
Clarinta termenung di dalam ruangannya yang kini begitu sunyi. Baru beberapa menit yang lalu Alvaro berpamitan dan kini ia merasa kesepian. Clarinta menatap langit-langit kamar tersebut sambil mengenang pembicaraannya yang cukup panjang bersama Alvaro setelah hampir empat tahun ia mengenal pria tersebut. Alvaro ternyata begitu asyik diajak ngobrol walaupun sikap tengil dan keangkuhannya masih tetap mencuat dan Clarinta tidak masalah karena semua tersamarkan dengan wajah tampan Alvaro yang bisa ia tatap selama itu.
Pikiran Clarinta membawanya kini ke sebuah sosok yang pernah dan masih singgah di hatinya, Danish Ganendra Emrick. Ia tersenyum kecut, teringat bagaimana antusiasnya dirinya saat menceritakan pria itu pada Alvaro. Pria yang mendengarkan ceritanya itu menurut Clarinta adalah sosok yang harus ia dapatkan tapi mengapa justru ia membagi perasaannya, tentang rasa cintanya terhadap Danish dengan begitu mudahnya?
Apakah Clarinta hanya sekadar kagum pada Alvaro?
Apakah cinta di hati Clarinta memang hanya untuk Danish?
Lalu apa maksud semua kegilaannya mengejar Alvaro sampai saat ini?
Aneh!
"Jadi … gue itu cintanya sama Alvaro atau sama kak Danish sih?" tanya Clarinta pada dirinya sendiri.
Clarinta tersenyum saat teringat bagaimana ia dan Alvaro saling berbincang tanpa Alvaro marah ataupun mengata-ngatai dirinya seperti biasanya. Ia senang dan sangat bahagia tapi ia bingung–apakah ia bahagia karena bisa berbicara panjang lebar dan sesantai itu dengan Alvaro–atau–ia senang karena bisa menceritakan hubungannya bersama Danish dan kembali mengenang pria itu? Clarinta memaki dirinya sendiri yang mendadak menjadi bego karena cinta.
"Hei hati, lu itu sebenarnya mau yang mana sih? Alvaro atau Kak Danish? Jangan bikin gue jadi playgirl dong! Gue juga maunya hidup ini cuma punya satu cinta karena hati gue cuma satu dan cuma mau nampung satu orang doang. Ayolah wahai hati gue yang suci, lu maunya yang mana?" monolog Clarinta.
"Maunya hatimu itu adalah berhentilah wahai Clarinta membuat onar dan belajarlah dewasa sedikit dan jangan suka ceroboh!"
Lho, itu macam suara--
Clarinta mengalihkan pandangannya dan benar saja, ia menemukan sosok mami dan papinya yang sedang berdiri di ambang pintu. Clarinta langsung mengumpat kakaknya yang pasti sudah melaporkan kejadian ini pada mereka.
"Eh ada mami sama papi. Sejak kapan datangnya? Kok aku nggak tahu?" tanya Clarinta sambil senyam-senyum tidak jelas.
Maminya langsung mendengus, putrinya ini memang paling ahli dalam berkelit. Ia sudah jera menghadapi sikap Clarinta yang selalu membuatnya naik darah. Untung saja ia menggunakan perawatan mahal sehingga kulitnya tetap kencang dan tidak mengkerut seperti buah jeruk.
"Sayang, kenapa bisa kejadian seperti ini kamu niat sembunyikan dari kami?" tanya papi Ibnu Wistara. "Kalau kakakmu tidak memberitahukan mungkin sampai sekarang kami nggak tahu kamu dalam kondisi nggak baik-baik saja," tegurnya saat berjalan menghampiri Clarinta.
Tuh 'kan, semua kerjaan kak Daniyal Axelle Farezta. Huuhh … dasar kakak lucknut!
"Kalau kakakmu tidak menelepon mami, kami pasti akan lupa kalau kami ternyata punya anak," cibir mami Hilda Nurbaya Farezta.
"Huss … jangan ngomong gitu juga Mi. Walau kelakuannya seperti ulat nangka yang bereinkarnasi di tubuh cacing yang kepanasan, dia tetap anak kita," tegur papinya.
Clarinta terbengang mendengar ucapan papinya. Benar-benar ia merasa seperti seorang anak adopsi di hadapan kedua orang tuanya. Selalu saja ia mendapatkan kata-kata indah yang membuatnya terkena serangan jantung mendadak dari dua orang yang sangat ia sayangi ini. Dan oh, oh, keduanya justru menertawakan Clarinta yang sedang merasa teraniaya–padahal ia juga sedang sakit karena tertusuk pisau tadi. Harusnya kedua orang tuanya prihatin, bukan datang untuk mem-bully dirinya. Clarinta merasa menjadi anak tunggal paling mengenaskan di muka bumi ini.
Saat Clarinta sedang meratapi nasibnya, dua kecupan hangat mendarat di pipi kanan dan kirinya. Ia tersenyum karena kecupan itu berasal dari kedua orang tuanya. Mereka, walaupun suka sekali membuat Clarinta kesal dengan kata-kata nyelenehnya tapi Clarinta tahu mereka adalah orang yang paling sakit ketika ia terluka dan paling bersuka cita saat ia merasa senang dan bahagia.
"Jangan nekat lagi setelah ini. Kamu tidak tahu mami dan papi hampir mati mendengar kamu tertusuk pisau. Untung saja Axelle berbicara dengan perlahan dan sudah memastikan kondisi kamu sebelum mengatakannya pada kami. Anak kami hanya satu, cuma Clarinta Wistara. Jangan buat kami mati mendengar berita buruk tentangmu sayang," bisik maminya sambil menitikkan air mata yang sedari tadi ditahannya.
