GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Perhatian Frey


Bunyi alarm membangunkan Aluna dengan paksa. Ia langsung terduduk sedangkan Frey masih mengumpulkan kesadarannya. Ia hendak turun tetapi tubuhnya terasa begitu remuk. Ia kesulitan menggerakkan tubuhnya dan Frey baru saja duduk bersandar dengan dadanya yang terekspos sempurna begitupun dengan Aluna.


Gadis yang bukan lagi gadis itu menatap heran karena Frey terdiam sambil melirik ke arah dadanya. Aluna mengikuti arah pandang Frey dan ternyata ia kembali tidak sadar jika dia tidak menggunakan pakaian dan kedua benda kenyal itu terpampang sempurna dihadapan Frey dengan banyaknya jejak kepemilikan yang ditinggalkan oleh Frey.


"Dasar mesum!!" teriak Aluna, ia segera menarik selimutnya lagi. "Gue nggak nyangka lu bakalan sebuas ini. Semalam sampai subuh lu gempur gue nggak ada ampun. Lu nggak capek apa?" protes Aluna, ia merasa tubuhnya seolah lumpuh setelah Frey yang tidak bisa mengendalikan dirinya saat mereka melakukan penyatuan.


Frey terkekeh, "Bukankah kita sama-sama menikmatinya? Gue juga nggak tahu kenapa bisa sekuat itu. Mungkin karena gue cinta sama lu dan lu emang menggoda iman. Tapi nggak ada yang salah juga karena kita adalah pasangan yang sah. Gimana kalau sekali lagi," goda Frey, sebenarnya ia hanya bercanda saja untuk menggoda istrinya itu.


Aluna melotot sempurna, ia langsung menjambak rambut Frey dan tidak peduli jika selimut itu kembali melorot. Masih pagi keduanya sudah terlibat perkelahian dan Aluna sudah melakukan KDRT terhadap Frey.


Sampai akhirnya Aluna mengeluh dan ingin membersihkan diri sebab mereka akan pergi ke sekolah. Frey tertawa mendengar keinginan Aluna dan ia meminta untuk menatap jam dan betapa terkejutnya Aluna karena sekarang sudah pukul delapan pagi.


Kembali ia mengeluh dan memarahi Frey, apalagi Frey mengatakan bahwa hari ini adalah hari Minggu. Sontak Aluna berkata, "Kemarin masih hari Selasa Frey, nggak mungkin lompat langsung ke hari Minggu! Lu udah jadi gila ya!" cibir Aluna.


"Anggap aja hari ini adalah hari Minggu," ucap Frey kemudian ia mengecup pipi Aluna dan turun dari tempat tidur untuk mengambil pakaiannya dan juga bathrobe untuk Aluna lalu ia menggendong istrinya itu ke kamar mandi.


Aluna meronta-ronta minta diturunkan tetapi Frey tidak mendengarkannya karena ia tahu itu hanyalah drama Aluna saja. Ia paham jika sebenanrya Aluna senang jika digendong begini. Sedikit banyak Frey sudah mempelajari bahwa biasanya wanita itu jika berkata tidak maka itu artinya iya. Apalagi kalau mood mereka sedang buruk, biasanya apa yang mereka katakan akan berbanding terbalik dengan apa yang mereka inginkan dan biasanya lagi lelaki akan dituduh tidak peka. Mengerikan!


Sesampainya di dalam kamar mandi, Frey mendudukkan Aluna di atas closet sedangkan ia menyiapkan air untuk mandi. Setelah semuanya siap, ia kembali menggendong Aluna ke dalam bathub lalu membantunya membersihkan tubuh. Aluna sebenarnya sangat malu dengan perlakuan Frey tetapi jikapun ia menolak Frey pasti akan tetap keukeuh. Akhirnya ia memilih pasrah saja dan sejujurnya ia menikmati tiap sentuhan dan perhatian Frey.


Setelah selesai membantu Aluna mandi, Frey kembali menggendong Aluna ke kamar dan mendudukkan istrinya itu di atas tempat tidur sedangkan ia memilihkan pakaian untuk Aluna di kamar milik Aluna. Ia memilihkan pakaian berkerah agar Aluna bisa menutupi lehernya yang penuh dengan tanda merah. Frey meminta Aluna untuk memakainya sendiri agar ia bisa mandi dan mereka akan sarapan bersama.


Lima belas menit kemudian Frey sudah memakai pakaiannya dan Aluna sedang duduk di depan meja rias dan Frey membantu mengeringkan rambut Aluna.


