GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Bikin Malu dan Memalukan


Alvaro berjalan perlahan memasuki rumahnya. Ia berharap ketika ia masuk tidak ada satupun anggota keluarganya yang melihat kedatangannya. Ia yakin pasti papinya begitu marah atas perbuatannya hari ini, itu sebabnya ia masuk ke rumah seperti pencuri yang tengah mengendap-endap.


Alvaro melewati ruang tamu yang sepi dan ia mengelus dadanya. Dengan cepat ia melewati ruang keluarga yang merupakan akses menuju ke kamarnya melewati tangga menuju ke lantai dua.


Takk ...


Alvaro terdiam saat langkahnya baru saja menaiki satu anak tangga. Lampu temaram berubah menjadi begitu terang. Mendadak perasaannya tidak enak.


"Apakah seperti itu caranya masuk ke dalam rumah Alvaro Genta Prayoga?"


Suara berat itu membuat Alvaro merinding. Ia sangat hapal dengan siapa pemilik suara itu. Alvaro menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal kemudian ia berbalik badan sambil cengar-cengir.


"Eh, papi. Malam Pi, kok belum tidur?" tanya Alvaro basa-basi.


Genta yang sedang duduk di sofa menatap datar ke arah Alvaro. Ia memanggil menggunakan gerakan tangannya agar Alvaro mendekat.


Mati gue. Gue yakin papi nggak bakalan ngelepasin gue kali ini.


Dengan langkah pelan Alvaro mendekati papinya. Dalam hati ia tidak berhenti merapalkan doa agar papinya tidak marah padanya.


Baru saja Alvaro berdiri di depan Genta, papinya itu langsung berdiri.


Plakkk ....


Wajah Alvaro tertoleh ke samping karena pipinya mendapat tamparan keras dari papinya. Bibirnya bahkan mengeluarkan darah saking kuatnya tamparan tersebut. Alvaro tidak bisa marah karena ia tahu saat ini ia sudah sangat salah.


"Kali ini kamu benar-benar melewati batasan! Apa papi dan mami pernah mendidik kamu dengan cara yang salah sampai kamu menjadi seperti ini? Bikin malu dan memalukan! Apa kami yang salah didik atau kamu yang tidak bisa menjaga dirimu sendiri? Apakah mamimu salah mendidikmu atau kau yang tidak sayang pada mamimu hingga kau berubah menjadi anak yang liar seperti ini? Apa sebelum kau melakukan perbuatan buruk itu kau memikirkan mami dan kakakmu? Tidak perlu pikirkan papi, tapi lihatlah wajah penuh kesedihan mamimu. Dia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi padamu."


Ucapan Genta menampar kembali pipi Alvaro secara tidak langsung. Hatinya tertampar. Tak sengaja ia melihat sosok yang sedang berdiri di dekat pintu dapur. Wajah itu terlihat sedih dan matanya berkaca-kaca.


Alvaro menunduk. Ia sadar betul bahwa dirinya sudah berbuat lebih dan bahkan sangat jauh. Papinya benar, ia bikin malu dan memalukan.


"Sudah lihat? Kau! Aku saja selalu menjaga perasaannya. Aku tidak ingin dia mengalami kesedihan di hidupnya, tapi kau yang begitu dia sayangi yang dia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya justru kini yang membuatnya menitikkan air mata. Mau mati kau?!" bentak Genta.


Alvaro berlari memeluk maminya. Ia tidak mendapat sambutan juga tidak mendapat penolakan.


"Maafin Varo Mi, Varo salah. Varo akan perbaiki semuanya dan Varo akan mengikuti semua keinginan mami. Jangan sedih Mi, apalagi menangis karena Varo. Itu membuatku hancur, Mi. Mami lebih cocok tersenyum dan tertawa. Hukum saja Varo, jangan menghukum diri mami," ucap Alvaro sambil terisak dalam pelukan maminya.


Tangan Yani terulur untuk mengusap rambut Alvaro namun ia hentikan karena Genta memberikan tatapan yang melarangnya untuk melakukan itu.


"Mari kita duduk dan bicarakan masalah ini," ajak Yani.


Alvaro tersenyum kecut, hatinya meradang. Baru kali ini malaikat dalam hidupnya itu bersikap dingin padanya. Orang yang selalu membela dan selalu mengasihinya itu mendadak acuh.


Kini ketiganya sudah duduk di sofa dengan saling berhadapan. Biasanya jika ada masalah maka mami akan selalu duduk di samping Alvaro untuk siap pasang badan membelanya. Kali ini ia duduk sendiri dan maminya duduk di samping papinya. Ia seperti terdakwa yang sedang disidang untuk penentuan hukumannya.


Alvaro tidak takut, ia justru diselimuti rasa bersalah sehingga tidak berani mengucapkan satu kata pun.


"Kemarin kau menemui Miranda dan tidur di hotel bersamanya. Paginya kau mengatakan bahwa kau punya kekasih bernama Aina dan siangnya kau pergi mencarinya lalu malamnya kau menghabiskan waktu bersama Miranda. Kau ini sebenarnya ingin siapa?"


Alvaro terbelalak begitu mendengar penuturan papinya. Papinya bahkan tahu semua yang ia lakukan.


"Kau itu Prayoga, semua yang kau lakukan akan selalu aku ketahui. Jangan lupa kalau kau adalah penerusku dan jangan lupa kalau aku memiliki mata-mata dimana pun. Apa yang kau lakukan, aku akan selalu tahu tanpa kau beritahu. Berbohong pun tidak ada gunanya karena aku tahu apa yang kau lakukan di luar sana," cibir Genta yang membuat Alvaro mati kutu.


Ketiganya saling diam untuk beberapa saat.


