
Alvaro menatap datar pada Nandi dan Ikram yang kini sudah duduk di hadapannya namun dalam hati ia tertawa. Ia tahu benar apa yang membuat kedua sahabatnya ini datang ke kantornya padahal ini belum jam makan siang. Namun sebisa mungkin Alvaro bersikap biasa saja padahal rasanya ia ingin tertawa pada Nandi yang paling terlihat antusias.
"Lu tolong jelasin maksud dari story lu ini bro!" ucap Nandi penuh penekanan sambil memperlihatkan layar ponselnya dimana terpampang jelas sebuah foto yang tadi diunggah oleh Alvaro.
Andaikan Nandi dan Ikram tahu, bahkan story tersebut hanya diperuntukkan pada mereka berdua saja. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk pamer.
Alvaro pura-pura memerhatikan ponsel Nandi, kemudian ia kembali bersandar di kursi kebesarannya. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala lalu ia menatap kedua sahabatnya itu bergantian.
"Nandi Ragnala, lu itu pintar 'kan? Lu udah dewasa juga, ya pastinya lu bisa dong mengerti maksud dari foto yang gue unggah itu. Gimana sih lu bro!"
Ucapan Alvaro seakan menohok Nandi, sedangkan Ikram hanya diam saja. Sejujurnya ia ingin menebak tetapi ia membiarkan saja Nandi yang banyak bicara. Apalagi saat ini ia sedang bertukar pesan dengan Tara, tentu saja ia tidak akan menganggap siapapun yang ada di dekatnya.
"Wait bro. Gue tahu yang cowok ini elu walaupun gue nggak yakin lu tahu bacaan sholat. Dan gue perhatiin yang cewek ini persis seperti Nurul, tapi ini gimana maksudnya? Lu pakai jasa siapa nih buat ngedit foto kalian? Ck! Lu harus sabar bro, dia pasti bakalan jadi istri lu juga. Jangan sampai lu nggak waras gini, kasihan nanti Nurul kalau punya suami gila," ucap Nandi merasa prihatin pada nasib Alvaro.
Alvaro dibuat terbengang setelah mendengar ucapan Nandi tersebut. Yang benar saja sahabatnya itu menuduh jika ia menggunakan jasa edit foto. Sunggu keterlaluan, pikir Alvaro.
"Dia udah nikah sama Nurul. Gitu aja lu kok sulit banget menarik kesimpulan," celetuk Ikram yang baru mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.
Kali ini Nandi yang dibuat terbengang oleh ucapan Ikram. "Lu tahu dari mana?" tanya Nandi.
Ikram mencebikkan bibirnya, "Lu tadi nggak lihat di jarinya ada cincin nikah?"
Ucapan Ikram semakin membuat Nandi syok. Ia kemudian memaksa Alvaro untuk menunjukkan jarinya dan dengan senang hati Alvaro memperlihatkan pada Nandi.
Nandi langsung menggebrak meja hingga membuat Alvaro dan Ikram terjungkit kaget.
"Lu kenapa sih?" tanya Ikram dan Alvaro bersamaan.
"Gila, ini benar-benar gila! Kalian nikah dan semua secara dadakan. Gue yang pacaran udah lama sama Flora belum juga nikah. Nah lu, apa lu juga nikah kayak nih bocah yang secara diam-diam dan nggak dihadiri orang tua? Kalian ini benar-benar menjadi teman brengsek dan anak durhaka!"
Alvaro langsung berdiri, "Ya enggak lah. Gue nikah baik-baik ya dan dihadiri oleh keluarga gue. Emang gue kayak yang ono noh, nikah sendiri nggak ada restu dan perwakilan dari orang tua, bahkan nggak ngasih tahu orang tuanya," ucap Alvaro membela diri sekaligus mencibir Ikram.
Ikram yang merasa tersindir pun tidak peduli karena sekarang pun orang tuanya sudah merestui hubungannya dan mereka akan menggelar pesta resepsi besar-besaran tidak lama lagi.
