
Acara pernikahan Nandi dan Flora berlangsung dengan lancar. Pasangan itu kini sudah sah menjadi suami istri dan Nandi merasa senang luar biasa sebab kini ia sudah menyusul kedua temannya dengan status yang bukan lajang lagi. Ia hanya tinggal mengejar ketertinggalannya dimana ia harus segera bergerak cepat untuk membuat Flora hamil.
Sudah ada banyak rencana yang Nandi susun agar ia dan Flora bisa segera memiliki momongan sebab ia ingin anaknya dan anak dari kedua sahabatnya bisa kembali menjalin dan meneruskan persahabatan mereka.
Mendengar keinginan Nandi tersebut, Alvaro tentu saja sangat mendukung. Ia bahkan turut serta dan antusias berbincang dengan Nandi masalah geng anak mereka nanti. Sedangkan Ikram hanya iya-iya saja.
Saat ini acara akad sudah berakhir dan tinggal keluarga inti dan juga para sahabat yang tetap tinggal. Seharusnya mereka istirahat karena nanti malam akan dilanjutkan dengan acara resepsi, akan tetapi karena trio cowok ganteng dan most wanted di kampus dulu itu sudah berkumpul, akhirnya terjadilah percakapan yang panjang dan unfaedah.
"Gue kepingin kayak Varo nanti, kayaknya menggemaskan dan sangat lucu plus menantang deh kalau kita sebagai laki yang ngidam," celetuk Nandi yang membuat wajah Alvaro berubah datar.
Apa dia nggak tahu kalau ngidam itu nyiksa banget! Tapi gue doain deh dan gue Aminin tuh keinginan lu. Semoga lu ngerasain apa yang gue rasain.
Alvaro tertawa jahat dalam hati. Ia mulai membual lagi, menceritakan tentang hari-hari penuh kegemasan saat tengah mengalami morning sickness. Dari cara Alvaro menceritakan, Nandi semakin tertarik. Dan Ikram, karena dia merasa masih waras dan lebih waras dari Alvaro dan Nandi, ia tentu saja tidak akan percaya dengan apa yang diceritakan oleh Alvaro.
Saat ini pandangan Ikram sibuk mencari-cari dimana keberadaan istrinya karena tekahir kali ia melihat Tara sedang bersama Nurul. Saat ia tak sengaja melihat sosok sang istri yang sedang mengelus puncak kepala Frey, ia tersenyum.
Frey, terlepas dari kelakuan busuk kedua orang tuamu, kau tetaplah keponakanku. Gue memang membenci Miranda dan Kriss karena sudah banyak berbuat jahat walau gue tahu semua karena Paman Brandon, tapi gue nggak bisa ngilangin rasa nggak suka gue sama Miranda. Tapi lu tenang aja, lu bakalan tetap jadi keponakan gue satu-satunya. Semoga di tangan keluarga Prayoga kau akan menjadi anak yang baik dan bertumbuhlah dengan baik.
Ikram memang membenci Miranda sebab dulu sudah membuat Alvaro terpuruk begitupun dengan Kriss yang pernah membuat hidup mereka kacau balau, akan tetapi ia tetap peduli pada Frey. Bahkan Ikram sudah menyiapkan warisan untuk Frey karena memang hak keluarga Griffin akan Ikram berikan pada Frey nantinya untuk ia kelola. Setidaknya keponakannya itu sudah memiliki harta masa depan.
"Dua minggu lagi Evelyn dan Axelle akan menikah. Gue nggak nyangka mereka itu berjodoh. Dulu gue pikir dia nggak bakalan jatuh cinta karena dia cuma cinta sama Aina, gue nggak nyangka aja dia malah jatuh cinta sama cewek hiper aktif seperti Evelyn. Entah sihir apa yang sudah cewek petakilan itu tiupkan pada Axelle," ucap Alvaro ketika ia teringat kakak sepupunya itu sebentar lagi akan menikah dengan mantan rivalnya.
