
Frey turun dari atas tubuh Aluna, ia harus segera menuntaskannya sendiri di kamar mandi sebab ia tidak ingin merenggut Aluna dulu saat mereka masih berstatus sebagai pelajar. Frey tidak ingin Aluna hamil di usia sekolah. Akan lebih baik ia menahannya dibandingkan ia harus menuai akibat dari perbuatannya.
Aluna sendiri yang tadinya sudah terbuai dengan semua perlakuan Frey mendadak bingung karena Frey malah duduk dan melamun. Ia berinisiatif untuk bangun dan kini ia duduk di pangkuan Frey hingga mata Frey melotot sempurna.
Aluna! Lu nyiksa gue tahu nggak. Uh, kenapa dia malah duduk tepat di junior gue yang lagi menegang? Sial!
Tangan Aluna ia letakkan di leher Frey, namun kini duduknya terasa tidak nyaman hingga ia bergerak-gerak di atas pangkuan Frey sedangkan ia tidak sadar perbuatannya tersebut sudah membuat Frey semakin tersiksa.
"Na, lu bisa nggak duduknya yang tenang gitu?" ucapan Frey dengan suara tertahan karena saat ini hasrat itu bukannya hilang justru semakin menggebu-gebu saja.
Aluna menggeleng, "Gue nggak nyaman eh maksud gue tuh gue suka duduk di pangkuan lu kayak gini tapi kenapa rasanya nggak nyaman ya? Ada sesuatu yang menusuk dari tubuh lu," ucap Aluna dan beberapa detik kemudian ia tersadar dengan matanya membulat sempurna. "Frey!! Lu cabul ya, dasar mesum!" pekik Aluna dan ia berusaha turun dari pangkuan Frey namun celaka Frey sudah menarik tangannya.
"Semua ini karena lu. Jadi lu harus tanggung jawab," ucap Frey dengan suara serak.
Bola mata Aluna bergerak gelisah, sejujurnya ia penasaran dengan rasanya akan tetapi dia yang paling suka dengan pelajaran Biologi tentu saja tahu dampak dari melakukannya sekarang. Ia harus memikirkan cara untuk kabur dari Frey.
"Frey, gu-gue mau ke toilet," ucap Aluna mencari alasan.
"Ya udah kita ke toilet bareng. Bantu gue buat tidurin dia," ucap Frey sambil menunjuk juniornya yang terlihat membusung di dekat Aluna.
Wajah Aluna memerah, ia langsung berpaling karena merasa tindakan Frey kali ini terlalu vulgar. Frey sendiri tidak benar-benar meminta Aluna melakukannya, ia hanya menggoda saja walaupun saat ini ia merasa tersiksa dengan keadaannya sendiri. Hanya saja menggoda Aluna adalah hak yang cukup menyenangkan.
Tahan Frey, tarik napas dan keluarkan dengan perlahan. Konsentrasi dan alihkan perhatian lu dari hal mesum biar si junior cepat bobo. Sial sekali sih nasib gue, Aluna itu istri gue. Gue mau pegang-pegang atau gue mau kungkungin juga sah-sah aja. Argghhh!!
"A-apa itu menyiksa?" tanya Aluna yang menjadi tidak tega karena sedari tadi ia memperhatikan wajah Frey yang seolah sedang menahan rasa sakit.
Frey mengangguk sebagai jawaban. Wajahnya dibuat memelas agar Aluna kasihan padanya.
"A-apa yang harus aku lakukan? Frey, kenapa tidak mencoba ... emm kita ini sudah sah sebagai pasangan suami istri. Gu-gue pasti akan berdosa karena membuatmu seperti ini. Oh Tuhan ... Frey, gue bakalan jadi istri durhaka!" pekik Aluna, ia sadar betul tugasnya sebagai seorang istri karena ia sudah membaca banyak artikel tentang hubungan suami istri.
Frey tertawa, bohong kalau ia tidak ingin membawa Aluna kedalam dekapannya, membawanya mengarungi nikmatnya surga dunia, bercinta bersama dan melakukan malam pertama, akan tetapi belum saatnya. Frey masih bisa menahannya.
"Kau bisa membantuku dengan cara lain, sayang!" ucap Frey menyeringai.
Satu jam kemudian ....
Wajah Aluna nampak sangat kesal sedangkan Frey saat ini tengah tertawa puas. Sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai, Aluna berjalan ke arah tempat tidur dan langsung berbaring lalu menyembunyikan dirinya di dalam selimut sedangkan Frey masih berada di dalam kamar mandi.
Aluna mendengus, Frey masih belum keluar juga dari kamar mandi. "Bodoh amat lah sama Frey. Tangan gue pegal banget. Huaaa ... tangan gue tercemar. Mana tadi lama banget lagi, huhuu ...."
