
Di dalam kamar sepi itu kini tinggal Alvaro yang masih terjaga. Ia enggan untuk menutup matanya karena malam ini ia ingin memuaskan dirinya untuk menatap Nurul sebelum besok ia sudah harus kembali. Ia bisa saja datang lagi dan lagi untuk menemui dua perempuannya ini tetapi ia juga punya tanggung jawab di Jakarta, perusahaan membutuhkan dirinya dan papinya sudah jarang ke perusahaan semenjak ada dirinya yang mengambil alih.
Wajah polos Nurul membuat Alvaro tak berhenti memandangnya. Dengan perlahan-lahan Alvaro memindahkan Aluna yang berada di tengah-tengah dan meletakkannya di samping di dekat dinding. Hal yang Alvaro syukuri adalah ranjang ini merapat di dinding sehingga jika Aluna di letakkan di samping maka ia tidak akan jatuh dan kini Alvaro berada di tengah-tengah kedua perempuannya.
"Aina, lu cantik banget dan seharusnya udah lama kita kayak gini. Harusnya waktu itu lu nggak usah kabur biar kita bisa membina rumah tangga dan mungkin sekarang anak kita udah dua kali ya. Secara gue mana bisa nggak menebar benih kalau istri gue itu elu. Bawaannya gue pingin punya banyak anak, asal lu yang jadi ibunya," ucap Alvaro seolah-olah ia sedang berbicara dengan Nurul. Tangannya ia gunakan untuk membeli rambut Nurul yang menutupi wajahnya karena posisi Nurul menyamping.
Berada di dalam satu selimut yang sama adalah hal yang selalu tuan muda Alvaro ini bayangkan. Impian yang kini menjadi nyata dan sebentar lagi ia akan membawa Nurul ke ranjang panasnya dan mereka akan berbagi selimut yang sama setiap malam. Membayangkannya saja sudah membuat sesuatu disana berdiri tegak tetapi bukan keadilan.
Sial! Kenapa kalau dekat Aina bawaannya gue berdiri? Kayaknya gue harus segera nikahi dia deh. Tapi si kakak ipar lucknut itu nggak mau dilangkah. Gue harus bikin dia sama Clarinta menikah dalam waktu dekat. Gila aja junior gue nganggur sebegini lamanya. Gue udah karatan nih Aina. Bantuin gue dong!
Alvaro menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Ia melakukannya berulang kali agar hasratnya itu hilang dengan sendirinya. Alvaro tidak mau menodai cintanya lagi. Ia kapok dan mungkin saja jika ia melakukannya lagi maka bukan hanya pergi dari hidupnya, Nurul mungkin akan langsung menikahi Axelle.
Dengan nakalnya tangan Alvaro mengambil gambar Nurul yang sedang tidur melalui kamera ponselnya. Ia kemudian mengarahkan kamera selfi dan memotret kebersamannya dengan Nurul dan anaknya itu. Ia menjadikannya wallpaper setelah mengganti foto dimana ia mencuri cium di pipi Nurul saat keduanya berada di dalam mobil.
"Mending gue tidur karena sebentar lagi subuh. Gue juga harus balik pagi ini setelah sarapan," gumam Alvaro. Ia kemudian kembali berbaring menyamping sambil menatap wajah polos Nurul. Kembali, Alvaro mencuri ciuman di bibir Nurul kemudian ia terkekeh sendiri.
Pagi menjelang, Nurul yang terbiasa bangun awal untuk melaksanakan ibadah subuh merasa tubuhnya begitu hangat. Ia mengira yang sedang ia peluk erat itu adalah bantal guling. Alvaro yang terbangun karena gerakan Nurul yang memeluknya begitu erat pun langsung membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Matanya tertutup namun bibirnya tersenyum.
Lumayan, dapat jackpot subuh-subuh. Kayaknya ini lebih menyenangkan dibandingkan gue main dragon dapat tiga kepala naga hijau. Aina, lu subuh-subuh udah bikin gue sesenang ini tapi juga gue tersiksa Aina. Subuh begini waktunya si junior bangun dan lu, lu nyiksa gue!
Nurul sendiri merasa aneh, ia sedang berusaha membuka matanya namun masih terasa berat. Ia merasa aneh saja karena tidak mungkin bantal guling akan membalas pelukannya kecuali ....
Dengan cepat Nurul membuka matanya dan menyadari wajahnya tepat bersandar di dada bidang seseorang. Mata Nurul membulat sempurna, namun setelah ia ingat kembali ia tidak hanya berdua dengan Aluna melainkan ada Alvaro.
Tapi ... bukannya semalam Alvaro berada di dekat dinding? Kenapa sekarang di berada di tengah? Tunggu, dia nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh,'kan?
