GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Just Do It and Move


Alvaro meyakinkan Nurul untuk turun dari mobil, hingga akhirnya Nurul pun bersedia. Alvaro turun lebih dulu dan ia membukakan pintu untuk Nurul karena tadi ia sudah berpesan pada sang istri kalau dia yang akan membukakan pintu mobil. Begitu pintu mobil dibuka, Alvaro langsung mengulurkan tangannya dan membantu Nurul keluar. Bisa ia rasakan tangan istrinya itu begitu dingin dan ia langsung menggenggam dengan erat mencoba memberikan kekuatan dan ketenangan agar Nurul bisa bersikap rileks.


Begitu kaki Nurul menginjak tanah, Alvaro langsung menutup pintu mobil dan menguncinya lalu ia mengantongi kunci mobil tersebut.


Nurul refleks mengalungkan tangannya di leher Alvaro karena tiba-tiba saja Alvaro membawanya dalam gendongan ala bridal style. Kedua mata mereka saling bertatapan dan Alvaro menyunggingkan senyumannya sambil melangkah menuju ke gubuk yang dulu pernah menjadi saksi penyatuan mereka untuk pertama kalinya.


Seseorang yang ditugaskan Alvaro untuk menjaga gubuk itu hingga mereka tiba pun membukakan pintu. Alvaro kemudian meminta anak buahnya itu untuk pergi karena ia tidak ingin kesenangannya diganggu oleh kehadiran orang lain walaupun ia sudah memasang alat kedap suara pada kamar dalam gubuk tersebut.


Dengan sedikit sulit Alvaro mengunci pintu dan membawa Nurul masuk ke dalam kamar tersebut. Ingatan Nurul membawanya pada peristiwa empat tahun silam dimana ia kehilangan kehormatannya secara paksa di tempat ini oleh pria yang berdiri sambil menggendongnya ini.


Tanpa membuang masa Alvaro langsung mengecup bibir Nurul dan melu-matnya dengan lembut namun sedikit menuntut hingga ia meletakkan Nurul di atas tempat tidur, ciuman itu tidak ia lepaskan sama sekali. Dan setelah Alvaro mengajarkan Nurul kursus singkat bericuman yang tidak membuat stok udara dalam paru-paru Nurul habis, istri pendeknya itu sudah bisa membalas ciumannya dengan benar.


Alvaro menindih Nurul, ciuman itu ia lepaskan dan ia tersenyum sambil menatap wajah cantik Nurul yang kini memerah entah karena malu atau karena rangsangan yang mulai menyebar ke tubuhnya.


Alvaro membelai wajah Nurul dengan jari telunjuknya, menyusuri garis wajah itu dengan tatapan mendamba. Nurul hanya bisa diam dan sesekali ia menahan napas. Ia tidak bisa memungkiri jika saat ini tatapan Alvaro menjelaskan bahwa suaminya itu ingin mengambil haknya.


Nurul yang sudah lebih dewasa dari usianya ketika ia kehilangan kehormatannya itu pun tidak akan menolak atau bersikap kekanak-kanakan karena ia tahu sudah sepantasnya Alvaro mendapatkannya. Bukankah itu salah satu guna dari menikah?


"Lu cantik, gue suka sama lu Aina. Maaf kalau gue belum terbiasa menggunakan kata aku kamu tapi gue usaha ya. Gue udah terlalu nyaman ngomong sama lu kayak gitu," ucap Alvaro yang mencoba menetralisir ketegangan Nurul.


Alvaro bisa melihat jelas jika istrinya ini sangat tegang dan Alvaro harus pandai membaca situasi dan memainkannya. Ia ingin saat mereka bercinta nanti, Nurul dalam keadaan rileks dan bisa menikmati permainannya.


Nurul hanya membalas ucapan Alvaro tersebut dengan senyuman. Alvaro yang suka saat melihat Nurul tersenyum karena menampilkan dua lesung pipi yang cantik itu kembali terbakar gairah. Ia langsung mendaratkan ciumannya di bibir Nurul dan kali ini ciuman itu sangat menuntut. Nurul bahkan kesulitan mengimbanginya.


Napas Nurul terengah-engah begitu Alvaro melepaskan ciumannya. "Hehehe, kau terlalu menggoda hingga aku begitu gemas denganmu," ucap Alvaro yang mendapatkan lirikan tajam dari Nurul. "Baiklah sayang, acara akan segera dimulai dan sebaiknya kau mempersiapkan dirimu dan … jangan tegang, oke!"


