
Di dalam pesawat pribadi yang mewah itu, Axelle dan Nurul duduk bersama sambil menunggu mereka akan sampai di tempat tujuan tempat dimana mereka tinggal. Axelle bisa melihat Nurul kembali mengantuk, ia memintanya untuk tidur tapi Nurul justru menolak.
Axelle tidak tahu saja jika saat ini Nurul takut kembali tidur karena ia tidak mau bertemu Alvaro lagi dalam mimpi. Jika dulu ia selalu ingin tidur agar bisa melihat Alvaro walau dalam mimpi, kali ini ia tidak lagi berani karena itu sama saja membuatnya terluka karena kenyataan kadangkala memang tidak seindah mimpi.
"Sedang memikirkan sesuatu?" tanya Axelle. Lebih baik dia mengajak Nurul bercerita agar keduanya tidak saling diam-diam seperti ini.
Nurul menggeleng, "Kau beristirahatlah. Oh ya, setelah ini apakah akan langsung ke rumah sakit?" tanya Nurul balik.
"Aku akan mengantarmu ke rumah lebih dulu baru aku akan ke rumah sakit," jawab Axelle.
Nurul menggelengkan kepalanya lagi, "Nggak perlu, biar kita ke rumah sakit bersama. Rumah sakit lebih dekat dari bandara daripada ke rumahku," ucap Nurul.
Axelle mengangguk, ia tersenyum manis pada Nurul yang dibalas tak kalah manisnya oleh wanita beranak satu ini. Senyuman itu mampu menghanyutkan Axelle dan debaran jantungnya semakin kencang saja. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan segala perasaan ini.
"Nurul Aina Emrick, bisa kita berbicara serius?" tanya Axelle dengan jantung degdegan. Tangannya bahkan sudah terasa dingin, rupanya memang benar seperti ini rasanya ketika seseorang akan menyatakan cintanya.
Nurul menautkan alisnya, heran saja karena biasanya Axelle akan selalu berbicara apa yang ingin ia sampaikan tanpa meminta izin. Melihat gelagat Axelle ini Nurul yakin ada hal penting yang hendak ia sampaikan. Nurul pun menjawab dengan anggukan.
"Apa kamu mau mengubah isi kerja sama kita? Rasanya aku tidak bisa menjadikanmu kekasih kontrak lagi," tutur Axelle, ia bahkan sangat gugup saat ini. Sial, kenapa hanya untuk mengatakan cinta harus segugup ini. Bahkan aku nggak pernah segrogi ini saat presentase dulu di depan klien, lanjut Axelle dalam hati.
Mata Nurul berbinar, "Jadi kamu mau mengakhiri kerja sama ini?" tanya Nurul.
Lain dipikiran Nurul lain pula dengan apa yang ada dipikiran Axelle. Nurul mengira Axelle hendak menyelesaikan pekerjaan proyek kekasih pura-pura ini. Ia sudah senang bukan main, ia berharap ini akan segera dan ia tidak sabar untuk terbebas dari Axelle, terutama dari jerat pesona pria ini. Nurul takut tidak bisa mengontrol perasaannya lagi.
Sedangkan Axelle, pria ini justru ingin menyudahi sandiwara ini dan menjadikan semuanya nyata dan Nurul akan ia jadikan sebagai kekasih halalnya saja.
"Maksud kamu?" tanya Nurul.
"Ekhmmm ... Nurul, aku mau mengakhiri cerita pura-pura kita ini dan menjadikannya sebagai cerita nyata, kisah nyata. Aku nggak mau jadiin kamu sebagai kekasih kontrak lagi melainkan kekasih halal. Apa kamu mau?" jawab Axelle yang mati-matian menahan rasa groginya.
Mata Nurul terbelalak, ia bahkan tersedak ludahnya sendiri hingga tak sengaja terbatuk-batuk di hadapan Axelle.
I-ini gue baru saja ditembak Axelle? Kok bisa?
Dengan cepat Axelle memberikan Nurul air minum kemasan dan Nurul dengan malu meneguk air minum tersebut. Ia malu karena sikapnya yang terkejut tadi dan mungkin saja terlihat kampungan di mata Axelle. Nurul bisa apa, untuk pertama kalinya ia mendapat pernyataan cinta semanis ini dan meminta pendapatnya dulu.