Dengan cepat Nurul mendorong dada Alvaro hingga pria yang sedang menikmati lamunan indahnya itu terkejut.
"Lu kenapa ditengah sini? Bukannya semalam lu di samping sana?" pekik Nurul.
Dengan wajah pura-pura terkejut Alvaro langsung menatap sekitarnya dan ia memasang wajah syok.
"Ya ampun ayang, kok gue bisa disini? Lu mindahin gue ya?" tuduh Alvaro, sedangkan Nurul langsung menggeleng keras.
"Mana mungkin, gue 'kan tidur lebih dulu, nggak mungkin gue yang ngangkat atau mindahin lu!" sungut Nurul. Ingin rasanya Nurul menjitak kepala Alvaro yang sudah menuduhnya dengan tuduhan yang tidak masuk akal.
"Oh, mungkin Jin kali yang mindahin gue," jawab Alvaro yang membuat Nurul melongo.
"Jin?"
.
.
Tiga bulan lagi Alvaro akan mendapatkan keputusan tentang hubungan mereka. Ia harap tidak akan membuatnya kembali kecewa. Rasanya Alvaro ingin memeluk Nurul sebelum ia pergi tetapi karena disana ada sang kakak ipar lucknut, Alvaro mengurungkan niatnya. Ia hanya mengusap pelan puncak kepala Nurul kemudian ia menciumi Aluna dan memeluknya penuh sayang.
"Papi janji bakalan datang nengokin Aluna sama bunda. Aluna baik-baik ya disini. Nanti kita pasti akan selalu bersama," ucap Alvaro setelah ia puas menciumi anaknya itu.
"Papi janji ya, nanti Aluna tungguin lho," ucap gadis kecil itu sambil memberikan jari kelingkingnya. Alvaro menyambutnya dengan antusias.
.
.
"Mami, papi, anak ganteng kalian udah pulang nih," teriak Alvaro ketika ia sudah memasuki rumahnya.
Dari arah ruang keluarga Alvaro bisa melihat kedua orang tuanya sedang menyaksikan program tv hingga tak sadar jika dirinya sudah berada di ruangan yang sama.
"Ehemm ...."
Deheman Alvaro membuat kedua orang tuanya mengalihkan atensinya pada putra tampannya itu. Genta dengan cepat berdiri, Alvaro mengira ia akan mendapatkan pelukan hangat dari papinya namun siapa sangka ia justru mendapat pukulan dari papinya itu.
Belum usai rasa sakit karena berkelahi dengan Danish, kini papiinya memberikannya pukulan lagi. Entah apa salah dirinya, tahu-tahu langsung mendapat bogeman.
"Kamu ya, kamu bikin malu papi tahu nggak?! Apa kamu tahu kalau Aina itu anaknya Deen Emrick? Kawan lama papi? Apa yang harus papi katakan padanya nanti jika bertemu," bentak Genta.
Jika Genta merasa tak enak hati maka Alvaro merasa makin senang hati. Ia tidak menyangka papinya mengenal Deen Emrick, calon papah mertuanya.
"Nggak usah susah gitu Pi, kalau bertemu nanti ya tinggal bilang kalau papi mau melamar Nurul untuk Alvaro. Gampang, 'kan?"
Ucapan Alvaro tersebut langsung dihadiahkan geplakan di kepala oleh papinya. Genta tidak habis pikir kenapa putranya ini selalu saja berbicara asal-asalan.
"Tiga bulan lagi lamarin Aina buat Alvaro, Mi. Kalian nggak mau 'kan cucu kalian yang cantik itu kelamaan jauh dari papinya. Kalian pasti penasaran sama cucu kalian. Tenang aja, dia cantik banget dan diatas standar keturunan Prayoga."
Yani dan Genta langsung menatap intens pada Alvaro. Ucapan Alvaro barusan menarik minat mereka untuk mendengarkan anaknya yang lebih sering membual hingga membuat keduanya malas berdebat dengan Alvaro.
"Cucu?" tanya keduanya dan Alvaro menjawab dengan anggukan.
"Namanya Aluna, dia sangat cantik dan sangat mirip dengan Varo. Itu artinya dia juga mirip sama Mami. Nanti kita akan pergi menengoknya," jawab Alvaro, ia kemudian memperlihatkan ponselnya yang menampilkan foto semalam dimana mereka bertiga tidur bersama.
Jika Yani terharu menatap wajah cucunya di foto maka Genta kini justru langsung menggeplak kepala Alvaro.
"Aduh Pi, kenapa mukul kepala Varo lagi sih!" gerutunya.
"Itu karena kau bodoh. Harusnya saat bertemu dengan Nurul juga putrimu kau langsung menelepon papi. Jika kau memberi tahu maka papi akan datang dan langsung melamarnya untukmu. Dasar pengecut!"