Nandi terduduk lemas, Ia tidak menyangka Alvaro akan menikah secepat itu menyusul Ikram karena yang ia tahu Alvaro akan menikah dengan Nurul setelah Danish menikah lebih dulu. Dan kemungkinan waktu tercepat mereka akan menikah yaitu tiga bulan lagi padahal Ia sudah berencana akan menikah dengan Flora bulan depan sebelum Alvaro, tetapi apalah daya justru ia kembali dilangkahi oleh sahabatnya ini.
"Nggak usah pasang tampang ngenes gitu deh. Kalau lu emang udah cinta sama Flora dan lu udah yakin sama dia, ya lu tinggal lamar lah. Gitu aja kok lu buat sulit sih. Gue aja yang baru jatuh cinta langsung gue nikahi, apalagi Alvaro yang udah lama tergila-gila, jelas dia udah langsung kejar waktu buat nikahin Nurul. Nah lu ngambang mulu."
Ucapan Ikram yang panjang lebar itu membuat Nandi semakin tertohok saja. Tidak ada yang salah dari ucapan Ikram, memang benar ia dan flora sudah lama berpacaran, mereka sudah bertunangan namun mereka belum membahas pernikahan. Dan setelah melihat Ikram dan Alvaro menikah, maka Nandi juga akan berencana untuk segera menikahi Flora.
"Lu mau ke mana Bro?" tanya Alvaro merasa heran dengan Nandi yang mendadak pergi.
"Gue mau jemput Flora. Gue mau ngajak dia ke KUA sekarang juga. Gue juga pingin nikah," ucap Nandi yang membuat Ikram dan Alvaro tergelak.
Setelah Nandi pergi, Ikram kemudian menatap serius pada Alvaro. Sebenarnya Ia datang ke tempat ini selain untuk menemani Nandi menanyakan unggahan foto Alvaro, Ia juga sudah memiliki janji temu dengan Alvaro untuk membahas masalah yang lainnya.
"Jadi gimana menurut lu bro?" tanya Alvaro saat melihat Ikram terdiam sejenak.
"Gue masih belum tahu, tapi dari cerita Nurul gue semakin bingung dengan sikap Kriss yang sebenarnya. Kenapa dia kembali masukin berkas ke perusahaan mertua lu sedangkan dia mengaku kepada Nurul bahwa dia tidak pernah mengirim berkas lagi setelah Danis menolak untuk membantunya. Ini agak aneh Bro," jawab Ikram sambil berusaha menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi pada Kriss.
Alvaro memang menceritakan pada Ikram tentang pertemuan Nurul dengan Kriss yang membahas tentang berkas Kriss yang meminta bantuan firma hukum mereka.
Ikram pun mulai menceritakan kejanggalan-kejanggalan yang ia rasakan terhadap Kriss. Yang ia tahu Kriss sangat sibuk mengelola perusahaan baru yang dipercayakan padanya selama ini. Ikram selalu mencari tahu tentang Kriss dan ia tidak menemukan tanda-tanda bahwa sepupu angkatnya itu melakukan kejahatan padanya tetapi setiap kali ada hal yang terjadi pada mereka, pasti selalu akan mengarah pada Kriss.
Alvaro pun mengiyakan ucapan Ikram tersebut. Pernah beberapa kali ia mendapati kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di sekitarnya, ia kemudian mencoba menyelidiki dan pasti berakhir dengan tuduhan yang jatuh pada Kriss juga.
Semua hal yang terjadi pada mereka seolah digiring untuk menjadikan Kriss sebagai tersangka utamanya tetapi jika mereka kembali mengamati dan meneliti dengan cermat maka sebenarnya yang terjadi bukan atas ulah keluarga Griffin. Kriss begitu bolak-balik luar negeri dan luar kota untuk mengembangkan bisnis tersebut.
Sedangkan Ruri Griffin sama sekali tidak melakukan kegiatan apapun selain mengelola restoran dan juga beberapa kafe yang sudah diwariskan untuk mereka.
