
Dia pikir menikah segampang itu.
Ucapan itu hanya Nurul keluarkan di dalam hati saja. Jika ia terus meladeni Alvaro maka sampai besok pagi pun Nurul yakin Alvaro tidak akan berhenti berceloteh. Malam sudah semakin larut, ia takut bukannya pulang ke rumah tapi Alvaro justru akan mengajaknya melipir entah kemana. Walau bagaimanapun ia pernah trauma terhadap perlakuan Alvaro padanya. Nurul tetap harus mawas diri.
"Nggak usah ngawur. Lu mungkin udah ngantuk dan malam udah makin larut. Ayo kita pulang dan gue nggak mau kita dituduh macam-macam sama orang tua gue," ucap Nurul, ia tidak menanggapi ucapan Alvaro yang segampang itu mengajaknya menikah.
Alvaro berdecak, "Ya kalau gue juga nggak masalah kalau misalnya orang tua lu nuduh kita abis ngelakuin yang macam-macam. Justru bagus dong, pasti kita langsung dinikahin," ujar Alvaro sambil menaikturunkan alisnya.
"Gue mah ogah!"
Lain di mulut lain pula di hati dan apa yang dikatakan hati nyatanya raut wajah turut menggambarkannya. Mulut Nurul memang berkata tidak tapi wajahnya kini bersemu merah. Dengan cepat Alvaro mengambil ponselnya lalu mengaktifkan kamera. Ia mengecup pipi Nurul dan memotretnya.
Alvaro terkekeh melihat hasil tangkap gambarnya itu dimana ia tersenyum sambil mengecup pipi Nurul sedangkan wajah Nurul jelas terlihat kaget.
"Alvaro!"
"Apa sayang?"
Blusshhh ….
Nurul tidak jadi melanjutkan ucapannya, ia lebih memilih diam agar tetap waras. Merasa gemas, Alvaro mengacak-acak rambut Nurul kemudian ia mengajak Nurul berpindah ke jok depan.
Saat Nurul keluar ia melihat Alvaro kembali menghampiri polisi dan entah apa yang mereka bicarakan tak lama kemudian Alvaro kembali lagi. Ia mengajak Nurul untuk segera masuk dan mereka kembali ke kediaman Emrick.
Sepanjang perjalanan Alvaro tidak melepaskan genggaman tangannya dari Nurul. Setiap kali Nurul menolak dengan alasan Alvaro tidak akan fokus menyetir, pria itu akan berkata bahwa ia akan kembali besok jadi ia harus memanfaatkan momen.
Sebenarnya dalam hati Nurul sedih karena kebersamaan mereka harus berakhir secepat ini. Namun siapalah ia yang akan menahan Alvaro untuk tetap tinggal dengannya.
Alvaro yang menangkap raut wajah sedih itu pun menyunggingkan senyuman.
"Aina, nikah yuk."
Nurul yang sedang galau itu sontak menoleh ke arah Alvaro. Ia menatap datar pada sosok yang sudah beberapa kali mengajaknya menikah.
"Lu pikir nikah segampang itu?" ucap Nurul ketus.
Alvaro menghentikan mobilnya, "Ya iyalah. Gue lamar lu terus kita nikah. Gampang 'kan. Lu juga nggak perlu khawatir soal mahar, tenang aja gue masih kaya dan dalam sekejap semua pasti akan siap. Lu tinggal bilang mau mahar apa terus lu mau bulan madu kedua dimana," ucap Alvaro panjang lebar namun ada kalimatnya yang membuat Nurul mengernyitkan dahinya.
"Bulan madu kedua?" tanya Nurul bingung.
Alvaro yang paham dengan apa yang sedang menjadi kebingungan Nurul itu pun langsung meraih tangan Nurul yang sedang ia genggam itu, ia mengecupnya lembut dan sangat hati-hati.
"Ya kedua. Yang pertama udah 'kan?"
Alvaro menatap Nurul dengan intens, ia tahu ketika ia menyatakan hal ini Nurul pasti akan terlihat kejadian dimana ia dengan kejamnya merenggut kesucian Nurul padahal gadis itu dulu bahkan sempat mengiris pergelangan tangannya demi bisa menyelamatkan diri dari kebejatannya.
Alvaro tergugu, ia sendiri juga merasakan sakit atas apa yang ia perbuat. Merasa begitu menyesal setelah semua yang ia lakukan tanpa pikir panjang dan berakhir dengan pesakitan yang harus ia bayar mahal selama bertahun-tahun.
