
Pasca Aluna dan Frey meminta pihak sekolah memberikan mereka homeschooling, keduanya tidak lagi pergi ke sekolah dan hanya berada di rumah saja. Hal ini juga membuat keluarga Prayoga merasa tenang karena mereka selalu bisa memantau Aluna. Usia Aluna yang begitu muda dan sedang hamil membuat perhatian mereka berlebihan. Belum lagi morning sickness yang dialami olehnya, memang solusi terbaik adalah berada di rumah.
Frey selalu siaga. Ia juga tetap fokus belajar dan bekerja karena minggu depan mereka akan melaksanakan ujian dan Aluna meminta agar mereka ujian di sekolah saja. Kepala sekolah dan guru-guru yang sudah tahu tentang kebenaran Aluna dan Frey tidak merasa keberatan, mau menolak setuju pun mereka tentu tidak berhak.
Usia kandungan Aluna yang sudah memasuki Minggu ke delapan itu sudah mulai membaik, khususnya morning sickness itu sudah berkurang sejak beberapa hari yang lalu hanya saja Aluna masih suka sensitif pada berbagai bau serta makannya sangat pilih-pilih.
Frey harus selalu siaga karena keinginan istrinya itu sungguh aneh bin ajaib. Seperti saat ini, Frey dan Aluna sedang bersantai di pinggir kolam renang. Hari mulai sore dan sejak hari ini mereka tidak lagi mendapat bimbingan dari para guru karena sudah memasuki minggu tenang.
"Sayang, aku lapar," ucap Aluna sambil memegangi perutnya yang terus saja bergemuruh.
Frey membelai wajah Aluna, ia tersenyum manis namun dalam hati ia mulai waspada karena pasti istrinya akan meminta sesuatu yang mungkin akan susah untuk didapatkan.
"Mau makan apa sayang? Anak papi juga mau makan apa nih?" tanya Frey sambil mengelus perut Aluna.
Tanpa keduanya ketahui, dibelakang mereka ada Alvaro dan Nurul yang sedang memperhatikan keintiman mereka. Nurul merasa lucu dan juga senang, kedua anaknya itu sedang berbagi kasih sayang dan sikap manis Frey sebagai calon ayah muda itu sangat menggemaskan.
"Yang, ngamar yuk!" ajak Alvaro yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang Nurul.
Nurul memutar bola matanya, suaminya ini tidak berubah sedikitpun. Alvaro tetap Alvaro, setiap kali melihat apapun yang berbau romantis maka detik itu juga ia akan datang pada Nurul untuk meminta haknya. Dan Nurul dengan senang hati memberikannya, tak peduli apakah saat itu mereka berada di kantor, di butik ataupun di rumah. Bahkan Alvaro akan mencari penginapan jika mereka di perjalanan jika hasratnya tiba-tiba datang.
Keduanya selalu saja seperti pengantin baru. Dan itu adalah hal yang disyukuri oleh Nurul karena suaminya itu hanya untuknya saja dan selalu meratukan dirinya. Nurul ikhlas lahir batin melayani Alvaro daripada suaminya itu akan mencari hiburan di luar sana. Lagi pula sejak dulu hingga kini, permainan Alvaro selalu sukses membuat Nurul candu. Jadi tidak ada alasan baginya untuk menolak setiap kali Alvaro menginginkan mereka bercinta.
"Udah mau punya cucu juga masih aja mesum. Ya udah ayo," ujar Nurul dan Alvaro yang gemas mendengar jawaban Nurul itu langsung mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya menuju ke kamar mereka.
Tanpa melewatkan sedetikpun, Alvaro langsung menyambar bibir Nurul sambil menaiki anak tangga. Nurul membulatkan matanya, ia kaget sekaligus kesal dengan sikap Alvaro yang tidak memandang tempat. Dan kekhawatiran Nurul terbukti ketika mereka berada di lantai dua, disana ada kedua mertuanya yang baru saja hendak turun ke lantai bawah memergoki kemesraan mereka.
"Ingat umur Alvaro, udah mau punya cucu masih aja nggak berubah. Sekarang itu giliran anak kalian yang mesra-mesraan. Heran, udah mau dapat gelar kakek masih aja mesum."
