GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Dua Sekaligus


Leon sedang berjalan ke arah toilet, ketika ia masuk di belakangnya seseorang menepuk pundaknya hingga ia menoleh dan begitu wajahnya menoleh ke belakang satu pukulan mendarat di pipinya hingga Leon tersungkur dan terjatuh di lantai toilet.


Saat ini hanya ada mereka berdua di dalam toilet, Frey langsung berjalan mendekat ke arah Leon dan menarik kerah bajunya lalu memberikan pukulan bertubi-tubi di perut pria tersebut. Ia sengaja mengunci pintu toilet agar tidak ada yang datang dan tak lupa sebelum ia masuk, dia sudah meletakkan rambu-rambu bahwa toilet ini sedang rusak dan mereka yang ingin datang ke toilet bisa pergi ke toilet di lantai dua.


Toilet yang berada di lantai satu ini berada di bagian belakang sekolah, lebih tepatnya berada di ujung gang yang berdekatan dengan taman belakang sekolah.


"Frey, lu apa-apa--"


Belum selesai Leon berbicara, Frey kembali memberikan pukulan tepat di pinggir bibir Leon hingga darah segar mengalir dari bibirnya yang pecah.


"Dasar brengsek! Malam itu gue masih nahan diri buat nggak ngabisin lu, tapi kali ini setelah gue tahu apa yang lu lakuin pada Aluna dan niat buat ngejebak Aluna malam itu, kali ini lu bakalan benar-benar habis sama gue!" bentak Frey, ia memang menahan diri malam itu karena Aluna sudah pingsan. Walaupun sebenarnya ia yang menikmati hasil dari rencana Leon, akan tetapi memikirkan jika malam itu ia tidak berada di sana dan tidak menyelamatkan Aluna tepat waktu, maka entah apa yang sudah terjadi pada istri tercintanya itu.


"Lu manggil saudara lu sekolah disini, silakan! Bahkan seluruh keluarga lu dibawa ke sini juga gue nggak takut! Berani banget lu ya ngerencanain hal buruk kepada Aluna, padahal lu sendiri juga masih SMA dan bahkan masih kelas sebelas. Apa emang otak lu itu udah rusak dan lu nggak didik dengan baik?!" bentak Frey lagi, ia sangat geram dengan anak muda seperti Leon yang sudah memiliki pikiran sepicik itu padahal usianya masih belia dan belum pantas berbuat sejauh itu.


Frey memang sangat membenci jiwa muda yang terlalu berlebihan seperti Leon, baginya hukum dari sekolah dan pembelajaran yang diterapkan padanya itu sangat tidak berguna jika di usianya yang seperti ini Leon bahkan sudah berencana melakukan hal-hal buruk.


Frey juga merasa begitu miris, dia mengetahui seluk-beluk keluarga Leon dimana pria ini hanya memiliki seorang ayah sama seperti dirinya, akan tetapi Leon harusnya bisa bersyukur karena setiap hari ayahnya masih mendampinginya, sedangkan Frey setelah bertahun-tahun lamanya Ia baru bertemu dengan ayahnya sebelum dan saat ia menikah.


Kemarin juga Frey sudah mencari tahu tentang keluarga Leon, ia mendapati fakta bahwa ayah Leon merupakan seorang pekerja keras dan sangat ramah juga penyayang. Bahkan sampai detik ini dia tidak menikah lagi karena fokus pada mengurus Leon dan juga mengurus perusahaannya.


Frey memang maklum jika Leon terlibat balapan liar dan juga sering tawuran karena ayahnya juga merupakan pria yang workaholic yang tidak selalu bersamanya namun tetap menyulitkan perhatian kecil. Tetapi tindakan Leon malam itu tidak bisa ia maklumi karena sudah diluar batas sikap seorang anak muda apalagi yang masih belia seperti mereka.


Leon juga sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan dendam masa lalu karena garis keturunan Leon dan Keenan berasal dari ibu mereka, bukan dari Brandon ataupun Bastian Elard.


"Lihat gue, bahkan gue nggak punya orang tua kandung di sisi gue tapi masih bisa juga gue hidup dan menjadi pria baik. Nggak seperti lu! Udah hati dan pikiran yang busuk, nggak tahu malu dan sekarang masih bertingkah belagu. Cari mati lu!"


