
Frey melangkah masuk ke dalam ruangan rawat Leon dengan tatapan tajam dan juga wajahnya yang begitu datar. Ia menggenggam tangan Aluna, istrinya itu saat ini sudah mulai ketakutan. Aluna khawatir kejadian malam itu akan sampai ke telinga papinya dan Leon akan tahu jika mereka sudah melakukan hubungan intim.
Wajah Leon semakin pucat karena ternyata Frey datang menjenguknya, ah lebih tepatnya Frey datang untuk mengungkapkan kenyataannya. Leon berharap ayahnya murka padanya – Leon lebih memilih dihukum dari pada ayahnya tidak menegurnya. Di dunia ini ia hanya punya satu orang tua dan ia tidak ingin kehilangan satu-satunya sosok yang selalu mengerti dirinya.
“Apa benar itu Leonardo Shan?” tanya tuan Cakra dengan nada bergetar. Ia sangat tidak ingin mendengar jawaban iya dari Leon.
Bola mata Leon bergerak gelisah, ia tidak tahu harus menjawab apa sedangkan kini ayahnya sudah tersenyum getir, bungkamnya Leon merupakan jawaban sebenarnya.
“Kenapa sampai sejauh itu, Nak? Apakah Ayah pernah mengajarkanmu melakukan hal seburuk itu? Pergaulan bebas, Ayah sama sekali tidak pernah mengharapkan itu darimu. Ayah kecewa,” ucap lirih tuan Cakra. Ia memalingkan wajahnya dari putra semata wayangnya itu dan beralih menatap Aluna dan Frey yang kini sudah duduk di sofa bersama Alvaro dan Ikram.
Wajah Alvaro saat ini sudah tidak enak dipandang. Ia menatap Aluna dan Frey lalu menatap Leon yang masih terbaring lemah. Tangan Alvaro terkepal kuat, se-brengseknya ia dulu, ia tidak pernah menjebak wanita dengan obat perangsang. Yang paling fatal yang pernah ia lakukan adalah taruhan dan menculik Nurul lalu memerkosanya.
Tangan Alvaro terulur menggapai tangan Aluna yang sedang saling meremas saking gugupnya. Mata seorang ayah itu mendadak berkaca-kaca, perasaannya begitu hancur karena ternyata seketat apapun ia menjaga putrinya dari karma buruknya, tetap saja karma adalah karma.
"Pi … nggak terjadi apapun pada Aluna. Saat itu aku datang tepat waktu," ucap Frey yang paham dengan kesedihan Alvaro.
Alvaro, Ikram dan tuan Cakra bernapas lega setelah mendengar ucapan Frey tersebut. Hampir saja tuan Cakra menghukum Leon dengan hukuman yang paling berat yaitu tidak dipedulikan lagi.
Alvaro sontak memeluk putrinya, ia merasa senang sekaligus tenang karena ternyata putrinya selamat dan menantunya memang sangat bisa diandalkan.
Eh tapi … tapi jika Aluna sudah meminum minuman yang berisi obat perangsang, tentu saja efeknya akan sangat berbahaya dan … oh tidak! Jangan-jangan Aluna dan Frey … tidak, itu tidak mungkin terjadi. Frey pasti masih menjaga keperawanan Aluna. Ya, semoga saja dia tidak semesum Kriss sewaktu muda dulu. Oh sial! Kenapa gue bisa lupa kalau Frey ini keturunan Kriss, cowok paling mesum pada masanya. Huhuu … semoga kamu akan selamat keturunan Kriss Griffin ini, Nak.
Alvaro kembali gelisah, namun bukan hal yang pantas untuk ia bertanya apakah Frey sudah menyentuh Aluna atau belum. Akan tetapi rasa penasarannya sudah menggebu-gebu, bagaimanapun Aluna adalah putrinya dan masih sangat kecil menurut Alvaro, jadi ia wajib tahu apa yang sudah terjadi pada Aluna sekarang.
"Mulai besok ayah akan mengurus surat pindahmu. Ayah akan memindahkan sekolahmu karena ayah tidak mau kau menjadi pion balas dendam dari paman Tian," ucap tuan Cakra, ia memang harus mengambil langkah tegas dan cepat agar tidak terjadi lagi hal buruk pada anaknya.
