
Bu Uswa terdiam mendengarkan pertanyaan Nurul. Ia juga belum berpikir ke arah itu. Bagaimana jika itu sampai terjadi dan bagaimana Nurul menjalani hari kedepannya? Tentu saja Nurul akan mengalami banyak kesulitan. Panti mereka juga akan dicap buruk oleh masyarakat dan mental Nurul pasti akan ditempa habis-habisan.
Bu Uswa khawatir apakah Nurul bisa setegar saat ini ketika hal itu sampai terjadi. Bukan tidak mungkin jika anaknya ini akan mengalami depresi karena takdir yang terus menjatuhkannya. Jika sampai ia hamil maka semakin hancur pula kehidupan anaknya itu.
Diamnya Bu Uswa membuat Nurul menangis. Ia tidak mampu menahan tangisnya hingga suara isakannya itu terdengar begitu menyayat hati. Bu Uswa merengkuh Nurul, ia juga hendak menangis namun ia coba sebisa mungkin untuk tidak larut dalam kesedihan karena Nurul membutuhkan sosok penguat dalam hidupnya.
"Semua akan baik-baik saja, Nak. Percaya sama ibu ya?" ucap Bu Uswa yang sebenarnya juga pesimis akan hal ini.
"Nurul takut, Bu. Bagaimana stigma masyarakat nanti terhadap Nurul? Terhadap panti kita? Dan bukan tidak mungkin ibu pun akan mendapat cemooh masyarakat di sini jika mengetahui anaknya hamil tanpa suami. Nurul tidak ingin karena masalah Nurul ini semuanya terkena dampaknya."
Bu Uswa menggeleng, ia tidak mau Nurul mengatakan hal tersebut. Memang benar ada kemungkinan yang Nurul katakan barusan akan terjadi. Hidup di tempat baru seperti ini akan menimbulkan paradigma masyarakat tentang perilaku mereka yang berasal dari ibu kota negara. Bu Uswa juga tidak ingin hal itu terjadi apalagi stigma masyarakat terhadap mereka. Itu adalah hal yang ia hindari selama ini.
Penilaian buruk serta cara berpikir masyarakat terhadap situasi yang dialami Nurul tentunya akan mempengaruhi mereka kedepannya. Menjatuhkan mental mereka dan Bu Uswa tidak siap jika anak-anak yang ia besarkan akan mengalami perundungan dari masyarakat.
"Bu, bagaimana kalau Nurul pergi saja dari sini? Kasihan ibu dan adik-adik kalau nanti masyarakat akan merundung kalian. Ini kesalahan Nurul dan kalian tidak pantas untuk ikut menanggungnya. Biarlah Nurul pergi dan menanggung semuanya sendirian," lirih Nurul.
Bu Uswa hampir saja menampar Nurul yang berpikiran sempit seperti itu. Tangannya gemetar dan dadanya bergemuruh.
"Nurul jangan berbicara seperti itu! Darimana kau mendapatkan pemikiran seperti itu hah? Apa ibu pernah berkata kalau terjadi sesuatu pada anak-anak ibu maka demi membuat keadaan tetap aman maka yang membuat masalah harus keluar dari rumah? Apa ibu pernah berkata seperti itu? Sungguh ibu kecewa dengan pemikiran Nurul barusan," ujar Bu Uswa dengan bibir gemetar.
Nurul dengan cepat memeluk lutut Bu Uswa. Ia benar-benar menyesal mengatakan hal tersebut. Ia hanya terbawa suasana dan terlarut dalam beban pikirannya yang terus membuatnya ketakutan. Ia tidak bisa berpikir jernih dan yang ia tahu hanya dengan dirinya tidak berada di rumah ini maka keadaan akan membaik.
Bukankah Nurul mulai terbiasa lari dari masalah? Seperti halnya saat ini ketika yang seharusnya ia menyelesaikan masalah dengan Alvaro dan meminta pria itu bertanggung jawab justru dirinya malah memilih pergi dan menjauh dari Alvaro tanpa satu kata pun.
Ia hanya terus mendoktrin dirinya jika Alvaro tidak mencarinya. Pembahasan tentang dirinya yang hanyalah gadis taruhan Alvaro itu terus terngiang di telinganya yang akhirnya menciptakan dinding pembatas di hati Nurul.
Ia membatasi dirinya untuk tidak berpikir dari sisi lain. Sisi dimana ada kemungkinan Alvaro saat ini tengah mencarinya. Sisi dimana Alvaro kemungkinan juga mencintainya hanya saja sudah terlanjur membuat sebuah taruhan.
Nurul membatasi dirinya untuk semua hal itu karena takut jika ia berekspektasi tinggi maka ketika kenyataan menamparnya semua akan terasa jauh lebih sakit dari yang ia rasakan saat ini.
"Maafkan Nurul, Bu. Nurul tidak bermaksud membuat ibu kecewa. Nurul hanya tidak bisa berpikiran jernih karena rasa takut ini. Nurul sayang kalian semua dan Nurul tidak ingin dampak dari kejadian yang menimpa Nurul juga sampai mengenai kalian semua," isaknya begitu pilu.
Bu Uswa menyeka air matanya kemudian membantu Nurul untuk kembali duduk di sampingnya.
"Masalahmu, masalah adik-adikmu dan masalah ibu adalah masalah kita semua. Jangan menganggap dirimu itu sendiri. Kau punya ibu dan adik-adik. Lagi pula, hal itu belum tentu terjadi. Belum ada tanda-tanda juga, 'kan? Mungkin itu akan terlihat satu atau dua bulan lagi. Dan selama masa itu maka kita akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini. Dan selama hal itu belum terjadi, ibu mohon Nurul untuk terus semangat dan ceria seperti biasanya. Kita akan menemukan jalan keluarnya, pasti."