"Sejak kau dalam perut kami menjagamu dengan sangat hati-hati. Sampai besar bahkan kami melindungimu dari satu goresan luka kecil pun. Dan kau membuat gebrakan dengan tertusuk pisau di perutmu. Jangan lakukan itu lagi sayang," timpal papinya.
Clarinta langsung menangis dan kedua orang tuanya langsung memeluknya dari dua arah. Meskipun ia pecicilan dan melakukan semuanya sesuka hati–sangat ceroboh–manja dan sedikit gila, tapi ia tetap adalah kesayangan keluarganya. Cucu perempuan satu-satunya dalam keluarga Farezta juga di keluarga Wistara ini memegang banyak saham kasih sayang dari keluarganya termasuk Madava, walau licik dan membelot, ia paling sayang pada Clarinta.
.
.
Nurul tersenyum, "Tidak apa-apa. Oh ya, ini anaknya?" tanya Nurul sembari menatap bocah seumuran Aluna. Melihatnya saja sudah membuat Nurul merindukan putri kecilnya itu.
Wanita yang mengenakan kacamata hitam serta gaun malam itu mengangguk lalu tersenyum, "Ya, dia anakku."
Nurul mengangguk, ia sesekali mencuri pandang pada wanita yang terlihat sebaya dengannya hanya saja dandanannya membuatnya terlihat lebih dewasa dan elegan. Nurul berpikir seperti pernah melihat wanita ini tapi entah dimana.
Pintu lift terbuka, ketiganya keluar bersama dan Nurul berjalan menuju ke restoran hotel dimana Axelle menunggunya untuk makan malam. Nurul kebingungan mencari tempatnya, ia merutuki dirinya yang seharusnya datang bersama Axelle. Ia tadi sedang melakukan video call bersama Flora sehingga Axelle turun lebih dulu ke restoran.
"Mami, Frey lapar sekali," celetuk bocah tersebut.
"Iya sayang, ini kita 'kan lagi jalan ke restoran," sahur sang mami sambil menggandeng tangan bocah kecil tersebut.
Nurul menipiskan bibirnya, ia seperti mendapat jackpot karena wanita dan anaknya ini juga memiliki tujuan yang sama dengannya. Nurul tinggal mengikuti mereka saja.
Sesampainya di area restoran hotel, Nurul celingak-celinguk mencari keberadaan Axelle. Namun kali ini tatapannya bertemu dengan seseorang yang juga ia rindukan.
Flora?
Mata Nurul berkaca-kaca begitu gadis bar-bar yang ia rindukan itu berlari ke arahnya dan langsung memeluknya. Ia membalas pelukan tersebut tak kalah eratnya.
"Gue rindu tahu sama lu. Kenapa menghilang kayak gitu? Lu jahat ih!" keluh Flora setelah melepaskan pelukannya.
"Maaf Flo, gue juga rindu banget sama lu. Tadi gue mau ke rumah lu setelah makan malam, tapi kita justru bertemu disini. Lu sama siapa?"
Flora terkekeh pelan, "Sama tunangan gue," jawabnya malu-malu.
Mata Nurul membulat sempurna, ia tidak menyangka jika gadis bar-bar kesayangannya ini sudah bertunangan. "Oh ya? Siapa lelaki tidak beruntung itu?" ledek Nurul.
Wajah Flora langsung cemberut, Nurul masih saja suka menghancurkan moodnya padahal sudah hampir empat tahun mereka tidak bertemu. Nurul semakin gemas melihat wajah kesal Flora.
"Gue orangnya," sahut Nandi yang berjalan di belakang Flora.
Bertambah lagi keterkejutan Flora saat tahu ternyata Nandi adalah tunangan sahabatnya. Masih melekat di ingatan Nurul bagaimana Nandi dan Flora dulunya seperti tikus dan kucing.
"How come? Lu berdua? Tunangan?" pekik Nurul.
Nandi tersenyum, ia langsung merangkul pundak Flora, "Terima kasih buat lu juga yang menghilang tanpa kabar sehingga gue jadi dekat sama Flora karena Alvaro yang seperti orang gila nyariin lu sampai nyuruh gue ngedekatin si cewek judes ini dan akhirnya gue jatuh cinta. Secara tidak langsung lu udah jadi perantara hubungan kami. Iya 'kan baby," cerita Nandi yang membuat Nurul tersenyum kaku sedangkan Flora langsung mencubit pinggang Nandi hingga tunangannya itu meringis.
Jadi benar cowok tengil itu nyariin gue segitunya. Kok gue nggak percaya ya? Tapi kenapa hati ini sesenang ini? Sadar Nurul, Alvaro itu milik Miranda dan dia juga sedang mengejar cinta Clarinta. Lu cuma masa lalu.
"Maaf kalau gue udah bikin kalian susah. Yang lalu biarlah berlalu. Gue sama Alvaro juga udah selesai dan kita sudah baikan tadi. Jangan bahas yang sudah berlalu," ucap Nurul dengan hati yang begitu perih.
Flora dan Nandi saling memandang, mereka cukup kaget karena Nurul sudah bertemu dengan Alvaro. Mereka mengira bahwa pertemuan itu akan sangat berkesan dan yang mereka tahu Alvaro sudah menyiapkan segalanya untuk Nurul, seperti rumah dan juga persiapan pernikahan begitu semesta mempertemukan keduanya. Tapi semua diluar dugaan.
"Eh ada Nandi," sapa wanita yang tadi bersama anaknya dan ia memang masih berada di dekat mereka karena mengambil meja di dekat pintu restoran.