Tanpa menunggu persetujuan Nurul, Alvaro kembali melu-mat bibirnya dengan ciuman yang penuh gairah serta tangannya mulai bergerak mengeksplor setiap inci tubuh Nurul yang masih terbungkus gaun.


Nurul merasakan desiran aneh dari dalam tubuhnya, ia merasa panas dan geli tetapi ia menikmatinya. Ciuman Alvaro tersebut kini mulai mengabsen seluruh wajah Nurul dengan tangannya yang sudah berada di dalam gaun Nurul, mengelus perut mulus istrinya itu dengan gerakan yang membuat Nurul semakin tak bisa menahan gejolak rasa yang tidak pernah ia rasakan.


Dulu … ketika ia dan Alvaro melakukannya, saat itu Nurul tidak dalam keadaan siap dan sangat marah hingga ia tidak menikmatinya dan kini ia memasrahkan dirinya tetapi bukan dalam keadaan terpaksa melainkan ia pasrah dengan apa yang akan Alvaro lakukan dan juga menikmatinya.


Sebuah desa-han manja lolos dari bibir Nurul begitu bibir Alvaro menelusuri leher jenjangnya. Mata Nurul sesekali tertutup karena mencoba menahan perasaan yang membuncah dari dalam tubuhnya.


"Alvaro!" lirih Nurul saat suaminya itu berhasil meloloskan gaun yang ia kenakan.


Mata Alvaro mulai tertutup kabut gairah ketika ia berhasil melepas kaitan kain penutup terakhir yang menutupi bagian atas istrinya. Alvaro menelan salivanya dengan sulit, kemudian ia segera membuka kemejanya dan melemparkannya ke sembarang arah.


Nurul yang merasa malu, refleks menutupi kedua gundukan dadanya yang kini terpampang nyata di depan Alvaro. Alvaro menyeringai, dengan sekali gerakan ia berhasil menyingkirkan tangan Nurul dari dadanya.


Alvaro kemudian mengecup pipi Nurul, satu tangannya ia tautkan dengan tangan Nurul sedangkan satu tangan Nurul ia arahkan untuk memeluk lehernya.


"Kau sangat indah sayang, aku menyukai semua yang ada padamu," bisik lirih Alvaro di telinga Nurul kemudian ia mengecup telinga Nurul dan membuat gerakan yang membuat Nurul mende-sah.


"Alvaro," lirih Nurul.


"Ya sayang, ini aku. Aku akan membawamu ke bulan," balas Alvaro yang begitu bersemangat setiap kali Nurul mende-sah dan menyebut namanya.


Alvaro kembali mengecup singkat bibir Nurul, ia melu-mat sesaat kemudian ia lepaskan dan ia ulangi lagi sebab itu membuat Nurul ketagihan dan tak sadar Nurul justru mencari-cari bibir Alvaro untuk ia sesapi.


Alvaro melepaskan tautan tangannya bersama Nurul dan kini kedua tangan Nurul memeluk leher Alvaro dan karena Nurul sudah dibuat candu oleh ciuman Alvaro, Nurul menarik leher Alvaro agar ciuman mereka semakin dalam dan Alvaro tentu saja menyeringai senang.


Nurul memperdalam ciumannya ketika jari Alvaro mulai bermain di area bawah, ia berusaha menahan rasa aneh yang seakan ia akan mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya menuju ke area yang sedang asyik dimainkan oleh Alvaro.


Sadar jika Nurul saat ini hendak mencapai pelepasan pertamanya, Alvaro justru melepas ciuman yang mati-matian Nurul pertahankan itu dan langsung membenamkan wajahnya di gundukan indah milik Nurul.


Tubuh Nurul melengkung ketika Alvaro mulai bermain di dua gundukan itu. Nurul sudah tidak peduli lagi dengan suara aneh yang keluar dari mulutnya, sesuatu yang bergejolak di bawah sana membuatnya tak sadar meracau ini dan itu.


"Va-roh, ada yang mau ke-luar," ucap Nurul dengan tubuh gemetar hebat menahan gelombang rasa yang baru pertama kali ia rasakan. "Hentikan Varo, gue udah nggak tahan. Hentikan!" lirih Nurul namun Alvaro tidak mempedulikan bahkan ia semakin menambah kecepatan tangannya di bawah sana dan juga ia menyapih dengan begitu rakusnya hingga Nurul tidak kuasa lagi menahan gejolak itu dan mendapatkan pelepasannya. Wajahnya kini berkeringat dan Alvaro melepaskan permainannya sambil tersenyum puas pada istrinya.