Ucapan Bu Uswa membuat Nurul tersentak halus. Dalam hati ia ikut membenarkan ucapan Bu Uswa. Ia belum tentu hamil dan juga tanda-tanda itu tidak akan nampak besok atau lusa. Ia masih memiliki waktu untuk mencari jalan keluar dan selama hal itu belum terjadi maka ia masih bisa melanjutkan hidupnya. Memulai pekerjaan dan bersemangat untuk hidup tentu saja.
Setidaknya jika benar ia hamil maka mereka sudah punya persiapan dini untuk mengambil langkah selanjutnya.
"Ibu benar dan Nurul kembali melakukan kebodohan. Maafkan Nurul, Bu. Dan mari kita mencari solusi untuk masalah ini. Nurul selalu yakin jika bersama ibu maka semuanya akan teratasi. Terima kasih Bu, terima kasih karena sudah menjadi penerang dalam hidup Nurul yang begitu gelap dan kelam." Ucapan itu tulus dari lubuk hati Nurul dan Bu Uswa dibuat terharu.
"Kau adalah anak ibu meskipun tidak lahir dari rahim ibu. Sudah menjadi tugas seorang ibu untuk melindungi anaknya dari bahaya apapun dan dari ujian apapun. Seorang ibu adalah tameng terdepan untuk anaknya. Kau harus tahu itu, kelak kau pun akan berada di posisi ibu," ucap Bu Uswa sembari mengelus lembut puncak kepala Nurul.
"Sebaiknya kau istirahat dan besok pagi kita akan pergi ke perkebunan. Sudah siap, bukan?"
Nurul mengangguk, "Sangat siap bahkan, Bu. Kalau begitu ibu juga istirahat karena besok akan menemani Nurul ke perkebunan."
"Aku harus kuat dan aku ingin bertumbuh menjadi perempuan yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak bisa lari dari masalah dan aku juga tidak sendiri. Aku punya mereka yang selalu berdiri bersamaku. Nurul Aina, semangat!"
.
.
Di ruang pemulihan pasca operasi, mata indah yang jika menatap seseorang bagaikan elang menatap mangsanya itu mulai terbuka dengan perlahan. Kedua mata yang dihiasi oleh bulu mata yang lentik itu perlahan mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya itu. Samar-samar ia menangkap sosok yang sedang menunggu sambil menggenggam tangannya. Ia mencoba tersenyum walaupun terasa masih kaku.
"Mi," lirihnya.
Yani yang masih terjaga itu sontak menoleh ke sumber suara. Air matanya menetes kala mendapati putranya sudah membuka mata dan memanggilnya walaupun dengan suara yang begitu lemah.
"Sayang kau sudah siuman. Oh syukurlah," ucap Yani sambil mengecupi punggung tangan Alvaro berkali-kali.
Alvaro tersenyum tipis, "Jika papi melihat hal ini maka aku akan dibunuhnya," ucap Alvaro berusaha mencairkan suasana. Sungguh ia tidak ingin melihat wanita tangguhnya ini menangis apalagi karena dirinya.
Yani menghentikan tindakannya kemudian ia mendelik pada Alvaro. Rasanya ingin sekali untuk menjewer telinga putranya itu yang baru saja siuman tapi sudah berkata yang tidak-tidak.
"Kau?!"
"Apa yang Alvaro katakan itu memang benar akan terjadi. Jadi jika mami masih menyayangi anak nakal ini maka berhenti melakukannya."
Suara khas Genta Prayoga langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu dimana pria paruh baya itu tengah menatap mereka dengan kesal. Namun ada senyuman disana, senyuman penuh kelegaan karena akhirnya putranya siuman dan terlihat baik-baik saja.
"Apa salahnya? Dia adalah anakku, aku mengandungnya di dalam perutku selama sembilan bulan tanpa pernah kubagi padamu untuk menggendongnya di perutmu. Aku juga yang kesakitan saat melahirkannya. Jadi wajar saja jika aku begitu mencintainya karena dia adalah buah hatiku. Bintang hatiku dan separuh jiwaku," ucap Yani kesal dengan suaminya yang sangat posesif ini.
Alvaro begitu bahagia melihat kehangatan yang disuguhkan oleh kedua orang tuanya. Ia jadi teringat akan Kriss yang berani sekali ingin menghancurkan dirinya dan keluarganya. Ia juga teringat Ikram.
"Pi, gimana sama Ikram?" tanya Alvaro mendadak cemas.
"Tadi Ikram dikabarkan meninggal," jawabnya.
Alvaro syok bukan main, ia rasanya seperti membeku.
"Tapi rupanya Nandi salah orang dan kawan baikmu itu sekarang sedang istirahat di kamar rawatnya. Sebentar lagi kau akan dipindahkan di sebelah kamarnya," ucap Genta dengan segera karena tidak ingin mengerjai Alvaro yang baru saja siuman pasca operasi.
Alvaro bernapas lega, hampir saja ia menangis meraung-raung dan pergi mencari Kriss untuk membuat perhitungan.
"Pi, dimana Miranda?"
Pertanyaan Alvaro membuat Genta dan Yani mendelik padanya. Mereka sudah menduga-duga jika Alvaro ingin Miranda datang dan menemaninya di rumah sakit selama ia di rawat.
"Tenanglah, aku hanya ingin tahu saja dan tolong bantu dia untuk tidak lagi menginjakkan kaki di negara ini. Bisa gunakan kekuatan papi untuk melakukan hal itu?"
Genta menyeringai, "Tentu saja bisa."