Nyinyiran Genta Prayoga bagaikan angin lalu ditelinga Alvaro, ia tidak peduli karena saat ini ia sudah tidak sabar berolah raga bersama Nurul. Ia bahkan tidak peduli saat Nurul menggigit dadanya karena merasa kesal dengan sikap Alvaro yang membuatnya malu.
Genta dan Yani geleng-geleng kepala ketika Alvaro melewati mereka begitu saja. Bisa mereka lihat wajah Nurul yang begitu malu sedangkan suaminya sendiri tidak punya malu.
"Kasihan menantu kita, Alvaro benar-benar tidak pernah bosan. Dan itu juga sebenarnya bagus, rumah tangga mereka selalu harmonis dan tidak pernah bertengkar hebat sekalipun," ucap Yani sambil bergandengan tangan bersama Genta menuruni anak tangga.
Genta menimpali ucapan Yani dengan mengatakan hal yang sama. Keduanya saat ini hendak pergi menemui Ben karena ada masalah yang ingin Ben bicarakan.
Disana sudah ada Ezio Ragnala — ayah Nandi — kakek Gavin, mereka berencana akan mengurus masalah bersama Brandon. Masalah ini adalah milik mereka, sangat disayangkan jika cucu mereka justru kembali mendapatkan imbasnya.
Yani melirik ke arah pintu samping dimana ada Aluna dan Frey yang sedang bermesraan di pinggir kolam. Ia tersenyum, dalam hati ia berdoa agar kedua cucunya itu miliki hubungan yang harmonis seperti ia dan Genta juga seperti Alvaro dan Nurul.
Sementara itu, Frey masih menunggu jawaban Aluna yang sedari tadi sedang memikirkan makanan apa yang ia inginkan.
"Sayang, Frey ... kita ke kafe aja, tapi kafe yang dikelola sama Leon. Aku mau makan disana sekalian kita lihat gimana kinerja Leon," ucap Aluna.
Frey menghela napas lega, ia bersyukur karena Aluna tidak meminta yang aneh.
Tepat di hari dimana Aluna dan Frey mengakui hubungan mereka di sekolah, Leon datang ke kediaman Prayoga untuk mengunjungi mereka. Ia datang untuk meminta maaf dan juga ingin menjalin hubungan persahabatan.
Leon tahu tentang Frey yang memiliki usaha dibidang kuliner dan ia tertarik untuk ikut bekerja bersama Frey. Ia ingin belajar berbisnis di tempat Frey karena Leon memang sangat ingin memiliki usaha di bidang kuliner. Hanya saja nanti ia tidak akan bisa meneruskannya mengingat ia adalah pewaris satu-satunya dari sang ayah dan harus mengelola perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Ia hanya ingin merasakan sesaat cita-citanya itu sebelum ia menguburnya dalam-dalam.
Leon sudah membuktikan bahwa ia bisa dipercaya dan karena itu pula Keenan semakin membenci saudaranya ini karena sudah berada di pihak lawan. Leon juga tidak mungkin lagi mencari masalah dengan keluarga Prayoga karena ayahnya merupaka rekan bisnis mereka.
.
.
Frey menatap kesal pada sang istri dan juga memberikan tatapan membunuh pada Leon. Bagaimana tidak, Aluna memaksa agar Leon menyuapinya makan dan itu bukan di ruangan khusus melainkan di meja para pengunjung.
Leon sebenarnya ingin sekali menolak tetapi Aluna memaksa dan merengek. Frey dengan berat hati mengikhlaskan istrinya itu dimanjakan oleh pria lain di hadapannya.
Apes banget nasib gue. Gue nolak ngasih makan istrinya dia ngancam bakalan pecat gue. Eh giliran gue nurut gue malah terancam bakalan dapat hadiah mengerikan dari tatapan Frey. Huhh ... nasib-nasib, keluh Leon dalam hati.
Sementara itu, Frey membiarkan saja Aluna bersama Leon. Ia memang marah akan tetapi semua itu karena Aluna sedang hamil dan ia harus maklum karena mungkin itu bawaan bayi. Lagi pula Leon tidak akan bisa macam-macam dan tidak akan pernah berani menentangnya.
