GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Sindiran Axelle


Pasangan yang baru menampakkan wajah mereka di ruang makan ketika seluruh keluarga sudah selesai makan malam. Tatapan mata dari beberapa orang penuh ledekan, ada juga yang menatap kesal seperti Alvaro. Entah mengapa mengetahui jika putrinya digerayangi oleh Frey, hati Alvaro tidak terima, padahal Frey dan Aluna pun sudah menikah dan sudah akan menjadi calon orang tua.


Nurul menahan Alvaro yang ingin membuka suara, ia justru meminta kedua anaknya tersebut untuk segera makan malam. Ia tidak suka dengan sikap Alvaro, mereka juga pernah muda dan bahkan sampai detik ini keduanya masih merasa muda dengan cinta mereka yang terus berada di musim semi. Tak terbayangkan jika di masa ini akan ada perusak hubungan mereka. Author tidak ingin dibully jika Alvaro dibuat selingkuh, hihi.


"Makan yang banyak, Nak. Ingat ada calon anak kalian yang butuh makan juga," ucap Nurul mengaturkan makanan untuk keduanya namun langsung dicegah oleh Frey karena ia ingin bunda tercintanya itu beristirahat saja.


"Kalau bisa, besok Frey nggak usah kerja dulu. Lusa resepsi kalian dan biarkan beristirahat dulu," timpal Danish yang juga masih berada disana menemani Clarinta menyuapi anak mereka yang susah makan.


Frey yang baru akan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya langsung menghentikan kegiatannya itu. Sebenarnya Frey kurang setuju karena ada banyak pekerjaan penting yang tidak bisa ia tinggalkan. Dia berniat cuti hanya di hari resepsi saja. Kegilaannya pada pekerjaan membuat Frey tidak memikirkan yang lain kecuali Aluna.


Dapat mereka lihat dari ekspresi Frey yang terlihat keberatan. Alvaro dan Axelle saling menatap, mereka sama-sama tahu jika Frey lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan acara ini.


"Luna sayang, bagaimana kalau resepsi kalian di tunda saja dulu. Sepertinya suami kamu sedang tidak bisa diganggu. Dia super sibuk mengalahkan uncle yang merupakan pebisnis nomor satu di negara ini," ucap Axelle dengan penuh sindiran kepada Frey.


Jelas saja Frey langsung merasa tertohok, apalagi saat ini Aluna menatap lekat padanya, seakan Frey merasa menjadi seorang yang tengah hakimi.


Mendengar ucapan Axelle tersebut, Aluna langsung teringat kembali akan Jessica yang tadi disebutkan namanya oleh Frey. Hati Aluna hancur apalagi sedari tadi memang Frey tidak memberikan tanggapan dari keinginan papinya untuk Frey mengambil cuti.


Apa benar Frey lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan resepsi kami? Tapi emang dari yang gue perhatiin disini hanya gue sama keluarga besar yang excited dengan acara ini, Frey terlihat biasa-biasa saja dan malah lebih fokus pada pekerjaannya dibandingkan kami. Frey, lu nggak lagi bosan 'kan sama gue?


Aluna bertanya-tanya dalam hatinya, ia sangat takut menerka hal yang buruk seandainya Frey memang demikian. Aluna menatapnya dengan tak berkedip sedangkan Frey terlihat merasa bersalah. Ada hal yang coba ia jelaskan akan tetapi Aluna tidak ingin memahaminya untuk saat ini.


"Nggak gitu, uncle. Aku hanya sedang punya banyak pekerjaan karena pembukaan beberapa cabang kafe," ucap Frey memberikan alasannya karena memang begitu adanya.


"Lalu menurutmu uncle tidak sibuk? Ayah Danish tidak sibuk? Papi Alvaro tidak sibuk?" tandas Axelle yang membuat Frey terdiam. "Lagi pula, ini sekali seumur hidup kalian. Kecuali jika kau ingin mengulang kedua kalinya dengan yang lainnya," imbuh Axelle, ia tahu Frey memang seorang pekerja keras di usia muda, hanya saja hal itu bisa sedikit dikesampingkan karena Frey tidak akan jatuh miskin jika mengambil cuti kurang dari seminggu.


