GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Pukul 03.00


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Aluna ketika ia terbangun dari tidurnya karena merasa haus dan suaminya itu masih duduk diam di sofa, entah sedang melamunkan apa.


Aluna melirik jam dinding dan saat ini masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari dan itu artinya mungkin Frey tidak tidur sejak tadi. Ia pun turun dari tempat tidur dan menghampiri suaminya yang sedang menatap dengan senyuman manis padanya.


Aluna duduk di atas pangkuan Frey, ia kemudian menatap mata suaminya itu yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. Binar mata Frey berbeda dari biasanya dan raut wajahnya, meskipun ia tersenyum tetapi matanya tidak bisa berbohong. Ada gurat kekhawatiran dan kesedihan di sana.


"Kenapa terbangun, hmm? membutuhkan sesuatu kah?" tanya Frey sambil memperbaiki anak rambut Aluna yang menutupi wajahnya.


"Tadinya aku haus, tapi melihatmu sedang duduk melamun di sini membuatku menjadi tidak haus lagi, tetapi sangat haus akan rasa penasaran dengan apa yang sedang kamu pikirkan," jawab Aluna.


Maaf sayang, tapi aku tidak bisa mengatakan padamu jika aku sedang mencurigai Papi. Keresahan Bunda adalah keresahanku. Bahkan aku bisa lebih resah daripada Bunda, tapi aku tidak bisa menceritakannya padamu.


Frey tidak menjawab pertanyaan Aluna, dia hanya asyik memainkan anak rambut istrinya itu. Aluna merasa kesal dengan sikap Frey, ia tahu jika sudah seperti ini pasti Frey sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh ia ketahui. Akan tetapi, rasa penasaran Aluna mendorongnya untuk mendesak Frey agar memberitahukan apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan.


"Terlalu banyak tahu itu tidak baik dan terlalu banyak ingin tahu pun tidak baik. Tapi karena istriku yang sudah terlanjur penasaran ini terus mendesakku, baiklah aku akan mengatakannya. Sebenarnya aku baru saja melepas satu restoran dan satu kafe untuk Keenan dan ibunya. Itupun atas izin dari bibi Safira karena mulai besok Keenan dan ibunya akan pindah ke kota X. Aku hanya ingin dia bisa mengubah hidupnya jauh lebih baik lagi dan semoga keputusanku ini tidak salah."


Tidak ada yang salah dengan ucapan Frey barusan karena hal ini belum ia ceritakan kepada Aluna. Walaupun yang ia pikirkan adalah hal berbeda, akan tetapi hal ini juga bisa menjadi keterkejutan Aluna jika saja sampai ia tidak memberitahu lebih awal.


Aluna menatap tidak percaya pada Frey. Beberapa kali ia mengedip-ngedipkan matanya. Aluna masih tidak percaya saja jika Frey ternyata sebaik itu pada Keenan yang selama ini selalu berusaha untuk menyakiti mereka.


"Ya ampun suami siapa sih ini? Baik banget sih ..."


Frey tersenyum lebar melihat reaksi Aluna yang ternyata langsung memujinya. Ia senang karena Aluna tidak banyak bertanya lagi. Istrinya itu selalu saja percaya seratus persen padanya, dan itulah keuntungan Frey selama menjadi suami Aluna. Ia berjanji tidak akan pernah membohongi istrinya ini.


"Ya suami milik Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga Griffin ... nama kamu kok panjang banget ya? Disingkat aja deh, suami milik nyonya Griffin," ucap Frey kemudian keduanya sama-sama tertawa.


Frey lalu meminta Aluna untuk menunggu di kamar karena ia ingin mengambilkan air minum untuk sang istri yang kebetulan sudah habis di atas meja.


Saat Frey melangkah keluar dan ia berjalan ke dapur, ia dibuat terkejut karena melihat sosok bundanya yang tengah duduk merenung di ruang makan. Frey pun menghampiri bundanya dan Nurul terlihat terkejut karena kedatangan Frey.


"Ada apa Bunda? Kenapa duduk di sini sendirian di jam segini?" tanya Frey yang kini menjadi tidak tenang.


"Tidak ad,a sayang. Bunda hanya sedang menunggu papimu pulang. Sudah jam segini dia belum juga pulang, Bunda khawatir terjadi sesuatu padanya," jawab Nurul dan tentu saja jawabannya itu membuat Frey penasaran.


"Emang Papi nggak ngabarin Bunda?" tanya Frey lagi.


"Tadi ada, dia nelpon bunda katanya masih ada kumpul-kumpul bareng teman-temannya ... tapi sampai sekarang kok nggak pulang? Sedangkan tadi papi itu nelpon bunda sekitaran jam 09.00 malam," jawab Nurul. Walaupun dia terlihat begitu santai tetapi raut wajahnya serta pancaran sinar dari matanya itu tidak bisa berbohong jika saat ini Nurul sedang merasa khawatir.


Frey lalu mengajak Nurul untuk masuk ke kamar. Tak lupa ia mengisi air di gelas untuk Aluna dan berkata kepada bundanya jika nanti ia yang akan menunggui papi pulang. Frey kasihan melihat bundanya yang terlihat begitu lelah dengan wajahnya yang terlihat begitu menyedihkan.


