GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
157


Hueeekkk ....


Alvaro membasuh wajahnya di wastafel, baru bangun tidur kepalanya terasa begitu pusing Dan kini ia sudah memuntahkan isi perutnya lagi. Nurul sendiri yang melihat suaminya dalam keadaan pucat dan lemas terduduk di toilet rumah ia segera memapahnya keluar dan memberikannya minuman hangat yang sudah ia ambilkan tadi di lantai bawah.


Sudah dua kali Alvaro bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutnya, padahal sedari tadi Ia hanya minum air putih saja. Nurul menjadi sangat khawatir, apalagi melihat wajah Alvaro yang semakin memucat dan juga ia melihat suaminya itu sudah kehilangan tenaga akibat bolak-balik kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutnya.


"Yang ke rumah sakit yuk, aku takut kamu kenapa-napa," ajak Nurul.


Alvaro menggeleng, "Aku nggak mau Yang, aku nggak suka bau rumah sakit. Mending bawa aku ke tempat tidur aja terus kamu peluk-pelukin biar aku enakan badannya," pinta Alvaro dan Nurul pun langsung menuruti keinginan suaminya.


Alvaro yang tadinya sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar langsung Nurul papah menuju ke tempat tidur dan ia membantu Alvaro merebahkan dirinya.


"Kamu mau ke mana Yang?" tanya Alvaro begitu melihat Nurul hendak keluar.


"Aku mau keluar sebentar. Mau ketemu sama mami dan Papi, mau ngabarin soal kondisi kamu juga. Sekalian mau ngecek Aluna. Sebentar ya, nanti aku bawain kamu makanan. Kamu mau apa?"


"Buatin aku bubur ayam yang gak pakai ayam Yang," jawab Alvaro.


Untuk sepersekian detik Nurul dibuat melongo. Ternyata setelah menikah suaminya tetap memakai gelarnya yang aneh bin ajaib itu. Bagaimana mungkin ia meminta bubur ayam tanpa memakai ayam.


"Oh ... oke," jawab Nurul akhirnya daripada ia semakin membuang waktu lebih lama.


Nurul menutup pintu kamar, ia berjalan menuju ke kamar kedua mertuanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Saat dia hendak mengetuk pintu kamar, bertepatan dengan kedua mertuanya yang keluar dari kamar.


"Ada apa Nak?" tanya Yani yang melihat wajah Nurul seperti orang kebingungan.


"Eh itu Mi, Alvaro bangun tidur tahu-tahu udah muntah-muntah aja. Kasihan banget, udah pucat mukanya, udah lemas juga dan sekarang dia minta dibikinin bubur ayam nggak pakai ayam," cerita Nurul.


Genta dan Yani saling berpandangan, mendengar cerita dari Nurul kalau Alvaro ketika bangun tidur sudah muntah-muntah dan sekarang tubuhnya lemas dengan wajah pucat, keduanya merasa seolah deja vu.


"Apa dia tidak minta belimbing wuluh lagi?" tanya Genta sambil menahan tawanya dan ia langsung mendapat tatapan horor dari istrinya.


Nurul semakin melongo dibuat mertuanya, ia tidak menyangka saja jika jawaban mertuanya seperti itu. Ia yang sudah khawatir setengah bingung justru semakin dibuat bingung lagi dengan pertanyaan mertuanya.


Yani yang merasa kesal pada Genta sesaat kemudian ia terkejut. "Kamu hamil Nurul?" tanya Yani.


"Hamil? Nggak sih, Mi," jawab Nurul yang merasa semakin bingung karena yang sakit Alvaro tapi justru dia yang ditanya.


Yani kemudian mengajak Nurul kembali ke kamar mereka, sedangkan Genta menelpon dokter keluarganya. Nurul meminta mertuanya untuk masuk lebih dulu ke kamar mereka sedangkan Nurul ingin mengecek ke dapur apakah ada asisten rumah tangga yang bisa membuatkan Alvaro bubur ayam tanpa memakai ayam.


Tak lupa Nurul juga menghampiri Aluna yang saat ini sedang menunggu di meja makan seorang diri. Nurul merasa kasihan pada Aluna, karena mengurus Alvaro tadi ia jadi lalai dalam mengurus Aluna.


"Sayang belum makan?" tanya Nurul sambil membelai rambut Aluna.


Bocah kecil itu menggeleng, "Belum bunda, masih menunggu yang lain. Papi di mana?"


"Papi di kamar lagi sakit, Aluna mau tengokin nggak?" jawab Nurul dan gadis kecil itu pun langsung mengangguk.


