GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Rindu Konon


Axelle masih melakukan push up padahal sudah hampir satu jam ia melakukannya. Bukan tanpa sebab, ia sedang menghukum dirinya sendiri yang tidak berani mengajak Nurul memulai hubungan yang normal dan kini justru ia terjebak dalam kepura-puraan dengan menjadikan Nurul kekasih kontrak. Ia lupa jika keluarga Nurul cukup berpengaruh dan terkenal di kalangan masyarakat. Ia juga lupa jika mommy-nya itu berteman dengan Bu Dianti, mama Nurul. Dengan cepat kabar hubungan mereka sampai di telinga keluarga Emrick.


Jika nanti hubungan kontrak berakhir, Axelle tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua keluarga itu. Jika ditanya padanya, ia tentu tidak ingin berakhir. Tapi entah bagaimana dengan Nurul sendiri. Axelle bisa memastikan wanita itu belum memiliki perasaan untuknya.


Bukan berarti ia sudah bertekuk lutut pada Nurul, bukan. Ia juga belum meyakini jika jatuh cinta pada Nurul. Hanya menurutnya ia mulai tertarik pada wanita itu. Belum sampai ke tahap main hati. Ia masih bisa menahannya karena tidak ingin patah hati walaupun kini ia mulai merasakan getaran aneh itu.


Axelle mengumpat saat bibirnya baru saja tersenyum hanya dengan mengingat wajah Nurul. Ia menyudahi aktivitasnya dan beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


"Lama-lama aku bisa gila jika seperti ini terus. Kenapa begitu bodoh dalam hal percintaan!" gerutu Axelle begitu ia keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.


Niatnya tadi mau mandi untuk merilekskan pikirannya, tapi yang ada justru ia semakin teringat Nurul. Rindu konon.


Axelle bersiap untuk tidur namun ponselnya bergetar dan panggilan berasal dari salah satu anak buahnya yang bertugas menjaga Clarinta.


"Katakan!" ucap Axelle.


"Tuan, nona Clarinta sudah bekerja di perusahaan milik keluarga Prayoga dan menjabat sebagai sekretaris CEO. Apakah perlu untuk saya paksa kembali ke rumah utama?"


Axelle cukup terkejut karena adiknya yang suka bermain-main itu bisa bekerja juga dan langsung menjadi sekretaris. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib seorang Alvaro Prayoga selama berdampingan dengan adiknya itu.


Axelle tentu saja kenal dengan seorang Alvaro karena mereka juga memiliki proyek bersama dan besok ia ada janji temu dengan Alvaro di Jakarta.


"Biarkan dia bekerja dan jagalah dia dengan baik. Selalu laporkan apa saja yang ia lakukan dan apa yang terjadi dengannya," ucap Axelle.


"Baik tuan!"


Panggilan berakhir. Axelle menarik sudut bibirnya, ia sedang berusaha untuk tidak tertawa membayangkan nasib seorang Alvaro Genta Prayoga di tangan Clarinta.


.


.


Pagi ini menjadi pagi yang membuat Nurul gugup. Sebentar lagi ia akan menemui Alvaro dan akan melepaskan perasaannya karena Alvaro sudah bahagia. Ia rasanya ingin membawa serta Aluna, tetapi kedua orang tuanya tidak mengizinkan. Lagipula ia tidak lama di Jakarta, hanya menginap satu malam dan setelah itu, besok pagi ia akan pulang. Nurul sudah bertekad untuk bisa menemukan Alvaro hari ini meskipun harus ke rumah atau ke kantornya, Nurul tidak peduli.


"Bunda lama nggak?" tanya Aluna yang sedang disisir rambutnya oleh Nurul.


Nurul yang melihat raut wajah cemberut anaknya di pantulan cermin itu menjadi gemas sendiri.


"Bunda nggak lama, besok udah balik. Nanti bunda bakalan bawa Aluna jalan-jalan ke Jakarta lagi," jawab Nurul yang merasa berat meninggalkan Aluna walaupun pada kedua orang tuanya sendiri.


"Yeyy ... makasih bunda. Jangan lupa bawain Aluna oleh-oleh dari Jakarta ya," ucap bocah itu kegirangan.


"Pasti dong! Ayo sekarang kita turun, pasti semua sudah menunggu Aluna untuk sarapan," ajak Nurul.


Kedua ibu dan anak itu pun keluar dari kamar dan bergabung di meja makan dimana anggota keluarga sudah berada di posisinya kecuali Danish yang masih berada di Sumatra.


"Selamat pagi Kakek, selamat pagi Nenek," sapa Aluna dengan riang gembira.


"Selamat pagi Aluna yang cantik," balas kakek dan neneknya bersamaan.


Nurul rasanya ingin segera pergi dari meja makan, ia bahkan buru-buru menghabiskan makanannya dan berpamitan ke kamar dengan alasan ada yang harus ia kerjakan sebelum berangkat ke Jakarta.


Pak Deen dan Bu Dianti saling melirik kemudian keduanya tertawa begitu Nurul sudah menghilang secepat kilat.