Pikirannya kembali menerawang pada kisah beberapa tahun lalu dimana Alvaro berkali-kali menyatakan perasaannya tapi dengan gaya menuntut untuk diterima dan dengan tengilnya ia tidak mau menerima penolakan. Hal itu membuat Nurul tersenyum sedangkan Axelle sendiri salah mengartikan senyuman Nurul tersebut.
Nurul hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Mengingat Alvaro kembali membuatnya lelah hati. Mungkin hatinya butuh sandaran agar lelahnya berkurang.
"Axelle, lu tahu 'kan kalau gue ini punya banyak kekurangan. Gue nggak pantas buat lu, lu bisa dapatin perempuan yang lebih baik dari gue dan itu banyak. Gue nggak bisa sama lu karena lu tahu sendiri gue udah punya anak dan nggak menikah. Apa kata orang-orang nanti terhadap lu. Gue nggak mau menjadi kelemahan lu nanti, lu orang hebat dan harus orang hebat juga yang mendampingi lu, bukan gue. Gue nggak percaya diri untuk hal itu," jawab Nurul berusaha diplomatis agar Axelle tidak kecewa padanya. Memang benar jika ucapan Nurul itu adalah Boomerang untuk hidup mereka kedepannya. Siapapun akan berusaha menjatuhkan keduanya apalagi jika tahu status Nurul.
Axelle diam sambil menatap lekat kedua mata Nurul yang bening dan memancarkan kejujuran serta ketulusan disana. Axelle tahu ucapan Nurul ini memang benar, tapi apa ia salah jika memilih wanita ini terlepas dari kisah kelam masa lalunya? Bukankah setiap orang punya sisi gelapnya dan setiap orang pun berhak mendapatkan kesempatan untuk meraih kebahagiannya?
"Aku tidak peduli dengan masa lalumu, aku tidak peduli apa kata orang karena aku akan menggunakan kedua tanganku ini untuk menutup telingaku ketika seseorang atau seluruh dunia mengatakan keburukanmu. Aku mengenalmu yang sekarang dan biarlah masa lalumu menjadi milik dia di masa lalumu. Jangan pikirkan ucapan orang dan fokuslah untuk membentuk kebahagiaanmu sendiri. Kita nggak akan pernah lepas dari orang-orang yang nggak suka sama kita dan kita nggak bisa maksain mereka buat suka sama kita. So, lu mending fokus sama kebahagiaan lu daripada lu sibuk melemahkan diri lu," jawab Axelle, ia memang masa bodoh dengan semua itu. Baginya, asal ia bahagia maka who cares dengan omongan orang lain.
Nurul berdecak kesal, Axelle kembali lagi pada sifatnya seperti biasa--tidak bisa dibantah dan mendominasi. Sebenarnya Nurul tersanjung tapi ia tidak ingin melambung karena jatuhnya akan sangat sakit nanti.
"Kamu kenapa keras kepala sekali, kamu nggak mikir ini bukan hanya tentang kamu dan aku. Ini tentang kesepakatan dan persetujuan dari dua keluarga. Kalau keluarga kamu nggak bisa menerima maka nggak akan bisa bersama dan kamu nggak mikirin gimana perasaan keluarga aku kalau sampai kembali malu saat semua yang diperjuangkan terhalang restu. Aku nggak bisa Axelle, aku takut memulai sesuatu yang baru apalagi itu bersamamu, pria yang nyaris sempurna. Kamu nggak memiliki celah apapun sebagai kelemahanmu dan dengan kamu masukin aku ke dalam hidupmu, maka kamu dengan sengaja membawa masalah yang akan membuatmu lemah nantinya. Aku nggak bisa, aku benar-benar takut Axelle. Kamu terlalu sempurna untuk aku!" pekik Nurul, ia tidak bisa lagi mengendalikan emosinya jika berhadapan dengan Axelle yang juga keras kepalanya kayak batu.