"Terima kasih my husband," ucap Aluna sembari tersenyum dan menatap Frey dari pantulan cermin.


Frey juga tersenym, "Your welcome my sweet wife," balas Frey kemudian ia mengecup puncak kepala Aluna.


"Tunggu Frey, tolong ambilin ponsel punya lu," titah Aluna dan Frey langsung mengambil ponsel tersebut yang berada di atas nakas.


Tanpa bertanya Frey menyerahkan ponselnya kepada Aluna dan istrinya itu meminta Frey untuk mengulang kembali adegan dimana ia mencium puncak kepalanya dan ketika Frey sudah melaukannya, Aluna mengambil foto mereka dari pantulan cermin.


"So sweet!" ucap Aluna kemudian ia menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper ponsel Frey. Tentu saja suaminya itu tidak menolak karena wallpaper sebelumnya pun adalah foto pernikahan mereka.


.


.


Hanya saja Naufal tidak ingat jika masih ada Keenan yang tahu akan hal tersebut. Tetapi yang penting sekarang adalah Leon yang melupakan hal itu agar tidak bocor ke sekolah mereka jika pun Leon merupakan lelaki yang suka mengumbar gosip.


"Ughh ...."


Leon memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit dan juga terasa pusing. Ia kemudian melihat sekelilingnya dan merasa asing dengan tempat ini. Ia kemudian bangkit dan berjalan ke arah pintu yang ia yakini adalah kamar mandi.


Disana Leon membasuh wajahnya sambil mengingat-ingat bagaimana ia bisa berada di hotel ini tetapi justru ia tidak mengingat apapun selain rencana ulang tahun Keenan di hotel yang dimana ia akan memuluskan rencananya untuk mendapatkan Aluna.


"Kalau gue ketiduran semalam, terus apa yang terjadi? Ini sudah menjelang siang dan itu berarti pesta ulang tahun Keenan sudah berakhir. Lalu apa yang terjadi semalam? Kenapa gue nggak ingat dan apakah ini artinya rencana gue gagal?"


Leon bertanya-tanya dalam hatinya tetapi ia sama sekali tidak menemukan apapun di pikiran dan ingatannya.


"Sepertinya gue melewatkan sesuatu," gumam Leon lagi kemudian ia keluar dari kamar mandi dan berniat untuk pulang ke rumahnya dan jika bisa ia pergi ke rumah Aluna untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.


Sementara itu, di sekolah ada Cici yang merasa heran karena tiga orang yang penting dalam kehidupannya sama-sama tidak datang ke sekolah hari ini. Tidak ada keterangan dari mereka bertiga, membuat Cici menjadi curiga jika terjadi sesuatu di pesta Keenan hingga membuat ketiganya hilang tanpa kabar.


Cici tidak mungkin menceritakan kegundahannya pada orang lain karena hanya ia dan Leon yang mengetahui betapa ia menyukai Frey dengan sangat.


"Huh ... mereka berdua nggak masuk sekolah, nggak seperti biasanya mereka bolos. Gue jadi nggak semangat sekolah. Atau gue chat Aluna aja ya?"


Riani berbicara sendiri sambil memandangi ponselnya yang sedari tadi tidak berhenti bergetar karena banyaknya pesan yang masuk. Gadis cantik seperti Riani tentu saja memiliki banyak penggemar namun tidak ada yang ia niatkan untuk jadi kekasih sebab hatinya sudah mentok pada Frey seorang.


"Ci, gimana kalau pulang sekolah kita ke rumah Aluna sama Frey? Lu mau nggak?" tanya Riani sambil menatap punggung Cici. Kebetulan guru mereka belum datang ke kelas karena sisa jam istirahat masih ada beberapa menit lagi.


Ke rumah mereka? Benar juga. Tapi gue nggak mau bareng Riani. Gue harus cari akal biar gue bisa pergi sendiri atau bareng Leon. Biar nanti kita bisa menyusun rencana untuk gue ngedeketin Frey dan Leon bersama Aluna. Gue harus menghubungi Leon.


"Lu aja deh, gue ada acara nanti sepulang sekolah," tolak Riani tanpa menoleh ke belakang.


Riani mengerucutkan bibirnya, ia mana berani datang ke rumah keluarga Prayoga seorang diri.


Ponsel Cici bergetar, sebuah pesan masuk di ponselnya yang mengatakan bahwa mereka akan mendatangi rumah Aluna nanti sepulang sekolah. Seringai terbit di bibir gadis cantik tersebut.