"Kayaknya kita harus cari tahu dengan cara kita sendiri Bro. Jangan sampai ternyata di balik ini semua ada dalangnya. Dengan kata lain mungkin saja Kriss ini hanya sebuah pion, ada seseorang yang menggerakkannya. Kita nggak akan pernah tahu karena selama kita mengenal Kriss walaupun orangnya memang selalu menyembunyikan segala hal tetapi gue nggak yakin kalau dia akan bersikap setega ini pada kita hanya karena harta dan hanya karena wanita. Sejak awal gue udah bilang gue nggak yakin kalau Kriss akan setega itu pada kita," ucap Alvaro.
Ikram mengangguk, "Gue sih tahu emang umur Ruri itu orangnya serakah tetapi selama ini dia yang sudah mengelola bisnis ibu gue jadi nggak ada salahnya kalau gue memberikan beberapa bagian untuknya. Bahkan dibagi dua pun itu belum seberapa karena yang memajukan restoran dan kafe itu adalah mereka. Hanya saja bokap gue yang nggak terima bagian nyokap diambil oleh mereka semua, jadinya dia langsung mengantisipasi dengan menarik semuanya dan mengatasnamakan dirinya. Tapi sejauh ini yang gue tahu Om Ruri itu nggak bakalan ngelakuin hal sampai sejauh ini bro."
Ikram dan Alvaro terdiam mereka sama-sama memikirkan dan mencari cara untuk bisa mengungkap kejahatan yang terjadi di sekitar mereka apalagi melibatkan sahabatnya. Mereka tidak akan mungkin mendiamkan hal ini karena sudah beberapa kali mereka mengalami kerugian besar dan untung saja hal itu masih bisa mereka tangani, walaupun harus turun tangan langsung menghadapi klien mereka yang merasa kecewa dengan hasil yang mereka berikan jauh di luar kata memuaskan.
Alvaro kemudian membelalakkan matanya. "Bro jangan bilang ini adalah ulah dari musuh orang tua kita bersama. Maksud gue gini, ada oknum yang memang nggak suka sama persahabatan keluarga kita dan memanfaatkan Kriss dan Om Ruri untuk menjatuhkan keluarga kita. Intinya di sini dia adalah sosok yang nggak suka sama orang tua kita bukan hanya perindividu doang. Dia nggak suka sama seluruh keluarga kita makanya dia membalas melalui salah satu orang terdekat kita."
Ikram menimpali ucapan Alvaro tersebut dengan mengatakan ada kemungkinan orang yang berada dibalik masalah yang tengah mereka hadapi ini adalah orang yang tahu seluk beluk keluarga mereka. Orang itu memilih keluarga Griffin karena tahu yang paling mudah untuk diancam adalah Ruri Griffin.
Alvaro pun menyarankan agar mereka melakukan rapat keluarga karena ada kemungkinan para orang tua memiliki musuh bebuyutan bersama sejak dulu dan orang itu justru memanfaatkan keluarga Griffin untuk mulai menyerang mereka satu per satu.
Ikram menyetujui usul Alvaro tersebut karena hal ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Satu dua kali mereka mungkin masih bisa mengatasi kerugian, tapi jika terus menerus seperti ini maka mereka pun akan terus merugi dan berujung pailit.
Orang yang sedang mereka hadapi ini sangat pandai sehingga tidak meninggalkan rekam jejak perbuatannya dan mereka tidak bisa melapor pada pihak berwajib.
"Tapi bagaimana kalau itu semua memang adalah ulah Kriss dan Om Ruri? Kita nggak bakalan tahu yang sebenarnya terjadi," ucap Ikram, ia memang tahu sepak terjang ayahnya seperti apa tetapi ia juga tidak bisa menyalahkan orang lain karena selama ini ayahnya selalu menghabisi musuh yang akan menyulitkan hidup mereka jadi menurut Ikram tidak ada yang tersisa dari musuh-musuh ayahnya selain sudah menjadi tulang-belulang.