GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Sisi Lain Alvaro


"Jadi aku bukan anak Ayah?" tanya Jihan ketika ia sudah diberitahu oleh Alvaro dan Nurul tentang kebenaran dan juga hasil tes DNA tersebut.


Jihan sendiri tidak tahu jika diam-diam Alvaro melakukan tes kepadanya. Andaikan ia tahu dan hasilnya telah keluar, ia akan berusaha untuk menggantinya ketika ia mengetahui bahwa Alvaro bukanlah ayahnya.


Nurul tidak tega melihat kesedihan di wajah Jihan, ia pernah merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki orang tua. Ia bahkan hidup belasan tahun di panti asuhan dan akhirnya ia bertemu dengan orang tuanya di usianya yang sudah masuk 20 tahun. Begitu pun dengan putrinya—Aluna yang lahir tanpa Ayah, Nurul benar-benar tahu bagaimana perasaan Jihan saat ini.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, tetapi mohon maaf pria ini bukanlah Ayah kandungmu. Tetapi kamu tenang saja, kami akan membantu dan turut memperhatikanmu. Walau bagaimanapun Alvaro sudah mengambil tugas untuk pbrtanggungjawab terhadapmu. Namun maaf, untuk membawamu masuk ke dalam keluarga kami itu tidak mungkin," ucap Nurul yang mencoba untuk mendekati Jihan yang saat ini sedang menangis terisak-isak.


Rasanya Jihan ingin sekali mendorong Nurul yang sok akrab terhadapnya. Jihan merasa bahwa Nurul saat ini sebenarnya tengah mengejeknya, tidak benar-benar peduli terhadapnya— wanita yang palsu.


Bukan tanpa sebab ia membenci Nurul, dulu ibunya pernah bercerita tentang sosok ayahnya dimana ada seorang gadis miskin di kampus yang merebut ayahnya dari pelukan ibunya, dan itu pasti adalah wanita yang ada di hadapannya saat ini, pikirnya.


"Tidak mungkin! Ibuku selalu mengatakan bahwa aku memiliki seorang ayah yang sangat tampan dan juga sangat terkenal keluarganya, dan aku yakin itu pasti anda Tuan Alvaro Genta Prayoga. Apakah Anda tidak merasakan desiran terhadap saya sementara saya begitu pertama kali melihat Anda langsung merasa bahwa Anda benar-benar adalah sosok ayah saya? Tolong jangan mempermainkan saya, karena saya tidak memiliki apapun lagi di dunia ini selain Anda," pinta Jihan, ia kemudian berdiri dari duduknya dan berlutut di kaki Alvaro, berharap pria itu akan mau mengakuinya sebagai anak.


Nurul memalingkan wajahnya, ia bisa melihat tetapan Jihan begitu membencinya. Tidak perlu diragukan lagi penilaian Nurul karena ia adalah seorang mantan pengacara. Ia sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter pada masa itu, belum lagi adalah keturunan Deen Emrick, ia bisa membaca dari ekspresi Jihan bahwa gadis ini sama sekali tidak menginginkannya dan ada niat terselubung dibalik sikapnya.


"Maaf Jihan, tetapi hasil dari pengecekan DNA tersebut menunjukkan bahwa kamu bukanlah anakku dan aku bukanlah ayahmu. Dan kamu harus tahu, kita berdua ini adalah orang asing. Tetapi aku mau membiayai kehidupanmu dan bertanggung jawab untuk dirimu sampai kamu menikah nanti. Jangan pernah menuntut lebih padaku karena aku bukan siapa-siapamu dan kamu bukan siapa-siapaku," ucap Alvaro terkesan dingin.


Jihan baru pertama kalinya melihat sosok yang ia kenal sebagai Ayah ini dalam aura yang berbeda. Biasanya Alvaro selalu datang padanya dengan membawa tatapan yang teduh dan juga suaranya yang begitu lembut hingga membuat hati Jihan menjadi tenang. Tapi baru kali ini ia mendengar Alvaro dengan aura yang begitu tegas.


"Asal kamu tahu, aku bukanlah orang yang sembarang bisa dekat dengan orang lain. Hanya karena Irana mengatakan bahwa kamu anakku, aku mengambil tanggung jawab itu untukmu. Tetapi setelah mengetahui fakta bahwa kamu bukan anakku, aku tetap bersimpati padamu tetapi kamu yang jangan mengharap lebih dariku.