"Pasti dia takut ditanya ini itu," ucap Bu Dianti menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pak Deen menganggukkan kepalanya. Ia sudah diberitahu tentang hubungan Nurul dan Axelle semalam. Ia sebenarnya senang dan setuju, tetapi ia juga harus mawas diri. Mengingat status yang tidak biasa yang disandang oleh keluarga Axelle lalu membandingkannya dengan status Nurul yang sudah memiliki satu anak tanpa suami itu tidak bisa disepelekan.


Besok lusa, hal ini akan mencuat ke permukaan dan akan menjadi boomerang untuk hubungan mereka. Pak Deen tidak ingin putrinya terluka lagi dan mendapatkan penolakan lagi. Ia ingin bahagia dengan kabar ini tapi hati dan pikirannya menolak. Bercermin dari masa lalu--jika anaknya kembali mendapatkan penolakan, maka ia bisa pastikan Nurul akan semakin hancur.


"Ma, sebaiknya jangan dulu dipublikasikan dan jangan dulu diumbar-umbar. Mereka baru menjalin hubungan dan jujur saja papa kurang setuju. Papa nggak mau Nurul kita mendapat penolakan lagi. Mereka belum tahu soal Aluna, tidak lama lagi mereka akan tahu dan bagaimana dengan reaksi mereka nanti? Jika mereka tidak suka, maka anak kita yang akan sakit, Ma. Papa nggak mau lho kejadian lagi. Pasti sampai detik ini Nurul masih menyimpan traumanya," ucap pak Deen yang membuat Bu Dianti terdiam.


Ia baru saja tersadar jika putrinya tidak sesempurna wanita diluar sana. Ia juga baru sadar kalau keluarga Axelle bukan keluarga kaleng-kaleng karena kini mereka menduduki posis pertama keluarga terkaya di negara ini. Putrinya pasti akan mendapat sambutan tidak menyenangkan setelah mereka tahu kebenarannya nanti. Bu Dianti tidak ingin putrinya sampai bersedih. Ia lebih baik melihat Aluna tanpa ayah daripada membiarkan Nurul terluka untuk yang kesekian kalinya. Ia tidak rela!


"Papa benar juga. Jadi mama harus gimana Pa? Merestui mereka atau langsung menghentikan hubungan mereka?" tanya Bu Dianti bingung.


"Lihat nanti saja dulu Ma. Lagi pula kita belum membahas ini dengan Nurul. Biarkan mereka bersama dulu untuk beberapa hari ini," ucap pak Deen.


Nurul sayang, papa tahu apa tujuanmu ke Jakarta. Papa mengizinkan karena papa juga berdoa agar kau menemukan tujuanmu di tempat itu. Semoga Allah menyertai dan mengabulkan harapanmu, Nak.


.


.


Alvaro menuruni anak tangga untuk bergabung sarapan bersama keluarganya. Ia terlewat semangat karena sebentar lagi ia akan menemui Nurul. Oh andai dia tahu pujaan hatinya itu juga sedang dalam perjalanan mencarinya.


Tak seperti biasanya, wajah Alvaro hari ini begitu ceria dan kedua orang tuanya senang bercampur bingung. Anaknya yang beberapa tahun ini selalu memasang tampang dingin tak tersentuh kini terlihat begitu bersahabat.


Tanpa banyak basa-basi mereka memulai sarapan dan setelah itu Alvaro langsung masuk lagi ke kamarnya untuk mengambil barang-barangnya yang ia perlukan selama pergi mencari Nurul.


"Aina, sebentar lagi. Sebentar lagi kita akan bertemu. Persiapkan dirimu karena aku akan menculikmu!" ucap Alvaro dengan menggebu-gebu.


Hari ini Alvaro ingin membebaskan dirinya dari segala pekerjaan dan fokus mencari Nurul namun rencana tidak berjalan lancar begitu Billy menghubunginya.


"Tuan muda, siang ini anda ada janji temu dengan tuan Daniyal Axelle Farezta di jam makan siang. Saya harap anda bisa menemuinya karena beliau merupakan klien penting kita dan jadwal ini sudah diatur sejak jauh hari," ucap Billy yang mempupuskan harapan Alvaro.


Alvaro menghela napas kecewa, lagi-lagi rencananya untuk mencari Nurul tertunda juga. Tapi kali ini memang hal yang penting. Ia tidak bisa mengabaikan orang terkaya nomor satu di negara ini yang dimana kekayaan mereka hanya selisih beberapa angka di belakang koma.


"Baik. Saya akan datang dan sebentar lagi saya akan sampai di kantor. Persiapkan semuanya," jawab Alvaro dengan malas.


Ah, mengapa waktu kita selalu salah.


Alvaro hanya bisa mendesah pasrah dengan permainan takdir cintanya. Baru saja ia bahagia ingin menemui Nurul setelah sekian purnama, rencana itu gagal total dan ia harus kembali menunggu.


Sedangkan berkilo-kilo meter jauhnya dari tempat Alvaro berada saat ini, wanita yang ia rindukan itu sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara dan dengan tujuan yang sama dengannya, untuk bertemu!