
...Aku tidak tahu tentang hari esok, yang aku tahu hari ini aku bersyukur karena masih bisa berada di dekatmu. Kau seperti magnet yang terus menarikku untuk berada di dekatmu padahal kau tidak menginginkanku. Salah kah aku? Tentu saja tidak! Salahkan saja dirimu mengapa begitu menarik dan memikat hingga membuat aku terpesona! ~ Daniyal Axelle Farezta...
...****************...
"Axelle, boleh aku ke toilet?" bisik Nurul.
Axelle yang sedang bercerita dengan para kerabatnya pun menoleh pada Nurul dan menganggukkan kepalanya. "Akan aku antar," ucapnya.
Nurul merasa malu ketika Axelle mengatakan akan mengantarnya padahal ia sedang serius mengobrol. Ia menjadi tidak enak hati tetapi mau bagaimana lagi, ke toilet adalah alasan paling ampuh untuk mengindar dari mereka semua.
"Kau tunjukkan saja jalannya, tidak enak jika harus meninggalkan mereka." Kembali Nurul berbisik, ia tidak nyaman ditatap seperti ini oleh banyak orang.
Namun yang ada Axelle justru menggandeng tangannya dan membawanya pergi dari tempat ini. "Kenapa tidak bilang jika merasa bosan? Kita bisa lari dari acara ini jika saja kau bilang dari tadi," ucap Axelle setelah mereka berjalan cukup jauh dari keluarga besarnya.
Mata Nurul terbelalak, Axelle cepat tanggap sekali dengan rencananya. Pria ini sepertu memiliki indera keenam saja, selalu tahu yang ia pikirkan dan rencanakan. Memikirkannya saja Nurul sudah merasa ngeri, bersama orang yang bisa membaca pikiran akan terasa menegangkan dan akan selalu dibuat was-was setiap saat.
Axelle menoyor kepala Nurul, bukan karena ia mendengar apa yang ada di pikirannya, melainkan karena gerakan tubuh Nurul yang terlihat seperti sedang memikirkan yang tidak-tidak tentangnya. Apalagi ia mengedikkan bahunya, terlihat seperti sedang merasa ngeri saat di dekatnya.
"Oh ya ampun tuan Axelle, kenapa anda berani sekali menoyor kepala saya?" geram Nurul.
Axelle hanya menjawab dengan bersiul saja sambil matanya bergerak kesana-kemari tanpa mau melihat Nurul. Nurul sendiri mengepalkan tangannya, benar-benar sangat menguji kesabaran jika terus bersama pria ini. Nurul berharap malam ini mereka akan segera menyelesaikan drama ini dan Nurul bisa kembali tenang menjalani hari-hari seperti biasanya.
Nurul berjalan lebih dulu di depan Axelle, ia tidak mau berdekatan karena sangat berbahaya untuk kondisi kewarasan dan keadaan hatinya. Ia tidak mau mendapatkan penuaan dini jika terus berada di samping Axelle.
Axelle sendiri hanya tersenyum melihat Nurul yang sedikit jauh darinya. Ia tidak berniat mensejajarkan langkahnya dengan Nurul karena ia tahu wanita ini sedang tidak ingin ditambah emosinya. Asalkan masih berada di jarak pandangnya, ia tidak perlu khawatir walaupun hatinya sangat ingin bisa berdekatan terus dengan Nurul.
"Kau terlalu membuatku terpesona hingga aku kesulitan untuk berpaling. Apa jadinya jika nanti aku patah hati? Apakah rasanya akan sangat sakit?" gumam Axelle sambil tersenyum kecut membayangkan dirinya yang terus saja mendapat penolakan dari wanita ini.
Nurul menunggu Axelle di depan mobil pria ini, ia sedikit kesal karena Axelle justru berjalan begitu lambat. Namun baru saja Axelle sampai, ponselnya berdering dan ia meminta izin untuk mengangkat telponnya dan meminta Nurul untuk masuk dulu ke dalam mobil.
Nurul yang tidak ingin sendiri di luar, langsung memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Baru saja ia hendak menghubungi orang di rumahnya untuk menanyakan kabar Aluna, jendela mobil di ketuk oleh seseorang. Nurul melirik ke arah jendela mobil dan mengerutkan keningnya. Perlahan ia membuka pintu mobil dan kaget dengan pria yang berdiri tegap di depannya.
"Kriss?" pekik halus Nurul.
Kriss hanya tersenyum menanggapi keterkejutan Nurul terhadapnya.
"Hai, lu apa kabar? Ternyata lu disini ya. Udah lama menghilang dan tahu-tahu kita bertemu disini. Lu sama Pak Daniyal ya?" sapa Krissm
Nurul tersenyum kaku, dalam hati ia khawatir karena mungkin saja Kriss akan menceritakan pertemuan mereka dan akan mengatakan pada Alvaro jika dirinya bersama pria lain. Bagaimanapun Nurul tahu jika Kriss adalah sahabat baik Alvaro.
"Sepak terjang lu emang nggak kaleng-kaleng ya, Nurul. Dulu waktu kuliah lu berhasil menjerat cowok terkaya nomor satu di negara kita dan sekarang lu berhasil mendapatkan hati pria terkaya nomor satu di negara kita setelah keluarga Prayoga tergeser dan menjadi posisi kedua. Lu hebat banget. Dan sayang, lu nggak ngelirik gue. Gini-gini gue pernah cinta lho sama lu," ucap Kriss panjang lebar dengan gaya bahasa seolah sedang bercanda bersama kawan lama.