"Aku bukan orang yang sembarang bisa disentuh seseorang. Jadi berhati-hatilah denganku dan tolong tatapanmu itu lembut sedikit kepada istriku, dia sudah mau menerima kamu untuk kami biayai kehidupannya. Jangan menatapnya sesinis itu!"


Jihan tertohok, ia menundukkan kepalanya benar-benar merasa malu. Ternyata sifat yang Alvaro ditunjukkan kepadanya beberapa waktu belakangan ini hanya karena ia merasa Jihan adalah anaknya.


Kelembutannya serta kasih sayang yang ia tunjukkan sama seperti ia memperlakukan Naufal dan Aluna beserta Frey. Jihan adalah orang luar, bukan siapa-siapa di dalam kehidupan Alvaro, sangat tidak pantas menetap sesinis itu kepada Nurul karena sebenarnya dari tadi Alvaro memperhatikannya.


"Sekarang keputusan ada di tanganmu, ingin berbuat baik dengan keluargaku dan tidak mengusik apa yang tidak seharusnya kamu usik, sedangkan aku dan istriku akan membiayai kehidupanmu ..."


"Atau kamu memilih untuk melakukan sesuatu sesuai keinginanmu? Tetapi jangan harap bisa mendapat simpati dariku lagi. Ingat Jihan, kamu adalah orang luar dan inilah diriku yang sesungguhnya. Aku tidak menerima orang luar yang tidak berhubungan darah denganku untuk menjadi bagian dari hidupku. Ayo sayang, kita pergi. Urusan telah selesai.


Jihan menangis meraung-raung, ia tidak terima dengan perlakuan Alvaro dan Nurul terhadapnya. Alvaro benar-benar berubah menjadi sosok yang begitu asing bagi Jihan padahal beberapa waktu lalu Alvaro datang padanya dengan penuh kelembutan dan ia merasa benar-benar dikasihi oleh pria yang dianggap sebagai ayahnya itu.


"Jadi dia bukan ayahku? Tetapi aku sudah terlanjur menyayanginya, dan wanita yang bernama Nurul itu ... aku tidak menyukainya


Jihan berteriak histeris, iq menjambak rambutnya dengan sekuat tenaga berharap apa yang baru saja terjadi ini tidak benar dan hanyalah sebuah mimpi belaka.


"Baiklah jika memang kamu bukanlah ayahku, bagaimana kalau aku menjadikanmu sebagai Daddyku ... ya sugar Daddy. Aku akan menjadikanmu sugar daddy dan merebutmu dari wanita yang bernama Nurul itu ...."


"Aku sudah terlanjur memiliki rasa sayang terhadapmu, mungkin saja aku jatuh cinta padamu dan tidak masalah jika kita berbeda usia begitu jauh. Kamu masih sangat tampan Tuan Alvaro dan yang pasti kamu sangat kaya raya dan aku mengetahui sisi lainmu, kamu adalah orang yang sangat penyayang. So mari kita merencanakan bagaimana merebut hatinya dan menjadikan aku sebagai istrinya."


Jiham tertawa bagaikan orang yang tengah benar-benar bahagia. Bisa dikatakan ia adalah orang yang mengidap gangguan bipolar, bahkan ia terlihat bagaikan seorang psikopat.


"Alvaro Genta Prayoga, aku menyukaimu, aku mencintaimu, aku menyayangimu. Bersiaplah untuk menjadikanku sebagai istrimu. Singkirkan wanita itu dari kehidupanmu, lihatlah aku yang masih sangat muda. Aku pasti Bisa memuaskanmu Ayah. Lihatlah ayah, aku tidak lagi menjadi anakmu tapi aku akan menjadi istrimu, pendamping hidupmu hahaha."


Sementara itu di mobil, Nurul benar-benar tidak percaya dengan Alvaro yang bersikap begitu dingin dan ketus terhadap Jihan. Bahkan Alvaro tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya terhadap anak-anak mereka walaupun ia sedang marah dan mereka membuat masalah ataupun ulah terhadap Alvaro, tetapi ia selalu menghadapinya dengan kepala dingin dan penuh dengan kelembutan, serta dibumbui dengan kasih sayang. Tidak pernah sebelumnya seperti ini.


