GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
191


Rasanya Frey ingin frustrasi dengan ucapan Aluna tersebut, bagaimana bisa ia melakukan persiapan sedangkan ia saja semalam tidak paham dengan maksud papi Alvaro yang awalnya mengatakan jika mereka tidak bisa menikah karena usia mereka masih muda akan tetapi jika bertambah dua hari dari sekarang maka boleh-boleh saja jika mereka menikah.


Frey awalnya tidak mengerti dan nanti setelah ketiga orang tua itu berhenti tertawa, Ikram dari pihak Frey pun menjelaskan jika dua hari lagi Frey dan Aluna akan dinikahkan dan ia yang akan membantu urusan pernikahan sebab ia dari pihak laki-laki.


Frey tidak menolak, ia justru merasa senang karena sebentar lagi ia akan mengikat Aluna dengan ikatan yang suci dan sah di mata hukum dan agama. Aluna tidak akan lagi bisa berdekatan dengan cowok di sekolah maupun di luar sekolah. Frey bukan terobsesi pada Aluna, ia hanya begitu mencintai hingga takut kehilangan serta rasa cemburu itu selalu saja menghantuinya.


Dan kini setelah Frey berlutut di hadapan Aluna dan di hadapan seluruh keluarga, Aluna justru melakukan hal yang konyol. siapakah yang tidak akan merasa hampir frustrasi. Ia sendiri diminta menikah secara mendadak semalam, tidak mungkin sempat mencari cincin atau melakukan semua hal yang diinginkan oleh Aluna.


"Gue bercanda, hehe. Jangan merajuk ya, jangan ngambek. Gue nggak mau gagal nikah kalau sampai lu berubah pikiran. Gue mau kok nikah sama lu, mau banget malah," ucap Aluna saat melihat raut wajah Frey yang terlihat kesal dan juga cukup mengerikan karena sedang menahan kekesalannya.


Semua yang menyaksikan hal tersebut langsung tertawa dan bertepuk tangan. Mereka semua merasa senang terkecuali Alvaro dan Nurul yang saat ini bersama-sama memeluk Aluna dengan erat.


"Sebenanrya aku tidak rela putriku menikah muda, apalagi dia masih sekolah. Tapi karena dia menikah dengan putraku juga maka aku bisa tenang melepaskannya. Bunda sangat sayang pada kalian berdua, yang akur ya Nak. Teruslah saling mencintai hingga maut memisahkan," ucap lirih Nurul sambil memeluk erat tubuh Aluna.


"Papi juga nggak nyangka Aluna akan menikah secepat ini. Rasanya separuh jiwa papi itu pergi entah kemana. Anak perempuan papi sebentar lagi akan berganti kepemilikan. Papi sebenanrya ingin sekali menghajar Frey karena sudah berhasil mengambil putri kesayangan papi dari tangan papi. Tapi ... papi nggak bakalan lakuin itu karena semua ini atas ide papi sendiri, hehe."


Suasana yang tadinya terasa haru kini berubah jadi penuh suka cita. Bukan Alvaro Genta Prayoga namanya jika tidak bisa membuat suasana berubah-ubah.


Nurul menatap kesal pada Alvaro, ia mengira Alvaro akan memberikan wejangan atau apapun itu asalkan yang berdampak positif, tapi ia lupa Alvaro tetaplah Alvaro, pria aneh bin ajaib kesayangannya. Makhluk favorit Nurul sejak dulu dan selamanya.


Alvaro dan Nurul bergantian memeluk Aluna dan Frey sekali lagi sebelum Alvaro kembali ke perusahaan.


"Tapi ingat Frey, kalian tidak papi izinkan untuk melakukan hubungan suami istri setelah menikah! Kecuali ...." ucap tegas Alvaro yang membuat semuanya merasa heran dan bertanya-tanya.


"Kecuali apa Pi?" tanya Frey dan Aluna sendiri hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kecuali kalau kalian sama-sama mau lah," jawab Alvaro kemudian ia tertawa sendiri dengan terbahak-bahak.


Seluruh pasang mata yang ada di ruangan tersebut kini menatap datar kepada Alvaro yang sedang tertawa sendirinya. Termasuk Nurul yang merasa sangat gemas pada sikap suami ya ini yang selalu saja tidak terduga. Ia langsung mencubit lengan Alvaro dan sialnya bukannya meringis Alvaro justru menarik tengkuknya dan mencium Nurul di hadapan semua orang.


Mata Nurul membulat sempurna dengan aksi suaminya itu bahkan Alvaro tanpa malu dan tidak pandang situasi dan kondisi justru ******* bibirnya dan Nurul tidak bisa menghindar sebab Alvaro mengunci pergerakannya dengan menahan tengkuknya hingga Nurul tidak bisa bergerak menghindar.


Mendadak ruangan menjadi sepi, semua orang merasa sedang menonton film drama romantis dan adegan kissing secara live. Frey bahkan refleks menutup mata Aluna karena tidak ingin mata calon istrinya itu tercemar dengan melihat adegan tersebut.


Deheman Danish menyadarkan Alvaro dan seketika ia melepaskan ciumannya. Nurul langsung menutup wajahnya karena malu sedangkan Alvaro justru terlihat begitu senang dan kini ia tengah senyam-senyum sendiri.


"Frey kenapa mata gue ditutup sih?" pekik Aluna kesal karena ia tidak diberi kesempatan untuk menonton secara live kedua orang tuanya saling berciuman.


"Lu masih anak-anak, nggak baik lihat adegan begituan. Mata lu bisa tercemar nanti!" jawab Frey padahal jika bisa dibilang Aluna lebih tua sebulan darinya.


