
Mobil Ikram berhenti di depan butik terkenal, ia ingin mengajak Tara untuk berbelanja pakaian. Ikram memiliki niat lain sebelum ia mengajak istrinya ini ke bulan.
Tara sendiri tidak mengerti mengapa bosnya alias suaminya ini mengajaknya masuk ke dalam toko pakaian mewah ini. Ia hanya ikut saja saat Ikram menggandengnya, ia bahkan meras malu karena masih mengenakan kebaya yang sedari tadi tak ia ganti karena Ikram begitu terburu-buru.
"Em bos, kenapa kita ke toko ini? Apa ada yang harus diambil sebelum kita ke bulan?" tanya Tara dan Ikram hampir saja menyemburkan tawanya.
"Tara, bukankah sudah kukatakan untuk tidak memanggilku bos lagi. Apakah kau ingin dihukum Tara?" ucap Ikram sambil tersenyum seringai yang membuat wajah Tara makin berkerut karena selalu dibuat bingung oleh bos merangkap suami ini.
Lalu aku harus memanggilnya apa?
Tara memilih bertanya dalam hati dan diam saja, ia tidak ingin mendebat bosnya ini. Ia fokus pada tujuan mereka masuk ke butik ini padahal Ikram mengatakan mereka harus buru-buru takut tertinggal perjalanan menuju bulan.
Ke bulan ya? Bos Ikram ini sedang mengerjaiku atau memang dia serius ingin pergi kesana.
"Kenapa melamun?" tanya Ikram.
Tara tergagap, rupanya bos tampannya itu terus memperhatikannya. "Saya hanya sedang berpikir bagaimana kita akan sampai ke bulan bos," jawab Tara.
Ck, bos lagi! Gue juga mau kayak Alvaro dan Nurul yang Ayang-ayangan. Kayak Nandi dan Flora yang baby-baby-an. Bukan Bos dan anak buah!
Namun mendengar ucapan Tara tersebut justru membuat kekesalan itu menghilang dengan sendirinya. Mengenai rencana ke bulan, rupanya istri kecilnya ini sedari tadi sedang memikirkannya. Seringai licik terbit di bibir Ikram, ia ingin sekali mengerjai istrinya ini.
"Oh, jadi lu udah nggak sabar ya pingin ke bulan. Tenang aja, sebentar lagi kita pasti akan pergi kesana. Lu belum pernah 'kan ke bulan?"
Tara mengangguk, "Belum bos."
Baru saja Ikram ingin menegur Tara karena lelah mendengar gadisnya selalu memanggil bos, karyawan butik tersebut datang dan menghampiri mereka. Ikram memintanya untuk mencarikan gaun untuk Tara.
Setelah Tara selesai mengganti pakaiannya, Ikram langsung mengajaknya untuk pergi karena hari sudah semakin gelap dan awan hitam sepertinya akan segera menurunkan hujannya.
Hujan mengiringi perjalanan mereka menuju ke tempat yang saat ini ingin Ikram datangi, di dalam mobil baik Tara maupun Ikram sama sekali tidak mengatakan sepatah kata pun. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing sedangkan Tara pun merasa begitu malu terhadap Ikram yang sekarang berstatus sebagai suaminya.
Mobil yang dikemudikan Ikram itu mendadak mogok di tengah derasnya hujan. Ia harus keluar untuk memeriksa mobilnya. Tara yang melihat bosnya alias suaminya itu basah kuyup di luar, ia tidak tega sehingga ia keluar dan memberikan payung untuk membantu Ikram agar tidak lebih kedinginan di bawah guyuran hujan tersebut.
Untung saja Ikram selalu membawa payung di dalam mobil.
"Mengapa keluar, harusnya lu nggak usah ikut keluar dan tunggu saja di dalam mobil. Lihat, lu jadi basah juga seperti gue. Nanti lu kedinginan dan masuk angin," ucap Ikram sambil fokus memperbaiki sesuatu di dalam mobilnya dan Tara masih tetap setia memayungi suaminya itu.
Ikram tersenyum dengan perhatian kecil Tara, namun ia tidak ingin gadis yang ia cintai ini yang sekarang sudah menjadi istrinya ini mendapatkan sakit karena memayunginya di luar mobil. Ia hanya ingin Tara baik-baik saja, akan lebih aman jika Tara berdiam diri saja di dalam mobil.
"Tapi bos, Anda bisa sakit jika anda terus kehujanan di luar. Masuklah, atau aku akan memayungimu hingga kau selesai memperbaiki mobil ini. Kau juga bisa sakit jika terus berlama-lama di bawah guyuran hujan apalagi hujannya sangat deras seperti ini," ujar Tara yang tidak enak hati dengan bosnya ini.
Ikram memicingkan matanya sambil menoleh ke arah Tara. Tara yang ditatap seperti itu oleh Ikram langsung gugup.
Huhh ... dia lupa lagi kalau gue nyuruh jangan manggil bos. Harusnya gue pacari dulu biar dia terbiasa manggil Ayang. Nasib nikah sama karyawan sendiri.