"Tapi Yah, Leon nggak mau pindah! Leon udah betah di sekolah itu dan Leon janji nggak akan bantuin paman Tian lagi. Lagi pula Leon belum melakukan apapun yang diminta oleh paman Tian, baru akan, Yah."
Leon memohon untuk tidak dipindahkan karena ia tidak ingin berjauhan dari Aluna. Leon sudah jatuh cinta dan ia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan hati Aluna.
Mendengar rengekan Leon, sebenarnya hati tuan Cakra tidak tega karena anaknya itu sangat jarang meminta sesuatu. Dan kali ini ia yakin kalau anaknya sedang jatuh cinta pada Aluna sebab sedari tadi ia perhatikan Leon terus menatap wajah cantik Aluna.
"Berikan ayah satu alasan mengapa kau tidak boleh pindah dari sekolah itu," pinta tuan Cakra, ia sebenarnya sengaja memancing agar Leon mengungkapkan perasaannya kepada Aluna.
Jika dilihat-lihat Aluna adalah gadis yang sangat cantik dan tuan Cakra berniat menjodohkannya dengan Leon saja sebab dari bibit–bebet dan bobotnya, Aluna sudah memenuhi segala kriteria calon menantu. Walaupun sebenarnya tuan Cakra tidak memandang status dan strata sosial dari calon menantunya nanti, tetapi gadis yang disukai anaknya memang sangatlah pantas untuk menjadi calon menantu dari keluarga Shan.
Leon ingin agar Alvaro terkesan padanya karena ia berani dan secara terang-terangan menyatakan kepada orang tua Aluna jika dirinya mencintai putrinya dan siap berjuang juga bersaing, dengan membuktikan bahwa dirinyalah yang lebih layak dibandingkan Frey untuk menjadi menantu di keluarga Prayoga.
"Aku jatuh cinta, Yah. Untuk pertama kalinya Leon mencintai seorang gadis dan mungkin saja memang ini masih cinta anak remaja. Tetapi Leon benar-benar merasa jatuh cinta pada seorang gadis yang bernama Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga, Yah. Dia sudah membuat jantung ini berdetak tak karuan dan tidur ini menjadi tidak nyenyak, serta pikiran ini tidak karuan karena terus dihantui bayang-bayangnya. Walau apapun aku akan tetap menyatakan cinta padanya sekalipun aku tahu dia sudah memiliki tunangan. Tapi selagi janur kuning belum melengkung, semua masih milik umum dan kita masih bisa nikung, bukan?"
Ucapan Leon tersebut membuat semua yang ada di ruangan tersebut terkejut, kecuali Frey yang sudah mengetahui alasan Leon bertahan di sekolah mereka. Dalam hati Frey tertawa sarkas, andaikan saja Leon tahu jika janur kuning itu sudah melengkung dan dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk menikung, pasti saat ini Leon akan jatuh pingsan dan mungkin akan memilih mengakhiri dirinya sendiri, itu jika Leon merupakan lelaki mellow dan sadboy.
Tuan Cakra merasa bangga dengan anaknya, tetapi kalimat akhir yang didengar olehnya membuatnya mengurungkan niat untuk menjodohkan Leon dengan Aluna. Dengan mendengar ternyata Aluna sudah memiliki tunangan, ia tidak mungkin merusak suatu hubungan apalagi hubungan dari keturunan keluarga Prayoga. Ia masih sayang nyawa dan juga bisnisnya.
"Tapi maaf Nak Leon, keponakan saya ini sudah tidak bisa lagi ditikung. Perjodohannya sudah ditetapkan dan saya sebagai Paman dari Aluna dan juga tunangannya itu, kami sudah sepakat akan menikahkan mereka setelah lulus SMA nanti, dan itu tinggal beberapa waktu ke depan. Sebaiknya kau carilah gadis yang baik dan lebih cantik dari Aluna, walaupun itu tidak mudah tetapi kau masih sangat muda.
