
Jessica menatap pasnagan yang saat ini terlihat begitu mesra. Siapa lagi kalau bukan Frey dan Aluna, entah mengapa ia sudah menjadi penguntit Frey semenjak ia bertemu dengan Frey dan jatuh cinta.
Aluna dan Frey memang sedang menghabiskan waktu bersantai di mall setelah bundanya pergi dan papinya yang mendadak menyusul padahal belum ada dua jam bundanya pergi. Bahkan papinya menggunakan jet pribadi yang sangat jarang ia gunakan.
"Aku tidak peduli tentang perbedaan usia kita. Aku tidak peduli kamu punya istri dan akan segera punya anak. Aku tidak peduli meskipun aku harus menjadi perusak rumah tangga orang lain dan aku tidak peduli jika—"
"Tapi aku peduli!"
Jessica tersentak kaget begitu ia menemukan sosok Reyhan yang sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan yang begitu tajam seakan menusuk jantungnya.
"R-reyhan ...."
Reyhan mengangkat sebelah alisnya menatap Jessica yang terlihat ketakutan berhadapan dengannya. Apalagi wajah Reyhan yang terlihat begitu dingin dan penuh penekanan, Jessica seakan tidak memiliki tulang lagi di dalam tubuhnya.
"Bukankah sudah pernah aku peringatkan untuk tidak mengganggu rumah tangga adikku? Mengapa masih melakukannya? Apakah punya banyak nyawa cadangan?"
Ucapan Reyhan tersebut membuat Jessica merinding. Ia tidak menyangka saja mantan kekasihnya ini selalu bisa muncul dimana saja padahal dulu semasa mereka menjalin hubungan Reyhan sangat jarang menemuinya bahkan menghubunginya. Hingga akhirnya Jessica memutuskan untuk selingkuh saja dan Reyhan tidak menahannya untuk mengakhiri hubungan.
"Bukan urusanmu!" ucap Jessica mencoba untuk terlihat tangguh di hadapan Reyhan kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Reyhan.
Dalam hati Jessica berharap bisa segera keluar dari mall ini dan menjauh dari Reyhan. Pria itu sangat menakutkan dan entah bagaimana bisa dulu Jessica terjerat dalam cinta dan pesonanya. Melihat aura Reyhan tadi membuat Jessica merasa akan tertimpa hal buruk jika ia masih berada di sekitar pria itu.
Setelah sampai di basement, Jessica pun segera masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi. Ia takut Reyhan akan mengejarnya walaupun ia tahu itu tidak mungkin. Tidak ada hal yang membuat Reyhan harus menyusulnya dan sepertinya Jessica harus mengalah dulu untuk sementara waktu dan menjauhi Frey. mungkin ia harus menunggu Aluna melahirkan baru ia akan kembali masuk ke dalam kehidupan Frey.
'Tch, Reyhan sialan! Dia selalu saja menggagalkan rencanaku dan bagaimana bisa di berada di belakangku? Apakah dia juga menjadi penguntitku? Sepertinya memang benar kalau aku sudah tidak aman lagi sekarang. Aku harus mengurungkan niatku terlebih dahulu. Nanti pasti ada waktunya untukku masuk ke dalam hidup dan hati Frey.'
Jessica tersenyum lebar sambil menyetir mobilnya. Tak lupa ia menyetel musik di mobilnya, lagu yang sesuai dengan suasana hatinya saat ini dan benar-benar mendukung rencananya.
Sambil bersenandung mengikuti lirik lagu dan bergerak mengikuti irama, Jessica menyetir mobil dengan perasaan bahagia hingga akhirnya ia harus mengerem mobilnya mendadak karena di depannya ada mobil yang mencegat laju mobilnya.
Jessica tidak turun karena baginya pemilik mobil itu yang akan menemuinya sebab ia pasti memiliki kepentingan terhadap Jessica hingga menghalangi jalannya secara tiba-tiba.
Jessica menelan dengan sudah payah salivanya begitu melihat dua orang pria berbadan kekar keluar dari mobil dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam yang melengkapi penampilannya. Ia ingin kabur tapi kedua pria itu sudah berada di dua sisi mobilnya.
Dughh ... Dughh ... Dughh ...
Dua pria itu menggedor kaca jendela mobil Jessica. Wanita itu langsung Panin dan ia sudah tidak bisa berpikiran jernih. Jalan yang sunyi dan oh Jessica baru saja melirik lewat kaca spionnya ternyata di belakang mobilnya juga sudah ada mobil yang membentang di jalan.
Jessica sudah tidak bisa kabur lagi, ia terjebak dan ia tidak tahu siapa yang sudah melakukan sabotase ini padanya. Sepertinya ia akan aman jika ia turun dari mobil dan menuruti keinginan mereka. Jika mereka ingin merampok tentu Jessica tidak akan keberatan daripada ia diculik, diperkosa, dibunuh lalu dijual organnya. Membayangkannya saja sudah membuat Jessica merinding.
"Ada apa?" tanya Jessica sok berani ketika ia sudah turun dari mobil.
"Anda ikut kami dengan cara baik-baik atau Anda memilih menggunakan cara yang kasar?"
Jessica sempat terdiam, apa yang ia tanya tidak mendapatkan jawaban dan kini justru ia yang ditanyai dan diberi opsi. Jika bisa memilih Jessica lebih baik dirampok, tapi mereka terlihat bukan seperti para perampok pada umumnya. Mereka berdasi dan mungkin mereka sekelas pejabat negeri yang merampok dengan dasi mereka.