Frey merasa tertohok dengan ucapan Axelle tersebut. Padahal dulu ia yang paling bersemangat menanti momen dimana dirinya akan menikah dan menjadi pasangan raja dan ratu sehari. Namun, ketika waktunya akan segera tiba, ia justru lebih mementingkan bisnisnya.


Frey menatap Aluna kemudian menggenggam tangannya. Ia ingin agar Aluna tidak berpikiran buruk terhadapnya. Frey berjanji dalam hati jika mulai besok ia akan mengambil cuti dan lebih fokus pada acara resepsi mereka. Ia tidak ingin kehilangan Aluna dan juga kepercayaan dari seluruh keluarga. Mereka punya kuasa lebih tinggi dibandingkan dirinya, bukan hal yang sulit untuk memisahkan Aluna darinya.


"Sayang aku—"


Aluna menundukkan kepalanya dan fokus pada makanannya. Sebenarnya Aluna hanya ingin menghindar dari Frey, ia belum ingin membahas apapun. Situasi saat ini membuat Aluna merasa pusing, namun mengingat seluruh keluarganya sudah bersusah payah mengurus acaranya dan ia yang tidak ingin Frey di cap buruk oleh seluruh keluarga, Aluna lebih memilih untuk tidak membahasnya.


Frey menghela napas, sepertinya Aluna juga merasakan hal yang sama seperti yang dituduhkan oleh uncle Axelle, pikir Frey. Ia tahu Aluna adalah orang yang lebih memilih memendam segalanya dibandingkan mengeluarkan uneg-uneg dan keresahan hatinya.


"Sayang, setelah makan gimana kalau kita jalan-jalan sebentar?" tanya Frey mencoba untuk membujuk Aluna.


Aluna menatapnya kemudian mengangguk. Frey tersenyum senang kemudian ia melanjutkan makannya. Dalam hati ia bertekad akan memberikan kebahagiaan pada istrinya itu malam ini.


Maaf karena sudah membuatmu bersedih.


.....


Seperti yang sudah ia janjikan, Frey mengajak Aluna keluar dan menikmati malam bersama. Mereka bagaikan pasangan remaja yang sedang berkencan. Tapi mereka memang adalah pasangan yang masih sangat muda hanya saja status mereka lebih jelas dan sah. Tidak masalah bagi keduanya untuk bermesraan karena tidak menimbulkan dosa.


Saat keduanya sedang mengobrol dengan tangan Frey yang menggenggam tangan Aluna dan satunya lagi mengendalikan setir mobil, Aluna meminta Frey untuk berhenti.


"Sayang, itu kayaknya mbaknya lagi digangguin preman deh," ucap Aluna yang memicingkan mata ke arah depan.


Frey pun menatap lurus ke depan dan memang ia melihat seperti yang Aluna lihat. Ia pun menatap istrinya dan meminta pendapat Aluna.


"Kita putar balik atau jalan terus?" tanya Frey. Semua keputusan ada di tangan Aluna karena malam ini ia adalah ratunya.


Aluna menatap Frey tidak percaya. Suaminya itu masih saja tidak peduli dengan orang lain yang tidak ada hubungan dengan dirinya. "Ya ditolong dong sayang. Masa kamu tega lihat perempuan digangguin preman malam-malam gini. Gimana kalau aku yang ada di posisinya?"


"Jangan main keroyokan sama cewek. Badan kekar tapi kerjaannya merampok, nggak malu sama otot?" cibir Frey yang langsung mendapat perhatian dari tiga preman tersebut.


Mereka yang sedang memegangi tangan wanita itu langsung naik pitam mendengar ucapan Frey tersebut. Sedangkan wanita itu tersenyum senang melihat ada orang yang menolongnya dan ia sangat terkejut karena mengenali Frey.


"T-tuan Griffin?" lirihnya.


Frey menatap Jessica yang saat ini tersenyum haru padanya. Ia kemudian bersiap melawan para preman yang sudah mulai maju menyerangnya sedangkan Jessica tetap berdiri disana dan menyaksikan semuanya. Dalam hati ia bersyukur karena pria yang menolongnya adalah Frey, pria yang sudah mulai merasuki pikirannya.


