GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
What? Tante?


"Apa yang Anda lakukan disini?" tanya Frey mencoba untuk menahan rasa marahnya karena Jessica adalah kliennya dan juga diluar ada banyak pelanggan.


Frey ingin menyalahkan Leon tapi cowok itu tidak juga bisa disalahkan karena diantidak tahu apa-apa. Frey merutuki dirinya yang tidak sempat memberitahukan pada Leon untuk tidak memberitahukan pada wanita itu dimana keberadaannya.


"Aku mencarimu kemana-mana, Frey. Aku juga ingin ikut dalam penyambutan para pelanggan di kafe ini. Maaf ya karena aku datang terlambat, ada banyak pekerjaan tadi," ucap Jessica mencoba untuk merayu Frey dengan suaranya yang dibuat manja.


Jessica teramat yakin jika Frey pasti akan jatuh ke pelukannya. Dia sangat cantik dan menggoda, banyak yang tergila-gila padanya dan juga pesonanya benar-benar bisa menyihir para pria dan ia yakin pria sekelas Frey pun sebenanrya tergoda padanya hanya saja Frey sudah memiliki istri dan istrinya sedang hamil.


Frey mengangkat sebelah alisnya. Ingin rasanya ia memberikan satu bogeman di mulut Jessica karena berbicara sok sensual dan yang ada Frey jijik mendengarnya. Jika bukan klien maka Frey akan menendangnya keluar. Ia harus mencari cara agar bisa menjauh dari Jessica, setidaknya setelah kafe ini berjalan dan ia bisa meminta seseorang untuk mengurusnya sedangkan ia akan fokus kuliah dan pada restorannya.


Intinya Frey tidak ingin mengelola langsung bisnisnya yang bersangkutan dengan Jessica. Bagi Frey, tidak ada yang menarik dari wanita ini dan bahkan dua buah melonnya itu tidak membuat Frey kesulitan menelan salivanya. Semua terlihat biasa dan yang terlihat sempurna, menggairahkan dan menyesatkan pikiran itu hanya bentuk tubuh Aluna saja.


Frey tersenyum samar ketika ia teringat akan istrinya. Frey jadi menginginkannya detik ini juga dan Jessica yang memandang Frey justru dibuat salah paham ia mengira Frey mulai berfantasi tentang dirinya. Ia pun mendekati Frey yang asyik duduk melamun di kursinya.


Langkah Jessica dengan bunyi sepatunya mengejutkan Frey ia berdiri dan berniat menjauh namun dengan sengaja Jessica menjatuhkan dirinya hingga Frey dengan sigap menangkapnya.


"Surprise —"


Mata Aluna melotot sempurna saat melihat apa yang ada di hadapannya. "Ka—kalian ..."


Bughhhhh ...


"Aww!"


Jessica meringis ketika Frey mendorongnya hingga jatuh terduduk di lantai. Riani yang melihat kejadian tadi dan hampir melabrak Frey justru dibuat tertawa melihat nasib Jessica yang mengenaskan. Tak tanggung-tanggung Frey menghempaskan wanita itu bahkan tidak mempedulikan teriakkannya meminta tolong agar dibantu berdiri.


"Sayang ku datang, ayo kita keluar," ajak Frey yang tak ingin Aluna berlama-lama bertemu dengan Jessica.


Aluna memundurkan langkahnya, enggan disentuh oleh Frey. Wajah Frey terlihat kecewa tapi ia tidak bisa memaksa Aluna dan semakin membuatnya stres. Aluna justru menggandeng tangan Riani dan dari tatapan Aluna, jelas Riani mengerti maksud dari sandi Morse kiriman Aluna lewat tatapan mata tersebut.


Riani menyeringai, ia masih menatap Jessica yang terus saja merengek meminta Frey untuk membantunya berdiri.


"Frey, lu nggak mau nolongin dia?" tanya Riani dengan senyuman anehnya, namun Frey tidak memperhatikannya sebab ia sedang galau karena Aluna tidak menggubrisnya. "Ya sudah biar gue bantu," ucap Riani yang kemudian melepaskan gandengan tangan Aluna dan ia mendekat ke arah Jessica.


Riani tersenyum pada Jessica, nampak jelas wajah Jessica begitu masam karena Riani yang datang untuk menolongnya.


"Oh apakah Anda klien Frey? Kenalkan, saya Riani, sepupunya Frey," ucap Riani dengan ramah dan langsung saja wajah Jessica berubah menjadi begitu ramah bagai malaikat. Dalam hati Riani berdecak dan ia langsung yakin wanita ini adalah pelakor sesungguhnya.


Jessica pun meriah ukuran tangan Riani dan baru saja Jessica hendak berdiri, Riani melepaskan genggaman tangannya hingga Jessica jatuh lagi.


"Awww! Kamu apa-apaan sih!" bentak Jessica kesal karena ia kembali jatuh.


"Ups ... sorry, gue sengaja. Habisnya tangan Tante licin banget. Emang pakai lotion sebotol ya buat bisa menggoda suami orang," ejek Riani.


"What? Tante?"


Wajah Jessica merah padam. Riani benar-benar membuatnya marah dan geram. Apalagi Riani menyebutnya 'tante', ia semakin dibuat naik pitam. Dengan cepat Jessica berdiri dan berniat untuk memarahi Riani. Namun belum sempat ia mengeluarkan suara ia kembali dibuat terkena mental oleh ucapan Riani.


