GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Gue Udah Dijodohkan!


“Apa? Jadi Leon berhenti membantumu? Padahal dia adalah pion yang bagus karena sangat bisa diandalkan emosinya. Tetapi memang Frey sudah mempersiapkan diri setangguh mungkin untuk melindungi Aluna dan juga menjaga keluarganya. Ck!”


Bastian berdecak kesal, ia mengira rencananya akan berhasil jika menyerang melalui anak-anak namun ternyata mereka lebih maju selangkah lagi. Saat ini Keenan hanya tinggal sendirian di sekolah itu dan bukan tidak mungkin Frey akan membully atau melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada Leon kepada Keenan.


Keenan sudah mengadu kepada ayahnya tentang sikap Frey padanya, tentang ponselnya yang hancur dan sudah tidak berguna lagi setelah ia berhasil merekam Frey yang sedang membawa Leon keluar dari toilet bersama dua bodyguardnya.


Bastian terdiam, ia harus memikirkan cara untuk membantu anaknya di sekolah itu. Mengirim bodyguard sudah pasti, tetapi bodyguard tidak akan menjaga langsung di dalam kelas apalagi tingkatan Frey dan Keenan berbeda dan juga berada di kelas yang berbeda pula. Ia kemudian meminta Keenan untuk bersikap biasa saja selama di sekolah dan jangan dulu memancing emosi Frey sebelum ada perintah darinya.


Di kamarnya sendiri Keenan merasa begitu kesel kepada Leon yang ternyata juga jatuh cinta kepada Aluna. Harusnya ia tidak mengirim Leon ke sekolah itu agar sepupunya tidak membelot darinya, karena sampai detik ini pun dia masih mengharapkan menjadi kekasih Aluna.


Aluna lu nanti pasti bakalan jadi milik gue. Leon emang lebih lincah dan cerdik dari gue, dia juga punya ilmu bela diri yang tinggi tetapi dia memiliki kekurangan yaitu sangat takut kepada bokapnya. Lalu bokapkya memiliki kekurangan yaitu terlalu baik hati, sedangkan bokap gue adalah orang yang gak mandang siapapun dan nggak pakai hatinya jika sudah menginginkan sesuatu. Lihat saja nanti, jangankan Leon Frey pun akan tumbang di tangan bokap gue dan akhirnya nanti gue yang bakalan milikin lu.


Meninggalkan Keenan dengan sejuta kehaluan-nya, saat ini Alvaro sedang menatap Frey di ruang kerjanya karena saat mereka pulang tadi, Aluna langsung disuruh beristirahat di kamar. Alvaro sebenarnya tidak ingin menanyakan ini tetapi ia sangat penasaran.


Alvaro menatap sinis ke arah Frey yang terlihat begitu santai duduk di hadapannya. Keduanya hanya dipisahkan oleh meja kerja saja dan sepertinya Frey sudah tahu maksud mertuanya mengundangnya datang ke ruangan ini.


"Jelaskan bagaimana bisa Aluna dijebak seperti itu," ucap Alvaro dengan suaranya yang dingin.


Frey tersenyum kecut, "Hmm … tanyakan pada Naufal mengapa di sampai membawa Aluna ke hotel itu dengan alasan yang tidak masuk akal. Pi, sepertinya Naufal dilarang dulu untuk taruhan karena ada banyak yang mengincarnya diluar sana. Ah tidak, lebih tepatnya banyak yang mengincar Aluna dengan taruhan bersama Naufal. Aku sebagai suami Aluna nggak terima Pi," jawab Frey.


Sebenarnya Frey sangat kesal kepada Naufal pada hari itu, tetapi mungkin saat itu memang ia terdesak dan tidak tahu maksud terselubung Leon. Akan tetapi anak kecil itu masih perlu diberi teguran agar tidak membuat ulah lagi.


