan jangan sok ngatain gue kayak gitu. Mending sekarang lu enyah dari hadapan gue sebelum gue murka dan bikin lu nyesal karena udah halangan jalan gue!" ancam Keenan, ia menatap tidak suka pada sepupunya yang saat ini sedang bersedekap dada menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Bukannya takut Leon malah semakin mendekat kemudian ia mengitari tubuh Keenan yang berdiri dengan tegang. Setelah berada di belakang Keenan, Leon kemudian menepuk pundak sepupunya itu.


Sebenarnya Leon merasa kasihan dengan keadaan yang menimpa Keenan, ia tahu semua ini terjadi karena Frey akan tetapi sebelum Frey memulainya, rencana ini adalah milik Keenan dan Cici sendiri. Frey hanyalah meneruskannya saja.


Siapa juga yang akan rela melihat istrinya sendiri yang tengah mengandung anak mereka dijahati dan bahkan sampai dijebak untuk tidur bersama pria lain, pikir Leon.


"Gue udah pernah bilang sama lu jangan cari masalah sama Frey. Gue udah pernah dan udah beberapa kali kena getahnya! Gue sebagai saudara yang baik, sayang dan peduli sama lu, gue udah ingatin lu dari awal 'kan, tapi lu tetap ngebantah gue. Lu nggak mau dengar apa yang gue kasih tahu sehingga sekarang lu harus menikmati apa yang udah lu lakuin."


Keenan mengepalkan tangannya, ia tidak suka cara Leon menasehatinya, apalagi dengan membawa-bawa nama Frey —makhluk yang paling ia benci di dunia ini. Ia tahu semua ini memang kesalahannya dan ia juga merasa menyesal karena mengabaikan peringatan dari Leon, akan tetapi rasa benci dan dendam serta masalah yang terjadi di masa lalu membuat Keenan gelap mata dan sangat ingin menghancurkan Frey dengan tangannya sendiri.


Keenan bahkan menyadari bahwa masalah yang terjadi dulu bukanlah masalah miliknya, karena itu terjadi ketika dirinya belum ada dan bahkan sampai detik ini keluarga kakeknya — bahkan orang-orang yang dulu pernah terlibat dalam masalah tersebut tidak pernah menyerangnya sama sekali.


"Selagi belum terlambat, sebaiknya lu sudahi kegilaan lu ini. Gue nggak mau kehilangan saudara gue satu-satunya. Lu harus tahu, keluarga mereka memang nggak menampakkan kekejamannya dan cenderung terlihat santai ... tapi lu harus ingat dengan peribahasa yang mengatakan 'air tenang jangan disangka tiada buayanya' dan gue nggak perlu ngejelasin sama lu maksud dari peribahasa itu!"


Leon kemudian meninggalkan Keenan yang berdiri mematung. Leon sebenarnya tidak tega, akan tetapi ia sudah tidak ingin ikut campur dengan dendam turun temurun dari keluarga Keenan. Apalagi sekarang dia sudah berdamai dengan Frey, ia tidak ingin terlibat masalah apapun lagi kecuali masalah dimana Aluna selalu memintanya untuk menyuapinya makan.


Untuk beberapa saat Keenan terpikirkan oleh ucapan Leon tadi, namun dalam sekejap ia langsung menyeringai.


"Gue nggak takut dan gue tahu benar kalau keluarga gue nggak akan bisa dikalahkan oleh mereka, karena buktinya sekuat apapun dan sebanyak apapun mereka, gue sampai detik ini masih hidup dan keluarga gue hidup dengan aman-aman aja, bahkan lebih cenderung menyerang mereka. Leon, lu udah salah perhitungan dan jangan remehin gue," gumam Keenan kemudian ia melangkah masuk ke dalam mobilnya.


......


Semua disibukkan dengan perayaan tersebut dimana kediaman keluarga Prayoga kini sangat ramai dengan kedatangan para anggota keluarga dari pihak Emrick. Di sini Aluna sangat diuntungkan karena ia sangat dimanja dan semua keinginannya dipenuhi tanpa ia bersusah payah merengek untuk memintanya.