Aluna menatap tangannya yang terlihat memerah setelah tadi ia membantu Frey menyelesaikan keinginannya. Membayangkannya saja sudah membuat Aluna merasa mual. Tadi di kamar mandi ia sangat terkejut melihat milik Frey yang begitu besar dan sangat tegang. Aluna bahkan sampai kesulitan bernapas dan menelan salivanya.
"Awas saja nanti, nggak bakal gue tolongin lagi!"
Tak lama kemudian Frey keluar dari kamar mandi, dengan cepat Aluna menutup matanya dan berpura-pura sudah tidur. Frey berjalan ke arah ranjang, ia mengecup lembut dahi Aluna kemudian ia membelai rambut sang istri.
"Terima kasih banyak istriku, aku sayang dan sangat mencintaimu," ucap Frey kemudian ia bergegas ke sofa dimana tadi mereka belajar. Bukan melanjutkan pelajaran melainkan ia mengatur kembali peralatan belajar yang berserakan.
Frey juga mengatakan buku-buku yang akan Aluna bawa besok ke sekolah sebagai imbalan kecil darinya karena sang istri sudah berhasil membantunya mendapatkan pelepasan. Jika mengingat kembali kejadian tadi, tentu Frey sangat malu dan lebih banyak rasa puasnya. Hanya dengan jari-jemari Aluna, semuanya terselesaikan.
Gue akan berikan dia hadiah, sebagai tanda terima kasih. Ah ya, Aluna pasti akan sangat senang jika aku memberikannya hadiah.
Setelah selesai menyiapkan keperluan besok, Frey keluar dari kamar karena ia ingin mengambil air minum. Di tangga, ia berpapasan dengan Naufal yang baru pulang dengan keadaan kacau.
"Lu kalah?" tanya Frey yang membuat langkah Naufal terhenti.
Wajah imut remaja itu terlihat ditekuk, bukan karena kekalahannya melainkan karena keinginan Leon yang sangat sulit ia turuti. Naufal sangat cerdas tapi untuk yang kali ini ia tidak mendapatkan ide sama sekali.
Melihat adik sekaligus adik iparnya itu nampak lesu, Frey langsung merangkulnya dan mengajak Naufal untuk berbicara di ruang makan karena Frey akan mengambil air minum. Tidak ada yang pernah ditutupi Naufal dari Frey, semua ia ceritakan dan mereka bertiga sebagai saudara selalu membagi perasaan dan kegiatan mereka. Hanya saja ada beberapa hal yang mereka rahasiakan.
Frey menuang air ke dalam dua gelas yang satunya ia sodorkan kepada Naufal dan satunya lagi ia minum lalu ia isi kembali untuk dibawanya ke kamar.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Frey, ia duduk berhadapan dengan Naufal.
Naufal menghela napas, "Kak Frey, besok malam temanku mengadakan acara. Katanya harus datang berpasang-pasangan, tapi kau tahu sendiri kalau aku tidak memiliki pasangan," ucap Naufal dengan berat hati mulai berbohong.
"Kenapa kau terlihat bingung, ada Ziya yang bisa kau ajak bersama," ujar Frey yang tahu jika Naufal menyukai Ziya sejak lama.
Naufal menggeleng, "Zyan terlalu protektif. Acara ini hanya untuk anak-anak balapan doang, Kak. Zyan mana mungkin mengizinkannya. Dan jika aku tidak datang maka aku akan dikatai pecundang. Lalu aku harus bagaimana? Apakah kak Luna bisa berpura-pura menjadi pasanganku disana?" keluh Naufal yang terlihat totalitas dalam memerankan dramanya.
Frey nampak berpikir keras, ia mana mungkin membiarkan Aluna pergi berkumpul dengan teman-teman Naufal yang pastinya ada banyak pria yang mendominasi. Frey tidak ingin istri cantiknya itu menjadi pusat perhatian, dia cemburu dan sangat posesif.
Akan tetapi Frey adalah orang yang paling tidak suka saudaranya mendapat bully-an apalagi dikatai sebagai pecundang sedangkan mereka adalah seorang Prayoga.
"Ya sudah, pergilah bersama Aluna besok. Pastikan kau menjaganya dengan baik. Jangan biarkan ada yang mendekatinya, atau kau akan tahu apa yang akan aku lakukan jika istriku sampai mendapat perhatian lebih dari manusia berjenis kelamin laki-laki. Aku juga ada kerjaan penting besok dan sampai malam, kalian pergilah!"
Naufal tersenyum lalu ia mencebikkan bibirnya, "Dasar suami posesif!" cibir Naufal.
"Ya iya!"