GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
181


Bruukk ...


Aluna meringis ketika ia bertabrakan dengan seseorang saat berlari menjauh dari Frey. Ia langsung meminta maaf namun begitu tahu siapa yang ia tabrak, wajahnya langsung berubah kesal. Ia hendak pergi namun Leon langsung menarik tangannya hingga Aluna kembali ke hadapan Leon.


"Lu kenapa?" tanya Leon karena melihat wajah Aluna tidak baik-baik saja. Oh andai saudaranya Keenan tidak menargetkan gadis ini sebagai sasaran Leon, maka sudah bisa dipastikan ia akan mengencani dan menjadikan Aluna pacarnya karena gadis ini sangat cantik.


Leon juga sudah mencari tahu tentang Aluna dari teman sebangkunya, dan temannya itu mengatakan bahwa Aluna selain cantik juga sangat berprestasi baik akademik maupun non-akademik.


Memang benar karena selama ini Aluna selalu berhasil mengharumkan nama sekolahnya sebagai perwakilan Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi dan juga menjadi pemain tenis lapangan yang selalu berhasil menjadi juara.


Benar-benar girlfriend material.


"Lepas Leon. Jangan dekat-dekat sama gue karena kita nggak sedekat itu sampai lu bebas sentuh-sentuh gue!" ucap Aluna sarkas.


Leon sontak melepaskan tangannya yang memegang pergelangan tangan Aluna. Ternyata benar lagi kata Keenan kalau Aluna menang menegaskan jika ia tidak suka adanya skinship walaupun mereka akrab atau tidak. Dan tentu saja itu adalah peringatan dari Alvaro sebab ia tidak ingin anaknya menanggung karma buruknya semasa muda.


"Jangan dekat-dekat gue!" ucap Aluna lagi kemudian ia bergegas ke kantin karena ia yakin sejak tadi Cici sudah menunggunya.


Leon menatap punggung Aluna yang menjauh meninggalkannya. Bibir manis pria itu tersenyum kemudian ia menghirup aroma tangannya yang tadi sempat memegang Aluna.


"Manis ... ah sial! Kalau kayak gini bisa-bisa gue yang bucin sama Aluna. Niatnya mau balas dendam eh kenapa justru gue merasa kalau gue yang bakalan jatuh cinta. Cewek kayak Aluna ini adalah tipe gue banget. Duh, Keenan bakalan marah banget nih kalau gue sampai jadiin Aluna pacar beneran," gumam Leon dengan tatapan tetap lurus ke depan walau Aluna sudah tidak terlihat lagi di pandangannya.


Ia pun memutuskan untuk menyusul Aluna ke kantin. Entah mengapa seperti ada magnet yang menariknya untuk terus mendekat ke arah Aluna.


Sedangkan di kantin, Cici sudah merasa kesal karena Aluna begitu lama. Baru saja ia akan memulai makan, sahabatnya itu pun masuk ke area kantin. Cici menghela napas kemudian ia menggembungkan pipinya sambil memantapkan kesal pada Aluna yang sudah duduk di sampingnya.


Aluna tentu paham jika sahabatnya ini sedang kesal. "Maaf Ci. Tadi ada si anak baru nahan gue. Ngeselin deh!"


Cici mengerjapkan matanya beberapa kali. Harusnya ia yang kesal pada Aluna namun ternyata sahabatnya ini juga datang dengan membawa kekesalan. Dan oh, Aluna menyebut anak baru, Cici lansung tanggap siapa yang dimaksud oleh Aluna.


"Dia ngelakuin apa sama lu? Lu kesal banget sepetinya," tanya Cici penasaran. Ia kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Sebelum menjawab, Aluna lebih dulu memasukkan makanan ke dalam mulutnya juga. "Sok akrab," jawab Aluna singkat.


Cici menghentikan sendoknya di udara, "Ya bagus dong. Itu emang karena setiap cowok yang lihat lu bawaannya pingin jadiin lu pacar. Lu nggak sadar atau gimana sih, Luna?" ujar Cici yang membuat kunyahan Aluna terhenti.