Saat ini di pinggir kolam Aluna sedang duduk bersama Ayah Danish dan juga uncle Axelle, dua pria tampan di usia mereka yang sudah hampir setengah abad itu sedang mengajak Aluna berbincang-bincang ... oh lebih tepatnya mereka hanya menjadi pendengar yang baik untuk Aluna.


"Pengennya sih kuliah di Korea, tapi nggak bisa ninggalin oppa Luna yang ada di sini," ucapnya dengan wajah cemberut. "Luna emang cinta sih sama para Bangtan, tapi Luna juga jatuh cinta pada aktor China yang namanya Lin Yi, persis banget tahu sama Frey," curhat Aluna ketika kedua pamannya menanyakan apakah ia akan melanjutkan studi atau tidak.


"Luna sudah menikah sayang, harus tahu statusnya sekarang. Lagi pula dalam perut 'kan ada dede bayi yang nggak mungkin ditinggal jauh-jauh. Kamu bisa melanjutkan pendidikan di universitas yang ada di kota ini, 'kan sangat banyak yang juga merupakan universitas pilihan," ucap Danish sambil membelai rambut keponakannya yang dulunya begitu dekat dengannya sebelum Alvaro datang ke dalam kehidupan mereka.


"Semua itu terserah Luna, mau lanjut kuliah boleh, mau jadi ibu rumah tangga juga boleh. Atau mau membuka usaha sendiri juga boleh. Kalau papi kamu nggak mau ngeluarin duit, uncle pasti siap memberikan modal sama Luna secara gratis. Hubungi aja uncle, pasti bakalan langsung ditransfer!" timpal Axelle yang membuat Danish mendengus kesal.


Ekhhmmm ...


Suara deheman keras mengalihkan atensi ketiga manusia tersebut. Mereka kemudian berbalik ke belakang dimana ada Alvaro yang sedang bersedekap dada sambil menatap tajam pada dua pria yang tengah mengambil alih putrinya itu.


Langkah Alvaro mendekat, ia kemudian ikut bergabung dengan ketiganya. "Kau mantan saingan dan kau kakak ipar lucknut, kalian pikir aku ini sudah jatuh miskin sampai tidak mampu memberikan uang untuk putriku membuka usaha?! Jangan lupa, aku orang terkaya di kota ini dan di Pulau ini," ucap Alvaro dengan begitu arogan.


Danish dan Axelle kompak memutar bola matanya kesal melihat dan mendengar tingkah Alvaro yang sama sekali tidak berubah sejak masih muda hingga sudah hampir memiliki cucu.


"Aluna, bisa-bisanya kau berbagi masalah dengan mereka — dua manusia lucknut di dunia ini, sedangkan pada papimu sendiri kau terlihat tidak memiliki beban sama sekali. Sebenarnya papimu itu aku atau mereka sih?" protes Alvaro karena memang selama ini Aluna tidak pernah berkeluh kesah padanya.


Aluna tersenyum, ia tahu saat ini papinya tengah cemburu melihat kedekatannya dengan ayah Danish dan juga uncle Axelle. Ia kemudian memeluk Alvaro dengan begitu erat lalu mengecup kedua pipinya dengan penuh sayang.


"Papi adalah Papi terhebat di dunia ini, hanya satu dan satu-satunya yang Aluna punya. Jangan cemburu lagi, oke? Nanti gantengnya hilang. Tapi kalau orang udah lahir ganteng ya mau diapain juga tetap ganteng ya Pi," ucap Aluna, ia sangat tahu apa yang bisa membuat papinya itu melupakan masalahnya, yaitu dengan memuji ketampanan seorang Alvaro Genta Prayoga.


Alvaro tersenyum lebar kemudian menjawil hidung putrinya yang terlihat begitu nakal dan selalu saja mampu membuatnya melupakan amarahnya. Sementara itu Danish Axelle justru muak dengan tingkah laku Alvaro yang tetap saja dan masih selalu sama — percaya diri tinggi dan narsis.


Keempatnya pun mulai terlibat perbincangan hingga ponsel Aluna berdering menandakan sebuah notifikasi pesan masuk.


"What? Nggak mungkin. Bagaimana bisa Cici di rawat di rumah sakit jiwa? Apa yang sebenarnya terjadi?" pekik Aluna dengan tangannya menutup mulutnya saking kagetnya dengan pesan grup kelas mereka.