
Setelah mengetahui Nurul yang sedang dipantau oleh seseorang, Alvaro menjadi tidak tenang. Rasanya ia ingin segera menemui Nurul dan menjaganya. Ia tidak ingin wanita yang begitu ia cintai itu kenapa-kenapa apalagi jika orang itu sampai menyasar pada putrinya. Alvaro tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika hal itu sampai terjadi.
Alvaro langsung menelepon Danish, ia harus berbicara pada pria itu. Bagaimanapun juga hanya Danish yang bisa ia andalkan, karena tidak mungkin ia mengandalkan Axelle, yang ada justru itu akan semakin membuat Nurul dekat dengan pria itu dan tidak menutup kemungkinan keduanya akan saling jatuh cinta jika mereka sering bersama. Membayangkan saja sudah membuat Alvaro merinding apalagi jika hal lagi sampai terjadi.
Danish yang sedang melakukan panggilan video dengan Clarinta langsung bersungut begitu melihat panggilan di ponselnya yang satu berasal dari calon adik iparnya. Danish mengabaikan, ia tidak ingin menyita waktunya bersama Clarinta.
Lagi, Alvaro kembali menelepon Danish hingga akhirnya Danish menyudahi panggilan videonya dengan Clarinta kemudian menjawab telepon dari Alvaro.
"Kenapa lu hubungi gue dari tadi? Mengganggu aja sih!" gerutu Danish begitu ia menjawab panggilan dari Alvaro.
Alvaro berdecak kuat, memang selalu saja ia dan Danish tidak pernah akur dalam hal apapun itu.
"Gue juga nelpon Lu karena ada yang penting! Kalau nggak penting buat apa gue hubungi lu," sungut Alvaro. "Tadi gue habis video call sama Aina, dia bilang kalau beberapa hari ini seperti ada yang menguntitnya. Lu gimana sih jadi Abang? Bisa nggak sih lu jagain adik lu? Apa harus gue yang turun tangan buat jagain biar nggak ada yang jahatin dia dan Aluna," ucap Alvaro panjang lebar sambil bersungut-sungut.
Alvaro menghardik Danish, ia sebenarnya kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa ada di tempat itu untuk bersama Nurul dan menjaga Nurul beserta putrinya. Namun ia melampiaskannya kepada Danish yang notabennya adalah lelaki yang dimiliki oleh Nurul dan Aluna saat ini.
Mendengar ucapan Alvaro tersebut, Danish langsung tersentak kaget. Bagaimana bisa ada yang menguntit adiknya seperti itu selama berhari-hari tetapi ia tidak mengetahuinya. Dengan cepat Danish mematikan panggilan tersebut, lalu ia menuju ke kamar Nurul. Sedangkan Alvaro yang berada di kamarnya langsung berdecak kesal karena lagi-lagi calon kakak iparnya selalu bersikap seperti itu padanya.
"Kalau nanti gue udah nikah sama Aina, nggak bakal gue tinggal di sana bareng kakak ipar lucknut sepertinya. Gue bakal bawa Aina tinggal di Jakarta bareng gue sama Aluna dan anak-anak kami nanti. Bisa-bisa kalau gue tinggal serumah sama kakak ipar sepertinya, yang ada gue bakalan cepat tua, makan hati setiap hari!" gerutu Alvaro sambil menatap kesal pada ponselnya.
Alvaro kemudian memilih untuk tidur walaupun ia sangat sulit untuk tidur karena teringat akan keselamatan Nurul dan putrinya. Ia juga masih kesel terhadap Danish, apalagi geram terhadap Ikram yang sudah menikah lebih dulu. Semua itu tidak membuat Alvaro mengantuk tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain rebahan dan tidur untuk beristirahat karena besok ia harus kembali bekerja lagi.
Danis mengetuk pintu kamar Nurul, setelah mendapatkan jawaban dari dalam ia kemudian membuka pintu itu dan segera mendekati Nurul.