"Aku tidak suka caranya menatapmu. Dia seakan ingin menelanmu hidup-hidup. Jika dia ingin dipedulikan olehku, maka yang paling utama adalah dia harus menyukaimu. Jika dia tidak menerima syarat dariku itu, untuk apa aku mempedulikannya? Dia bukan siapa-siapa, yang paling utama itulah kamu dan anak-anak, kita itu saja."


Nurul menyembunyikan senyumannya. Dia pikir tadi Alvaro akan berubah menjadi seorang pria yang sangat sadis, akan tetapi ternyata alasannya karena ia juga melihat bagaimana cara Jihan menatapnya. Nurul sangat bahagia sekali melihat Alvaro yang selalu mengutamakan kebahagiaannya dan juga anak-anak mereka.


Nurul kemudian memeluk lengan Alvaro dan menyandarkan kepalanya di bawah Alvaro. Tak lupa Alvaro mengecup puncak kepala Nurul, kemudian ia dengan perlahan mengemudikan mobilnya, ia ingin menikmati waktu ini bersama Nurul.


"Aku mencemaskan anak-anak kita dan hubungan rumah tangga kita. Akan tetapi kita juga punya penjagaan bukan? Akan lebih baik dia selalu diawasi orang-orang kita," lanjut Nurul yang masih bermanja-manja di lengan Alvaro.


Dalam hati Alvaro membenarkan ucapan Nurul. Bukan tidak mungkin itu bisa terjadi pada Jihan, apalagi anak itu pernah membohonginya tentang penyakit yang ia derita. Juga berbagai hal yang pernah ia katakan dan bagaimana Jihan selalu berwajah polos serta lugu ketika di depannya sementara Naufal melaporkan padanya bahwa gadis yang bernama Jihan itu ada di arena balap.


Ya, Naufal sudah menceritakan semuanya di malam ketika mereka menghabiskan waktu bersama untuk makan malam. Alvaro benar-benar terkejut dengan semua yang diucapkan Naufal karena yang ia tahu Jihan adalah orang yang takut keluar malam karena penyakit pareidolia yang ia derita. Jihan selalu berada di dalam rumah selama ia mengawasi gadis itu, akan tetapi ternyata inilah sebenarnya kelakuannya – Alvaro benar-benar tidak menyangka.


.......


Sudah 2 hari Alvaro tidak datang menemuinya, Jihan juga tidak memiliki akses untuk menghubungi Alvaro, akan tetapi menurut asisten yang ditugaskan Alvaro untuk menjaga Jihan di apartemen ini, Alvaro saat ini sedang berada di luar negeri karena urusan bisnis.


Jihan hanya tidak tahu saja jika sebenarnya Alvaro sangat malas bertemu dengannya baru akan sangat welcome apa wilayah yang bersikap baik terhadap norma tetapi tidak gadis ini tidak menunjukkan hal yang diinginkan oleh Alvaro sehingga ia meminta asisten yang mana-mana jangan itu mengatakan padanya jika ia sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Sebuah ketukan di pintu unit apartemennya membuat Jihan yang saat ini tengah bersiap-siap untuk keluar dan pergi ke kampus dengan senang hati membukanya. Ia yakin sekali yang datang adalah Alvaro, pria yang ia panggil dengan sebutan ayah. Yakin sekali Alvaro akan datang padanya dan memberikan kejutan.


Jika benar yang datang itu adalah Alvaro maka Jihan akan langsung menyatakan cintanya. Ia tidak peduli, dia yakin sekali Alvaro pasti akan mau menerimanya. Apalagi ia masih begitu muda, Alvaro pasti juga menginginkan daun muda.


"Selamat datang A—Frey?!"


Jihan begitu kaget dengan kedatangan Frey ke rumahnya. Ia pikir itu adalah Alvaro yang datang menemui secara diam-diam karena akhirnya ia menyadari bahwa ia juga merindukan sosok Jihan.


"Kenapa, kaget karena bukan Papi yang datang? a ini gue," ucap Frey dengan nada sedikit mengejek.


"Mau apa lu ke sini Frey? Kita tidak memiliki tugas kelompok bersama dan juga gue beberapa hari nggak masuk kuliah. Apa lu mau datang buat jengukin gue?" tanya Jihan berusaha untuk bersikap baik terhadap Frey.