Aluna berdecak, "Bukannya kita juga sering melakukannya, nggak ada yang perlu ditutup-tutupi karena kita pun sudah biasa berciuman seperti bunda dan pap--"


Frey langsung menutup mulut Aluna, ia tidak sanggup lagi berada di ruangan ini dengan semua mata menatapnya seolah ia adalah tersangka kejahatan apalagi Aluna yang tidak sadar sudah membongkar semuanya. Frey begitu malu namun sudah terlanjur basah, ia bisa apa selain membungkam mulut Aluna.


Mau tidak mau Frey mengangguk, untuk apa lagi berbohong jika Aluna sudah membongkar semuanya. "Hanya sekali Pi," ucap Frey dengan takut-takut, bagaimanapun ia sedang berhadapan dengan ayah dari calon istrinya.


"Sekali? Bukannya udah beberapa kali ya Frey? Waktu di sekolah, tadi pagi di mobil saat kita berangkat ke sekolah, tadi juga saat kita di perpustakaan. Kok cuma sekali sih?" tanya Aluna entah mengapa mendadak menjadi polos.


Rasanya Frey ingin menggantung dirinya sendiri di tiang listrik setelah Aluna membeberkan secara detail sata mereka berciuman. Beberapa saat kemudian saat Aluna menyadari tatapan membunuh dari papinya, ia bergegas memeluk Frey dan merasa ketakutan juga.


"Frey, maaf ya. Gue nggak sadar tadi waktu bicara. Gue takut lihat papi," bisik lirih Aluna dan Frey hanya bisa mengusap wajahnya sebab ia merasa frustrasi.


Apa kabar kalau gue dan Aluna nanti udah melakukan hubungan suami istri? Dia nggak bakalan bocorin 'kan ke semua orang? mendadak gue merasa khawatir mau unboxing Aluna nanti. Takut dia bongkar juga sama mami papi. Aluna Aluna!


Alvaro hanya bisa menghela napas, tadinya ia sangat ingin menghajar Frey sebab sudah mencium putrinya padahal Alvaro yakin Frey akan melindungi dan tidak akan berbuat lebih pada Aluna. Akan tetapi ia bisa apa, dia juga pernah muda dan merasakan seperti yang Frey rasakan.


"Bisa tidak pelukannya di sudahi saja, kalian harus mencoba pakaian yang akan kalian kenakan besok dan masih harus mencari cincin," sela nenek Yani, Aluna dan Frey pun sontak melepaskan pelukannya.


"Hehe, maaf Nek. Aluna selalu nyaman kalau lagi meluk Frey. Tapi jangan salahin Aluna ya, salahin aja Frey yang udah bikin Aluna nyaman, dia yang bersalah!" ucap Aluna yang mengundang gelak tawa dari semua orang.


Apa gue nggak salah jatuh cinta? Kenapa gue mendadak merasa frustrasi oleh sikap Aluna? Haiihh ...."


Frey hanya bisa menggerutu dalam hati, ia tidak mungkin mengungkapkan kekesalannya karena siapa juga yang akan ia marahi sedangkan hatinya sendiri yang sudah jatuh cinta tanpa diminta kepada Aluna.


Aluna pun diminta untuk mencoba beberapa pakaian yang sudah dipersiapkan dan dibantu oleh Nurul. Alvaro sudah berpamitan lebih dulu karena ia memiliki rapat penting yang seharusnya dijadwalkan besok namun karena besok adalah hari pernikahan kedua anaknya, Alvaro terpaksa memajukan waktunya. Begitupun para kakek sudah kembali ke kediaman Prayoga.


Hanya tertinggal Ikram dan Clarinta dan para nenek yang menunggui di ruangan tersebut. Ikram sendiri merasa harus turut andil sebab ia berasal dari pihak pengantin pria.


Hampir satu jam berlalu, akhirnya mereka menemukan kebaya yang cocok untuk Aluna sedangkan Frey sedari tadi merasa bosan sebab semua kebaya yang dicoba oleh Aluna terlihat sama saja dalam artian menurut Frey kekasihnya itu akan selalu terlibat cantik dengan mengenakan apapun. Ia juga mengungkapkannya secara langsung hingga membuat pipi Aluna bersemu merah apalagi mendapat ledekan dari para orang tua.


"Setelah ini kalian pergilah mencari cincin pernikahan. Ini sudah sangat sore dan berharap kalian bisa menemukan cincin dengan segera," ucap Ikram, ia sedari tadi terus membayangkan nantinya putri kesayangannya -- Ziya akan berada di posisi Aluna saat ini. Ia sangat terharu hanya dengan membayangkannya saja.


Aluna sudah kembali berganti pakaian dan ia serta Frey sudah tidak lagi mengenakan seragam sekolah karena Nurul memberikan keduanya pakaian baru dari butik sambil berkata, "Nanti pakaian kalian di masukkan kedalam tagihan Frey ya," seloroh Nurul, padahal semua itu ia berikan secara percuma.


"Nggak masalah Bun, uang Frey itu sangat banyak. Dia juga sudah bekerja jadi semua akan terkendali. Iya 'kan Frey?" celetuk Aluna dan Frey hanya mengiya-iyakan saja.


"Nah sekarang paman mau nanya sama Aluna, pinginnya mahar apa? Biar paman bisa bergegas mencarinya," tanya Ikram.


Aluna nampak berpikir, ia juga menanyakan tentang mahar ini apakah dia boleh menentukan sendiri dan Ikram pun mengiyakan. Aluna langsung tersenyum dan duduk di samping Ikram sambil menggandeng tangan pamannya tersebut.


"Aluna nggak minta yang merepotkan kok paman. Cukup seperangkat alat sholat saja sama tanda tangan tujuh member BTS," ucap Aluna.


Seketika di ruangan tersebut hanya terdengar suara pergerakan dari jarum jam dinding.a