Jujur, Nurul sedikit merasa tersinggung dengan ucapan Kriss. Nurul tidak suka jika orang berpikir dirinya hanya bisa menjerat pria kaya saja. Bukan dirinya yang menyodorkan diri, mereka yang datang tanpa permisi dan pergi pun tanpa berpamitan. Juga perkataan Kriss tentang dirinya yang pernah suka, Nurul merasa ada yang tidak beres dengan Kriss. Tidak mungkin sahabat Alvaro ini akan dengan terang-terangan menggodanya kecuali jika Alvaro memang sudah tidak peduli tentangnya.
Melihat reaksi Nurul yang seperti tidak suka padanya membuat Kriss tersadar mungkin ucapannya barusan ada yang salah. Bagaimanapun Nurul adalah wanita yang pernah dan mungkin saja ia masih mencintainya. Kriss buru-buru minta maaf.
"Lu nanya kabar kami atau lebih spesifik ke Alvaro nih? Tanya aja kali nggak usah malu-malu," ledek Kriss yang membuat pipi Nurul memerah dan Kriss terpana.
"Kita semua baik apalagi Alvaro," jawab Kriss.
Nurul ber-oh ria. Ia masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang Alvaro bahkan sedetail mungkin. Apakah Alvaro sudah menikah atau belum? Bersama Miranda atau justru mencarinya, atau tidak kedua-duanya.
"Sorry kalau gue menyinggung kejadian lama, lu tahu 'kan alasan Alvaro deketin lu?" tanya Kriss pura-pura tidak tahu.
Nurul tersenyum miris lalu menganggukkan kepalanya, "Apa sekarang dia sudah merasa bahagia bersama kekasihnya?" tanya Nurul dengan bibir bergetar, ia degdegan, takut jika akan mendengar kabar yang tidak ingin ia dengar.
Kriss tersenyum miring, ia bisa melihat harapan dan juga sorot mata yang sarat akan perasaan cinta di mata Nurul. Tangan Kriss terkepal, ia tidak suka jika ada yang begitu mencintai Alvaro. Tidak ada yang boleh membuat Alvaro bahagia.
"Miranda? Dia bahkan sudah memiliki satu anak lelaki bernama Frey dan usianya sekitar tiga tahun." Kriss tidak berbohong karena memang Miranda memiliki anak bersamanya bukan bersama Alvaro. Ia hanya menceritakan tentang Miranda tapi tentu saja dengan maksud agar Nurul terkecoh.
Mata Nurul memanas, ingin rasanya ia menangis. Patah sudah hatinya dan terluka tanpa berdarah. Kepalanya terasa pusing hingga ia memundurkan langkahnya karena tidak sanggup mendengar berita ini. Harusnya selama ini ia sadar jika tidak mungkin bagi seorang Alvaro Genta Prayoga untuk mencintainya sedangkan ia hanya sebatas gadis taruhan Alvaro saja.
Dadanya terasa sesak namun sebisa mungkin ia mencoba menahannya. Ia tidak mau menunjukkan kesedihannya di depan Kriss walaupun ia yakin gerakan tubuhnya saja sudah bisa terbaca dengan mudah.
"Nurul are you okay?" tanya Kriss mendekat dan mencoba memegang tangan Nurul namun dengan cepat ditepis oleh Axelle.
"Maaf tuan Griffin, aku tidak suka wanitaku disentuh sembarang orang," ucap Axelle dingin. Buru-buru ia membawa Nurul ke dalam dekapannya karena melihat Nurul yang tidak baik-baik saja.
Kriss mengangkat kedua tangannya, "Maaf tuan Daniyal, saya tidak bermaksud mengganggu wanita anda. Wanita yang anda maksud ini adalah teman saya, kami berteman sejak zaman kuliah. Iya 'kan Nurul?" ucap Kriss menjelaskan dan meminta Nurul membantunya meng-iya-kan. Kriss masih sayang nyawa dan tidak mau terjadi kesalahpahaman yang berujung pada nasib bisnisnya.
Axelle menatap Nurul mencoba mencari tahu kebenarannya.
"Kami berteman dan saling mengenal. Dia teman lamaku, namanya Kriss Griffin," jawab Nurul.
Melihat Nurul menjawabnya dengan tenang tanpa ragu membuat Axelle yakin jika memang mereka berteman. Ia lalu berpamitan pada Kriss dan membawa Nurul masuk ke dalam mobil.
Kriss hanya bisa menatap mobil mewah itu melaju meninggalkannya dengan senyuman seringai. "Lu emang semenarik itu hingga pria dari kalangan manapun bisa jatuh cinta sama lu. Gue aja yang lambat!" gumam Kriss.
Seseorang berjalan mendekati Kriss, ia memberikan ponselnya dan Kriss tersenyum lebar lalu berkata, "Kirim foto itu pada Alvaro!" titahnya.
Alvaro yang baru saja keluar dari bandara dan masuk ke dalam mobilnya mengalihkan atensinya pada ponselnya dimana ada satu pesan masuk dari nomor tidak di kenal.
^^^^^^+62823xxxxxx^^^^^^
^^^Lu lihat, gue bisa lebih dulu mendapatkannya dan lu akan selalu jadi yang terbelakang.^^^
Alvaro mengepalkan tangannya, ia meremas ponselnya karena merasa begitu geram terhadap Kriss. Tidak ingin terjadi sesuatu pada Nurul, ia memutuskan untuk berangkat ke Sanggatta besok pagi dan tidak boleh ada yang menghalangi pekerjaannya.
"Aina, lu tunggu gue ya. Gue bakalan bawa lu kabur dan gue jamin lu bakalan bisa bahagia sama gue. Gue janji bakalan bikin lu bahagia sama gue. Gue cinta lu Aina!"