"Lun, gue dalam masalah kalau lu kayak gini. Nggak lihat noh tatapan suami lu ke gue, ngeri banget," keluh Leon ketika mereka hanya berdua saja.
Aluna hanya tersenyum saja mendengar ucapan disertai keluhan itu. Ia tidak peduli dan meminta Leon untuk menyuapinya lagi. Oh andai perasaan Leon itu masih ada seperti dulu, mungkin ia akan sangat senang dan akan berusaha untuk bisa merebut Aluna dari Frey.
Akan tetapi, setelah ia menggali perasaannya lagi, Leon sudah tidak menemukan perasaan yang dulu pernah hinggap di hatinya. Mungkin itu hanyalah sebuah ketertarikan saja karena Aluna sangat cantik dan yang pasti Aluna selalu menolaknya. Mungkin dulu ia hanya merasa tertantang saja, bukan perasaan cinta seperti yang ia pikirkan.
"Makan lagi Leon. Lu mau anak gue nangis di dalam perut karena kelaparan, hah? Bisa-bisa lu bakalan dapat hukuman dari Frey. Pilih mana lu?" ancam Aluna dan Leon pun hanya bisa menuruti saja.
Baru juga dalam perut udah bikin gue susah. Semoga lahirnya nanti nggak bakalan nyusahin gue. Lagi pula itu nggak akan terjadi, setelah lulus sekolah nanti gue bakalan ke luar negeri buat kuliah disana sedangkan anak itu pasti belum setahun, gumam Leon dalam hati, ia kemudian kembali bertugas menyuapi Aluna makan.
Entah mengapa tapi gue suka banget lihat mukanya Leon. Tapi bukan karena gue jatuh cinta, cuma ya suka aja lihat muka Leon. Aiihh ... gue kenapa bisa kayak gini sih? Nanti Frey bisa marah kalau tahu apa yang ada di pikiran gue, haduuhh ...!
Aluna mengeluh dalam hati, bukan tanpa sebab ia mengajak Frey datang ke kafe ini, ia sangat ingin bertemu Leon dan itulah sebabnya mereka sayang ke kafe. Dalam hati Aluna berharap semoga Frey tidak akan tahu apa yang sedang ia pikirkan dan rasakan.
.
.
Alvaro terkapar di samping Nurul, mereka baru saja menyelesaikan dua ronde percintaan. Ia membawa Nurul ke dalam pelukannya dan mengecup mesra puncak kepala sang istri.
Nurul sendiri selalu merasa nyaman di tempat favoritnya yaitu dada bidang Alvaro. Ia sangat suka bersandar dan menyembunyikan wajahnya disana. Keduanya saling berpelukan erat, meskipun masih ingin dan masih kuat, tetapi Alvaro menahannya karena ia mendapat panggilan untuk datang ke rumah keluarga Elard sekarang.
"Udah istirahatnya, Yang? Kita harus siap-siap ke rumah Ikram, aku nggak akan ninggalin kamu karena sepertinya Bastian dan Brandon mulai bergerak setelah Harris berhasil diamankan om Ben," ucap Alvaro.
Beberapa hari setelah mereka mengetahui siapa Harris sebenanrya, mereka menjalankan rencana seperti yang Ben Elard katakan. Dan benar saja, remaja itu datang untuk meminta pertolongan mereka dan ia memiliki bukti kuat dimana mommynya — Farah Anastasya Darwin, mati dibunuh oleh Brandon dan itu akan menjerat pria itu ke dalam jeruji besi.
Mereka tidak akan tinggal diam setelah tahu Harris membocorkan rahasia mereka, apalagi anak itu berada di perlindungan Ben Elard. Mereka sudah pasti akan melakukan penyerangan dan perlawanan agar rahasia mereka tidak sampai ke pihak berwajib di negara tempat mereka tinggal.
"Iya, kalau begitu aku mau mandi dulu," ucap Nurul dan ketika ia beranjak turun dari tempat tidur, Alvaro dengan cepat mengangkat tubuh istrinya itu.
"Mandi bersama, Yang. Hemat air," ucap Alvaro dengan seringai di bibirnya.