"Dek kenapa kamu nggak bilang sama kakak kalau selama ini ada yang membuntuti kamu? Apa kamu tahu siapa yang menguntitmu itu? Kalau saja Alvaro tidak menelepon kakak hari ini, maka kakak tidak akan tahu! Mengapa ceroboh sekali? Mengapa tidak mengatakan kepadaku? Apakah kamu ingin membahayakan dirimu sendiri?" cecar Danish, ia benar-benar sangat khawatir terhadap keselamatan adiknya ini.
Oh jadi pria tengil itu sudah melapor pada kak Danish. Haih ... dia selalu saja memiliki caranya sendiri.
"Maaf Kak, bukan maksud aku nggak memberitahu Kakak. Tetapi aku hanya ingin memastikan saja apakah benar pria itu menguntitku. Tetapi setelah beberapa hari semenjak aku melihatnya berada di sekitaranku, aku merasa memang pria itu sengaja mengikutiku. Tapi aku tidak tahu dia siapa dan apa motifnya karena sampai detik ini dia pun belum pernah mendekatiku. Aku selalu melihatnya memantauku dari jauh," cerita Nurul, ia kemudian mengajak kakaknya untuk duduk di sofa, agar Aluna yang sedang tidur tidak terganggu.
Danish merasa frustrasi, ia merasa tidak berguna sebagai seorang kakak tetapi Nurul langsung memarahinya karena ini bukan kesalahan Danish.
Nurul mengajak kakaknya untuk berdiskusi bagaimana cara mengatasi orang tersebut, cara menghindarinya atau cara menangkapnya. Dengan sangat bersemangat Danish pun membahas hal tersebut dengan Nurul.
.
.
"Bos, eh Mas Ayang. Bukankah Mas Ayang mengatakan kalau kita akan pergi ke bulan?" tanya Tarq begitu ia diajak masuk oleh Ikram ke dalam kamarnya.
Setelah mereka melewati persidangan panjang dari Ben Elard dan Safira Griffin akhirnya Ikram berhasil membawa Tara masuk ke dalam kamar namun dengan catatan bahwa Safira akan mengadakan resepsi pernikahan Ikram dengan besar-besaran dan mengundang seluruh kerabat mereka untuk memperkenalkan menantu mereka.
Wajah Tara langsung bersemu merah, ia langsung menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap Ikram saat dirinya sedang malu.
Bagaimana bisa bos Ikram mendadak berubah menjadi mesum seperti ini? Apakah malam ini dia akan menjadikan malam pertama sebagai pengantin baru? Membayangkannya saja sudah membuat aku merinding. Semoga itu tidak akan terjadi mengingat aku dan dirinya sama sekali tidak pernah menjalin hubungan apapun. Kemungkinan dia menikahiku karena kasihan dan aku menikahinya karena merasa ditolong. Ya Tara, kau jangan terlalu percaya diri jika bos Ikram mencintaimu, dia hanya kasihan saja padamu.
Tara berusaha membentengi dirinya, ia tidak ingin gegabah dalam bertindak. Ia juga tidak ingin begitu percaya diri karena jika jatuh maka itu akan terasa sakit jika nanti ia mengetahui bahwa Ikram tidak mencintainya maka dirinya lah yang akan patah hati. Ia hanya ingin mengikuti alur, seperti apa Tuhan menggaris takdirkan mereka berdua. Jika memang Ikram menjadi jodohnya maka Tara akan mencintai Ikram, karena tidak ada yang salah dengan mencintai suami sendiri, apalagi seorang Ikram tidak mudah untuk tidak jatuh cinta pada.
Ikram Ben Elard, aku Tara mengatakan bahwa It's so easy to love you.
Melihat Tara yang tertunduk malu sambil melamun, Ikram segera memanggilnya untuk masuk ke dalam kamar mandi setelah ia membukakan pintunya. Ia yakin Tara merasa canggung dan tidak tahu tata letak tempat yang ada di dalam kamarnya ini. Juga Ikram memberikan Tara sebuah handuk lalu meminta istrinya itu untuk segera membersihkan diri sedangkan ia memesan pakaian lewat online shop karena Tara sama sekali tidak membawa pakaian lain.
