GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Karena Cerita di Novel


Aluna dan Frey saat ini tengah bersantai di kamar setelah menghabiskan waktu sore untuk mengerjakan tugas. Dan ketika ketiga mahasiswi centil itu sudah pulang, Frey langsung mengajak Aluna masuk ke dalam kamar. Keduanya sempat mandi bersama dan Frey membantu Aluna mengeringkan rambutnya.


"Kita makan malam di luar yuk," ajak Frey pada Aluna yang terlihat sedang asyik membaca novel dari platform online di ponselnya.


Aluna mengangkat wajahnya lalu ia menatap Frey. "Tumben sekali, ada apa?" tanya Aluna namun ia tidak bisa menampik bahwa ia begitu senang jika Frey benar-benar mengajaknya untuk jalan dan makan di luar.


"Tidak ada, hanya ingin mengajakmu keluar saja," jawab Frey. "Kita ini tidak pernah pacaran dan langsung menikah, aku juga ingin kita merasakan kencan seperti pasangan pada umumnya. Apalagi kita adalah pasangan halal, mau ngapain aja di luar sana 'kan bebas," lanjut Frey diiringi kedipan mata yang menggoda Aluna.


Ibu hamil tersebut terkekeh geli, ia kemudian menyimpan ponselnya lalu mengganti pakaiannya. Frey memang benar, keduanya tidak pernah berpacaran dan tahu-tahu langsung menikah. Belum sempat mereka melakukan kencan sebagai pengantin baru, tahu-tahu Aluna sudah hamil dan mengalami morning sickness.


Belum selesai morning sickness, mereka pun disibukan lagi dengan ujian kelulusan. Dan setelah ujian kelulusan, Frey disibukkan dengan mengurus bisnisnya sedangkan Aluna sibuk mengurus resepsi mereka. Dan kini, mengapa tidak pasangan menikah itu melakukan kencan.


Pasangan suami istri itu pun keluar dengan mengenakan pakaian yang terlihat sesuai dengan usia mereka, walau kini perut Aluna terlihat lebih membuncit. Bahkan tangan keduanya saling bertautan ketika menuruni anak tangga dan pemandangan itu langsung disambut dengan senyuman hangat oleh para anggota keluarga yang tengah menikmati santapan makan malam mereka.


Nampak jelas Alvaro saat ini sedang memanjakan Nurul, ia mengambilkan makanan lalu menyuapi istrinya itu dengan begitu mesra. Pemandangan yang memang sering terjadi tetapi tidak selebay ini menurut Aluna sebab selama ini papinya itulah yang meminta dimanjakan oleh bundanya.


"Wah! Papi ada angin apa nih sampai seromantis ini ke Bunda? Oh ya Bunda, tadi Aluna sempat baca loh cerita di novel. Ceritanya tu pasangannya romantis banget, tiba-tiba aja bersikap manis. Eh tahu–tahu ternyata suaminya itu punya selingkuhan di luar," ucap Aluna yang sadar tidak sadar sudah membuat papinya terbatuk-batuk sedangkan ia hanya sekadar bercerita tentang apa yang ia baca.


Dengan cepat Nurul mengambilkan Alvaro air minum kemudian suaminya itu meneguk air hingga tandas. Perilaku Alvaro tersebut tentu saja mengundang perhatian dari seluruh anggota keluarga yang ada.


"Kamu kenapa kaget? Atau jangan-jangan kamu berulah lagi. Hanya dengan mendengar ucapan Aluna saja sudah membuatmu sampai tersedak seperti itu, jangan katakan apa yang papi katakan padamu barusan ini adalah benar ya," tegur Genta.


Dengan cepat Alvaro mengibaskan tangannya. "Itu tidak mungkin, Pi. Bagaimana bisa aku mengkhianati Nurul yang selama ini aku cintai dan aku perjuangkan dengan begitu keras. Aku hanya terkejut saja, bagaimana bisa anakku mengatakan hal seperti itu. Dia benar-benar memprovokasi bundanya," bantah Alvaro kemudian ia menatap kesal pada Aluna.


"Lho kok jadi istri aku yang disalahin Pi? Dia 'kan hanya sekadar bercerita tentang novel yang dia baca, dan kebetulan setelah selesai membaca dia melihat pemandangan seperti yang tertulis di novel itu. Apa salahnya hanya mengeluarkan pendapat, atau jika itu tidak benar, Papi tidak perlu marah," timpal Frey membela Aluna.


Siapapun itu, jika berani menyalahkan Nyonya Griffin, tentu Frey tidak akan tinggal diam. Kecuali Bunda Nurul Aina yang sedang memarahi Aluna, maka Frey tidak akan sanggup untuk membela istrinya tersebut.


Nurul menatap Alvaro dengan begitu intens, tatapan matanya terlihat begitu penuh dengan tanya. Alvaro bahkan sampai tidak sanggup untuk terus membalas tatapan sang istri tercinta. Ia meraih tangan Nurul kemudian menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Tidak akan pernah ada yang seperti itu, hanya ada kamu di hati aku. Percayalah, untuk apa juga aku berselingkuh sedangkan kita sudah memiliki dua anak dan akan segera menjadi kakek dan nenek," ucap Alvaro dengan begitu lemah lembut dan Nurul hanya bisa tersenyum tipis.


"Kalau sampai Papi menyakiti hati Bunda, awas aja. Naufal sudah cukup besar untuk bisa mengalahkan Papi," ancam Naufal yang seakan-akan bersekongkol dengan seluruh anggota rumah untuk memojokkan sang Papi.