Nggak semua Ci, Frey nggak gitu ke gue.


Aluna hanya bisa menjawab dengan senyuman miris, ia melanjutkan lagi makannya namun kembali dibuat terkejut dengan kehadiran Jasson.


"Hai Luna, boleh gabung ya," ucapnya yang sudah duduk dan meletakkan makanannya di atas meja sehingga tidak ada alasan bagi Aluna dan Cici untuk menolaknya.


Kedua gadis cantik itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka saling melirik penuh arti. Pembahasan tentang Cici yang membatalkan taruhan itu belum menemukan kesepakatan dan ia tahu dari cara Aluna menatapnya, sahabatnya itu seolah memberi kode jika ia ingin taruhan mereka dilanjutkan. Cici hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda jika ia pun setuju saja dengan keinginan Aluna.


Belum juga mereka mengobrol, satu sosok lagi datang dan bergabung di meja mereka. Mood Aluna langsung buruk begitu tahu Leon mengambil posis di sampingnya.


"Dimana-mana ada lu. Bukannya gue tadi bilang jangan dekat-dekat sama gue? Lu punya telinga atau enggak sih? Atau lu butuh periksa ke ahli THT?" sungut Aluna, ia menghentikan makannya karena memang sudah habis.


Leon tidak menanggapi, ia hanya menopang dagunya sambil menatap Aluna dan tak lupa senyumannya yang manis. "Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga, lu cantik banget," ucap Leon tanpa sadar.


Wajah Aluna memerah, ia kemudian memalingkan wajahnya sedangkan Leon langsung tersadar ketika Jasson berdehem keras.


"Nggak di kelas, nggak di kantin, dia selalu saja menjengkelkan," celetuk Jasson yang ternyata satu kelas dengan Leon di kelas sebelas.


Leon tidak peduli dengan ucapan Jasson, ia sibuk merutuki dirinya yang entah kenapa bisa tersihir oleh pesona Aluna. Sedangkan gadis yang sedang tersipu malu itu mendadak heran karena Leon bahkan tahu nama lengkapnya. Jelas saja, karena semua informasi tentang Aluna sudah dikantongi oleh Leon saat ia masuk di sekolah ini dan sejak Keenan memintanya untuk balas dendam.


Leon tahu dimana rumah Aluna kecuali Naufal yang ternyata adik Aluna. Ia hanya tahu tentang Frey yang dikenal sebagai saudara Aluna.


Dia ini ganteng banget, boyfriend material banget. Tapi gue ngerasa aneh setiap kali dekat dengan dia. Gue ngerasa sikap Leon ini ada maksud terselubung. Aihh ... gue udah kayak kakek Deen kalau kayak gini. Eh tapi itu keuntungan gue sendiri sih karena gue bisa membaca ekspresi seseorang dan sedikit banyak bisa tahu bahasa tubuh dan apa yang mereka pikirkan hanya lewat tatapan mata. Oh Aluna, lu terbaik!


"Ci, balik ke kelas yuk," ajak Aluna dan Cici hanya bisa menuruti keinginan Aluna dengan berat hati sebab ia sedang terpesona dengan ketampanan Leon yang baru ia lihat karena ia tadi hanya mendengar cerita dari teman sekelas saja.



Leon sekali lagi hanya bisa menatap punggung Aluna yang meninggalkan kantin. Ia bingung sendiri karena menurut cerita Keenan, gadis itu adalah gadis yang ramah dan cepat akrab. Tidak sombong dan sangat ceria. Namun mengapa justru sikapnya berbeda terhadap dirinya?


Andaikan saja Leon tahu, semua sikap manis Aluna pada saudaranya alias Keenan adalah karena dulu Keenan adalah salah satu dari target taruhan Aluna dan Cici, maka ia tidak akan heran dengan sikap dingin Aluna padanya.


Dari jauh Frey hanya bisa melihat dua pria yang sedang mendekati Aluna. Ia hanya bisa menatap dari kejauhan sambil berharap semoga mereka tidak memiliki niat buruk terhadap Aluna.