Emosi Frey sudah tidak bisa ia bendung lagi. Pikiran-pikiran buruk tentang hal-hal yang kemungkinan terjadi kepada Aluna merasuki dirinya hingga menghilangkan akal sehatnya, apalagi ia teringat dengan kenyataan ternyata Leon berhubungan dengan keluarga uncle Bastian Elard, tentu saja kehadirannya bersama saudaranya yang tidak lain adalah sepupu dari Frey sendiri walaupun tidak sedarah itu memiliki niat yang berhubungan dengan kejadian di masa lalu.


Frey merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Ia kemudian menekan nomor telepon di ponselnya lalu suara sahutan dari seberang saluran terdengar.


"Masuk ke sekolah dan datang ke toilet yang berada di dekat taman belakang. Aku menunggu kalian di sini," ucap Frey yang ternyata menghubungi bodyguard yang sudah disediakan oleh Papi Alvaro untuk menjaga mereka berdua di sekolah.


Tak sampai sepulu menit, dua bodyguard tersebut datang dan melihat kondisi mengenaskan Leon yang terkapar pingsan di lantai. Baru saja dua malam yang lalu mereka habis meringkus bocah ini dan kini kembali lagi mereka mengurusinya. Dalam hati keduanya mengumpati Leon karena tiada hentinya bermasalah dengan tuan muda Frey Abirsham Griffin yang jika mengamuk maka tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri. Terutama hal yang menyangkut dengan Aluna.


"Bawa dia ke rumah sakit dan berikan perawatan terbaik. Pastikan ada yang menjaganya di sana. Jika dia sadarkan diri dan juga jika ada keluarganya yang datang, maka segera hubungi aku. Pastikan tunggui dia sampai aku datang nanti," titah Frey.


Keadaan di luar kelas memang masih sunyi karena jam pelajaran ketiga sudah dimulai. Istirahat pertama sudah berlalu dan dengan hati-hati mereka membawa Leon keluar dari toilet melalui jalur pintu belakang sekolah yang biasanya digunakan oleh anak-anak yang terlambat atau ingin membolos.


Frey kembali masuk ke dalam toilet, ia ingin membersihkan tangannya dan wajahnya akan tetapi justru di sana sudah ada Keenan yang sedang menatap tajam kepadanya. Tai raut wajah takut dari Frey, yang ada justru ia semakin senang karena tanpa ia cari Keenan sudah berada di tempat ini dan jika saja bisa maka rencana kedua akan segera ia laksanakan.


"Gue udah rekam lu dan kejadian tadi bisa gue sabarin agar lu bisa dikeluarin dari sekolah dan jika perlu lu akan mendekam di penjara sama seperti bokap lu," ancam Keenan. "Anak penjahat dan pembunuhan seperti lu nggak pantas berada di sekolah ini dan lu pantasnya itu nyusul bokap lu ke penjara atau nyusul nyokap lu ke alam baka!" imbuh Keenan.


Hati Frey meradang, dan hal tersebut merupakan bahaya bagi Keenan karena sudah menyentuh hal paling sensitif dalam kehidupan Frey. Dalam hal ini Frey yakin jika apa yang disampaikan oleh uncle Bastian dan grandpa Brandon hanyalah keburukan keluarganya. Mereka mana mungkin mengatakan yang sebenarnya jika penjahat sesungguhnya adalah mereka.


Tangan Frey terkepal, mengingat bagaimana kedua orang tuanya menderita karena perbuatan Brandon Elard hingga menyerang para sahabat keluarganya membuat Frey merasa darahnya seakan mendidih. Jika orang jahat itu tidak pernah memanfaatkan keluarga Griffin maka ia yakin sampai detik ini ia pasti hidup berbahagia dengan kedua orang tuanya.


Keenan tersenyum, kali ini ia merasa berhasil mengancam Frey. Namun ketika ia hendak membuka suara, ia dibuat terkejut karena tiba-tiba Frey menendang tangannya hingga ponsel tersebut terlempar jauh di lantai toilet.


Belum habis keterkejutan Keenan, Frey sudah melangkah ke arah ponsel tersebut dan mengambilnya lalu mereset menjadi setelah pabrik setelah itu ia membantingnya hingga hancur.


"Belajarlah menjadi se- brengsek ayah dan juga kakekmu agar kau bisa menghadapiku," ucap Frey dingin kemudian ia meninggalkan Keenan yang sedang meratapi ponsel barunya yang merupakan hadiah ulang tahun dari ibunya kini sudah hancur dan juga mengapung di kloset.