Saat Nurul dan Aluna masuk ke dalam kamar, di sana Alvaro sedang bergelayut manja dipelukan maminya. Nurul dan Aluna pun mendekat, ia merasa kasihan dengan suaminya.


Alvaro pun berpindah ke dalam pelukan Nurul untuk bermanja-manja.


"Yang, kamu kok wangi banget, pakai parfum apa?" tanya Alvaro.


Wangi? Gue belum mandi.


"Enggak kok, belum mandi ini," jawab Nurul heran.


"Ya udah, mulai sekarang nggak usah mandi. Aku suka aroma tubuhmu yang ini," ucap Alvaro memberi usul dan Nurul langsung membelalakkan matanya dan ia menatap horor kepada Alvaro.


Genta dan Yani saling berpandangan, kemudian salah satu dari mereka berinisiatif untuk bertanya ulang kepada Nurul.


"Nurul kapan terakhir kamu datang bulan?" tanya Mami Yani.


"Oh itu mi ...."


Nurul langsung terdiam, ia baru mengingat jika dirinya terakhir kali menstruasi seminggu setelah mereka pindah ke rumah ini. Dan itu artinya sudah sebulan ia tidak kedatangan tamu bulanannya.


"Maksud mami aku hamil?" tanya Nurul setelah mendapati kesadarannya dan Yani langsung mengangguk.


Yani pun menceritakan tentang gejala yang dulu dialami oleh Alvaro ketika masih belajar di Amerika, sedangkan Nurul tengah mengandung Aluna dan Alvaro yang mengidam. Ia menyarankan agar Nurul segera melakukan pemeriksaan sehingga mereka tahu dengan pasti apakah saat ini Nurul tengah mengandung cucu mereka lagi ataukah Alvaro yang mengalami penyakit serius.


Tak berselang lama, bersamaan dengan bubur ayam tanpa ayam pesanan tuan muda Alvaro diantar oleh asisten rumah tangganya, wanita paruh baya itu pun membawa dokter turut serta bersamanya.


Dokter pun mendekati Alvaro. Berhubung pria itu adalah dokter kepercayaan keluarga Prayoga, maka ia langsung saja memeriksa Alvaro sambil menanyakan gejala apa yang terjadi sebelum Alvaro terbaring lemah seperti ini.


Nurul pun mulai menjelaskan duduk perkaranya, dokter tersebut menganggukkan kepalanya sambil terus berusaha mendiagnosis penyakit apa yang sedang diderita oleh Alvaro.


Setelah meletakkan kembali stetoskopnya ke dalam jas, dokter tersebut menatap Nurul. "Bagaimana jika anda yang saya periksa?" ucapnya membuat Nurul keheranan begitupun dengan Alvaro.


"Lho, kenapa saya Dok? Saya biasa-biasa saja, tidak ada yang sakit," tanya Nurul.


Dokter tersebut pun menjelaskan diagnosisnya yang mengatakan jika ada kemungkinan penyakit yang diderita Alvaro ini berasal dari Nurul. Nurul awalnya marah saat dirimya disebut menularkan penyakit, ia langsung cemberut dan seketika ia marah kepada dokter tersebut.


"Dokter pikir saya ini pembawa penyakit? Saya emang belum mandi tetapi saya tidak punya penyakit atau menularkan penyakit pada suami saya. Saya ini selalu menjaga pola hidup sehat saya!" sungut Nurul.


Dokter tersebut tersenyum, dedangkan Genta dan Yani justru merasa tidak enak karena menantunya yang baik hati dan lembut itu tiba-tiba marah-marah tidak jelas kepada dokter Irgi.


Alvaro hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, istrinya ini kembali lagi mengamuk seperti biasanya dan ia yakin sebentar lagi Nurul pasti akan menangis.


Tidak sampai tiga puluh detik, istrinya itu sudah terlihat sesenggukan. Alvaro yang tidak tega melihat istrinya yang sedang menangis itu pun menguatkan dirinya untuk berdiri dan membawa Nurul duduk di tempat tidur.


"Dokter nggak maksud gitu sayang. Ayo duduk sini juga, biar kamu istirahat," ajak Alvaro.


Nurul menatap sengit pada dokter tersebut kemudian ia berbaring di tempat tidur sambil Alvaro terus membelai rambutnya.


Dokter tersebut meminta izin sekali lagi kepada Nurul untuk memeriksanya, dan dengan bujukan Alvaro akhirnya Nurul pun mau diperiksa.