Ia segera pergi begitu tahu Aluna juga pergi dari kantin. Ingin rasanya ia bolos dan segera pergi ke lembaga pemasyarakatan untuk bertemu papinya akan tetapi ia tidak bisa melakukannya karena di sekolah masih ada Aluna yang harus ia jaga.


Di belakang Frey ada Riani yang sedari tadi memperhatikan gelagat Frey yang selalu menatap dan memantau Aluna. Dulunya Riani sempat mengira jika Frey dan Aluna memiliki hubungan yang tidak biasa, akan tetapi setelah menyelidiki jika mereka memang tinggal serumah lalu keduanya sama-sama memanggil Alvaro dan Nurul sebagai orang tua mereka, Riani menepis pemikirannya tersebut.


Gadis cantik itu segera mendekati Frey yang berjalan menjauh. Ia memasang senyumannya yang sangat manis namun sayang Frey justru melangkah menjauh. Tak ingin kehilangan kesempatan, Riani segera menghadang jalan Frey dan semua itu tak luput dari pandangan Aluna. Hatinya terasa remuk saat melihat Frey dan Riani bersama dan dari arah pandang Aluna, terlihat seolah Frey sedang berbicara serius dengan Riani sedangkan dari arah Frey sebenarnya pria itu sedang mengumpati Riani.


Sikap Aluna tak luput dari pandangan mata Cici dan juga Leon yang memang mengejar Aluna karena ia ingin menawarkan pulang bersama dengan berjalan kaki lagi seperti tadi pagi.


"Frey! Gue cinta sama lu!" teriak Riani, ia sudah geram dan tidak ingin menahan lagi. Mungkin dengan ia berteriak di depan banyak orang maka Frey akan berpikir dua kali untuk menolaknya. Apalagi di sekolah ini Riani dikenal sebagai salah satu siswi cantik selain Aluna dan Cici.


Kaki Aluna seolah terpaku di bumi. Ia gugup sendiri menanti jawaban Frey. Sorak-sorai memenuhi tempat tersebut dimana mereka berteriak untuk Frey menerima cinta Riani. Gadis itu tentu saja semakin senang karena banyaknya pendukung.


Frey, please seenggaknya lu nggak semakin hancurin hati gue kali ini.


Aluna membatin, ia menjerit dalam hati berharap pria favoritnya itu tidak menerima cinta Riani.


Dengan gaya coolnya Frey mengangkat satu tangannya hingga suara-suara sumbang tersebut perlahan menjadi tenang dan senyap.


"Untuk yang kesekian kalinya, gue nggak cinta sama lu," ucap Frey menohok.


Riani menggeleng, ia tidak percaya Frey bahkan tega menolaknya di depan banyak orang. "Kenapa Frey? Kenapa lu nggak pernah mau terima cinta gue? Kurang gue apa Frey? Toh selama ini juga lu nggak punya pacar. Apa alasannya Frey?" teriak Riani, lebih baik ia semakin malu saja asalkan ia tahu alasan Frey selama ini tidak bisa luluh padanya.


Frey mengangkat sebelah alisnya. Ia merasa seolah Aluna sedang menatapnya dari kejauhan. Ia pun tersenyum tampan hingga membuat siswi-siswi gagal fokus karenanya.


"Maaf Riani, sebenarnya gue udah punya pacar. Ah tidak, lebih tepatnya gue sudah memiliki tunangan dan kami bertunangan sejak usia kami masih tiga tahun. Setelah lulus sekolah mungkin kami akan segera menikah dan kalian semua termasuk lu Riani, kalian bakalan dapat undangan pernikahan kami. Tunggu saja," ucap Frey dengan lantang hingga semua yang ada di sekitarnya terkejut bukan main.


Air mata Aluna menetes, bibirnya tersenyum dan ia bergegas lari ke kelas karena entah mengapa saat ini ia merasa bahagia dan kesal disaat yang bersamaan.