Dengan cepat Tara mengambil handuk tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi lalu menguncinya rapat-rapat. Ikram yang melihatnya hanya tertawa gemas. Entah mengapa melihat tindakan Tara seperti itu terlihat lucu di matanya.
"Apakah gue tega melakukannya malam ini dan membawanya ke bulan? Melihat sikap menggemaskannya dan kepolosannya seakan membuat gue nggak tega untuk menyentuhnya. Apakah gue membiarkannya bertumbuh dulu dan setelah itu gue mengajaknya bercinta? Tapi, berapa lama gue harus menunggu, sedangkan berada di dekatnya saja selalu bikin gue tegang? Hahh ... gue harus bagaimana kalau sudah seperti ini?"
Ikram kemudian berjalan menuju tempat tidur, ia duduk sambil memikirkan apa yang hendak ia lakukan bersama Tara malam ini. Ia tidak ingin melakukan hal ini jika hanya dirinya saja yang mau, ia ingin ketika ia melakukan malam pertama untuk pertama kalinya dengan perempuan yang berstatus sebagai istrinya, mereka harus sudah saling sama-sama mencintai, suka sama suka, rela sama rela.
Ikram tidak ingin memaksa, ia ingin semua itu terjadi atas perasaan mereka masing-masing. Hal itulah yang membuat Ikram dilema untuk menyentuh Tara malam ini, mengingat Tara belum tentu sudah jatuh cinta kepadanya.
"Gue bukan Alvaro yang bisa memaksa, gue juga bukan Nandi yang pandai menggombal dan merayu wanita. Gue nggak punya pengalaman dalam hal seperti ini. Tapi gue juga nggak mungkin nanya saran dari mereka karena gue yakin mereka pasti nggak bakalan ngasih saran yang waras!"
Di tengah kegalauannya, salah satu asisten rumah tangga datang mengetuk pintu kamarnya dan menyerahkan paket yang sudah dipesan oleh Ikram bertepatan dengan Tara yang keluar dari kamar mandi. Ikram pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan meminta Tara untuk berganti pakaian.
Saat ini keduanya sedang berbaring di tempat tidur yang sama saling menatap ke langit-langit kamar. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan apapun karena keduanya sama-sama gugup. Kemudian Ikram mengambil inisiatif untuk berbalik menghadap kepada Tara, begitupun Tara langsung menatap kepada Ikram.
"Tara Apa kau tahu maksudku membawa ke bulan?" tanya Ikram.
Tara hanya menjawab dengan gelengan kepala, sejujurnya ia sangat malu begitu dekat berhadapan dengan bosnya yang begitu tampan. Pipi itu kembali memerah dan dengan cepat Ikram mengecup pipi memerah itu.
"Gue mau ngajak lu ke bulan itu hanya sebagai perumpamaan. Sebenarnya gue ingin ngajak berbulan madu. Apa lu siap?" tembak Ikram, hal itu langsung membuat Tara terkejut matanya melotot dengan mulutnya yang terbuka lebar.
Ikram tertawa gemas, ia kemudian mengecup dahi Tara.
"Bertumbuhlah Tara, seiring dengan berjalannya waktu pun bertumbuhlah juga cinta antara kita berdua. Dan ketika cinta itu sudah mekar maka kita akan sama-sama memetiknya dan kita akan membuat penyatuan itu dengan menggunakan rasa cinta yang ada. Aku tidak ingin memaksamu, aku tahu pernikahan kita ini terjadi secara tiba-tiba dan aku juga tidak akan dengan tiba-tiba merenggut kesucianmu walaupun aku adalah suamimu yang sah. Mari kita menjalaninya lebih dulu, ketika kau sudah cinta padaku maka kita akan melakukannya," tutur Ikram dengan lembut yang membuat Tara begitu terharu.
Tara menganggukkan kepalanya, ia begitu berterima kasih kepada Ikram yang sangat mengerti dengan dirinya.
Dan malam itu pun mereka lalui dengan tidur lelap dengan Ikram yang memeluk Tara sangat erat.