"Maafin aku Aina, dulu aku begitu jahat padamu. Aku menyesal," tutur Alvaro lembut. Ia bisa melihat wajah itu sarat akan kesedihan. Ia merutuki mulutnya sendiri yang harus kembali mengingatkan Nurul akan kejadian kelam empat tahun yang lalu.
Nurul menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum ia menatap Alvaro lagi. Ia harus bisa melupakan semuanya dan memulai hidup barunya. Ia sudah mendapatkan jawaban dari semua tanya yang ia pendam selama empat tahun ini. Cintanya terbalaskan dan ia tidak hancur seorang diri. Sang penghancur kehidupannya juga turut merasakan kehancuran itu. Tuhan memang maha adil dan Nurul yakin akan ada pelangi setelah badai dan kalau pun pelangi tak kunjung datang maka ia yakin badai pasti berlalu. Hujan tak selamanya membasahi bumi.
"Aku udah maafin kamu sejak lama. Aku sudah menjadikan ini sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga. Lagi pula jika aku terus menyesalinya sama halnya dengan aku menyesali kehadiran Aluna dalam hidupku. Sebaiknya jangan mengungkit hal yang membuat kita berdua sakit, mari kita bicarakan hal yang indah-indah saja.
"Lagi pula ... gue nggak suka dengan perubahan lu yang melankolis. Gue lebih kenal dan lebih suka dengan Alvaro yang tengil," ucap Nurul mengakhiri kalimat panjangnya dengan senyuman manis yang membuat Alvaro turut tersenyum.
Mata Alvaro berkaca-kaca, ia terharu dengan ketulusan Nurul barusan dan ia semakin mengakui kalau cinta di hatinya untuk Nurul kini tidak bisa diungkapkan dengan apapun lagi.
"Gue cinta sama lu Aina, gue cinta sama lu," lirih Alvaro kemudian ia membawa Nurul kedalam pelukannya.
Alvaro melepaskan pelukannya kemudian ia mengecup singkat dahi Nurul dan kembali melajukan mobilnya.
.
.
Saat mobil Alvaro terparkir di garasi mobil keluarga Emrick, Danish pun datang dengan mobilnya sendiri. Waktu sudah lewat pukul sepuluh malam dan Danish pun baru kembali entah dari mana.
Danish kaget karena mendapati Alvaro yang keluar dari mobil bersama Nurul. Nurul justru lebih kaget lagi cenderung takut melihat Danish.
"Sorry, tadi gue lihat dia kelaparan di dapur. Jadi gue ajak makan diluar," ucap Alvaro tanpa ditanya.
Danish mengangguk lalu ia mengajak mereka untuk masuk. Wajah Danish terlihat lelah, ia tidak langsung masuk ke kamarnya melainkan duduk di kursi ruang tamu. Nurul yang melihat kakaknya terlihat aneh seperti itu, mengurungkan niatnya untuk segera masuk ke kamar. Ia penasaran kenapa sang kakak tidak terlihat seperti biasanya.
"Ada apa Kak?" tanya Nurul yang kini sudah duduk di samping Danish.
Danish menghela napas, "Kakak tadi bertemu dengan Kriss. Kakak ajak dia bicara baik-baik dan dari yang kakak lihat dia itu seperti nggak peduli gitu mau kasus ini kakak tangani atau tidak. Dia terkesan cuek padahal ini kasus besar lho. Aneh 'kan?" ucap Danish sambil mengingat pertemuannya dengan Kriss tadi.
Beberapa jam yang lalu ....
Danish yang sudah menghubungi Kriss untuk membahas kasus ini pun akhirnya bertemu dan ternyata Kriss juga sedang berada di kota ini. Keduanya sepakat untuk bertemu di sebuah kafe di ruangan VIP.
Sebelum memulai pembahasan, Danish memesan makanan. Keduanya pun makan malam bersama dengan sesekali membahas tentang pekerjaan di kota ini. Sama sekali Kriss tidak menyinggung tentang kasus yang ingin dia menangkan di pengadilan.
"Tuan Kriss, mohon maaf tapi dari hasil penyelidikan kami, saya sangsi jika kasus ini bisa dimenangkan. Saya bukannya meragukan kemampuan sendiri tetapi dari semua data yang sudah kami kumpulkan di lapangan, harta gono-gini dari keluarga Griffin ini seutuhnya milik putri satu-satunya keluarga itu. Dan adapun tuan Ruri Griffin sendiri adalah anak angkat. Walau bagaimanapun kerja keras anda dan tuan Ruri dalam mensukseskan bisnis anda tapi pembagian harta untuk kalian tidak sebanyak pemilik sesungguhnya.