Wajah Nurul terlihat lemas, Alvaro menjeda permainannya dan ia sibuk menikmati wajah cantik Nurul yang saat ini berada di dalam kunkungannya. Hanya untuk beberapa detik saja, kini Alvaro turun ke bawah dan menyesali cairan yang baru saja keluar dari tubuh Nurul hingga membuat Nurul kembali gelisah.


Seumur-umur gue main sama cewek, gue paling anti ngelakuin hal ini. Gue jijik tapi gue udah pernah janji ke diri gue sendiri kalau itu istri gue, pasti gue bakalan rasain. Dan gue nggak nyangka kalau cewek itu adalah elu Aina. Bisa sih gue artikan ini sebagai save the best for the last, setelah gue berkelana dan akhirnya gue emang memilih yang terbaik buat jadi pendamping gue. I love you Aina, nyonya Alvaro Genta Prayoga.


Nurul yang sudah bilang kendali kini menatap deg-degan pada Alvaro yang saat ini berlutut sambil menatapnya, Nurul tahu apa yang diinginkan Alvaro dan ia pun mengangguk karena ia bisa apa sedangkan sampai saat ini Alvaro masih memainkan dua gundukannya hingga Nurul begitu menginginkan tindakan lanjutan dari Alvaro.


"Sayang, bersiap, aku akan masuk!" bisik Alvaro ketika ia membenamkan kepalanya di leher Nurul. Tidak ada waktu bagi Nurul untuk menghindar ketika dengan perlahan Alvaro melakukan penyatuan.


Nurul memeluk erat tubuh Alvaro karena merasakan sakit hampir seperti yang dulu pernah ia rasakan untuk yang pertama kalinya. Alvaro sedikit mengumpat dalam hati karena ia tidak menyangka milik Nurul begitu sempit namun umpatan itu berubah menjadi sebuah senyuman manis karena ia tahu, Nurul hanya sekali melakukannya dan itu bersamanya.


Sesuatu yang berdenyut di bawah sana membuat kepala Alvaro sedikit pusing, ia kemudian mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan dan menjangkau semua yang bisa ia jangkau di tubuh Nurul. Istrinya itu terus mende-sah menyebut namanya berkali-kali hingga membuat Alvaro semakin terbakar gairah.


"Aina, gue cinta sama lu, gue cinta," racau Alvaro yang kini semakin mempercepat gerakannya.


"Gue juga cinta sama lu Alvaro. Uhh … kenapa rasanya seaneh ini? Alvaro Genta Prayoga, lu apain gue ini? Huhuu … kenapa lu nyiksa gue, uhh …."


"Tapi lu suka, 'kan? Aina sumpah lu nikmat banget," timpal Alvaro yang semakin mempercepat gerakannya.


Keduanya terus bergerak sesuai intuisi mereka dan suara erangan juga desa-han terus menggema di dalam kamar itu hingga hampir satu jam keduanya pun mencapai pelepasan.


Alvaro mengecup dahi Nurul, "Terima kasih sayang. I love you," bisik lirih Alvaro yang kemudian ia berbaring di samping Nurul sambil memeluk istrinya yang sedang mencoba mengatur pernapasannya.


Alvaro berbaring menyamping sambil memandangi Nurul yang kini wajahnya dibanjiri peluh, ia menyekanya dan dan menyelimuti tubuh mereka hingga menutup leher.


"Istirahat, aku akan jagain kamu," ucap Alvaro, ia mengecup lembut bibir dan dahi Nurul.


Dua menit kemudian …


Nurul yang baru saja memejamkan matanya dibuat tersentak begitu Alvaro menyingkap selimut tersebut dan kini ia menarik tubuh Nurul hingga jatuh tepat berada di atasnya.


"Kamu apa-apan sih?" tanya Nurul yang masih terkejut.


Alvaro menyeringai, "Waktu istirahat sudah selesai sayang. Sekarang kita akan melanjutkannya lagi dengan kau yang memimpin," ucap Alvaro yang membuat mata Nurul terbelalak.


"Tapi ini bahkan belum ada lima menit," protes Nurul.


"Semalam aku 'kan sudah bilang kalau aku membebaskanmu untuk tidur dan beristirahat karena hari ini kita akan memulai kerja rodi. So, just do it and move baby!"


...****************...


Heihei ... Aku nggak pandai buat cerita kayak gitu dan mohon maaf apabila tidak sesuai ekspektasi 🙏🙏🤣🤣🙈🙈