Frey berdecih! Ia menatap Jihan dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Untung lu cewek, kalau lu cowok udah habis tangan gue. Sampai lu berani meneruskan niat lu buat dekatin Papi gue, lu nggak akan pernah tahu bagaimana rasanya menyesal sebelum waktunya," ucap Frey dengan begitu dingin dan penuh dengan penekanan.


Jihan mengerutkan dahinya, ia tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Frey saat ini. Jihan merasa Frey hanya sedang mengancamnya saja karena tidak ingin ia masuk ke dalam kehidupan mereka. Ia merasa tidak perlu takut terhadap Frey karena Frey masih anak-anak dan usia Frey pun hanya berjarak beberapa bulan saja di mana ia yang lebih tua dari Frey.


"Jadi lu datang buat ngancam gue?" Emang lu pikir lu siapa, gue nggak takut sama lu!" ucap Jihan belagu.


Frey tersenyum sinis, akhirnya Jihan menunjukkan juga bagaimana sifat aslinya. Di tatapnya dengan lama-lamat wajah Jihan hingga membuat Jihan merasa seolah sedang diintimidasi oleh tatapan tajam itu, seakan menghunus jantungnya. Jihan saat ini benar-benar merasa takut dengan aura yang dikeluarkan oleh Frey.


"Bagus, kalau lu berani dengan gue, itu artinya lu udah siap menerima apapun yang bakalan gue lakuin sama lu. Gue nggak bakalan pandang gender karena lu udah berani mengusik keluarga gue dan berniat melakukan hal busuk terhadap keluarga gue. Maka tempat lu bukan lagi di dunia ini melainkan di neraka dunia yang bakalan gue ciptain buat lu!"


Frey sendiri sudah tahu apa yang tengah direncanakan oleh Jihan. Bukan Frey namanya jika ia tidak mencari tahu siapa saja yang berusaha untuk merusak hubungan keluarganya, Frey adalah orang yang paling terdepan dan unggul satu langkah dibandingkan yang lainnya dalam mengurus permasalahan.


Sejak awal ia mengetahui tentang Jihan dan papinya, Frey sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu apa-apa saja yang dilakukan Jihan sampai akhirnya ia mengetahui Jihan bertemu dengan seorang pria seumuran mereka yang bernama Lexi. Dari sana pun Frey sudah tahu apa yang sedang direncanakan oleh Jihan.


Belum lagi orang-orang yang Frey ditugaskan untuk mengikuti Jihan kemanapun itu melaporkan bahwa Jihan seringkali duduk sendiri, dan berbicara sendiri, serta dari ucapan-ucapannya itu bisa mereka dengar bahwa Jihan sedang berencana untuk merebut Alvaro dari Nurul. Tentu saja Frey tidak akan tinggal diam.


"Oh ya? Mari kita lihat seperti apa neraka dunia yang akan kau ciptakan!" tantang Jihan.


Frey menyeringai, ia kemudian mengambil ponselnya lalu ia menghubungi seseorang. Jihan mulai ketar-ketir mendengar pembicaraan Frey dengan orang tersebut. Apalagi di sana Frey mengatakan bahwa ia sudah menemukan seorang wanita yang siap untuk melayani banyak pria karena wanita ini perkenalkan sebagai wanita yang sudah terbiasa menjadi sugar baby.


Tentu saja Jihan sangat ketakutan, ia mengira Frey hany anak kemarin sore seperti dirinya yang tidak akan berani melakukan hal di luar nalar.


Sebenarnya Frey hanya mengancam saja, dia tidak benar-benar melakukan itu terhadap Jihan karena ia sangat menghargai setiap wanita, entah wanita itu jahat atau tidak. Tetapi ia tidak mungkin menjerumuskan wanita itu ke dalam lembah dosa, kecuali wanita itu sendiri yang inginkan hal tersebut.


"Bersiaplah Jihan, sebentar lagi kamu akan menemui neraka duniamu. Kamu sudah menyentuh hal paling terlarang dalam hidupku—keluargaku. Aku akan menjadi iblis jika salah satu dari keluargaku terusik!" ucap Frey kemudian ia meninggalkan Jihan yang sedang terdiam di depan pintu sampai memegangi dadanya yang terasa begitu sesak, Jihan ketakutan.