Dokter Irgi mulai memeriksa Nurul, ia mencoba mencocokkan diagnosanya. Dan bibirnya kemudian melengkungkan senyuman.


"Gimana hasilnya, Dok?" tanya Genta dan Yani bersamaan.


Dokter Irgi menatap Genta dan Yani sambil tersenyum, ia kemudian menatap Nurul dan Alvaro. "Menurut hasil pemeriksaan saya, memang benar jika penyakit yang diderita oleh Tuan muda berasal dari istrinya yang saat ini sedang mengandung. Gejala ini biasa disebut dengan sindrom couvade atau hamil simpatik dimana sang istri yang tengah mengandung tetapi suami yang mengalami gejala mengidam," jawab dokter Irgi yang membuat Alvaro dan Nurul saling bertatapan begitupun dengan Genta dan Yani.


"Hamil?" gumam Nurul.


"Lagi?!" pekik halus Alvaro, ia tiba-tiba merasa frustrasi.


Nurul yang melihat wajah Alvaro begitu menderita setelah mengetahui dirinya sedang hamil, ia pun mendadak marah kembali.


"Kamu kok kelihatan enggak senang gitu aku hamil. Kamu nggak mau ya aku hamil lagi. kamu nggak mau ya tanggung jawab lagi!" cecar Nurul yang membuat Alvaro semakin merasa frustrasi dibuat istrinya.


"Enggak Yang, bukan kayak gitu maksud aku. Aku cuma bilang lagi itu lagi aku yang mengalami sindrom couvade. Rasanya setiap kamu yang hamil kok aku terus yang ngidam ya, seakan-akan bayi kita di dalam perut kamu itu pengen banget nyiksa aku," jawab Alvaro pasrah dan juga terlihat tersiksa.


Genta dan Yani sama-sama tertawa, sedangkan Nurul hanya bisa terdiam mendengar keluhan suaminya. Dalam hati ia merasa kasihan juga kepada Alvaro, sudah dua kali ia hamil tetapi ia tidak pernah merasakan yang namanya mengidam sedangkan Alvaro justru yang tersiksa.


"Oh jadi tuan muda selama istrinya hamil sudah mengalami sindrom ini sebelumnya ya?" celetuk dokter Irgi ia hampir saja memecahkan tawanya setelah mendengar keluhan Alvaro.


Alvaro hanya mengangguk lemah, ia mulai membayangkan hari-hari berikutnya dimana ia akan terkapar lemah dan bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan isi perutnya.


Dokter pun mengatakan ia akan meresepkan obat untuk Alvaro, untuk mengurangi gejala mabuknya selama masa mengidam. Setelah itu ia pun meminta Nurul dan Alvaro untuk pergi memeriksa kandungan Nurul ke dokter kandunga. Dokter Irgi pun berpamitan pulang dengan ditemani oleh Genta.


"Yeyy ... Aluna mau punya adik bayi!" teriak Aluna bersemangat sedangkan Nurul pun turut tertawa melihat kesenangan anaknya tersebut.


"Pantas saja menantu kita ini selalu suka marah-marah tidak jelas dan kalau ditegur sedikit bawaannya mewek, ternyata bawaan bayi," ucap Yani kemudian mengusap perut Nurul yang masih rata.


Yani segera mengambil ponselnya, ia berniat menghubungi Dianti dan Deen untuk memberikan kabar gembira ini.


Begitu kabar tersebut sampai di telinga keluarga Emrick, mereka semua menyambutnya dengan suka cita kecuali Danish yang saat ini sedang diamuk Clarinta di dalam kamar mereka.


"Kak Danish! Itu adik ipar sudah hamil lagi, terus akunya kapan? Kok aku nggak hamil-hamil padahal kita nikah udah dua Minggu lebih. Aku nggak mau tahu ya, kak Danish harus bisa bikin aku hamil titik!"


Danish hanya bisa menggaruk kepalanya, ia tidak tahu harus berkata apa kepada Clarinta. Ia sudah berusaha membuatnya, selebihnya mereka hanya bisa berpasrah.


"Kak Danish!" teriak Clarinta.


"Ya udah, ayo kita buat anak lagi. Buka bajunya," ucap Danish, entah dia sedang senang karena Clarinta langsung menuruti keinginannya ataukah ia harus kesal karena semua ini semata karena Clarinta menginginkan agar dirinya cepat hamil menyusul Nurul.


"Ini udah dibuka. Kak Danish mau aku bukain juga?"


Danish pun menyeringai, ia menganggukkan kepalanya.


Senangnya punya istri pengertian. Hehe ....