Alvaro cukup terkejut karena yang membawa Aluna masuk ke dalam jebakan tersebut justru adiknya sendiri – Naufal. Frey juga benar, sebenarnya belum pantas bagi Naufal mengikuti kegiatan liar seperti itu, hanya saja gen kuat darinya memang tidak bisa dihilangkan. Alvaro melihat sosok masa mudanya di diri Naufal.


"Ya, dia harusnya tidak sejauh ini di usianya. Kau yang harus menegur dan memastikannya. Kau adalah kakak yang baik untuknya dan dia pasti patuh padamu," ucap Alvaro, ia bukannya lepas tangan akan tetapi Frey memang selalu mampu membuat Naufal menurut walau hanya lewat lirikkannya saja.


Frey menghela napas, selalu saja Alvaro menyerahkan tanggung jawab Naufal padanya. Padahal ia juga masih anak-anak hanya saja sekarang sudah berstatus sebagai kepala rumah tangga dan sudah pandai mempraktikkan cara pembuatan anak.


"Lalu, setelah kau berhasil membawa Aluna dari hotel itu, kau membawanya kemana? Dia tidak mungkin bisa lepas dari pengaruh obat itu dengan cepat," tanya Alvaro, kini dia sudah masuk ke inti pembicaraan sesungguhnya.


Huh … dasar papi, bilang aja mau nanya itu. Pakai mutar-mutar segala topik pembicaraan, langsung ke intinya aja kali.


"Tidak usah mengumpatiku dalam hati," cibir Alvaro yang membuat Frey tersentak. "Kau itu anakku, aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku yang membesarkanmu dengan tanganku sendiri, jadi aku akan selalu tahu dengan apa yang kau rasakan dan apa yang terjadi padamu. Jangan menganggap dirimu orang lain karena sejak kau datang ke rumah ini, tidak ada bedanya antara kau, Aluna dan Naufal," ucap Alvaro sembari tersenyum hangat.


Senyuman Frey mengembang, ia tahu Alvaro sangat menempanya dan terlihat didikannya lebih keras padanya, akan tetapi mengenai kasih sayang, Frey tentu bisa merasakannya. Bahkan Frey terlihat lebih dekat dengan Alvaro dibandingkan Naufal yang memang memiliki sifat dingin namun juga ada sisi liarnya. Seluruh keluarga Prayoga tidak pernah mengesampingkannya dan ia selalu merasa mendapatkan kasih sayang yang sangat berlimpah.


"Jadi … apa yang terjadi setelah itu?"


Pertanyaan Alvaro membuat Frey mendengus, ia mengira Alvaro akan melupakannya tetapi ternyata papi sekaligus mertuanya ini tetap saja menanyakannya dan ingin rasanya Frey kembali mengumpati Alvaro dalam hati sebagai pria mesum tetapi ia khawatir Alvaro akan mengetahuinya lagi.


"Kun fayakun. Whatever will be, will be. Que sera sera."


"Ja-jadi kalian sudah melakukannya? Apakah kau tidak membuat Aluna kesakitan?" tanya Alvaro masih dalam keadaan tegang karena saat ini putrinya sudah bukan lagi gadis kecil dan sudah sah menjadi wanita sekaligus istri dari Frey.


Frey menggeleng juga mengangguk, ia mendadak diserang rasa gugup ketika Alvaro bertanya dengan wajah penuh tekanan. Frey takut salah tapi apa yang ia dan Aluna lakukan bukanlah hal yang salah.


Lebih lanjut, Alvaro kembali bertanya ini dan itu seputar apa yang dirasakan Aluna dan Frey malam itu. Frey yang sangat dingin itu memang sangat polos pada hal tabu seperti itu justru menceritakannya pada Alvaro hanya saja tidak keseluruhannya.


"Shh … ya bagaimanapun kalian masih pemula. Nanti juga terbiasa. Nanti papi bakalan ajarin kamu berbagai gaya yang bagus dan dijamin mantap," ucap Alvaro yang membuat Frey menganga. Ia mengira Alvaro akan memarahinya tetapi justru sebaliknya, pria ini malah mendukung dan ingin mengajarinya.