Sampai detik ini memang hal itu menjadi tanda tanya bagi Alvaro yang tahu jika Axelle menyukai wanita seperti Nurul sang istri tapi mengapa mendadak mendaratkan hati dan menjatuhkan pilihan pada Evelyn Prayoga Mahesa. Tingkah Nurul dan Evelyn sangat bertolak belakang, entah mungkin apakah Axelle tiba-tiba merubah haluan tipe wanita favoritnya atau memang Evelyn yang memakai sihir untuk menjerat Axelle.
"Ya gue hanya heran aja," ucap Alvaro kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Andai saja ia tahu seperti apa sepak terjang Evelyn dalam mendapatkan hati Axelle, ia pasti tidak akan percaya jika sepupunya itu bisa berkamuflase menjadi wanita elegan. Ia tahu Evelyn adalah wanita cerdas dan berpendidikan tinggi, namun sifat aslinya itu sungguh bertolak belakang dengan wibawa yang selama ini mengikutinya.
Tak lama berselang Nurul dan Tara pun datang menghampiri mereka dan Nurul mengajak Alvaro untuk segera pulang karena ia sudah merasa lelah. Begitupun dengan Tara yang sebenarnya masih harus bed rest akan tetapi ia memaksa untuk datang.
Setelah mereka berpamitan, pasangan itu pun pulang ke rumah mereka masing-masing dengan Alvaro dan Nurul bersama Aluna dan Frey.
Sesekali Alvaro melirik ke belakang melalui kaca, ia bisa melihat jika Aluna begitu aktif mengajak Frey berbicara sedangkan yang diajak berbicara hanya sesekali menyahuti. Bahkan bocah tampan itu justru terlihat memejamkan matanya dan terlihat begitu malas menjawab setiap pertanyaan Aluna ataupun menanggapi setiap ucapan Aluna.
Mendadak gue jadi ingat dulu waktu gue pertama kali mendekati Aina. Gue udah ngomong ini itu dan dia bahkan kadang nggak respon. Respon sih kalau udah kesal. Kok gue ngerasa ini mereka kayak lagi ngulangin kisah gue sama Aina ya? Tapi bedanya disini si cowok yang kaku sedangkan si cewek yang super aktif.
Alvaro tersenyum tipis, ia memang tidak rela jika Aluna dijodohkan. Akan tetapi ia akan tetap mendidik Frey agar tumbuh menjadi anak yang baik dan bisa diandalkan. Ia akan membuat Frey menjadi saudara sekaligus pengawal untuk Aluna sebab ia yakin di masa depan nanti Aluna akan sama persis seperti dirinya. Mengingat Aluna adalah seorang perempuan, tentu Alvaro harus siaga sejak dini agar jangan sampai anaknya itu mengikuti jejak kelamnya. Ia tidak ingin putrinya menerima karma atas apa yang pernah ia perbuat dulu.
"Yang, kamu melamun apa sih?" tanya Nurul yang sedari tadi memperhatikan Alvaro seperti sedang berpikir sambil sesekali bibirnya tersenyum atau mengerucut.
Alvaro menatap Nurul kemudian ia tersenyum manis. "Aku hanya sedang mengingat tadi sebelum kita ke pesta pernikahan Nandi dan Flora, ada hal yang belum kita selesaikan," jawab Alvaro hingga membuat Nurul memalingkan wajahnya.
Alvaro tersenyum tipis, ia memang masih mengingat hal tersebut dan ia juga tidak ingin membahas tentang kekhawatirannya terhadap Aluna karena ia tidak ingin berdebat dengan Nurul. Ia tidak ingin mood istrinya yang suka berubah-ubah itu membuatnya menjadi sakit kepala.
Kenapa dia masih saja mengingatnya. Eh tapi selama aku dinyatakan hamil, Alvaro juga udah jarang nyentuh aku. Kasihan banget sih dia tersiksa. Nanti aku deh yang kasih dia kejutan. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah menanggung siksanya mengidam dan ini sudah kedua kalinya. Ya, gue deh yang inisiatif buat ngajakin dia main. Kasihan juga lama-lama lihat dia nggak ada gairah kayak dulu padahal dia selalu kepengen. Hehe ....