"Kenapa nggak bisa? Kenapa harus takut? Bukankah aku ini sempurna di matamu dan kamu selalu menganggap dirimu ini adalah sebuah kelemahan. Kalau begitu ayo bersamaku agar aku bisa memberikan kekuatan untukmu. Aku tidak akan mengumbar janji karena aku takut mengingkarinya. Tapi jika kamu siap melangkah bersamaku maka aku akan tunjukkan pada dunia kalau kamu itu yang paling pantas mendampingiku dan kamu bukan kelemahanku melainkan sumber kekuatanku!" balas Axelle tak mau kalah, ia tidak suka jika Nurul terus saja merendahkan dirinya sedangkan Axelle begitu meninggikannya dalam hati.
Nurul memijat pelipisnya sambil menatap nanar pada Axelle, "Kamu nggak bakalan ngerti," lirih Nurul.
Axelle kini berjongkok di depan Nurul sambil menggenggam tangan Nurul dengan tatapan penuh harapan. "Nggak ada perjanjian apapun antara aku dan Danish. Nggak ada kesepakatan kerja dan nggak ada pula yang namanya penalti. Aku memang sengaja menjadikanmu kekasih kontrak karena aku sudah jatuh cinta padamu sejak dulu, sejak kita selalu bertemu namun sialnya kita selalu berseteru," ucap Axelle yang membuat Nurul terkejut oh tidak ia bahkan sangat terkejut.
"Kalian menipuku?" hardik Nurul.
Axelle membuang muka sesaat kemudian ia kembali menatap Nurul, "Maaf. Tapi aku tidak menipumu tentang perasaanku. Jangan takut untuk mendampingiku karena aku juga hanya manusia biasa yang kebetulan Tuhan percayakan untuk menjaga pemberiannya yang begitu banyak. Jika kau memikirkan tentang mulut pedas orang-orang maka kau berdirilah di belakangku dan biarkan aku melindungimu. Mau kah kamu? Please?"
Nurul membuang muka, ia tidak sanggup dengan semua ini apalagi melihat wajah tulus Axelle padanya. Nurul tidak siap dan tidak punya jawaban untuk pertanyaan Axelle kali ini.
"Duduklah kembali di kursimu, kakimu bisa kebas nanti," ucap Nurul yang membuat Axelle tersenyum kecut dan langsung menuruti permintaan Nurul. Ia sebenarnya masih ingin berlutut tapi situasi ini tidak akan berhasil meluluhkan Nurul.
"Aku tidak bisa memberikanmu jawaban saat ini Axelle. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku memang takut menghadapi masa depan bersamamu tapi yang paling aku takutkan adalah aku tidak bisa melupakan dia. Sampai detik ini dia masih menempati relung hatiku. Aku takut tidak bisa menjadi pendamping yang baik untukmu karena malah terjebak di ruang nostalgia bersamanya. Tapi aku sedang berusaha untuk keluar dari ruang nostalgia itu, bisakah kau membantuku?"
Dengan cepat Axelle mengangguk. Ungkapan ini yang selama ini Axelle tunggu. Ia menanti Nurul jujur akan dirinya yang kesulitan lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Dan Axelle akhirnya mendengarnya langsung. Ia tentu saja bersemangat untuk membantu Nurul melupakan pria masa lalunya itu dan mengganti posisi pria itu di hati Nurul.
Nurul tersenyum tipis seraya memejamkan matanya. Kepalanya bersandar di kursi dan ia mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Axelle pun melakukan hal yang sama namun ia dengan perlahan meletakkan tangannya di atas tangan Nurul yang menggantung di kursi.
Satu hal yang tidak diduga oleh Axelle, Nurul membalikkan telapak tangannya hingga akhirnya jari-jari mereka saling bertautan. Senyuman Axelle terbit di bibir bagusnya itu.
Ini mungkin adalah saatnya untuk melepas bayang-bayang masa lalu walaupun aku belum siap untuk melepas Alvaro dari hatiku. Alvaro, gue Nurul Aina bakalan selalu mengenang lu sebagai cinta pertama gue. Lu nggak usah khawatir karena gue tetap menyiapkan tempat khusus buat lu di hati gue. Selamat tinggal cinta pertamaku, I love you Alvaro Genta Prayoga. I do love you and I heart you.