"Pa-papi nggak marah gitu?" tanya Frey masih tidak percaya.


Alvaro berdiri lalu menggeplak kepala Frey. "Siapa yang akan marah. Itu hak dan kewajiban kalian. Hanya saja papi nggak mau ya kalau kalian sampai berhasil membuat adonan, kalian masih sekolah dan bisa fatal akibatnya kalau Aluna sampai hamil," ucap Alvaro. "Tapi boy, rasanya nahan itu nggak enak dan keluar di dalam itu lebih nikmat. Berhati-hatilah," imbuh Alvaro yang membuat Frey kesulitan menelan salivanya membayangkan adegan panas mereka malam itu.


Alvaro tertawa melihat gelagat Frey, ia pun menyuruh Frey untuk segera pergi ke kamar karena ia juga memiliki urusan yang lainnya.


Setelah Frey pergi, Alvaro langsung menghubungi seseorang. "Bagaimana Nan, udah ada informasi?" tanya Alvaro.


Nandi yang sedang berbicara bersama orang-orangnya pun mengangguk walau Alvaro tidak melihatnya. "Mereka di negara X. Dan mereka melepas anak mereka tinggal seorang diri disini dengan pengawasan bodyguard yang banyak. Hanya anak satu-satunya dan memilki anak angkat seumuran Naufal."


Alvaro menyeringai. "Sepertinya kita akan kedatangan tamu kecil. Bilang pada Gavin untuk selalu waspada. Gue ngerasa emang Brandon dan Bastian belum akan berhenti. Kita harus siap dari segala sisi, mereka bisa saja menyerang lewat kita atau lewat anak-anak," ucap Alvaro, ia bukannya bisa meramal masa depan tetapi hanya mengandalkan perhitungan peluang yang mungkin saja terjadi.


.


.


Leon menatap Cici yang sedang berbicara panjang lebar padanya. Ia sebenarnya sangat ingin menyobek mulut gadis ini yang tidak berhenti mengoceh dan memintanya untuk tetap semangat merebut hati Aluna. Ia bahkan tidak merasa iba dengan keadaan Leon sedang kesakitan akibat dihajar oleh Frey.


"Gue yakin lu pasti bisa. Lagian Frey itu cuma saudaranya, nggak bakalan bisa halangin kalau kalian saling jatuh cinta. Aluna itu gampang kok jatuh cinta, cuma lu rayu doang pasti bakalan luluh," ucap Cici tak menyerah meyakinkan Leon.


Leon menatapnya sengit hingga membuat Cici gemetar. "Lu nggak lihat gue udah terbaring di rumah sakit kayak gini, hah? Lagi pula kalau lu mau dapatin hati Frey, ya usaha sendiri. Noh, lu contoh tuh si Riani. Lagian gue udah nggak minat sama Aluna. Gue nggak mau mati muda ditangan Frey," tolak Leon.


Leon tidak mengatakan tentang kebenaran Aluna dan Frey, berita itu masih simpang siur menurutnya sebab menurut Ikram dan Alvaro, Bastian Elard itu sengaja menebar kebencian agar Leon menjadi pion mereka untuk membalas dendam masa lalu.


"What? Lu kok bisa secepat itu berpaling. Nggak, gue nggak percaya!" pekik Cici, sangat mustahil untuk dipercaya jika Leon secepat itu mengubah haluannya.


Leon tersenyum sinis. "Gue udah dijodohin. Puas lu? Mending sekarang lu balik dan jangan temui gue lagi. Oh ya, gue ingatkan sama lu karena lu itu seorang cewek, lu harus hati-hati sama Frey karena bukan tidak mungkin dia masih nempatin bodyguard buat jagain gue disini. Lu bisa ketahuan. Ah … atau mungkin lu udah ketahuan. Hahaha!"


Wajah Cici seketika menegang, ia tidak siap kalau harus ketahuan Frey secepat ini.


Gawat!!