"Saya hanya sekadar mengingatkan karena menurut saya anda dan keluarga anda hanya akan semakin sulit jika nyonya Safira Magdalena Griffin ini menuntut balik. Jika anda ingin mencari firma hukum lain, saya tidak akan mencegah. Tapi sejak dini saya sudah memperingatkan anda tentang kemungkinan ini."
Danish memperhatikan raut wajah Kriss yang terlihat biasa-biasa saja. Ia heran, harusnya pria ini justru akan menegaskan jika ia tidak akan mundur atau malah biasanya para klien akan mengancam dan meminta agar kasus mereka tetap di urus dan dimenangkan apapun caranya. Tapi reaksi Kriss sungguh diluar dugaan.
"Oh begitu ya-" Kriss mengusap dagunya- "Ya jika memang risikonya seperti itu maka ya sudah, sepertinya tidak perlu ada tuntutan lagi. Sebenarnya Tante saya itu sudah baik lho, dia sudah mau berbagi dengan kami yang notabene hanya keluarga angkatnya. Lagi pula saya juga tidak berminat dengan semua ini. Saya sudah punya bisnis yang jauh lebih menguntungkan karena bekerja sama dengan seorang Daniyal Axelle Farezta, pengusaha sukses dan terkaya di negara ini. Jika sudah begitu, sebaiknya kita batalkan saja dan saya juga malas mengurus semua ini. Untung saja anda lebih dulu memberitahukan kepada saya, jadi saya bisa membatalkannya."
Jawaban panjang lebar dari Kriss ini tentu saja membuat Danish melongo sesaat namun sebagai seorang ahli hukum, Danish tidak bisa seratus persen mempercayai ucapan Kriss. Ia juga harus antisipasi, mungkin saja pria licik di hadapannya ini sedang menyusun rencana lain.
"Oh begitu? Saya pikir anda justru akan memaksa kami untuk melanjutkan kasusnya. Mohon maaf sebelumnya, tapi rata-rata kasus seperti ini justru tetap memilih maju daripada membatalkannya," ucap Danish yang memiliki niat terselubung. Ia hanya ingin tahu mengapa secepat itu Kriss membatalkannya. Padahal Danish sudah banyak memikirkan hal-hal untuk membuat Kriss menolak tapi justru di awal pembicaraan pria ini langsung membatalkannya.
"Hahh ... saya sebenarnya malas mengurus hal ini. Karena semua harta ini saya kehilangan sahabat-sahabat saya. Ambisi masa muda membuat saya akhirnya kehilangan mereka yang sangat berarti dalam hidup saya. Saya sadar jika dalam keadaan sendiri dan sunyi sepi saya masih merindukan mereka. Tapi saya juga tahu diri, tidak mungkin kembali lagi bersama mereka setelah apa yang sudah saya lakukan," ucap Kriss mengungkapkan isi hatinya.
Danish bisa melihat wajah Kriss berubah sendu. Namun instingnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres dalam hal ini. Namun merujuk pada cerita Kriss dan ekspresi wajah yang ia tunjukkan, tidak ada yang dibuat-buat dan terlihat natural.
Danish menjadi dilema, namun dalam kebingungannya itu Kriss justru berpamitan untuk pulang lebih dulu sedangkan Danish memilih tinggal untuk memikirkan percakapan singkat mereka tadi.
Saat ini ....
"Bro, apa mungkin Kriss melakukan ini semua dibawah telunjuk om Ruri?" terka Alvaro sambil menepuk pelan pundak Ikram.
Ikram sendiri hanya diam, ia berpikiran sama dengan Danish, ada hal yang mengganjal tapi entah apa.
"Gue rasa Kriss memang menyesal dengan semua hal yang dulu pernah dia perbuat. Dengan mundurnya Kriss seperti ini justru sudah menunjukkan kalau dia emang menyesal Bro," imbul Alvaro lagi.
"Lu bisa nggak diam dulu!" sentak Ikram dan Alvaro langsung kicep. "Ini nggak semudah yang lu bayangin Ro. Gue feeling ada yang nggak benar disini. Lu aja contohnya, dia bahkan berani sabotase produk lu waktu itu. Ini nggak sesederhana itu," ujar Ikram dengan otaknya yang masih terus berpikir.
"Ikram benar, tidak mungkin dalam sekejap Kriss langsung berubah pikiran. Kecuali -"
Semua mata kini tertuju pada Danish dengan tatapan penuh tanya.
"Kecuali kalau dia sudah tahu kalian sedang bersamaku disini."