Alvaro benar-benar merasa seakan ia tengah di medan perang dan sudah terkepung oleh musuh dari semua penjuru. Hanya ada mami Yani yang tidak menyerangnya dan tidak ikut menimpali ucapan-ucapan yang membuatnya merasa terpojok, akan tetapi tatapan wanita tua itu terlihat begitu kecewa padanya. Alvaro tidak akan sanggup jika dua wanita yang sangat ia cintai dalam hidupnya ini menatap kecewa padanya.


Aluna mengangkat kedua bahunya, kemudian ia mengikuti langkah Frey. Tak lupa ia mengatakan pada keluarganya jika mereka akan pergi makan di luar dan kemungkinan akan pulang sedikit lambat sebab mereka akan pergi berkencan.


Nurul pun berpesan agar keduanya tidak sampai kelelahan sebab Aluna tengah mengandung dan jangan sampai terjadi apa-apa pada mereka. Tak lupa juga nenek Yani pun memberikan wejangan agar Frey selalu berhati-hati.


Beberapa saat Frey mengendarai mobil, akhirnya ia memarkirkan mobil tersebut di sebuah kafe yang juga menjadi miliknya tetapi tidak ada hubungan kerjasama sama sekali dengan Jessica. Frey benar-benar menghindari wanita itu, ia hanya ingin malamnya bersama Aluna berlangsung dengan baik tanpa ada gangguan dan hambatan.


Layaknya pasangan remaja, keduanya tidak memilih makan di ruang VIP walaupun mereka adalah pemilik dari kafe ini. Frey hanya ingin membaur dengan para pelanggan dan melihat langsung bagaimana kepuasan pelanggan dan juga pelayanan dari pihak kafe.


Aluna pun tidak mempermasalahkannya, ia dengan semangat memesan banyak makanan dan Frey hanya mengiyakannya saja. Bahkan keduanya beberapa kali mendapat perhatian dari beberapa pengunjung. Ada berbagai penilaian yang mereka dapatkan, mulai dari dikatakan sebagai pasangan romantis, pasangan yang sangat serasi yang satu tampan dan yang satu cantik, serta ada juga cibiran dan hujatan yang terdengar di telinga mereka, sebab di usia muda mereka tetapi sang wanita sudah mengandung.


Andai saja tidak mengingat kafe ini adalah milik suaminya, Aluna pasti sudah mengamuk. Emosi Aluna begitu meluap-luap mendengar cibiran dari orang-orang tersebut. Ingin rasanya ia menunjukkan cincin nikahnya, memperlihatkan foto akad dan juga video pergelaran resepsinya yang berlangsung begitu megah dan tidak ada tandingannya di negara ini. Namun sayang sekali, ia harus bisa menahannya demi kondisi psikisnya yang harus ia jaga agar bayinya tidak ikut stress di dalam sana.


Saat Frey dan Aluna tengah berbincang-bincang sambil menunggu pesanan mereka datang, Aluna tak sengaja menatap sosok yang sangat ia kenali. Mata bulat Aluna memicing kemudian ia berdiri dan dengan langkah yang ia hentak–hentakkan Aluna mendekati orang yang membuatnya seolah kerasukan setan.


Braakkk ...


Aluna memukul meja tersebut hingga membuat pasangan kekasih yang sedang bermesraan itu terkejut. Keduanya berdiri dan menatap Aluna dengan begitu kaget.


"Aluna! Lu ngapain di sini?" tanya Leon kaget ketika melihat Aluna menatapnya dengan begitu garang. Ia seperti seorang kekasih yang tengah ketahuan sedang berselingkuh padahal istrinya di rumah tengah beristirahat karena sedang mengandung.


"Leon dia siapa? Cewek lu? Dia hamil? Jangan-jangan lu nggak mau tanggung jawab lagi. Terus ngapain lu deketin gue? Dasar anjir lu!" bentak gadis tersebut.


Aluna berkacak pinggang, kemudian ia menatap gadis itu dengan tatapan tajam. "Udah tahu gue kekasihnya, masih aja lu berada di sini. Pergi lu sana, jangan gangguin Leon, dia itu sudah ada yang punya! Pergi sana!"


Gadis itu terlihat begitu marah kepada Leon. Ia menatap Leon dengan begitu tajam, kemudian ia mengambil tasnya dan pergi begitu saja tanpa sempat keduanya menikmati makan malam bersama.


Rasanya Leon ingin membungkam mulut Aluna dengan tisu yang ada di atas meja. Bagaimana bisa Aluna merusak malamnya, ketika ia mulai mencari kekasih setelah ia berhasil move on dari cintanya pada Aluna. Lalu tatapan Leon beralih pada Frey yang terlihat sedang menahan tawanya. Leon dibuat benar-benar kesal oleh pasangan suami istri yang terlihat begitu menyebalkan.


"Kalian berdua benar-benar perusak hubungan orang. Gue baru aja hampir mendapatkan dia sebagai kekasih dan kalian merusak malam gue ... benar-benar sialan!" umpat Leon dengan wajah yang terlihat begitu mengenaskan.


"Enak aja lu cari kekasih, lu nggak lupa anak gue di dalam sini itu adalah pemilik lu? Awas aja sampai gue tahu lu pacaran, bakalan gue kebiri lu!" tegur Aluna yang membuat Leon terdiam seolah kucing yang baru saja disiram air.


Sorry to say Aluna tapi gue nggak mau nikah sama anak lu. Emang gue laki-laki apaan disuruhin sama bayi dalam kandungan? Bisa-bisa gue udah jadi pria bangkotan dan dia baru tumbuh dewasa. Nggak mungkin dan nggak mau! Nggak bakalan mau!! teriak Leon merasa frustrasi dalam hati.