Pintu mobil di buka dan Jessica dipaksa untuk masuk. Hal pertama yang ia lihat di dalam mobil mewah itu adalah seorang pria yang sangat ia kenali sedang sibuk dengan ponselnya.
"Iya sayang, nanti aku telepon lagi. Aku sedang banyak urusan sekarang. Nanti malam akan aku temui kamu di tempat biasa," ucapnya kemudian ia menyimpan ponselnya.
Sudah sangat lama Jessica tidak melihat senyum tampan itu dan ketika ia hendak bertanya, raut wajah pria itu kini berubah begitu datar dan dingin, di tambah AC mobil yang semakin membuat Jessica menggigil—ketakutan.
"Apa kau pikir bisa lari semudah itu Jessica?"
Suara bariton Reyhan membuat Jessica bergidik ngeri. Ia tidak menduga saja jika orang yang sudah menghalangi perjalanannya adalah Reyhan. Dan oh, oh, Jessica kaget begitu melihat mobilnya sudah lebih dulu bergerak pergi dan ia lupa bahwa kunci mobil masih menggantung di dalam mobil.
"Apa yang kau inginkan, Rey? Aku tidak pernah mengusikmu dan mengapa tiba-tiba kamu menghalangi jalanku? Masih rindu kah?" ejek Jessica padahal ia sudah sangat ketakutan.
"Tch, merindukanmu? Mimpi!" hardik Reyhan kemudian ia meminta sopirnya untuk melanjutkan perjalanan.
Jessica jelas berontak, ia tidak tahu Reyhan akan membawanya kemana dan ia juga merasa sedari tadi perasaannya begitu tidak karuan dan seakan ada yang mengganjal di dalam hatinya. Ia merasakan perasaan khawatir, gelisah, takut dan masih banyak lagi.
Reyhan bahkan tidak berbicara sepatah kata pun. Dan kini mobil yang ditumpangi Jessica sudah memasuki kawasan perumahan elit yang penghuninya bisa ditebak tidak pernah saling bertegur sapa melihat tembok pagar mereka yang menjulang tinggi serta jarak dari rumah ke rumah yang cukup jauh.
'Reyhan akan membawaku kemana? Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?'
Jessica hanya bisa bertanya dalam hati karena sejak tadi pun ia bertanya pada Reyhan tetapi ia seakan dianggap makhluk tak kasat mata oleh Reyhan. Hal itu membuat Jessica akhirnya memilih diam karena berontak pun percuma.
"Ayo turun. Atau mau aku paksa turu. dan kau akan kehilangan fungsi kakimu?"
Ancaman Reyhan tersebut membuat Jessica langsung menurut. Reyhan sekalinya membuka suara langsung membuat Jessica seakan terkena serangan jantung. Ia tidak mau mati muda apalagi ia belum sempat mendapatkan Frey, Jessica tidak siap dibunuh Reyhan di rumah ini.
Reyhan menyeringai saat Jessica menuruti setiap ucapannya. Rencana yang sudah Reyhan susun dengan sangat matang ini bisa ia perkirakan akan terwujud seratus persen.
Sesampainya di ruang tamu, Reyhan memanggil asisten rumah tangganya. Di7a orang wanita yang terlihat berusia sekitar 30-50 tahun berjalan mendekat, Jessica hanya memandang mereka dengan penuh tanya tetapi ia sempat berpikir jika Reyhan akan meminta mereka mengantarnya ke kamar tamu dan beristirahat.
"Kalian berdua, bawa di ke kamar seperti biasanya dan siapkan dia. Mandikan pela-cur ini dan buat dia secantik mungkin sebelum melayaniku," titah Reyhan yang membuat Jessica terkejut bukan main.
"Apa katamu? Kamu pikir aku wanita seperti itu? Dasar bajingan! Aku tidak mau dan aku tidak akan pernah mau melayanimu. Apa kamu sudah gila?" bentak Jessica, ia sudah sangat ketakutan dan jelas saja ia menolak keinginan Reyhan tersebut. Ia bukan wanita malam dan yang pasti ia tidak akan melakukan ini bersama Reyhan.
"Bukankah aku sudah pernah memberi peringatan agar kau menjauh dan tidak rencana merusak rumah tangga adik-adikku? Tapi kau tetap keukeuh dengan ambisimu itu, bukan? Baiklah, sebelum kau mendekati dan menghancurkan hubungan rumah tangga adikku, terlebih dahulu aku yang akan menghancurkanmu. Hancur hingga tidak ada satupun lelaki yang menginginkanmu!"
Jessica terdiam, ingin rasanya ia tidak mempercayain ucapan Reyhan tersebut tetapi kini ia sudah dipaksa untuk masuk ke sebuah kamar yang sangat cantik dan luas. Tapi ini bukan tentang situasi dan kondisi kamar, ini tentang Reyhan yang memiliki rencana busuk terhadapnya.
"Jika kamu hanya dibiarkan berkeliaran, kamu akan melanjutkan rencana busukmu itu. Aku akan membuatmu hancur hingga kau pun merasa malu dengan dirimu sendiri serta sudah tidak ada yang yang mau menampungmu! Bersiaplah, hari-hari penuh derita dan kehancuran akan segera melandamu!" .
"Aku tidak mau! Aku ingin pulang!" teriak Jessica, ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa takutnya.
Reyhan mengumpat kesal karena Jessica sudah berani menjawab setiap ucapannya. Tak ingin buang masa, Jessica langsung di seret ke dalam salah satu kamar.