Apakah ini artinya kami berjodoh? Tapi aku lebih tua lima tahun darinya, masa iya? Dan ya, dia katanya sudah menikah, tapi ... ah sebaiknya tidak perlu memikirkan itu, yang penting aku selamat.


Perkelahian antara Frey dan para preman tersebut tentu saja berhasil dimenangkan olehnya. Frey yang jago bela diri serta sudah terbiasa menghadapi berbagai perkelahian tentu saja sudah sangat mahir caranya mengalahkan lawan.


Melihat semua preman itu sudah terkapar di aspal, Jessica langsung berlari dan memeluk Frey. Mata Frey dan Aluna sama-sama terbelalak melihat aksi Jessica tersebut. Frey terdiam kaku, ia rasanya ingin mendorong tubuh Jessica namun ia tidak mungkin sampai hati.


"Bisa lepaskan saya?" tanya Frey dengan suara dingin.


Jessica yang terlampau nyaman dalam pelukan Frey oh lebih tepatnya ia yang memeluk Frey pun langsung melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.


"Maaf dan terima kasih karena sudah menolong saya," ucap Jessica dengan malu-malu.


Sementara itu di dalam mobil Aluna sedang memendam rasa cemburunya. Hanya saja ia tidak bisa memarahi Frey karena ia sendiri yang menyuruh Frey untuk menolong wanita itu dan siapa yang bisa menolak pesona suaminya itu. Aluna saja dibuat terFrey-Frey setiap saat.


"Saya akan kembali. Jaga diri Anda baik-baik," ucap Frey namun baru saja ia melangkah, tangannya langsung ditarik oleh Jessica. Melihat tatapan Frey membuat Jessica langsung melepaskan pegangannya.


"Maaf. Ehhmm ... itu, apakah aku bisa menumpang di mobilmu? Ban mobilku kempis?" Jessica menunjuk pada mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka.


Frey ingin sekali menyuruh Jessica untuk mencari taksi saja, akan tetapi nanti wanita ini akan mendapat masalah lagi. Lagi pula wanita ini adalah kliennya, ia harus tetap bersikap baik dan sedikit ramah padanya.


"Ya sudah, ayo," ajak Frey.


Ingin rasanya Jessica melompat-lompat kegirangan. membayangkan satu mobil bersama Frey dan nantinya mungkin akan ada adegan romantis disana membuatnya tak sabar. Jessica mengikuti langkah lebar Frey dan ia dengan percaya dirinya membuka pintu di jok di samping pengemudi.


Deggghh ...


Jessica terkejut karena ternyata disana ada wanita lain yang sedang duduk dan menatap heran padanya.


"Kau siapa?" tanya Jessica.


"Aku? Kau yang siapa?" balas Aluna tak suka.


Bagaimana bisa wanita ini dengan percaya dirinya membuka pintu mobil dan ingin duduk di sebelah Frey. Insting dan alarm bahaya tentang adanya pelakor membuat Aluna langsung siaga.


Jessica mengernyit, ia kemudian menatap Frey dan pria itu justru menyuruhnya untuk duduk di belakang dan jika tidak segera maka ia akan meninggalkannya. Mau tidak mau Jessica segera masuk ke jok belakang dengan membawa rasa penasarannya.


Frey pun mulai melajukan mobilnya setelah ia bertanya alamat rumah Jessica. Ia kemudian mengajak Aluna untuk mengobrol seakan Jessica tidak berada di dekat mereka. Frey bahkan tak segan-segan memperlihatkan kemesraanya dengan Aluna yang semakin membuat Jessica bertanya-tanya dalam hati.


"Eh sayang bayi kita nendang!" pekik Aluna saat merasakan perutnya seolah ditendang dari dalam.


Frey menghentikan mobilnya dan langsung memegang perut Aluna. "Wah iya," pekik Frey tak kalah senangnya.


"Ba-bayi? Nendang?" gumam Jessica merasa dongkol.