Tangan Jessica terkepal kuat, rasanya ia ingin segera menghajar mulut Riani yang sembarangan mengatainya. Namun karena masih ingin terlihat elegan di mata Frey, ia tidak membalasnya dan memilih memendam rasa kesalnya saja.


"Nah Tante, kalau mau balas Riani ya silahkan saja, nggak usah dipendam sampai tangannya dikepalin gitu. Orangnya ada di hadapan tante. kenapa? Takut terlihat buruk di mata Frey? Emang Tante siapanya Frey sampai harus terlihat sempurna di mata suami saya?" Aluna turut menimpali ucapan Riani. Bahkan Aluna sangat ingin melihat Riani jambak-jambakan dengan Jessica saat ini.


Jessica menutup matanya dan ia berusaha untuk menenangkan dirinya. Menghadapi dua bocah seperti Aluna dan Riani memang membutuhkan kesabaran ekstra dan sialnya Frey tidak bersuara bahkan menengahi mereka. setidaknya Frey akan melarang keduanya dan meminta mereka untuk menghormatinya sebagai klien.


"Frey, kamu bisa nggak bilangin ke mereka untuk lebih sopan padaku? Mereka masih kecil dan harusnya menghormati aku yang lebih tua," pinta Riani.


Sayang sekali, Jessica tidak pernah memperhitungkan tanggapan Frey padanya. Ia mengadu para pria itu dan memintanya untuk membela dirinya tapi sayang yang terjadi justru membuatnya semakin geram.


"Nah itu Anda sadar sudah tua, kenapa berkelahi dengan bocah? Ada-ada saja," ucap Frey yang kemudian ia menggandeng tangan Aluna untuk segera pergi.


Sedangkan dalam hati Jessica begitu meradang. Ia tidak menyangka saja bahwa Frey lebih memilih membela kelakuan istri dan sepupunya dibandingkan membela dirinya.


Frey tidak memperhatikan reaksi Jessica, ia hanya ingin mengajak Aluna pergi. Namun, Frey kembali merasa heran karena Aluna justru tidak beranjak dari sana. Istrinya itu terus menatap Riani dengan mata berkaca-kaca. Dan Riani, bagaikan satu jiwa dua raga, ia langsung paham dengan apa yang ada di pikiran Aluna.


"Apakah seperti ini?"


Jessica memekik kuat saat Riani menarik rambutnya dengan begitu kuat dan sangat kasar. Ia tidak menduga akan terjadi hal seperti ini.


"Ya, aku menyukainya. Terima kasih aunty," ucap Aluna kegirangan. "Lagi dong, sampai kalian berdua jambak-jambakan. Aku suka," seru Aluna yang membuat Frey menepuk jidatnya. Ngidam aneh istrinya ini kambuh lagi.


"Hei apa–apaan kau!!" pekik Jessica ketika Riani kembali menarik rambutnya.


Awalnya Jessica masih mencoba menahannya, tapi karena semakin lama Riani justru semakin membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia akhirnya membalas dan terjadilah saling jambak-jambakan. Aluna menjadi penonton yang terus memberi dukungan pada Riani, gadis yang memang sangat suka berkelahi.


Frey memalingkan wajahnya, ia mencoba untuk menutupi tawanya dan ketika Leon datang, ia justru dibuat tercengang karena di dalam ruangan bosnya terdapat tontonan yang sangat menarik.


Leon melihat Frey yang sedang menahan tawanya, Aluna yang terus menyuruh Riani untuk terus berkelahi dan mengalahkan Jessica, serta dua pegulat yang saat ini sama-sama terlihat kacau karena terus menyerang satu sama lain.


Apakah gue salah masuk ruangan?


Leon bertanya dalam hati, ia yang tadinya akan memanggil Aluna dan Riani untuk mencicipi menu mereka di kafe ini justru disuguhkan dengan adegan yang membuatnya merasa dongkol.


"Go Riani, go Riani, go!" Seperti itulah teriakan Aluna yang semakin membuat Riani bersemangat sedangkan Leon semakin merasa dongkol.


"Dasar sugar mommy! Pelakor! Nggak sadar umur gitu yang mau diembat ya suami orang. Kekurangan sugar baby? Gue bisa bantuin nyari asal bukan sepupu gue!" teriak Riani yang semakin mengundang kebahagiaan di diri Aluna sedangkan Leon dan Frey menelan saliva mereka dengan susah payah melihat kelakuan tiga perempuan di dalam ruangan ini.


Tidak ada yang mencoba untuk memisahkan termasuk Frey. Selagi istrinya bahagia, apapun akan ia penuhi, termasuk memberikannya tontonan yang saat ini sedang live di hadapannya tanpa layar kaca.


"Sumpah kalian sudah gila. Itu dua cewek bisa mampus kalau berkelahi terus," tegur Leon dan Frey hanya mengangkat kedua bahunya saja.


Leon menggeleng-gelengkan kepalanya dan ia memilih melipir dari ruangan tersebut daripada harus menjadi saksi mata jika ada yang sampai meninggal. Pikiran Leon memang kejauhan tapi bisa saja itu terjadi.


"Hihh, lagian Aluna ngidamnya suka aneh–aneh sih," gumam Leon kemudian ia kembali pada pekerjaannya.