"Maaf bos, apa ada yang salah?" tanya Tara gugup karena Ikram justru mendiamkannya. Tidak seperti biasa bosnya itu akan menegurnya jika salah.
"Coba ulangi sekali lagi, lu tadi memanggilku apa?" ucap Ikram dengan penuh penekanan.
"Eh itu, aku memanggil Anda dengan sebutan bos, anda 'kan bos saya," jawab Tara antara gugup juga heran.
"Gue suami lu kalau lu lupa! sekali lagi lu manggil gue bos, gue hukum lu disini. Kalau lu masih manggil gue bos dan berkata Anda dan saya lagi, yakin gue bakalan hukum lu ditempat ini. Mau lu?!" sentak Ikram, ia sedikit jengah juga lucu dengan melihat wajah Tara. Ia juga langsung menyeringai begitu mengingat romantisnya jika menghukum Tara di bawah air hujan.
Tara yang polos dan tidak mengerti maksud dari kata hukuman yang diucapkan oleh Ikram pun menunduk ketakutan. "Lalu, jika tidak memanggil bos saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?" tanya Tara, ia tidak berani mengangkat kepalanya. Ia takut, ia merasa khawatir jika membuat bosnya ini marah apalagi Ikram hendak menghukumnya.
Ikram nampak memikirkan sesuatu, ia kemudian menatap Tara, "Kalau begitu panggil aku Mas, eh tidak lebih lengkapnya panggil aku Mas Ayang," jawab Ikram.
Tara tersedak ludahnya sendiri mendengar permintaan Ikram. Ia tidak pernah tahu jika bosnya ini memiliki sisi alay juga.
"M-mas Ayang?" ulang Tara dengan tergagap.
Ikram tersenyum miring. "Bukankah itu terdengar sangat manis. Dan gue akan memanggil lu cukup Ayang saja. Paham?"
Tara menggeleng membuat Ikram gemas dan pria tampan itu langsung saja mengecup kilat bibir Tara. Mendapat ciuman dadakan seperti itu membuat tubuh Tara terasa membeku apalagi hujan semakin deras saja.
Ikram menyeringai, ia baru saja mendaratkan ciuman pertama untuk istrinya ini. Dia nampak gemas dan ingin mengulang lagi ciuman tersebut dan tentu dalam tempo yang lama.
"Sebaiknya lu masuk dan biarin gue menyelesaikan ini. Lu mau nanti sakit? Jangan sakit dulu ya, kita 'kan mau pergi ke bulan," ucap Ikram diiringi seringai begitu melihat wajah terkejut Tara.
Apakah Tuhan menciptakan kamu dalam keadaan senang, mengapa kau selalu terlihat menggemaskan. Untung istir gue.
Saat keduanya sedang saling tatap-tatapqn, sebuah mobil mewah melintas dan langsung berhenti kala melihat mobil dan pria yang ia kenali. Dengan cepat pria bucin yang lamarannya digantung ini keluar dari mobil dengan menggunakan payung untuk melindunginya.
"Ikram, lu ngapain disini? Mobil lu kenapa?" tanya Alvaro, ia kemudian melirik gadis yang berdiri di samping Ikram, sedang memayungi sahabatnya ini.
"Jangan lu tatap istri gue. Cari mati lu!" sentak Ikram yang tidak suka saat Alvaro menatap Tara padahal Alvaro hanya ingin bertanya siapa gadis di sebelah Ikram.
"I-istri?" tanya Alvaro tergagap.
Ikram tersenyum kemudian ia merangkul Tara, tak lupa ia menatap Alvaro dengan seringai mengejek. "Iya, istri gue. Tadi kita nikah. Nah lu, kapan lu nikah? Gue aja nggak ada lamaran udah sah sedangkan lu digantung mulu kayak jemuran. Siapa yang lamaran siapa yang nikah. Kasihan amat nasib lu, bro," ledek Ikram.
Napas Alvaro memburu mendengar ledekan Ikram. Ia masih syok mendengar sahabatnya ini menikah bahkan mendahuluinya.
Nggak, nggak bisa. Ini nggak bisa terjadi. Gue harus paksa Aina nikah sekarang juga. Ikram aja bisa, kenapa gue nggak bisa. Nikah virtual via video call pun nggak masalah asalkan hari ini jugaaa!!
Ikram tersenyum puas melihat wajah mengenaskan Alvaro. Ia yakin sekali sahabatnya ini tidak terima jika ia sudah menikah sedangkan dirinya masih harus menunggu tiga bulan lagi.
"Ck, nggak usah pasang wajah sesenang itu juga kali. Gue tahu lu sekarang lagi senang banget sampai nggak bisa berkata-kata karena gue udah nikah. Sekarang lu anterin gue ke rumah, gue mau ketemu bokap nyokap mau ngenalin mantu mereka. Buruan, gue mau ke bulan juga sama istri gue. Lu jangan iri!" ucap Ikram semakin memanas-manasi Alvaro.