"Perjalananmu masih panjang, lebih baik kau menghilangkan perasaanmu dari sekarang daripada kau terus memendamnya lalu berujung dengan patah hati," ucap Ikram panjang lebar, ia lebih dulu berbicara daripada membiarkan Alvaro yang mungkin akan keceplosan dan mengatakan jika sebenarnya Aluna dan Frey sudah menikah.
Cowok tampan yang berbaring di atas ranjang pasien itu memalingkan wajahnya, jelas saja perasaannya saat ini sangat hancur. Belum juga berjuang, ia sudah harus dipukul mundur dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Tapi cinta Leon tidak sedangkal itu, walaupun sudah mendapatkan penolakan keras dari pihak keluarga tetapi dalam hati Leon akan tetap berjuang untuk mendapatkan hati Aluna.
Siapa yang akan tahu jodoh kita kedepannya, hanya Tuhan yang bisa menentukan. Gue juga berharap Tuhan membalikkan hati Aluna lalu jatuh cinta sama gue. Saat itu juga – meskipun kita masih menggunakan seragam putih abu-abu, gue bakalan langsung ngelamar! Sekali saja lu tatap gue gue dan lihat gimana gue cinta sama lu, lu pasti bakalan bahagia sama gue. Please Aluna, tetap gue …
Aluna sendiri terdiam, ia menatap Frey sesaat karena ia tahu dan yakin benar jika suaminya saat ini pasti sedang memendam emosi. Membayangkan di hadapannya secara langsung, seorang pria menyatakan cinta dan ingin berjuang serta menikungnya, tentu saja Frey pasti sangat kesal. Aluna langsung meraih tangan Frey dan menggenggamnya, mencoba memberikan kenyamanan dan juga rasa tenang dan aman.
Leon please … lu udah separah ini dibuat Frey, jangan mancing emosinya lagi dong! Gue kasihan dan juga kesel sama lu. Di satu sisi lu udah jadi korban dari amukan Frey, tapi itu salah lu sendiri karena lu berniat buruk sama gue yang jelas-jelas istrinya Frey. Gue sama dia udah sah, lu udah nggak bisa nikung! Tapi ya gue kesel juga … kenapa di saat lu udah babak belur dan bonyok kayak gitu, lu masih sempat-sempatnya mancing emosi. Kalau nggak ngelihat banyak orang di sini, gue udah bantuin tuh nambah babak belur di wajah lu. Ngeselin banget sih jadi cowok!
Tuan Cakra kemudian menghampiri Alvaro dan yang lainnya. Ia meminta maaf sekali lagi untuk apa yang sudah dilakukan Leon dan ia mengungkapkan rasa malunya sebab anaknya sudah berbuat sejauh itu padahal usianya masih sangat belia. Apalagi pernyataan cinta Leon yang tidak pantas.
"Semua akan aman jika kalian tidak pernah berniat mencampuri urusan kami, Tuan Cakra. Kita tidak pernah terlibat perselisihan, bukan? Maka akan lebih baik jika terus begini, kita menjalin hubungan baik agar kedepannya kita bisa terus menjadi rekan kerja. Dan untukmu Leon, jika kau menyukai Aluna maka aku meminta maaf sebab putriku sudah ada yang mengikat. Kau berdoalah semoga mereka cepat bersama dan memilki anak perempuan yang mirip dengan Aluna. Dan jika masa itu tiba maka aku akan menjodohkan cucuku denganmu. Mohon bersabar ya," ucap Alvaro panjang lebar dan hal tersebut mendapat sambutan gelak tawa dari Ikram dan juga tuan Cakra.
"Ya sudah kalau begitu Om, saya Leonardo Shan mengamini ucapan tersebut. Awas saja kalau nanti anak dari Aluna tidak dijodohkan denganku. Aku akan menculiknya dan menjadikannya pengantinku bantu. Tak peduli jika saat itu usiaku mungkin sudah setengah abad!" timpal Leon mencoba mengobati luka di hatinya.
Dari balik pintu, seseorang mengepalkan tangannya mendengar gelak tawa dan suka cita dari dalam ruangan tersebut.
"Bersenang-senanglah untuk saat ini karena beberapa saat lagi kalian akan diselimuti duka!"
...****************...