"Karena kelakuanmu yang sudah kelewatan, papi dan mami sudah memutuskan untuk mengirimmu ke Amerika agar kau melanjutkan S-2 di sana. Kau adalah penerus dan pewaris dari semua kekayaan Prayoga. Belajarlah dengan baik dan pulang dengan gelar yang membanggakan. Lalu gantikan aku di perusahaan," ucap Genta yang kembali membuat mata Alvaro terbelalak.


"Nggak bisa gitu Pi! Aku harus --"


Skakmat.


"Mengenai Miranda, papi sampai kapanpun tidak akan menyetujui hubunganmu dengan Miranda. Silahkan kalian berpacaran tapi jangan harap kalian bisa menikah. Kalaupun kau memaksa maka silahkan angkat kaki dari rumah ini dan hiduplah bersama pilihanmu itu. Papi dan mami tidak mengekangmu atau menentang. Hanya ingin yang terbaik untukmu saja dan itu bukan Miranda. Kelak ketika kau sudah terjun langsung mengurusi bisnis keluarga kita, kau akan tahu jika kami melakukan semua ini untuk kebaikanmu. Percayalah, tidak ada orang tua yang ingin anaknya tidak bahagia," ucap Genta bijaksana dan itu cukup menggetarkan hati Alvaro.


"Tapi Pi, Miranda sudah siap melepas pekerjaannya untuk Varo," ucap Alvaro pelan.


Genta tersenyum miring. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Alvaro.


"Terserah. Papi sudah memberikan opsi padamu. Kau pilihlah mana yang kau anggap terbaik," ucap Genta. Ia memang membebaskan Alvaro memilih, tapi sebagai seorang ayah tentu saja ia tidak akan lepas tanggan dan tinggal diam untuk kehidupan putranya itu.


Alvaro menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti. Sunggu pilihan yang berat dan ia belum siap memberi keputusan.


"Tapi Pi, bisa tidak kalau lanjut kuliahnya di sini saja? Apa harus keluar negeri?" tawar Alvaro.


Gue nggak mungkin pergi jauh-jauh sebelum Aina ada di genggaman gue.


"Kenapa? Beri satu alasan yang kuat agar papi mempertimbangkan keinginanmu," pancing Genta, ia sangat yakin alasan Alvaro seperti apa yang sedang ia pikirkan.


Dengan ragu Alvaro menjawab, "Varo mau cari Aina, Pi."


Genta menyeringai. "Apa kau ingin hidup dengan dua wanita sekaligus? Rakus sekali tuan muda Alvaro ini," cibir Genta.


Alvaro menunduk, membenarkan ucapan papinya dalam hati.


"Dua Minggu lagi kau berangkat ke Amerika. Papi beri waktu dua Minggu untuk menemukan yang kau cari dan dua Minggu untuk menentukan pilihanmu. Setelah itu, berangkat ke Amerika dan jangan pulang sebelum kau menyelesaikan studimu."


Alvaro baru akan membuka suara namun Genta sudah beranjak pergi. Tinggallah ia dan maminya yang kini tengah menatap sendu padanya.


"Mi, Varo --"


"Mami nggak bisa halangi keinginan kamu. Hidupmu adalah milikmu. Kamu yang berhak menentukan pilihanmu dan kami sebagai orang tua hanya bisa memberi nasihat dan restu. Jika kau mau mendengar ya Alhamdulillah. Jika tidak, maka kami tidak bisa memaksamu. Bukankah papimu sudah baik dengan memberikan pilihan untukmu dan membebaskanmu untuk memilih jalan hidupmu sendiri? Varo sudah bukan anak kecil lagi sekarang. Kamu pasti bisa menentukan yang terbaik untukmu," ucap Yani dengan bijaksana. Ia memang kecewa pada Alvaro, tapi ia tidak bisa melihat anaknya terbelenggu dalam masalahnya sendiri.


"Mi, aku bingung harus apa dan harus bagaimana? Mami bantu aku menemukan jalan keluar dari semua masalah ini. Varo cinta Aina, Mi," lirihnya kemudian berpindah tempat ke samping maminya. Ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang ibu.


"Mami dan papi tahu kau mencintai gadis itu," ucap Yani tersenyum.


Alvaro yang melihat senyuman itu ikut tersenyum.


"Kok bisa tahu? Alvaro 'kan baru ngomong sekarang," tanyanya heran.


"Terlihat dari raut wajahmu dan tadi saat sarapan kau bahkan dengan entengnya menceritakan tentang gadis itu pada kami. Wajahmu terlihat berbinar dan kau terlihat lebih ceria saat mengucapkan namanya. Cepat cari dia dan kenalkan pada mami. Mami penasaran gadis mana yang bisa membuat anak Genta Prayoga menjadi bego dan hampir gila, hehehe."


Alvaro mengerucutkan bibirnya kemudian ia ikut tertawa.


"Aku bingung entah mami sedang muji atau menghina anaknya ini," ucap Alvaro dengan wajah dibuat sedih.


"Ck, berhenti bersandiwara. Jangan sampai kau terjebak lagi dalam sandiwaramu sendiri," ujar Yani.


Alvaro terbengang. "Mami ngatain aku ya? Kayaknya mami nyindir nih?"


Yani hanya tertawa dan tawanya membuat hati Alvaro menghangat.


Gue udah bilang, mami itu cocoknya tertawa kayak gini. Mami nggak pantas bersedih. Maaf Mi.


Alvaro kemudian duduk dan memeluk erat maminya. Ia berterima kasih dan juga meminta maaf karena sudah menjadi anak yang membuat mereka malu dan memalukan.


"Heii ... berhenti memeluk istriku! Kau masuk dan sayang, mari kita tidur. Ini sudah larut."