Frey juga mengatakan akan menunggu papi Alvaro sampai pulang nanti. Dan jika tidak pulang maka ia akan mencarinya. Sengaja Frey tidak mengatakan jika Alvaro mungkin sedang bersama wanita lain agar bundanya ini tidak semakin khawatir. Frey justru mengatakan kepada Nurul jika ia khawatir terjadi sesuatu kepada papimua sehingga ia akan menyusulnya nanti.


Setelah mengantar Nurul sampai di depan pintu kamarnya dan memastikan bundanya itu masuk dalam kamar, Frey pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia mendapati istrinya itu sedang tertidur lelap. Air minum yang dipegang oleh Frey hanya bisa ia simpan di atas nakas saja dan nanti mungkin Aluna terbangun ia akan kembali meminumnya.


Mata Frey membulat sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dapatkan. Dengan cepat ia menutup laptopnya kemudian ia mengambil jaket beserta kunci mobil. Frey harus pergi saat ini juga.


Jalanan yang mulai sepi di waktu yang hampir mendekati pukul 03.00 subuh ini membuat Frey memacu kendaraannya dengan begitu cepat. Ia harus bisa segera sampai dan menemukan seseorang yang tengah ia cari.


Frey memarkirkan mobilnya sembarangan ketika ia sampai di depan sebuah apartemen yang sangat ia kenali lokasinya. Tentu saja ia tahu karena ini adalah apartemen milik keluarganya, lebih tepatnya rumah kecil Frey di mana ia tinggal bersama mami dan papinya dahulu. Dan unit miliknya di sini sama sekali tidak dia jual, hanya ia sewakan kepada seseorang sebagai investasi.


Langkah lebar Frey berjalan keluar dari lift dan menuju ke unit yang ia yakini itu adalah tempatnya. Tidak peduli waktu, Frey menggedor-gedor pintu tersebut, ia berharap orang di dalam sana akan terbangun dan mendengarnya.


Beberapa menit kemudian masih belum ada sahutan. Frey masih tetap melakukan hal yang sama, ia masih terus mengedor pintu tersebut. Ia tidak peduli akan mengganggu penghuni sekitar, akan tetapi ia hanya ingin tahu siapa yang ada di dalam sana.


Suara kunci pintu yang sedang dibuka membuat Frey menghentikan aktivitasnya. Ia sudah siap dengan orang yang akan membuka pintu tersebut.


"Siapa sih, mengganggu waktu istirahat orang. Tidak sopan sekali. Anda mau cari mati!!"


"Ya, saya ingin cari mati!"


Degg ...


Bughhhhh ...


Belum sempat ia tersadar dari keterkejutannya, sebuah tendang dari Frey mengena telak perutnya hingga ia tersungkur beberapa langkah ke belakang.


"Aku nggak nyangka ... jadi ini kelakuan Papi dibelakang Bunda!" teriak Frey yang kali ini benar-benar marah.


"Frey maksud kamu apa?" teriak Alvaro yang tidak terima karena ia sudah mendapat tendangan dan juga tudingan dari Frey.


Frey menatap nyalang pada Alvaro. Ia bahkan sudah kehilangan rasa hormatnya pada papinya ini. Frey berteriak memanggil nama Jihan dan gadis yang dipanggil namanya itu segera keluar dan berlindung di belakang Alvaro.


"Bundaku nungguin papi sampai jam dua subuh, Pi. Dia enggak tidur karena khawatir mikirin suaminya. Tapi ternyata orang yang lagi dikhawatirkan sedang asyik entah melakukan apa di sini. Papi punya hati nggak sih? Nggak kayak gini caranya, Pi. Nggak dengan seperti ini! Kalau papi udah nggak cinta sama bunda, katakan saja. Aku masih bisa memberikan kasih sayang pada bunda walaupun aku bukanlah anak kandungnya. Papi brengsek!"


Alvaro terdiam mendengar Frey yang tengah meluapkan amarahnya. Ia tahu posisinya salah tapi yang lebih menyakitkan hatinya adalah Nurul yang ternyata tidak tidur menunggu kepulangannya. Istri tercintanya itu begitu mengkhawatirkannya dan air mata Alvaro menetes dengan tiba-tiba.


"Cih! Tidak perlu meneteskan air mata buaya, Pi. Dan lu Jihan, lu nggak lihat orang ini tuh udah punya istri. Anaknya sepantaran lu bahkan lu lebih tua dari Aluna. Tapi lu nggak bisa mikir jernih apa? Masih muda tapi sukanya sama om-om. Lu jadi apa? Sugar baby?"


Jihan ketakutan dan ia terus bersembunyi di balik punggung Alvaro. Ia tidak menyangka saya cowok setampan Frey bisa terlihat semengerikan ini. Ia bingung bagaimana bisa Frey mengetahui tempat tinggalnya. Ia tidak tahu saja jika Frey pasti selalu menyelidiki orang yang dekat dengannya ataupun orang yang membuatnya merasa curiga.


"Frey nggak gini. Bukan seperti yang kamu pikirkan, Nak—"


"Aku akan membawa bunda dan Aluna pergi. Papi nggak bisa halangin aku!"